Naya, hidup dalam bayang-bayang luka. Pernikahan pertamanya kandas, meninggalkannya dengan seorang anak di usia muda dan segudang cibiran. Ketika berusaha bangkit, nasib mempermainkannya lagi. Malam kelam bersama Brian, dokter militer bedah trauma, memaksanya menikah demi menjaga kehormatan keluarga pria itu.
Pernikahan mereka dingin. Brian memandang Naya rendah, menganggapya tak pantas. Di atas kertas, hidup Naya tampak sempurna, mahasiswi berprestasi, supervisor muda, istri pria mapan. Namun di baliknya, ia mati-matian membuktikan diri kepada Brian, keluarganya, dan dunia yang meremehkannya.
Tak ada yang tahu badai dalam dirinya. Mereka anggap keluh dan lemah tidak cocok menjadi identitasnya. Sampai Naya lelah memenuhi ekspektasi semua.
Brian perlahan melihat Naya berbeda, seorang pejuang tangguh yang meski terluka. Kini pertanyaannya, apakah Naya akan melanjutkan perannya sebagai wanita sempurna di atas kertas, atau merobek naskah itu dan mencari kehidupan dan jati diri baru ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin
Kamar hotel itu begitu luas, lebih dari yang pernah Naya bayangkan. Lampu-lampu temaram memancarkan cahaya hangat, memantul lembut pada tirai satin dan dinding berlapis emas tipis. Kelopak bunga mawar tersebar di atas ranjang berkanopi, dan sebotol sampanye yang belum dibuka tergeletak di meja samping tempat tidur. Aroma lavender samar-samar menguar, entah dari lilin aromaterapi atau pengharum ruangan mahal.
Naya melangkah masuk ragu-ragu. Gaun pengantinnya masih melekat sempurna di tubuhnya, meski beratnya mulai terasa. Sanggulnya sedikit melonggar hampir terurai, tapi ia tak punya keberanian untuk melepasnya. Di ambang pintu, ia berdiri mematung, tak tahu harus melakukan apa. Duduk di ranjang? Terlalu berani. Berdiri terus? Kakinya mulai pegal.
Brian, yang sejak tadi sibuk melepas dasi dan jasnya, akhirnya menyadari keanehan itu. Ia menatap Naya dari pantulan cermin besar di hadapannya.
“Kamu mau berdiri terus di sana?” tanyanya, nada suaranya terdengar datar, hampir seperti mengomentari cuaca.
Naya tersentak. Ia memaksakan senyum tipis, meski hatinya berdebar tak karuan. “Kita tidur di sini? Berdua?”
Brian berbalik. Kemejanya sudah ia gulung hingga siku, dan sepatu pantofelnya sudah dilepas. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih polos yang sedikit kusut dan celana hitam. Meski penampilannya lebih santai, auranya tetap dingin dan tak terjangkau.
“Ya, terus?” balas Brian, alisnya terangkat sinis.
Naya menggigit bibirnya. “Saya kira Kak Brian tidak mau bersama saya.”
Ada jeda singkat sebelum Brian tersenyum miring, senyum yang tidak sepenuhnya ramah. “Saya mau atau tidak itu bukan urusan kamu,” katanya pelan, tapi menusuk. “Urusan kamu itu cuma satu—kalau saya mau, berarti kamu layanin saya.”
Deg.
Naya merasakan jantungnya mencelus. Kata "melayani" itu bergema di kepalanya, mengusik sesuatu yang rapuh dalam dirinya. Apakah itu artinya menjadi istri yang seutuhnya malam ini? Apakah Brian menganggap pernikahan ini tak lebih dari sebuah kontrak tak tertulis, di mana ia harus membayar kebebasannya dari Alvin dengan tubuh dan pengabdiannya?
Naya berusaha menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering. “Katanya Kak Brian mau saya mengabdikan hidup sebagai balasan karena sudah menyelamatkan saya dan Sean,” ucapnya lirih.
Brian terkekeh pelan, getir. “Oh, sekarang kamu ingat itu?”
Naya mengangkat wajahnya, menatap Brian dengan mata berkaca-kaca. “Kak, kalaupun iya… bukan karena itu. Saya di sini karena saya istri Kak Brian.”
Hening.
Brian memejamkan mata sejenak, seolah lelah mendengar jawaban itu. “Jangan romantisasi keadaan ini, Naya. Kita menikah karena terpaksa. Kamu tahu itu.”
“Terpaksa bagi Kak Brian, bukan bagi saya.”
Kalimat itu membuat Brian tersentak. Tatapannya mengeras. “Jangan memaksakan perasaan, Naya.”
Naya menggeleng, suaranya bergetar. “Saya nggak memaksakan apa pun. Saya cuma mau Kak Brian tahu, saya nggak pernah merasa pernikahan ini adalah hukuman atau beban. Saya tahu Kak Brian nggak cinta saya. Saya tahu ini semua soal status. Tapi saya di sini karena saya mau menjadi istri Kak Brian, bukan karena saya berhutang budi.”
