Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu membuat hatiku tersenyum
Keesokan paginya Joshua datang bersama Nicole yang dikawal oleh dua orang polisi. Semalam saat Joshua hendak pulang ke rumah untuk mengurus sesuatu, ia mendapat telepon dari Nicole. Wanita itu bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Dokter segera memeriksa Nicole. Tidak lama kemudian hasil pemeriksaan telah keluar. Sumsum tulang belakangnya cocok dengan Phillippa. Joshua dan Rosalind merasa lega. Operasi dijadwalkan tiga hari lagi.
Joshua menemui Nicole di dalam ruangan pemeriksaan. Wanita itu langsung menoleh melihat Joshua datang.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?"tanya Joshua tanpa basa-basi lagi.
"Aku ingin Phillippa hidup."
Joshua tersenyum sinis, lalu ia duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Apa karena Phillippa adalah anakmu?"
Nicole mengangguk.
"Jika Phillippa bukan anakmu, apa kamu bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya?"
Nicole terdiam.
"Aku rasa kamu tidak akan bersedia,"jawab Joshua.
"Aku membenci anak itu sampai kamu mengatakan Phillippa adalah anakku. Selama ini aku menganggap anakku telah meninggal. Aku benci kepadanya,karena ibunya telah merebut Valentine dariku, tapi setelah aku tahu Phillippa bukan anak Genevieve, aku merasa menyesal sudah menyakitinya. Sebagai tanda penyesalanku, aku ingin menolongnya. Aku mengakui sampai sekarang rasa benciku pada Genevieve belum hilang, aku belum bisa melupakannya. Apa yang kamu katakan itu benar, jika Phillippa bukan anakku, aku tidak akan mau menolongnya."
"Asal kamu tahu Genevieve tidak pernah merebut apa pun darimu, jika Valentine mencintai Genevieve itu bukan kesalahannya. Sebaiknya kamu istirahat. Operasi akan dilakukan tiga hari lagi."
Joshua beranjak dari kursinya.
"Jangan beritahu apa pun kepada Phillippa, bahwa aku ibunya dan yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang untuknnya. Anak itu sangat membenciku, jika dia tahu, dia akan sangat marah."
"Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan."
Joshua keluar kamar dan segera menemui Phillippa di kamarnya. Gadis itu sedang berbicara dengan Angelica. Keduanya langsung terdiam saat melihatku datang.
"Selamat pagi, tuan Waldgrave!"sapa Angelica.
"Pagi!"
"Aku akan meninggalkan kalian berdua. Permisi!"
Joshua duduk di atas tempat tidur dan ia mengenggam tangan Phillippa.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku sudah mengambil keputusan semalam dan aku rasa apa yang aku putuskan ini sudah benar."
Joshua terdiam, lalu melanjutkan perkataannya lagi. "Menikahlah denganku!"
Phillippa sangat terkejut. Ia belum siap menerima lamaran Joshua.
"Aku tahu pasti kamu akan menolaknya, karena kamu merasa tidak pantas menjadi istriku dan sebentar lagi kamu akan meninggalkanku selamanya. Aku berhak mendapatkan wanita sehat dan cantik untuk menjadi istriku. Benar, bukan?"
Phillippa mengangguk.
"Aku tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu."
"Kebahagiaanku ada bersamamu, jadi jangan usir aku hanya karena kamu sakit."
"Tapi bagaimana jika aku..."
"Kamu akan sembuh dan jangan menyuruhku untuk mencari wanita lain, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku."
Joshua mengangkat dagu Phillippa, lalu dikecupnya bibir mungil gadis itu dengan sangat lembut.
"Aku mencintaimu."
"Kamu pria bodoh,karena mencintai wanita sekarat sepertiku."
Joshua tersenyum simpul, lalu mendekap Phillippa dengan sangat erat.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan sembuh. Seseorang telah bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu."
Phillippa melepaskan pelukan Joshua. Mata hijaunya berkilat tak percaya.
"Benarkah? Siapa orang itu?"
"Aku tidak bisa mengatakannya, karena aku sudah berjanji untuk merahasiakan identitasnya. Maafkan."
Phillippa nampak kecewa, lalu ia berkata," Siapun orangnya aku akan sangat berterima kasih, karena sudah mau menolongku."
