Lina adalah pewaris kekuatan supranatural Dorong & Tarik yang hebat, sebuah energi kinetik yang hanya mengalir di garis keturunan perempuan keluarganya. Jika Lina fokus, ia bisa memindahkan truk. Tapi karena ia ceroboh, ia lebih sering menghancurkan perabotan rumah, membuat Ayah dan adiknya, Rio, selalu waspada.
Kekuatan yang harus ia sembunyikan itu, ia gunakan secara terlalu ikhlas untuk membantu seorang kakek mendorong gerobak rongsokan, yang menyebabkannya melesat kencang di jalanan.
Insiden konyol ini ternyata disaksikan oleh CEO Aris, seorang pebisnis jenius nan tampan yang sedang diburu musuh misterius. Aris langsung terobsesi dan merekrut, apa yang terjadi di kehidupan lina Bersiaplah mengikuti drama komedi supranatural ini.lerstgooo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Duel di Pelabuhan Tua
Jam menunjukkan pukul 23:45. Aris dan Lina sudah sampai di Pelabuhan Tua. Angin laut berhembus kencang, bikin rambut Lina agak berantakan, tapi tetep kelihatan badass. Aris sibuk nge-cek semua sistem di laptopnya yang ditaruh di kap mobil.
"Oke Lina, dengerin aku," Aris natap mata Lina serius. "Sepatu kamu sudah aku upgrade pake sol magnetik kinetik. Kamu gak bakal terpeleset meskipun lantainya penuh oli. Gaun kamu juga sudah di mode 'Battle-Ready'. Inget, lawan kamu ini punya reputasi bisa ngerusak logam cuma pake tangan kosong."
Lina lagi asyik pemanasan, gerakannya lincah banget kayak lagi latihan zumba tapi versi lebih mematikan. "Tenang aja, Aris. Dia boleh makan besi, tapi aku bakal kasih dia pencernaan yang buruk malem ini. Vibes-ku lagi tinggi banget karena pengen tau soal Ibu."
Aris narik napas panjang, terus dia masangin earpiece ke telinga Lina. Jari-jari Aris nyentuh pipi Lina sebentar, bikin Lina sedikit blushing. "Jangan terlalu maksain diri. Kalau situasinya makin kesemrawutan, aku bakal intervensi pake drone penenang emosi."
"Siap, Direktur Taktis! Doain Natalie menang ya!" Lina ngasih jempol, terus lari sat-set masuk ke dalem gudang pelabuhan yang gelap.
Di tengah gudang yang cuma diterangi lampu bohlam kuning yang kedap-kedip, berdiri sesosok cowok raksasa. Badannya beneran gede banget, ototnya kayak tumpukan roti sobek, dan dia lagi asyik... ngunyah pipa besi kecil kayak lagi makan stik cokelat.
"Akhirnya datang juga, cewek mungil," suara cowok itu berat banget, bikin debu di lantai gudang bergetar. "Gue Goliath, panggil aja Si Pemakan Besi. Ryu bilang lo punya kekuatan yang 'cantik'. Gue mau liat secantik apa kalau lo gue geprek jadi satu."
Lina berdiri sekitar 5 meter di depannya. Dia kelihatan mungil banget, kontrasnya bener-bener kayak semut lawan gajah. "Duh, Bang Goliath. Giginya kuat banget ya? Gak takut karatan apa? Vibes abang bener-bener red flag buat dokter gigi deh."
Goliath ketawa kencang, terus dia ngelempar sisa pipa besinya ke arah Lina. Lina cuma geser kepalanya dikit, dan pipa itu nabrak dinding gudang sampai bolong.
"Gak usah banyak bacot. Ryu janjiin gue akses ke server Phoenix Tech kalau gue bisa bikin lo pingsan. Jadi, jangan salahin gue kalau malem ini lo gagal healing," Goliath mulai lari ke arah Lina.
Pertarungan dimulai! Goliath ngerjang kayak banteng. Dia mukul ke arah kepala Lina, tapi Lina gunain Tarik Kinetik Sentuhan Mikro di kakinya buat lompat lebih tinggi dari jangkauan Goliath.
Lina mendarat di atas tumpukan kontainer besi. "Lambat banget sih, Bang! Kurangi makan besi, banyakin makan sayur biar gerakannya lebih sat-set!"
Goliath emosi. Dia mukul kontainer itu sampai penyok parah. Lina ngerasain getaran hebat, tapi sepatunya yang sudah di-upgrade Aris bikin dia tetep stabil.
"Aris! Musuhnya emosi nih! Rencananya gimana?" bisik Lina lewat earpiece.
"Bikin dia ngerasa berat, Lina! Gunakan Kinetik Inersia yang kita pelajari dari Reno kemarin! Tekan udaranya di sekitar dia!" bales Aris dari luar.
