(Baca Ulang, Sudah aku edit)
Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘
***
Nasta Ayruma
Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.
Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.
Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.
Pandu Bragistandara.!
Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Ketahuan
"Nasta, aku mau kamu."
"Mau apa mas?"
"Melayani aku sebagai istri yang seutuhnya."
Nasta membulatkan mata dengan pikiran yang berkecamuk penuh rasa dilema karena permintaan Pandu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Perkataan Pandu sukses membuat Nasta berpikir dengan keras.Nasta merasa ini adalah suatu kondisi yang sangat menyulitkan. Suatu kondisi yang menawarkan dua kemungkinan,
Jika dia memilih menjadi istri yang berbakti, maka resiko dia akan tiduri bukan karena cinta, melainkan hanya karena nafsu belaka. Atau jika dia memilih menjaga kesuciannya, maka resikonya dia bisa saja di cap sebagai istri yang laknat durhaka.
"Apa mas Pandu mencintai ku?"
Tok tok tok..
Sebuah ketukan pintu membuat keduanya tersadar.
Membuat Pandu berdecak kesal dan segera menurunkan Nasta dari meja karena takut ketahuan. Pandu lupa, tadi dia menyuruh Abraham mengantarkan beberapa berkas ke rumahnya. Bahkan dengan segera mungkin Pandu menjauh meninggalkan Nasta dan segera kembali ke meja kerjanya.
Sementara Nasta sendiri yang kalang kabut segera merapikan bajunya yang sedikit acak-acak an. Gadis itu ikutan berdecak kesal mengingat ini semua ulah lelaki itu.
"Ini gara-gara kamu mas Pandu." Nasta mengusap bibirnya yang sedikit basah dengan kedua tangannya. Pandu benar-benar membuatnya kacau.
"Masuk."
Jantung Nasta bahkan masih berdebar kencang ketika seorang lelaki dengan pakaian semi formal melangkah masuk menghampiri Pandu dengan beberapa berkas ditangannya. Suaminya itu bahkan seoalah tidak peduli bagaimana keadaan Nasta, malah main seenaknya sendiri meminta tamu masuk begitu saja.
Tapi perhatian Nasta kini teralihkan pada seorang yang berjalan dengan sangat berwibawa didepannya.
Seorang lelaki yang Nasta bisa tebak memiliki umur yang lebih tua dari suaminya. Bagi Nasta lelaki itu sangat tampan meskipun tetap saja Pandu yang lebih tampan, kalau tersenyum tapi.
Siapa dia? Nasta merasa pernah melihatnya, tapi dimana ya?
"Selamat siang tuan." Sapa lelaki itu ramah pada Pandu. Dan seperti biasa, Pandu enggan menjawab, hanya sekedar menganggukkan kepala.
Cih, semahal apa sih suara mu itu mas Pandu?
"Selamat siang nona Nasta."
Nasta langsung melebarkan senyumnya dengan bingung harus memanggilnya apa, pasalnya dia sendiri tidak tahu siapa lelaki itu, siapa namanya juga tidak tahu.
Dipanggil om? Ah tidak.
"Siang kembali kak..." Jawabnya ramah sebelum akhirnya dia ingat pernah melihat lelaki itu di pesta pernikahan mereka.
Tapi, lagi-lagi Nasta dibuat semakin bingung ketika lelaki itu tiba-tiba menolehkan kepala pada suaminya, dan segera meminta maaf.
"Maafkan saya tuan."
Nasta semakin dibuat tidak mengerti ketika sorot mata Pandu menatap tajam pada lelaki yang berwibawa itu. Padahal Nasta tidak melihat lelaki itu melakukan kesalahan apapun, dan entah kenapa suasana tiba-tiba berubah mencekam.
Pandu dengan tatapan tajamnya tak melepaskan Abraham begitu saja. "Sekali lagi, saya mohon maaf tuan."
Nasta di tempatnya semula, merasa seperti badut yang tidak tahu apapun tentang drama di depannya.
"Nasta, kemarilah." Ucap Pandu, dengan nada ciri khasnya. datar dan dingin Tapi tidak masalah, karena Nasta sudah terbiasa. Gadis itu segera berjalan menghampiri suami dengan perasaan was-was karena takut suasananya akan lebih menakutkan.
"Iya mas Pandu."
Nasta semakin kaget karena tiba-tiba Pandu menarik dirinya kesamping lelaki itu. Bahkan Pandu sampai merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Kenalkan, dia sekretaris pribadiku." Sorot mata Pandu masih menatap tajam ke arah Abraham, membuat lelaki itu hanya menundukkan kepala. "namanya Abraham."
"Halo kak Abraham, senang bertemu dengan mu." Sapa ramah Nasta, seperti biasa dengan hangat dan ceria.
"Maafkan saya nona, panggil saja Abraham." Jawab Abraham dengan kaku membuat Nasta mengkerutkan dahi. Diam-diam di dalam hati, dia mengumpat dan ingin tertawa secara bersamaan.
Gak mas Pandu, gak juga sekretarisnya. Sama-sama kayak kanebo kering saja. Kaku banget
"Mana bisa begitu? Itu sangat tidak sopan."
Tepat setelah Nasta menyelesaikan ucapannya, gadis itu merasakan rangkulan Pandu di pinggangnya seakan lebih kencang. Abraham hanya diam saja ketika Pandu terus menatapnya sengan sorot mata membunuh.