"Meskipun orang itu orang yang kamu benci?"
"Apa maksudmu?"
"Ah tidak maksudku bagaimana jika orang yang menolongmu itu adalah orang yang sangat kamu benci?"
"Aku akan tetap berterima kasih kepadanya meskipun aku masih membenci orang itu."
"Apa aku mengenal orang itu?"
"Aku tidak bisa menjawabnya."
Phillippa mengerucutkan bibirnya. Cemberut. Joshua merasa gemas melihatnya.
"Sebaiknya jangan bahas itu lagi."
Joshua kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari saku jasnya, lalu ia membuka tutup kotak itu. Sebuah ciciin berlian berbentuk hati, lalu ia memasangkannya di jari manis Phillippa.
"Sangat pas."
Phillippa memandangi cincin itu dengan takjub.
"Apa kamu menyukainya?"
"Suka."
" Kita akan menikah setelah operasi. Bagaimana?"
Phillippa mengangguk sambil menahan air matanya keluar.
🎵🎵🎵
Hari operasi pun tiba. Joshua merasa lega, karena kondisi Phillippa sangat baik. Ia berharap operasi akan berjalan lancar meskipun nanti hasilnya harus menunggu respon dari tubuh Phillippa. Di dalam kamar, Angelica dan Rosalind berusaha menangkan Phillippa yang nampak gugup.
"Pasti kamu bisa. Kamu wanita yang sangat kuat,"kata Angelica.
"Benar nona Phillippa. Anda pasti akan baik-baik saja,"ujar Rosalind.
"Bagaimana jika tidak berhasil?"
"Pasti akan berhasil,"kata Angelica."Kamu harus tetap optimis."
Phillippa mengangguk. Angelica dan Rosalind bergantian memeluk Phillippa. Tiba saatnya Phillippa di bawa ke ruang operasi. Joshua menggenggaam tangannya dan mengecup keningnya.
"Aku akan menunggumu di sini."
"Aku mencintaimu."
Joshua tersenyum, lalu pintu tertutup. Selama operasi berlangsung, Joshua nampak gelisah begitu pun juga Angelica dan Rosalind. Setelah menunggu beberapa jam, operasi akhirnya selesai juga. Dokter mengatakan operasinya berhasil dan menunggu respon dari tubuh Phillippa. Joshua menghela napas lega dan melihat gadis itu dipindahkan ke ruang rawat inap.
Setelah Nicole sadar, Joshua menemuinya.
"Bagaimana Phillippa?"
"Saat ini Phillippa baik-baik saja."
"Aku harap operasinya berhasil dan anak itu bisa segera sembuh."
"Terima kasih sudah mau menolongnya."
"Aku tidak punya pilihan lain lagi selain menolongnya. Dia anakku."
"Tentu saja."
"Kenapa kamu begitu peduli kepada Phillippa?"
"Aku mencintainya dan kami aka segera menikah."
Nicole nampak terkejut." Oh. Kapan kalian menikah?"
"Setelah Phillippa merasa sehat setelah operasi."
"Selamat untuk kalian. Aku mungkin tidak akan menghadiri pernikahan kalian."
"Aku tahu."
Nicole kembali tertidur dan Joshua keluar ruangan.
🎵🎵🎵
Satu minggu setelah operasi, respon tubuh Phillippa sangat baik dan satu bulan kemudian dokter mengatakan Phillippa sudah sembuh dan boleh pulang ke rumah. Joshua kemudia pergi menemui Miya dan Fabia di mansionnya. Mereka sangat senang ketika aku datang.
"Akhirnya kamu datang juga,"kata Fabian.
"Maaf sudah hampir dua bulan ini aku tidak mengunjungi kalian."
"Aku maafkan, tapi ceritakan apa yang terjadi? Kamu berhutang penjelasan kepadaku dan Miya."
Joshua kemudian menceritakan semuanya tentang Phillippa dan keluarganya juga tentang penyakitnya. Ia juga memberitahu Fabian dan Miya, bahwa ia telah jatuh cinta kepada gadis itu dan bermaksud untuk menikah dengannya.
"Aku mengira kamu dan Barbara saling mencintai"kata Miya.
"Sayangnya tidak. Aku juga mengira akan bisa mencintainya."