Ruangan terasa semakin sempit.
Brian melangkah mendekat, dan Naya bisa merasakan jantungnya berpacu lebih cepat seiring jarak di antara mereka menyempit. Napas Brian terdengar tenang, tapi sorot matanya berbahaya.
“Kamu pikir kata-kata manis itu bisa mengubah apa pun?” tanya Brian dingin. “Kamu pikir saya bakal luluh dan mulai jatuh cinta?”
Naya menggeleng cepat. “Nggak. Saya cuma mau Kak Brian tahu, saya nggak akan lari. Saya ada di sini, bukan karena takut pada Alvin, tapi karena saya milih untuk ada di sisi Kak Brian.”
Brian terdiam, rahangnya mengeras.
Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh dagu Naya, mengangkatnya perlahan. Naya bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Brian—campuran parfum mahal dan sedikit jejak rokok yang samar.
“Kamu tahu nggak, Naya…” suara Brian nyaris berbisik. “Kalau kamu terus ngomong seperti ini, saya bisa salah paham.”
Naya menahan napas. “Salah paham gimana?”
Brian tersenyum miring. “Saya bisa berpikir kamu benar-benar mau saya. Bukan cuma sebagai suami formalitas.”
Kata-kata itu bagaikan pisau tajam yang melukai hati Naya. Ia tahu, seberapa keras pun ia berusaha menjelaskan perasaannya, Brian tetap tak percaya. Baginya, Naya hanyalah seseorang yang hadir di hidupnya karena keadaan. Bukan karena cinta.
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh.
“Saya memang mau Kak Brian. Tapi bukan cuma sebagai suami di atas kertas,” lirih Naya.
Kali ini, ekspresi Brian berubah. Ada kilatan tak terbaca di matanya—entah amarah, entah kebingungan.
Ia mundur selangkah, menjauh dari Naya.
“Kamu terlalu banyak berharap,” gumamnya. “Saya tidak akan menyentuh mu lagi untuk saat ini. Kamu tau kan waktu itu hanya kesalahan ?"
"Iya saya tau, mana mungkin Kak Brian mau menyentuh perempuan seperti saya."
"Baguslah kalau kamu menyadari nya Naya." Brian melepas kemeja nya acuh lalu mengambil bathrobe.
Brian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah seharian harus berhadapan dengan banyak orang tentu rasanya saat ini tidak nyaman.
Naya hanya melihat punggung suaminya yang perlahan menghilang seiring pintu kamar mandi yang mulai tertutup rapat.
Naya duduk di depan meja rias, dirinya sedang membersihkan sisa riasan agar nanti hanya tinggal mandi sambil berusaha melepaskan gaunnya. Namun sial sangat sulit menjangkau nya, gaun itu di design dengan kancing sepanjang punggungnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Brian nampak sangat 'menarik' dengan tubuh atletis dan air yang melalui otot otot kekarnya kini menetes menambah auranya semakin terlihat panas.
"Kenapa? Kamu terkesima?"
"Eng-enggak Kak. Saya mau minta tolong tapi takutnya Kak Brian gak bisa." Lamunan Naya buyar oleh Brian
" Apa ?"
" Ini saya gak bisa lepasin ini." Ucap Naya sambil menunjukkan punggungnya
Tanpa menunggu intruksi lain, Brian mendekat lalu mulai melepaskan kancing itu satu persatu hingga punggung Naya yang bersih dan mulus itu terekspose. Awalnya biasa saja, namun seiring semakin terbuka nya gaun Naya ada sesuatu yang kini meronta dalam diri Brian.
Brian menelan salivanya.
"Terimakasih Kak, saya bisa selesaiin sisanya"
Ucapan Naya seketika menyadarkan Brian yang hampir saja meruntuhkan tembok pertahanan nya sendiri. Dirinya yang berucap tak akan menyentuh dirinya juga yang hampir kehilangan kendali.
Brian melepaskan pegangannya pada gaun Naya lalu berbalik meraih pakaian, bantal dan selimut cadangan di sofa besar dekat jendela. Tanpa menoleh, ia membaringkan tubuhnya di sana.
Sementara Naya berdiri kaku di dekat ranjang, hatinya semakin berat.
Malam pengantin yang ia impikan, yang seharusnya menjadi awal dari kehidupan baru, kini terasa lebih dingin dari yang ia kira.
Tapi ia tahu… perjalanan ini baru saja dimulai.
geuleuh...laki kurang peka udah di kasih enak berulang kali, masih aja mempertanyakan perasaan.
Gas keun ka Author jgn kasih kendor
harus'y si pria entu duluan 😁
V takapalah heheee
Lanjut ka Author ttp semangat 💪
Lanjut ka...