Pemuda itu mengacungkan pistolnya persis di dada sebelah kiri Arana. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak bisa.
Dor!!
••••
Menjadi tunangan antagonis yang berakhir tragis, adalah mimpi buruk yang harus Nara telan.
Jatuh dari rooftop sekolahnya, membuat Nara tak sadarkan diri dengan darah yang menggenang di tempat dirinya terjatuh.
Nara pikir dia akan mati, namun saat gadis itu terbangun, ia begitu terkejut ketika mendapati jiwanya sudah berbeda raga.
Berpindah di raga tokoh novel yang merupakan tunangan dari antagonis cerita.
Ia bernama Arana Wilson.
Saat mencapai klimaks, tokoh ini akan mati tertembak.
Sialnya, karena terjatuh, Nara tidak tau siapa malaikat maut raga yang kini ia tempati.
Bagaimana kisah Nara di novel itu sebagai Arana. Akankah dia tetap mati tertembak atau justru ia mampu mengubah takdirnya.
🍒🍒🍒
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Malvin!"
Pemuda itu menoleh ketika mendengar seseorang menyebut namanya. Dari arah tribun Mira berjalan ragu-ragu mendekatinya dengan sebotol air mineral yang dibawa gadis itu.
"Kamu...kamu pasti haus. Aku bawain air buat kamu." ucap gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu.
Malvin menatap malas. Ia abaikan Mira dan lebih memilih mengusap keringat menggunakan jersey-nya sambil berbalik badan menjauhi gadis itu.
Sedangkan Mira hanya bisa menunduk malu. Lagi-lagi Malvin mengabaikannya dan sekarang terjadi di tempat umum. Di mana bukan hanya ada dirinya dan Malvin.
Biasanya jika di tempat umum, Mira tidak berani mendekati Malvin. Takut hal seperti ini akan terjadi dan hanya akan mempermalukan dirinya. Tapi kini ia nekat melawan larangan yang di buat sendiri.
Dan itu karena Arana. Sekali lagi Arana membuatnya melakukan hal konyol.
Arana, awas saja. Mira bakal buat perhitu--
"Elah, Vin! Cewek cantik gini dianggurin." tiba-tiba seseorang berceletuk. Mendekati Mira dan mengambil botol itu darinya.
Mira menoleh. Lalu mendapati salah seorang teman Malvin tengah membuka botol itu.
"Buat gue ya? Malvin nggak mau kan?" ujarnya sebelum menengguk air itu hingga separuh.
"Lo pacar Malvin kan? Dia biasa cuek sama lo?" tampaknya siswa bernama Edo itu tidak ingin obrolannya dengan Mira berakhir begitu saja.
"Gi--gimana?" Mira tampak gugup. Jari jemarinya saling memilin resah.
"Daripada sama dia, mending sama gue. Cowok cuek gitu mending lo tinggalin deh." hasut Edo.
Siswa yang terkenal dengan label playboy-nya itu seakan sedang memberi umpan kepada mangsanya. Jika termakan, bukankah ia beruntung, karena berhasil menggaet pacar salah satu most wanted di sekolah.
"Maaf, gue--
"Minggir!"
Tubuh Edo terhuyung ke samping saat seseorang mendorongnya. Menyadari sang pelaku, Edo hanya tertawa mengejek.
"Santai dong bos. Takut banget pacarnya gue ambil." ucapnya terkesan santai.
Malvin mendengus malas. Baginya, Mira memang hanyalah pelarian. Tapi, pemuda itu tidak suka jika miliknya diusik orang lain.
"Jangan ikut campur antara gue sama pacar gue." ujarnya memperingati. Tatapannya tajam penuh ancaman kepada Edo.
Sedangkan Mira, gadis itu tampak termenung. Kata-kata terakhir Malvin berhasil membuatnya terpaku.
Pacar gue.
Malvin mengakuinya sebagai pacar. Bibir Mira berkedut ingin tersenyum. Pun dengan dadanya yang berdebar-debar. Apakah Malvin tengah...cemburu?
"Ayo." Malvin menarik lengan Mira. Membawa gadis itu pergi dari lapangan. Pacarnya itu hanya bisa menurut. Kakinya berlari kecil mengikuti langkah Malvin yang lebar.
"Mira! Tawaran gue masih berlaku. Datang aja kalau lo mau!"
Bahkan teriakan Edo itu tidak Mira hiraukan. Pikirannya, masih terbayang-bayang dengan kata 'pacar gur' yang Malvin kumandangkan.
Semua itu tidak luput dari mata Arana yang sejak tadi bersembunyi di balik tiang pembatas untuk mengawasi. Kenapa harus bersembunyi? Agar Malvin tidak melihat dirinya.
Di rasa, Malvin dan Mira sudah benar-benar pergi, Arana keluar dari persembuyiannya.
"Ah, gue rasa Malvin udah suka sama Mira, tapi belum sadar aja."
Masih sibuk dengan ansumsinya, ponsel gadis itu berdering. Menghamburkan dari saku rok-nya, Arana menyipitkan mata heran melihat siapa yang memanggilnya.
"Halo tante."
"Hai sayang, tante ganggu kamu nggak?" balas seseorang di seberang sana.
"Oh enggak kok. Ada apa? Tumben banget nelpon."
"Pulang sekolah, kamu bisa main ke sini nggak? Tante kesepian. Stella sama Om Kevin belum pulang."
Arana nampak menimang. Haruskah ia menerima permintaan ibu tiri Hades itu atau tidak. Tapi bukankah bagus, semakin sering dia ke sana, maka tugas ke dua akan segera muncul.
Masalah Hades, biarlah urusan belakangan.
"Arana?" suara Yuna kembali menyapa.
"Eh, Tan. Boleh deh. Nanti aku mampir ya."
"Terimakasih sayang. Tante seneng banget."
"Aku ikut seneng kalau gitu."
Lebih senang lagi, jika tugas kedua segera muncul. Arana berharap, setelah pulang dari rumah orangtua Hades, ia tidak pulang dengan tangan kosong.