"Kapan kalian akan menikah?"tanya Fabian.
"Minggu depan."
"Cepat sekali,"kata Miya.
"Aku ingin segera mengikatnya dan menjadi milikku selamanya." Joshua mengulas senyum.
"Aku bahagia akhirnya kamu akan menikah. Selamat untukmu." Fabian memeuk Joshua.
"Terima kasih. Di mana Raina?"
"Dia berada di kamarnya. Aku akan menemuinya sudah lama aku tidak bertemu dengannya."
"Dia terus menanyakanmu,"kata Miya.
Joshua menuju kamar Raina dan gadis kecil itu sedang tertidur di meja belajar. Joshua memindahkannya ke tempat tidur, lalu di kecupnya pipi Raina. Ia merasa bersalah, karena sudah lama tidak menemuinya. Dengan langkah pelan ia kemudian meninggalkan kamar Raina. Meskipun ia kecewa tidak bisa bicara dengannya.
🎵🎵🎵
Joshua tiba di mansionnya dan bertemu dengan Sandra.
"Saya datang ke sini untuk mengantarkan dokumen ini kepada Anda.""
"Terima kasih sudah mau mengantarkannya kepadaku."
"Bagaimana keadaan Phillippa?"
"Sudah lebih baik. Kami akan menikah minggu depan."
"Itu bagus. Akhirnya Anda menikah juga. Selamat tuan Waldgrave."
"Terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu."
"Hati-hati di jalan!"
Setelah Sandra pergi, Joshua naik ke lantai atas untuk menemui ayahnya. Seperti biasa suasana mansion selalu nampak sepi. Ia mengetuk pintu kamar ayahnya.
"Masuk!"
Joshua membuka pintu dan masuk. Ayahnya nampak sehat dan sedang membaca sebuah majalah di balkon kamarnya. Joshua duduk di depan ayahnya.
"Aku ingin memberitahu sesuatu kepada ayah. Ini akan kedengaran gila, tapi ini benar-benar terjadi."
"Katakan saja langsung!"
"Seorang wanita telah mencuri sprema ayah dan wanita itu melakukan inseminasi. Akhirnya wanita itu hamil dan mengandung anak ayah."
"AAPPAA?"teriak Thomas terkejut.
"Wanita itu bernama Jeanette mantan pelayan Fabian."
Thomas semakin terkejut dan menatap Joshua tidak percaya.
"Aku tidak percaya ini. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?"
"Aku juga tidak percaya saat melihat hasil tes DNA."
"Lalu di mana anak itu?"
"Ada bersama Fabian. Namanya Raina. "
"Jadi anak angkat Fabian adalah anakku?"
"Iya ayah."
"Antar ayah ke sana!"
"Sekarang?"
"Iya."
"Sebaiknya kita ke sana besok saja. Aku baru saja dari sana menemui Fabian dan Raina sedang tidur."
"Baiklah. Kita ke sana besok."
Lalu Joshua juga memberitahu ayahnya soal pernikahannya. Thomas kembali terkejut dengan pernikahan mendadak anaknya. Joshua merasa senang, ayahnya menyetujui pernikahannya, meskipun beberapa saat tadi, ayahnya merasa ragu setelah tahu Phillippa telah sembuh dari penyakitnya.
"Phillippa gadis yang baik. Ayah pasti akan menyukainya."
"Aku percaya kepadamu."
"Terima kasih." Joshua memeluk ayahnya dengan penuh cinta.
🎵🎵🎵
Pagi harinya Joshua bersama ayahnya pergi menemui Fabian dan Miya. Kedatangan Thomas membuat Fabian terkejut. Joshua lalu memberitahu Fabian, bahwa ayahnya telah tahu tentang Raina. Fabian dan Miya merasa cemas, jika nanti Thomas akan mengambil Raina darinya. Thomas bertemu Raina yang sedang bermain di halaman belakang mansion. Ia memeluk anak itu, meskipun Thomas baru mengenalnya, tapi ada rasa sayang mungkin karena Raina adalah anaknya.
Pada awalnya Thomas akan membawa Raina pulang ke rumahnya, tapi Joshua melarangnya. Raina lebih baik bersama dengan Fabian dan Miya yang sudah dikenalnya sebagai orangtuanya. Akhirnya Thomas menyetujuinya, karena apa yang dikatakan oleh Joshua benar. Raina tidak mengenal Thomas sebagai ayahnya dan ia akan merasa tinggal bersama orang asing.