"Nasta." Kini gantian Pandu yang bersuara. "Panggil saja dia sekretaris Abraham."
"Nah, mas Pandu bener tuh.. kalau itu lebih sopan. Jadi Nasta gak merasa gak enak hati " Nasta menatap Pandu dengan senyum yang berbinar. Gadis itu menganguk setuju, meskipun dia sendiri bingung kenapa Pandu menatap sekretarisnya seperti itu.
"Senang berkenalan dengan mu, sekretaris Abraham."
"Iya nona." jawab Abraham singkat.
Baru setelah itu Nasta bisa bernafas lega karena kini Pandu sudah mengalihkan tatapannya. Sekarang Pandu menatap istrinya dengan sorot mata yang hangat, tak setajam sorot mata pada sekretarisnya itu.
"Keluarlah, dan terimakasih makanannya. Masakanmu enak."
Nasta menganggukkan kepala. Di iringi pipi yang merah merona, karena masakannya di puji enak oleh sang suami.
Ah, andai saja Pandu mengerti. bagaimana perasaan senang gadis itu ketika dia memujinya, mungkin Pandu akan terus mengejeknya lemah. Bagaimana tidak, hanya di puji begitu saja sudah membuat hati dan jantungnya di landa musibah gempa bumi. Bergetar semua.
Bukan Nasta gila pujian, bukan. Tapi ini Pandu lo, lelaki yang angkuh dan dingin itu memujinya lo.. Tentu, menjadi salah satu prestasi yang patut di banggakan, bukan??
Nasta menutup pintu ruang kerja itu dengan pelan. Lalu dia berjalan ke dapur untuk membersihkan bekas piring mereka berdua.
"Selamat siang nona.." Sapa Mina dengan ramah. Ketika Nasta sampai di dapur, Mina sudah terlebih dahulu berada di sana. Menyiapkan beberapa sayuran yang baru saja dia beli dari pasar.
"Ah bibi Mina.. selamat siang kembali bibi." Jawab Nasta sambil meletakkan piringnya di tempat cucian.
"Nona habis masak ya?"
"Iya bibi.. Nasta tadi masak buat mas Pandu. Katanya dia lapar..." Jawaban Nasta dengan jelas, dengan perasaan yang senang. Jujur Nasta senang sekali ketika ada yang mengajaknya mengobrol. "Bibi mau masak ya? Tapi ini kan masih siang bibi.."
"Iya nona, soalnya nanti malam tuan besar pulang. Jadi biasanya bibi masak banyak kalau tuan besar ada dirumah."
"Tuan besar? Apa itu papa nya mas Pandu?"
"Benar, nona."
"Kalau begitu Nasta bantuin bibi masak ya?"
Memasak adalah hal yang paling disukai Nasta. Berada di dapur adalah hobi nya sedari dulu. Dulu ibu Winda sangat sering melibatkan dirinya dalam urusan masak memasak. Jadi mungkin karena itulah, sekarang Nasta bisa memasak dengan pandai dan selalu enak.
"Tidak perlu nona, nona bisa beristirahat saja di kamar. Ini sudah menjadi tugas bibi." Mina menolaknya secara halus. Biar bagaimanapun, Nasta adalah istri dari anak majikannya. Mina tentu merasa sungkan walaupun sebenarnya Mina sudah menyayangi Nasta seperti anak sendiri.
"Aku akan sangat bersedih kalau bibi menolak ku. Sejak dulu ibuku suka sekali mengajak ku memasak di dapur bibi. Jadi tolong, Biarkan aku membantu bibi. Itu bisa membuat rasa rindu Nasta pada ibu berkurang." Tidak menyerah, karena Nasta benar-benar ingin membantu bibi Mina di dapur.
"Ya? Plis bibi.." Gadis itu menatap Mina dengan sorot mata penuh harap. Membuat Mina tak kuasa jika harus menolaknya.
"Baiklah, tapi kalau nona capek bilang ya? Jangan dipaksain."
Aaaaaaaaa "Terimakasih bibi." Gadis itu spontan memeluk Mina dengan perasaan yang senang. Membuat Mina membalas pelukannya dengan hangat.
"Nona tumbuh sangat cantik, dan baik."
Nasta semakin melebarkan senyumnya. Hari ini gadis itu merasa senang sekali. Kesenangannya karena di puji sang suami belum mereda. Sekarang, dia lebih senang karena di izinkan membantu bibi Mina memasak untuk makan malam.
Bukan tanpa sebab, Sebenarnya Nasta punya alasan yang kuat kenapa dia ingin ikut serta membuat hidangan untuk makan malam. Selain karena memang dia yang suka memasak, itu semua karena tuan besar.
Nasta belum pernah bertemu dengan papa mertuanya. Gadis itu sedikit merasa takut, karena dia sendiri belum mengerti apakah papa mertuanya itu juga menerimanya atau tidak.
Bagaimana kalau papanya Mas Pandu tidak menyukainya? Mengingat, Dia hanya berasal dari keluarga sederhana. Bukan keluarga kaya raya yang terpandang. Dia juga tidak merasa cantik dan tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Dilihat dari segi manapun, dia sendiri merasa tidak cocok jika bersanding dan menjadi istri dari seorang Pandu.
Jadi, Nasta berharap masakannya nanti bisa mengambil hati papa mertua dan membuatnya bisa menerima Nasta seperti tante Maria menerimanya.
"Bibi, apakah tuan besar orang yang baik?"
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