PRANG!
"Dasar anak bodoh!" teriak seorang wanita paruh baya, sementara sebuah vas pecah menghantam lantai.
Seorang gadis kecil berlutut memunguti pecahan kaca, tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh. Di usianya yang menginjak 15 tahun, ia tampak seperti anak 10 tahun.
"Aku… maaf, Ibu…" lirihnya.
Sejak kecil, ia dipanggil Anak Sial. Ibu angkatnya dulu penyayang, tapi setelah sang ayah meninggal, segalanya berubah. Ia dipukuli, dibentak, bahkan kadang dibiarkan kelaparan. Ia tetap percaya itu bentuk kasih sayang—hingga ibunya menjualnya demi melunasi utang.
Di tangan pria kejam, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Pukulan, hinaan, dan akhirnya kelumpuhan, membuatnya dikurung seperti barang tak berguna.
Lalu malam itu datang—rumah terbakar, ia terjebak di gudang, tak mampu melarikan diri.
Dalam kepasrahan, ia berbisik:
> “Dewa… jika aku bisa hidup kembali, tolong beri aku kehidupan yang layak, dan keluarga yang mencintaiku…”
Dan saat api menelannya, sesuatu dalam semesta berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiantiMr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 penyelamatan
Arcel menunjuk ke arah sebuah gubuk kayu yang tampak rapuh namun masih berdiri kokoh di tengah area kumuh itu.
Pertemuan singkat sebelumnya bersama Julian dan Lionel sudah cukup memberi mereka gambaran jelas tentang apa yang dialami Arcel dan Enn. Kini, mereka berada di lokasi yang pernah digunakan untuk menyekap Arcel bersama beberapa anak lainnya.
Sementara itu, Enn bersama Lionel berada di titik lain, bersama anak-anak yang berhasil melarikan diri berkat bantuan Arcel.
“Paman... di sanalah mereka mengurung kami,” ucap Arcel lirih, namun nada suaranya tegas. Pandangannya lurus, terpaku pada gubuk itu—dipenuhi oleh beban tanggung jawab dan kemarahan yang belum terlampiaskan.
Julian segera mengangkat tangan, memberi isyarat kepada pasukan yang mengikutinya.
“Kalian, ikut aku. Dua orang ke arah kiri, awasi jalur keluar. Sisanya mengepung sisi timur dan barat. Jangan sampai ada yang lolos!”
Beberapa prajurit langsung mengangguk, bergerak cepat tanpa suara, mengikuti perintah dengan penuh kesiapan.
Lionel yang berada di sisi lain menatap Arcel dengan kagum dan bangga. Anak sekecil ini telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan anak-anak lain.
“Arcel, kamu sudah sangat hebat,” ujar Lionel sambil menepuk bahu Arcel pelan.
Namun Arcel menggeleng. “Masih ada anak-anak lain yang belum selamat. Aku mohon… cepatlah, sebelum mereka dibawa ke kapal.”
Julian menatap Arcel dalam-dalam, lalu mengangguk. “Kau sudah cukup memberi kami alasan untuk tidak membuang waktu lagi.”
Dengan itu, Julian memberi aba-aba terakhir.
“Serbu secara diam-diam. Prioritaskan keselamatan anak-anak!”
Bayard menggonggong pelan seolah memahami situasi, lalu ikut berlari di belakang pasukan, mengarah ke gubuk.
Salah satu prajurit perlahan mendorong pintu gubuk yang dimaksud.
Creeaakk…
Pintu kayu tua itu terbuka sepenuhnya.
Kosong.
Tak ada satu pun anak. Tak ada jejak kehidupan selain debu yang beterbangan pelan tersapu angin laut.
Sejenak, semua terdiam.
Prajurit itu menoleh ke arah Julian dan Arcel yang berdiri tak jauh di belakangnya.
“Jenderal, tidak ada siapa pun di dalam. Tempat ini kosong,” lapornya cepat namun hati-hati.
Arcel mengernyit, matanya tak lepas menatap ruangan kosong itu. “Tidak... Tidak mungkin. Aku yakin, di sanalah tempat mereka mengurung kami. Aku ingat betul.”
Julian menghela napas dalam, lalu menatap Arcel dengan pandangan tenang namun waspada.
“Mungkin mereka telah memindahkan para anak-anak itu... atau lebih buruk, mereka sudah menaiki kapal.”
Arcel menggigit bibir bawahnya, rasa cemas kembali menyergap. “Kalau begitu... kita harus segera ke pelabuhan.”
Julian mengangguk tegas. Sekali lambaian tangan darinya, para prajurit langsung memahami perintah.
“periksa setiap bangunan, rumah kapal, hingga sudut-sudut yang paling mencurigakan. Jangan abaikan gudang tua atau tempat penyimpanan barang. Temukan mereka sebelum kapal lepas dari pelabuhan!”
“Siap, Jenderal!” seru prajurit serempak, lalu segera berpencar ke segala penjuru dengan sigap dan terlatih.
“Theo dan anak-anak lainnya pasti dalam bahaya...” batin Arcel, gelisah. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya tak lepas dari arah gubuk yang sudah kosong.
“Tidak... aku harus menolong mereka. Aku tidak bisa diam saja,” gumamnya lirih, namun penuh tekad.
Di sisi lain.
