Kejahatan paling menyakitkan bukan diciptakan dari niat jahat, tapi tumbuh dari niat baik yang dibelokkan.
Robert menciptakan formula MR-112 untuk menyembuhkan sel abnormal, berharap tak ada lagi ibu yang mati seperti ibunya karena kanker. Namun, niat mulia itu direnggut ketika MR-112 dibajak oleh organisasi gelap internasional di bawah sistem EVA (Elisabeth-Virtual-Authority). Keluarga, teman bahkan kekasihnya ikut terseret dalam pusaran konspirasi dan pengkhianatan. Saat Profesor Carlos disekap, Robert harus keluar dari bayang-bayang laboratorium dan menggandeng ayahnya, Mark, seorang pengacara, untuk melawan kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya. Misteri ini bukan sekadar soal formula. Ini tentang siapa yang bisa dipercaya saat kebenaran disamarkan oleh niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osmond Silalahi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Jakarta Untuk Menyelamatkan Dunia
..."Kadang pertempuran paling sulit bukan yang terjadi di medan perang, melainkan yang berlangsung di ruang sunyi, di mana keputusan kecil bisa mengubah takdir dunia."...
Langit Jakarta malam itu berat dengan mendung. Hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela markas Denny. Di lantai dua, Robert duduk di samping ranjang ayahnya. Mark tertidur lemah, wajahnya pucat namun damai. Mesin pemantau denyut jantung memancarkan bunyi ritmis yang membuat ruangan terasa hening sekaligus menegangkan.
Robert memandangi tangan ayahnya, lalu menggenggamnya erat. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apakah semua ini layak? Formula yang dulu ia ciptakan untuk menyelamatkan orang, kini menjadi alasan ayahnya harus terbaring tak berdaya.
Pintu terbuka pelan. Misel masuk dengan membawa secangkir kopi hangat. “Kau belum tidur sejak kemarin, Robert.”
Robert tersenyum lelah. “Aku takut kalau aku tidur, aku bangun dan semuanya sudah terlambat.”
Misel duduk di kursi samping. “Kita tidak bisa melawan waktu dengan begadang. Kau sendiri yang bilang otak butuh istirahat untuk berpikir jernih.”
Robert menghela napas, lalu berkata lirih, “Lucu ya. Klaus berusaha mencuri waktu dengan cara mengotak-atik gen. Aku di sini justru kehilangan waktu karena formula yang sama.”
Misel menatapnya lembut. “Bedanya, kau tidak pernah berniat mencuri. Kau ingin memberi.”
Robert diam. Kata-kata Misel menenangkan, tapi tetap meninggalkan rasa bersalah yang tak bisa hilang begitu saja.
Di ruang bawah tanah, suasana jauh berbeda. Denny, Samuel, Amanda, Carlos, dan Jesika berkumpul mengelilingi meja digital yang menampilkan citra satelit Engelberg. Sinyal yang ditanam tim infiltrasi Yumi kini memberi gambaran jelas tentang aktivitas fasilitas EVA.
Amanda mengetuk layar. “Lihat bagian ini. Ada peningkatan konsumsi energi tiga puluh persen dalam dua puluh empat jam terakhir. Itu berarti mereka sedang mengaktifkan sistem tambahan. Bisa reaktor biogenik, atau server paralel.”
Carlos menambahkan, “Dan pola biosinyal menunjukkan uji coba intensif pada manusia. Mereka mulai menambahkan komponen baru ke dalam MR-112_A.”
Samuel menyilangkan tangan. “Klaus bergerak cepat. Lebih cepat dari prediksi kita.”
Denny menoleh ke Jesika. “Bagaimana dengan skrip Omega-R?”
Jesika menjawab tegas. “Masih bekerja. Tubuh subjek menolak batch keempat. Tapi ...” ia berhenti sejenak, “... pola terbaru ini menunjukkan mereka sedang menggabungkan elemen asing. Kalau tebakan Carlos benar, itu percobaan menuju MR-112_X. Versi yang bahkan Robert belum uji secara penuh.”
Ruangan mendadak hening. Semua sadar, jika Klaus berhasil menstabilkan versi itu, Omega-R bisa kehilangan fungsinya.
Beberapa jam kemudian, Robert akhirnya turun ke ruang taktis. Matanya sayu, tapi tatapannya tajam. “Apa kabar dari Engelberg?” tanyanya langsung.
Samuel menyerahkan tablet berisi laporan. “Mereka menambah lapisan keamanan. Drone udara, biometrik ganda, bahkan jalur masuk hanya bisa dibuka dengan kode AI.”
Robert membaca cepat, lalu mengangguk pelan. “Jadi kita tidak hanya melawan sains mereka, tapi juga sistem mereka.”
Amanda menatapnya. “Kau tahu apa artinya? Untuk menghapus data inti, kita harus berada di ruang server. Tidak ada jalan lain.”
Robert mendesah. “Aku tahu. Tapi untuk saat ini … kita masih di sini. Jakarta. Dan aku harus pastikan kita punya cara jika semua gagal.”
“Cara?” tanya Misel, yang baru saja masuk.
