NovelToon NovelToon
Istri Bayangan CEO Tampan

Istri Bayangan CEO Tampan

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:28.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: fink fink

Namanya Dhatu, yang artinya anak yang anggun bagai ratu. Orangtuanya memberi nama itu dan berharap putri kesayangan mereka dapat diperlakukan bak ratu oleh pasangan hidupnya kelak. Namun siapa sangka, arti nama tak selalu sama dengan hidup yang kita jalani.

Demi membalas budi dan menjaga kehormatan kedua orangtuanya, Dhatu Anjani terpaksa menikah dengan Dirga. Lelaki tampan dengan sikap dingin, seorang CEO dari perusahaan eletronik yang cukup terkenal di Indonesia.

Dirga tak menginginkan pernikahan konyol itu. Padahal, dirinya memiliki seorang kekasih, Kana. Akan tetapi orang tuanya begitu memaksa agar ia menikahi Dhatu.

Dirga yang menyerah akhirnya menerima perjodohan itu, namun ia tak pernah sekalipun meninggalkan Kana. Ia akan membuat hidup Dhatu bagai di nereka dan membuat wanita itu menyesel karna telah menerima pernikahan yang seharusnya tak pernah terjadi.

"Kamu hanyalah bayangan yang akan selalu berada di belakang, jadi jangan perlihatkan dirimu di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fink fink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kau Mengerti Hatimu?

Deru angin satu-satunya suara di antara mereka. Aroma asin dari laut memenuhi indera penciuman, suara anak-anak yang tengah bermain kejar-kejaran mulai terdengar kembali. Menyadarkan keduanya dari keterpakuan. Dirga segera menarik tangannya dari wajah Dhatu, lalu tersenyum kikuk saat tak menerima jawaban apa pun dari wanita itu atas pertanyaannya.

"Kata orang, jangan memberi keputusan saat marah. Bagiku, perkataan itu benar," ucap Dhatu menoleh ke arah Dirga, tatapan keduanya bertemu, "jangan memutuskan apa pun saat hatimu marah dan kecewa. Jangan mengungkap cinta ketika kamu sendiri nggak mengerti dengan hatimu. Pada akhirnya, kamu akan menyesal, jika mengucapkan sesuatu dengan hati yang kacau," lanjut Dhatu tersenyum miris.

Dirga menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia tahu, semua ini pasti sulit bagi Dhatu. Terlalu semu untuk menerima ucapannya yang tak masuk di akal. Terkesan sebagai pelarian, karna dirinya baru saja kehilangan cinta. Anehnya, ia tak merasa kehilangan cinta karna perpisahan itu.

Hatinya tak sedikitpun merasakan sakit, walau memang marah sempat menguasainya, namun itu semua karna merasa dipermainkan semata. Selebihnya, ia baik-baik saja. Hubungan di antara dirinya dan Kana terjalin hampir setahun lamanya, namun seakan tak memiliki makna apa pun. Mungkin karna dirinya yang tak punya hati atau memang sejak awal dirinya tak pernah jatuh cinta, melainkan kagum akan keindahan paras dan lekuk tubuh wanita itu. Pada akhirnya, dirinya sama saja dengan lelaki di luar sana. Terbuai hasrat dan tak pernah mengerti artinya cinta sebenarnya, hingga ia bertemu Dhatu. Wanita yang tak dilihatnya dari paras semata. Ia berbeda karna mampu membuat hati Dirga kacau bukan main.

"Terdengar seperti gombalan belaka ya, Tu?" ia tersenyum lirih, tak mau bersusah payah menyembunyikan kekecewaannya. Dirga menggenggam tangan Dhatu yang berada di pasir putih, menatap lembut wanita itu. Andai wanita itu merasakan apa yang ada di hatinya, maka wanita itu mengerti jika rasanya adalah nyata. Bukan pelarian semata.

"Aku akan membuktikan padamu, jika perasaan ini nyata. Aku nggak akan mundur. Aku pikir, aku telah jatuh cinta padamu."