Lina fokus. Dia ngebuka telapak tangannya ke arah Goliath. "Oke Bang, waktunya diet!"
Lina gunain Dorong Kinetik tapi diarahkan ke bawah, tepat di atas bahu Goliath. Udara di sekitar Goliath mendadak jadi padat banget, seolah-olah ada beban 1 ton yang menimpa dia.
Goliath langsung berlutut, lantai beton di bawahnya retak. "Apa... apa yang lo lakuin?! Kenapa badan gue berat banget?!"
"Itu namanya beban hidup, Bang!" canda Lina, meskipun dahinya mulai keringetan karena nahan kekuatan itu.
Tapi Goliath bukan lawan sembarangan. Dia narik napas dalem-dalam, terus badannya mendadak memerah. Ternyata dia punya kekuatan buat nyerap panas dari logam di sekitarnya. Semua kontainer di gudang itu tiba-tiba jadi dingin banget, dan Goliath makin kuat.
Dia berhasil berdiri lagi, ngelawan tekanan udara Lina. "Lo pikir itu cukup buat ngalahin gue?!"
Goliath mukul lantai, dan sebuah gelombang kejut bikin Lina terpental dari kontainer. Lina salto di udara dan mendarat dengan gaya superhero landing yang slay.
"Waduh, dia nge- buff diri sendiri! Aris, dia jadi panas banget!" teriak Lina panik.
"Lina, gunain air laut di pipa-pipa itu! Dinginin dia secara mendadak!" Aris ngasih instruksi lewat drone yang sekarang sudah masuk ke gudang buat nyorotin lampu.
Lina ngelihat ada pipa air besar di atas kepala Goliath. Dia gak pake tenaga fisik, dia cuma gunain Tarik Kinetik buat nyopot baut-baut pipa itu secara serentak.
BYUURRRRR!
Air laut dingin langsung nyiram Goliath yang lagi panas-panasnya. Terjadi reaksi fisika instan—asap putih tebal memenuhi gudang, bikin pandangan Goliath jadi kabur. Kegilaan visual ini bener-bener kayak adegan klimaks drakor action.
Lina gak nyia-nyiain kesempatan. Di tengah kabut asap, dia lari sat-set mendekati Goliath. Dia gunain Dorong Kinetik Maksimal tepat di ulu hati Goliath.
"Ini buat orang tua aku, dan ini buat waktu healing-ku yang kamu rusak!" teriak Lina.
BUM!
Goliath mental ke belakang, nabrak tumpukan ban bekas sampai dia gak bangun-bangun lagi. Dia gak pingsan, tapi dia bener-bener kehabisan napas dan kekuatannya ilang karena suhu badannya drop drastis.
Lina berdiri di depan Goliath yang megap-megap. "Sekarang, jawab. Di mana Ryu? Dan di mana Ibu aku?"
Goliath batuk-batuk, terus dia nunjuk ke sebuah flashdisk yang jatuh dari sakunya. "Ryu... dia gak di sini. Dia cuma mau tes mental lo. Flashdisk itu... ada koordinat babak kedua."
Lina ngambil flashdisk itu dengan tangan gemeteran. "Makasih, Bang. Nanti aku pesenin Go-Food soto panas ya biar abang gak kedinginan."
Aris masuk ke gudang dengan muka khawatir yang gak bisa disembunyiin. Begitu liat Lina berdiri tegak, dia langsung lari dan meluk Lina kenceng banget.
"Kamu gak apa-apa? Ada yang luka? Aku liat dari kamera tadi kamu kepental!" Aris ngecek tangan dan muka Lina.
Lina cuma senyum lemes, nyenderin kepalanya di dada Aris. "Aku oke, Aris. Capek dikit aja. Ternyata ngelawan tukang makan besi itu lebih susah daripada ngadepin diskon 90% di mall."
Aris ngecup dahi Lina lama banget. "Kamu hebat, Natalie. Kamu bener-bener Top Markotop. Ayo kita balik ke penthouse. Aku bakal buatin matcha latte paling enak sedunia buat kamu."
Lina ngelihat ke arah flashdisk di tangannya. "Kita punya koordinat baru, Aris. Perjalanan kita masih panjang."
"Iya, tapi malem ini, misi kita cuma satu: Tidur nyenyak," Aris ngerangkul Lina keluar dari gudang suram itu.
Di luar, bintang-bintang kelihatan makin terang. Meskipun hidup mereka penuh dengan kekacauan dan musuh misterius, Lina tahu selama ada Aris di sampingnya, dia gak bakal pernah kalah. Karena kekuatan sejati itu bukan cuma soal kinetik, tapi soal siapa yang ada di samping kamu pas kamu lagi lelah.