"Anda boleh mengunjunginya kapan pun Anda mau,"kata Fabian.
"Baiklah. Aku harap nanti Raina bisa tinggal beberapa hari bersama kami,"kata Thomas.
"Tentu saja."
Joshua dan ayahnya kembali pulang setelah berpamitan.
Sementara itu Phillippa sedang memandangi gaun pengantinnya yang baru saja datang. Ia menatap takjub tidak menyangka gaun pengantinnya akan seindah ini. Dielusnya gaun itu. Phillippa sudah tidak sabar ingin memakainya minggu depan.
"Gaun yang sangat indah,"komentar Angelica yang baru saja datang ke kamar membawakan obat-obatan untuk Phillippa.
"Kamu akan sangat cantik sekali, jika memakai itu."
"Pasti gaun pengantin ini sangat mahal,"kata Phillippa.
"Itu sudah pasti. Tuan Waldgrave rupanya ingin membelikan gaun pengantin yang terbaik untuk kamu kenakan di hari pernikahan kalian."
Phillippa kembali mengelus gaun pengantinnya dengan hati-hati tidak ingin merusakanya.
***
Hari pernikahan pun tiba. Seluruh anggota keluarga Baskerville dan Waldgrave datang untuk merayakan pernikahan salah satu anggota keluarga mereka. Pernikahan Joshua dan Phillippa di laksanakan di halaman Castalia mansion dan resepsi pernikahan bertemakan pesta kebun. Kebun telah di hias seindah mungkin. Musik pernikahan mulai mengalun. Fabian mengantar Phillippa ke altar di mana Joshua telah menunggunya. Joshua tersenyum bahagia saat Phillippa menyambut tangannya untuk mengucapkan janji pernikahan.
Setelah saling mengucapkan janji pernikahan dan dinyatakan telah resmi menjadi suami istri, Joshua mencium pengantinnya yang mendapat tepukan riuh para tamu."Aku mencintaimu, Joshua Adrian."Phillippa kembali mencium Joshua dan mereka saling berpelukan penuh suka cita.
Para tamu mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Selamat untuk kalian berdua!"kata Mr. Smith.
"Terima kasih,"jawab Phillippa, lalu memeluknya. Phillippa sudah menganggap Mr. Smith sebagai ayahnya sendiri.
"Jangan lupa mampir ke toko musikku lagi. Aku ingin mendengar permainan pianomu lagi."
"Tentu."
Joshua mengulas senyum dan memeluk temannya itu."Terima kasih sudah datang."
Setelah menyalami semua tamunya, Joshua membawa Phillippa ke tempat yang agak sepi. Joshua menraik Phillippa ke dalam dekapannya. Phillippa merasakan hembusan napas hangat Joshua di wajahnya mengirimkan gelenyar menyenangkan ke seluruh tubuhnya. Sesuatu yang basah dan lembut menyentuh bibirnya. Joshua tengah menciumnya. Phillippa memejamkan matanya, menikmati ciuman yang diberikan Joshua untuknya. Selama hidupnya Joshua belum pernah merasakan hasrat yang begitu mendalam terhadap seorang wanita melebihi hasratnya saat bersama Genevieve. Ia merasakan gairah yang kuat terhadap Phillippa. Joshua menarik diri dan tersenyum.
"Aku mencintaimu, Phillippaku sayang,''ucapnya seraya mencium sudut bibir Phillippa.
Phillippa memandang sayu kepada Joshua.''Aku juga mencintaimu.''
Joshua tersenyum dan kembali mencium Phillippa. Ia memberikan kecupan lembut beberapa kali dan kemudian menatap Phillippa dengan intensitas tinggi yang membakar membuat gadis itu sulit bernapas. "Aku akan membuatmu bahagia seperti yang telah kamu lakukan kepadaku, karena kamu membuat hatiku tersenyum kembali dan aku yakin di hatimu akan selalu tersimpan kebahagiaan untukku selamanya, Phillippa ."
Phillippa merasa terharu, lalu memeluk pria yang kini sudah menjadi suaminya. [ ]