Jantung Dhatu berpacu liar. Dirinya, mungkin, merasakan hal yang sama. Hanya saja, dirinya sendiri masih tak bisa mengartikan perasaan di antara mereka. Sekedar tanggungjawab, atau memang dirinya telah terbuai dalam rasa yang menyelimuti hati? Ia pun ingin mencari tahu, apakah perasaan ini hanya karna iba semata, atau memang dirinya telah jatuh cinta pada lelaki itu?

Dhatu tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Dirga dan mengarahkan pandangan ke depan. Dirga mengikuti arah pandang Dhatu, ingin ikut tenggelam dalam keindahan ciptaan Tuhan di hadapan mereka. Matahari mulai terbenam. Cahaya jingga menguasai cakrawala sebelum matahari ditelan bumi, memberikan suasana damai pada hati setiap orang yang menyaksikannya.

"Jangan menjadi seperti senja, Mas," ucap Dhatu masih menatap lurus ke depannya, "yang keindahannya hanya sementara. Tak ada hal lain yang senja berikan selain romantisme singkat yang akan menghilang tanpa jejak. Keindahannya akan tergantikan oleh kelamnya malam. Jangan seperti senja yang datang hanya untuk pergi lagi."

Dirga mengeratkan genggaman tangannya. "Aku bukan senja yang menghipnotismu sesaat, menjebakmu dalam keindahannya, lalu pergi begitu aja, Tu. Aku akan tetap tinggal di sisimu."

Dhatu tersenyum mendengarkan perkataan lelaki itu dan berharap Dirga tak 'kan menjadi senja yang akan beranjak pergi dan meninggalkan kesan indah tanpa bisa berlangsung selamanya. Ia tak mampu mencegah kebahagiaan yang menjalar perlahan dan memenuhi hatinya. Bolehkah dirinya berbahagia?

Hati bagai labirin yang membingungkan, kerap menyesatkan kita, mengacaukan diri, bahkan kewarasan kita. Bila kita sendiri tak mampu mengerti jalan keluar dari labirin tersebut, maka bagaimana bisa menerima hati lain? Biarlah ... yang mereka butuhkan adalah sedikit waktu untuk saling mencari tahu perasaan yang rumit itu. Biarlah, sekarang mereka saling meraba, agar tak ada penyesalan yang menyesakkan dada.

***

Saat senja sepenuhnya telah berpulang dan kelam malam menggantikan langit senja, saat itu Abra datang dengan dua orang pramusaji yang membawakan meja kecil dan juga senampan makanan. Meja kecil diletakkan di antara keduanya, lalu seorang pramusaji yang membawa makanan, menghidangkannya di meja yang ada di antara mereka.

"Kami nggak pesen makanan," ucap Dirga kebingungan, sedang Abra tersenyum penuh arti.

"Ini permintaan khusus Ibu Lestari untuk Bapak dan Ibu," ucap Abra, "saya tinggal dulu dan selamat menikmati," lanjut Abra sembari mengajak kedua pramusaji ikut bersamanya.

"Makasih banyak," ucap Dhatu sebelum Abra berlalu pergi. Lelaki muda itu tersenyum dan mengucapkan 'terima kasih kembali'.

"Tampaknya usaha Mama berhasil membuatku dekat dan jatuh cinta padamu," ucap Dirga sembari mengusap puncak kepalanya. Entah karna sinar rembulan atau suasana yang terlalu romantis, hingga Dhatu tak mampu berpaling dari keterpesonaannya.

Dhatu tertawa kecil. Menggeleng-geleng kepala mendengarkan penuturan lelaki itu. Padahal, awalnya mereka berdua merasa tak senang dan juga cemas memikirkan apa yang akan terjadi, akan tetapi sekarang Dhatu merasa begitu beruntung. Sangat.

"Tapi sayangnya, cuma aku yang jatuh cinta sendiri," ucap Dirga lirih sembari menatap Dhatu. Tawa Dhatu sirna.