Robert berjalan ke papan digital, menggambar sketsa molekul. “Counter-sekuens baru. Jika Omega-R tidak cukup menetralkan versi A, kita butuh senjata lapis kedua. Sesuatu yang bukan hanya menyerang balik, tapi benar-benar menghancurkan struktur molekul MR-112_A dari akar.”
Carlos mencondongkan tubuh. “Itu gila, Robert. Butuh waktu berbulan-bulan.”
Robert menatapnya tajam. “Kalau kita tidak mulai sekarang, waktu itu tak akan pernah datang.”
Larut malam, Robert kembali ke laboratorium mini. Hanya lampu meja yang menyala. Di layar holografis, model tiga dimensi molekul MR-112_X berputar perlahan. Robert menambahkan garis merah, titik penguncian, lalu mencoba menanamkan sekuens baru.
Ia bergumam sendiri, “Kalau aku bisa ciptakan katalis buatan … bukan untuk menstabilkan, tapi justru untuk membuat struktur itu runtuh dari dalam …”
Suara lembut Misel memecah lamunannya. “Kau sedang membuat racun.”
Robert menoleh, terkejut. “Misel … aku—”
“—tidak perlu menjelaskan,” potongnya. “Aku tahu. Racun untuk racun. Obat untuk senjata. Tapi … kau yakin bisa hidup dengan itu?”
Robert terdiam. Matanya menatap layar, lalu kembali pada Misel. “Kalau itu satu-satunya cara menghentikan Klaus … ya.”
Misel mendekat, lalu menyentuh bahu Robert. “Kalau begitu, aku akan ada di sini. Membantumu. Kau tidak harus menanggung ini sendiri.”
Robert menunduk, matanya berkaca. Untuk kedua kalinya hari itu, ia merasa tidak sendirian.
Keesokan paginya, Samuel memanggil semua orang ke ruang rapat. Suaranya tegang. “Kita dapat laporan baru dari Swiss. Klaus akan mengadakan siaran tertutup dengan investor internasional dalam 48 jam. Jika ia berhasil mendemonstrasikan versi stabil MR-112_X … permainan berakhir.”
Denny menatap layar dengan wajah keras. “Kita tidak bisa tunggu. Kita harus ganggu presentasi itu.”
Amanda menyeringai tipis. “Ganggu bagaimana? Pakai serangan siber? Mereka punya AI proteksi berlapis.”
Robert berdiri, suaranya mantap. “Bukan serangan penuh. Hanya satu pesan. Kita bocorkan data tentang kegagalan batch mereka. Kita buat investor ragu.”
Jesika mengangguk. “Kalau kepercayaan investor runtuh, Klaus kehilangan pijakan.”
Samuel menatap Robert. “Dan jika Klaus tahu itu dari kita?”
Robert menatap lurus, suaranya dingin. “Dia sudah tahu. Dia hanya belum tahu sejauh mana kita berani.”
Malam kembali turun di Jakarta. Di balkon kecil markas itu, Robert berdiri sendirian menatap lampu kota. Angin malam membawa suara jauh klakson dan hiruk pikuk kehidupan yang tak tahu apa yang sedang dipertaruhkan di balik bayangan.
Misel menyusul, berdiri di sampingnya. “Kau kelihatan jauh sekali.”
“Aku hanya berpikir … apa dunia ini siap kalau kita gagal?”
Misel menatapnya serius. “Pertanyaan yang benar adalah: apa dunia ini siap kalau kita berhasil?”
Robert menoleh, menatap mata Misel. Ada api kecil di sana, api yang menular. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Kalau begitu … mari kita pastikan pilihan yang tersisa bukan tentang siap atau tidak. Tapi tentang hidup.”
Misel tersenyum tipis, lalu menggenggam tangannya.
Dan Robert tahu, meski ia masih di Jakarta … perang itu sudah dimulai di dalam dirinya.
“Sepertinya aku harus ikut ke Swiss membereskan semua. Aku tidak mau hanya berdiam disini walau mereka bisa kuandalkan mengatasi semua. Aku yang buat formula ini, aku yang harus mengembalikan fungsi seharusnya MR-112,” ucap Robert.
“Aku mendukung keputusanmu. Urusan menjaga ayahmu serahkan padaku disini,” kata Misel.
Di bawah cahaya lampu kota Jakarta, dua bayangan itu berdiri tegak. Di kejauhan, waktu terus menghitung mundur, menuju pertempuran yang belum pernah dialami dunia sebelumnya
takkan terdaya tanpa izin Yang Maha Kuasa
waktu berjalan tanpa berpamitan
terjejak di antara kini dan zaman silam
merajut mimpi di malam kelam
waktu menebas tangan kebas
terputus kerana menyia-nyiakan detik itu
waktu emas bersuasa permata🌹
budi baik hiasan manusia
buat jahat jangan memaksa
buat sekali hati bernoda hilang suci
kita harus berusaha berdoa
untuk tetap bersama Yang Maha Esa
kerna kita hanyalah manusia biasa
perlukan bimbingan Tuhan Yang Satu/Rose/
aku takkan sadar sekeliling nyata
aku hanyut...
mencipta kata-kata
wakil segala rasa
disaksikan Yang Maha Kuasa 💫✨