Cinta Palsu adalah hal yang amat menyakitkan dibanding apapun. Setidaknya itulah yang Lucyana rasakan. Bukan penghianatan tapi kebohongan yang di ciptakan dengan sengaja oleh orang yang paling dia sayangi.
Lucyana Shava Herman alias Lucy adalah wanita mandiri, kuat dan penuh percaya diri. Namun hidup Lucy mendadak berubah 180 derajat setelah mengetahui sebuah fakta yang di sembunyikan suami nya selama bertahun-tahun.
Apakah Lucy akan bertahan dengan pernikahan nya seteleh mengetahui fakta kelam tersebut....
Happy Reading ✨
Enjoy 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sebelum Lucy dan Nio melangkah masuk ke ruangan Tulip 1, suara panggilan dari arah belakang membuat keduanya menoleh bersamaan.
"Kak Lucy!"
"Rani...." Gumam Lucy saat melihat salah satu adik kembar Fajar berlari kecil menghampirinya.
Grep!
"Kak...."
Rani langsung menubruk tubuh Lucy dan memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Hiks..Hiks.." Rani terus menangis dan suara tangisannya membuat seorang ners datang menghampiri.
"Mbak. Maaf, tolong jangan terlalu berisik, ya. Silahkan ke ruang tunggu di ujung lorong." Ucap ners itu dengan lembut dan sopan.
Lucy mengangguk sambil tersenyum canggung. Ners itu pun kembali ke tempatnya.
"Rani, kita bicara di taman saja, ya." Lucy menepuk punggung Rani agar tenang lalu membawa nya ke taman rumah sakit. Sementara Nio menunggu di kursi yang tersedia di depan Ruang Tulip 1.
Lucy dan Rani duduk di bangku panjang taman. Sesekali Rani masih sesenggukan, tapi tak sehisteris tadi.
Kedua nya duduk sambil menatap lurus ke depan.
"Ka-kak...." Rani masih sulit mengatur nafasnya.
Lucy menoleh sekilas. Sejujurnya ada rasa kasihan, tapi mengingat kelakukan bejat Fajar, rasa kasihan itu memudar sedikit demi sedikit.
"Maafin kami ya, Kak... Kami salah. Aku, Rani dan Mama...Kami semua salah, Kak." Rani mencoba menahan rasa sesak yang luar biasa. "Kami nggak tau kalau selama ini Kak Fajar....hiks..hiks..." Desakan air matanya kembali menjebol pertahan. Rani menangis lagi. Betapa hidup mereka langsung berubah 180°, membuat Rani merasa sangat hancur.
Lucy memeluk Rani. Dia tidak menangis. Tak akan ada orang lain yang akan melihat air matanya lagi selain dirinya sendiri.
"Sudah...Semua nya sudah terjadi, Rani. Tidak ada yang perlu di sesali lagi. Fajar sudah mendapatkan hukuman nya."
Rani merenggangkan pelukan, lalu menatap Lucy dengan mata sembab.
"Aku tau permintaan ku ini pasti sangat tidak tau malu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku nggak perduli soal Kak Fajar, aku cuma mau satu, Kak....Tolong bantu aku. Tolong selamatkan Mama.. Kata Dokter Mama harus segera menjalani operasi pemasangan ring di jantungnya. Hiks..Hiks.." Tanpa di duga Rani langsung berlutut di depan Lucy. Dia memohon sambil menangis, bersujud di kedua lutut Lucy.
"Astaga, Rani... Bangun! Kamu nggak seharusnya kaya gini..Ayo, bangun!" Lucy membantu Rani untuk duduk kembali.
"Ran...Kamu tau ? Mama kamu itu punya simpanan tabungan dan emas bahkan berlian. Biaya pasang ring jantung hanya 80 juta, jika di total dengan rawat inap mungkin tidak sampai habis 200juta. Tabungannya masih sisa banyak."
"Rani tau, Kak. Tapi Mama nggak mau ngeluarin uang buat biaya rumah sakit. Kata Mama uang nya buat ngeluarin Kak Fajar dari penjara."
Syok! Itulah keadaan Lucy saat ini.
Lucy hanya bisa menahan hati nya agar tidak meledak. Dia tampak membuang nafas kasar. Wajah nya nampak merah menahan kesal.
Lucy berdiri. "Maaf, Ran. Aku nggak bisa bantu!" Ucap Lucy menahan muak. "Permisi!" Lucy segera beranjak dari sana, di panggil berkali-kali pun tak lagi menoleh ke belakang.
"Nio! Ayo pulang! Menyesal mbak datang kesini!!"
Lucy berjalan cepat, Nio yang kebingungan mencoba menyusul langkah kakak nya.
"Gila! Ibu sama Anak sama-sama Toxic! Hampir saja mbak ketipu dua kali!" Omel Lucy saat mereka sudah di dalam mobil.
"Mbak, kenapa sih ? Kok habis ngobrol sama si Rani malah marah-marah ?" tanya Nio penasaran sambil melajukan mobil pelan keluar dari area rumah sakit.
"Gimana mbak nggak mau marah, tadi si Rani nangis, mohon-mohon bahkan sampai berlutut, dia minta tolong Mbak buat bayarin biaya pasang ring di jantung Mama nya. Mbak tau Mama Wati itu punya simpanan banyak, Mbak sering lihat dia bikin status di Wa, tapi kamu tau Rani bilang apa ? Katanya Mama Wati nggak mau ngeluarin uang buat biaya rumah sakit karena uang nya mau di pake buat ngeluarin Fajar dari penjara! Gila nggak tuh??!!"
Nio mematung dengan mulut menganga.
Ironis memang.
"Ibu Wati tuh sebenarnya tau nggak sih mana yang harus jadi prioritas mana yang bukan ?" Tanya Nio ikut geram.
Lucy tak langsung menjawab. Matanya fokus menatap jalanan Jakarta yang macet lewat jendela samping. Pagi itu hujan mulai turun, menciptakan garis-garis air yang abstrak di kaca. Suasana muram ini sangat cocok dengan hati nya yang membeku permanen.
Tiba-tiba ponsel di dalam tas tangan Lucy bergetar panjang.
'Kacang Garuda🥶'
Jantung Lucy berdetak lebih cepat saat membaca nama yang menelepon.
"Siapa, Mbak ?" tanya Nio membuyarkan lamunan.
"H-hah ? Ah... bu-bukan siapa-siapa." Jawab Lucy langsung menggeser tombol merah.
Tiga detik kemudian...
Ting!
Notifikasi pesan masuk.
["Angkat!"]
Darah Lucy berhenti mengalir seketika kala membaca pesan dari Garuda.
Drrtttt!
Untuk kedua kali ponsel nya berdering, Nio menoleh ke Lucy dengan tatapan penuh tanya, tapi mata Lucy tetap fokus ke layar ponsel nya.
Akhirnya Lucy menekan tombol hijau..
"Aku di Jakarta. Kita bertemu di Hotel Express jam 7 malam ini."
Sambungan terputus.
Ponsel di tangan Lucy hampir jatuh. Wajahnya langsung pucat.
Nio menepuk pundak Lucy sambil berusaha fokus menyetir. Dia ikut panik melihat reaksi kakak perempuannya.
"Siapa yang telepon, Mbak ? Ada apa ?"