Dirinya tak berani mengakui rasa berkecamuk dalam hati. Dirinya pengecut dalam hal percintaan. Kata orang, jangan jatuh cinta, karna yang namanya jatuh selalu menyakitkan. Cinta pun selalu disiapkan dalam satu paket, bahagia dan juga sakit. Dirinya belum siap untuk menerima perasaan yang terburu-buru. Toh, masih banyak waktu di antara mereka.

"Nggak pa-pa, Tu." Dirga tersenyum dan mengusap lembut wajah Dhatu, "aku akan membuatmu jatuh cinta, hingga nggak bisa melupakan cinta itu. Seumur hidupmu."

Senyum lelaki itu menular pada Dhatu. "Makasih karna kamu mau sabar menunggu, Mas."

Dirga berdesis kesal, ia menggeser duduk ke hadadapan Dhatu dan menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Mata Dhatu seakan lautan yang begitu dalam untuk diselami, tetapi ia mampu melihat masa depan mereka di sana. Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? Hanya dengan menatap ke dalam mata seseorang, bayangan tentang masa depanmu terlihat jelas di sana? Itulah yang Dirga rasakan saat ini. Bersama wanita itu, semuanya menjadi lebih jelas.

"Aku bukan lelaki yang selalu sabar, Tu. Sabar nggak ada di dalam kamus hidupku," ia mempertipis jarak di antara wajah mereka dan menatap ke dalam sepasang netra wanita itu, "jadi ... cepatlah jatuh cinta padaku!"

Tanpa aba-aba lelaki itu sudah menempelkan bibir mereka. Mata keduanya terpejam, namun bibir mereka saling berpagut dan bergerak dengan irama yang sama. Debaran jantung keduanya sama persis, terlalu kencang, hingga hati keduanya berdesir hangat. Bulan dan bintang adalah saksi biksu atas romantisme di antara keduanya.

Dhatu tahu tak mudah menahan rasa yang bergejolak di antara mereka. Mungkin, dirinya yang terlalu takut mengambil resiko, atau pesona lelaki itu sulit dihindari. Yang ia tahu, dirinya ikut terbuai dalam rasa yang mengacaukan hati.

1
Alifah Azzahra💙💙
Mampir yah Thor 🥰🥰
Jarmini Wijayanti
semangat dalam berkarya sukses slalu thor 👍🏻👍🏻👍🏻💖
Jarmini Wijayanti
baca tapi kaget waktu kata dorrrr
Jarmini Wijayanti
nah gitu dong jujur mbak dhatu lamanya mau jujur aja susah
Jarmini Wijayanti
jangan harus bicara terus dhatu selesaikan dengan adanya suami di sisi
Jarmini Wijayanti
melayang layang terus bisa jatuh
Jarmini Wijayanti
itu obsesi bukan cinta babang Alvin
Jarmini Wijayanti
mas Krisna ama aku aja ya thor
Jarmini Wijayanti
dhatu terlalu polos gak asik di ajak romantis
Jarmini Wijayanti
kana mulailah mawas diri
Jarmini Wijayanti
bang Dirga sangat tegas hati hati dhatu jangan menyesal karena rumah tangga ada orang ketiga itu bahaya
Jarmini Wijayanti
hatimu sungguh mulia dhatu tak sepertiku ya thor 😄😄
Jarmini Wijayanti
jujurlah mbak kana
Jarmini Wijayanti
gitu dong emang jalan terbaik👍💯
Jarmini Wijayanti
terus terang aja sih tu susah amat
Jarmini Wijayanti
gimana sih pusing saya mikirnya
Jarmini Wijayanti
lebih baik di bicarakan mbak dhatu daripada salah paham tahu sendiri suami cemburuan
Jarmini Wijayanti
jangan bimbang pak Dirga mantapkanlah hatimu untuk siapa
Jarmini Wijayanti
umumkanlah pernikahan kalian kan udah saling cinta apalagi yang di tunggu
Jarmini Wijayanti
suka sifat Dirga 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻💖😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!