Brave menyeret langkahnya dengan kesal, menggendong dua anak—salah satunya adalah Theo yang masih terkulai lemas setelah dihajar habis-habisan olehnya. Nafas Brave memburu, pelipisnya dipenuhi keringat, dan ekspresinya mencerminkan kekesalan yang memuncak.
"Sialan..." desisnya sambil mengencangkan cengkeramannya. "Kalau tahu akan begini, aku tak akan pernah mau menerima pekerjaan dari bangsawan misterius itu."
Nada suaranya penuh penyesalan dan amarah yang tertahan. Perjalanan yang seharusnya lancar kini berubah jadi kekacauan yang tak terduga.
Dengan kasar, Brave melemparkan tubuh Theo yang lemas ke lantai kapal. Anak itu terguling tanpa daya, tubuhnya meringkuk menahan nyeri, namun tak ada ampun sedikit pun di mata pria kejam itu.
Laporan tentang keberadaan prajurit di bibir pantai membuat Brave panik dan memutuskan mempercepat pelayaran. Anak-anak yang tersisa segera digiring ke atas kapal—tak lagi ada waktu untuk menyusun rencana pelolosan yang rapi. Mereka hanya perlu kabur secepat mungkin, meski dokumen penyewaan kapal belum sepenuhnya rampung.
Sembari menatap ke arah geladak kapal yang mulai penuh dengan anak-anak yang ketakutan, Brave melirik tajam ke arah pria yang baru saja naik.
"Bagaimana?" tanyanya singkat, nada suaranya tajam, nyaris seperti gertakan.
Kusir itu—yang sejak tadi terlihat gelisah—menarik napas panjang sebelum menjawab.
“A-aman,” jawab si kusir dengan nada gugup. Brave sempat menghela napas lega, langkahnya melambat.
Namun, belum sempat ia menjauh, suara si kusir kembali terdengar, kali ini lebih panik.
“Tidak... tidak aman!” Kusir itu berbalik, wajahnya gelisah. “Pemilik kapalnya tidak ada. Aku sudah berkeliling mencarinya, tapi dia seperti menghilang entah ke mana.”
Brave menghentikan langkahnya, ekspresinya langsung berubah tegang. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi, wajahnya menegang karena tekanan.
“Sialan... Kalau begitu bagaimana?! Kita tak bisa mengambil alih kapal ini begitu saja. Kalau kita paksa berlayar tanpa izin pemiliknya, dan orang itu muncul bersama para penjaga pelabuhan atau prajurit, semuanya bisa terbongkar!” desis Brave dengan suara pelan namun sarat amarah.
Si kusir menggaruk kepala, sama bingungnya. “Mungkin... kita cari kapal lain?”
Brave mendengus tajam. “Dengan waktu sesempit ini? Kau pikir kita sedang berjalan-jalan di pasar?”
Ia menatap sekeliling pelabuhan, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Waktu mereka semakin menipis. Para prajurit bisa saja muncul kapan saja, dan satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.
Brave yang semakin terhimpit oleh waktu mulai kehilangan kejernihan berpikir.
“Aisshh… cepat tarik jangkar! Kita tak punya pilihan selain mengambil alih kapal ini!” bentaknya, suaranya menggema di geladak yang mulai dipenuhi kepanikan.
Ucapannya terdengar oleh Theo yang masih tergeletak lemah. Namun, semangatnya belum padam. Dengan sisa tenaga, ia meraih kaki Brave—berusaha mengulur waktu, berharap Arcel akan datang menolong.
“Jangan… pergi…” desis Theo lirih.
Namun dengan kasar, Brave menghentakkan kakinya, lalu menginjak lengan Theo tanpa ampun. Anak itu terpaksa melepaskan cengkeramannya, menggeliat menahan sakit.
“Hmph! Anak menyusahkan!” geram Brave.
Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menggenggam lengan Theo.
“Sudahlah, Theo… Mungkin kita memang ditakdirkan berakhir di sini,” gumam seorang anak laki-laki lain dengan wajah pucat dan pasrah.
Theo menggeleng lemah, napasnya tersengal.
“Tidak… Arcel… dia akan datang… aku yakin…”
“Ugh!”
Theo memuntahkan darah. Rasa nyeri menghantam dadanya, tapi ia berusaha tetap sadar. Ia harus bertahan… demi semuanya.
“Naikkan jangkarnya!” teriak Brave lagi, lebih keras.
Namun saat salah satu anak buahnya baru saja menjulurkan tangan ke arah tali jangkar…
Swiinngggg…!
Sebuah anak panah meluncur cepat, menebas udara dan nyaris mengenai wajah Brave.
Pang!
Anak panah itu tertancap di balok kayu tepat di samping kepala Brave.
Pria itu terperanjat, tubuhnya menegang.
Ia segera menoleh ke arah asal tembakan. Matanya membelalak saat melihat sesosok prajurit berdiri kokoh di bibir dermaga, dengan busur masih terangkat dan mata yang tak berkedip menatapnya tajam.
Angin laut menggoyangkan jubah prajurit itu. Seragam resmi membalut tubuhnya—tak lain adalah…
Julian.
“Sialan… mereka sudah datang…” desis Brave. Rahangnya mengeras, keringat dingin mengalir deras di pelipisnya.
Langkah-langkah lain terdengar. Bayangan-bayangan muncul dari balik rumah kapal dan tumpukan peti.
Prajurit-prajurit kerajaan mulai mengepung pelabuhan.
Brave menggertakkan gigi. “Kita kehabisan waktu…”