Rela berkorban demi pujaan hati, Andara meninggalkan keluarganya dan menikah dengan pria pilihannya.
Delapan tahun berlalu, Andara merasa sikap suaminya mulai berubah.
Cinta yang biasa selalu terpancar dari binar mata Andri mulai redup.
Perhatian lelaki itu memang tak berkurang, kasih sayangnya pun demikian, tapi Andara tahu hati suaminya tak lagi sama.
Lantas apa yang akan di perbuat oleh Andara untuk mengembalikan hati sang suami.
Sebenarnya apa yang terjadi pada rumah tangga mereka di 8 tahun pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi.
"Ra.."
"Mas.."
Andri terpaku, begitu juga Andara. Jantung Andri seperti tengah di pompa, berdetak cepat tanpa jeda. Sampai lelaki itu tidak sadar sudah menahan napas beberapa detik.
"Maaf, merepotkan malam-malam." Andri merasa bersalah karena mengganggu waktu istirahat istrinya.
Andara mengangguk, dia sendiri kikuk, hatinya lega melihat Andri baik-baik saja, ingin sekali Andara berlari ke pelukan pria itu dan melepas rasa sesak yang sejak tadi menggunung, namun Andara ragu.
Tanpa sadar tangan wanita itu justru bergerak mengelus perutnya.
Andri yang tadinya ingin bersuara urung dan justru ikut melihat pergerakan Andara.
"Apa? Kenapa dengan perut mu? Ada yang sakit?"
Andara kaget ketika Andri dengan tiba-tiba sudah menunduk untuk mengecek keadaannya.
Pria yang ia perjuangkan mati-matian dulu masih sama, masih mencintai dan mengkhawatirkan dirinya sepenuhnya.
Di depan pintu utama malam itu, Andara memperhatikan raut suaminya yang terlihat panik, terlebih Andri melihatnya menangis, menambah kadar kekhawatiran lelaki itu.
"Ra, kita ke rumah sakit ya?"
Andri tidak tahu apa yang harus dilakukan, melihat Andara yang menangis ia mulai panik.
Andara sendiri tidak menyadari air mata yang jatuh di pipinya.
"Ya Tuhan,,," keluh pria itu, karena bingung istrinya hanya diam.
Saat lelaki itu meminta izin untuk menggendong, Andri tidak menyangka Andara akan mengangguk setuju.
"Aku mau ke kamar." lirih Andara ketika Andri berhasil membopongnya.
"Tapi.."
"Mas, aku ngantuk tahu! Capek tungguin kamu nggak pulang-pulang."
Apa?
"Ra... kamu nungguin saya?" tanya Andri tak mendapat jawaban karena wanita yang berada di gendongannya malah menenggelamkan wajahnya ke dadanya.
Apa Andri bermimpi?
Satu menit
Dua menit
"Ayo mas, aku udah ngantuk!!"
Andara memukul lembut dada Andri yang masih diam di tempat. Bagaimana Andri tidak bingung jika mendapati perubahan yang mendadak dari sikap Andara.
Andri kembali menunduk guna melihat Andara, ini sebuah keajaiban Andara berada di dekapannya.
Tuhan jika ini mimpi Andri tidak mau bangun.
Tapi....
"Mas, kamu nggak mau membawaku ke kamar?"
Eh?
"Ra..."
Melihat Andri yang linglung Andara ingin turun dari gendongan pria itu, tapi ketika baru bergerak suara Andri menghentikannya.
"Saya nggak tahu, apa yang sudah terjadi sampai kamu mau berada di dekat saya?" pria itu mulai melangkah, bersama debaran dada yang menggila.
"Dia ingin dekat dengan ayahnya." lirih Andara, menjadikan anak sebagai alasan.
Apapun itu jawaban Andara tetap membuat senyum lelaki itu terbit.
"Saya sangat berterimakasih padanya." tulus Andri tak ingin menyembunyikan senyumnya.
Andara tercenung. Ternyata selama ini tidak hanya dia yang tersiksa dengan keadaan rumah tangga yang berlarut, ada Andri yang juga merasakannya.
Saat Andri sampai di depan pintu kamarnya, Andara membantu untuk membuka. Andara dapat melihat keraguan Andri ketika hendak melangkah masuk, namun Andara bersikap pura-pura tidak tahu.
"Istirahat, Ra." ucap Andri begitu berhasil membaringkan tubuh isterinya dengan lembut.
Andri ingin segera pergi, dia tentu tidak mau membuat Andara semakin membencinya.
"Kamu nggak mau menemani kami, mas?" ucap Andara yang berhasil membuat pria itu berbalik dengan cepat.
Andara menatap Andri lama, "Aku nggak bisa tidur sendirian." Akunya. Dan itu benar. Sejak dinyatakan hamil, Andara kesulitan tidur, hatinya tak pernah tenang, terlebih dia yang terus memikirkan hubungannya yang akan benar-benar berakhir dengan Andri.
Andri menitihkan air matanya, ya.. laki-laki itu benar-benar menangis di tempatnya berdiri, Andara yang melihat langsung mendudukkan dirinya, setelah berhasil, Andara membuka kedua tangannya menyambut pelukan hangat suaminya.
"Ya Tuhan...." Andri segera berlari menerjang masuk kedalam dekapan Andara, pria itu bahkan tidak malu menangis tersedu-sedu.
"Maaf," lirih Andara.
"Mas yang minta maaf, sayang." Isak Andri.
Andri berjanji, dia akan meminta restu dengan benar. Sekarang Andri percaya, restu orang tua itu benar-benar sangat penting. Bukankah ada yang berkata restu orang tua adalah ridho Allah, mungkin itu salah satu sebab keluarga mereka diuji seperti ini. Karena mereka yang sangat kekanakan dan egois, jika dipikir-pikir Andri memang belum pernah meminta restu pada orang tua Andara dengan benar. Bahkan bisa dikatakan sebelumnya Andri tidak pernah bertemu dengan orang tua Andara, dia hanya tahu dari Andara jika mereka tidak direstui lantas keduanya merencanakan kabur dan kawin lari.
Andara tidak menceritakan pada Andri, jika Gavin sudah menceritakan kebenarannya. Biarkan sekarang ini, dia merasa nyaman dengan keberadaan suaminya. Mungkin besok, Andara akan bercerita semuanya agar kesalahpahaman antara mereka berakhir.
"Kita tidur, Mas." ajak Andara lembut.
Andri menatap Andara yang sudah terlelap disampingnya, Andri memang bahagia saat ini, tapi sebagian hatinya juga dilanda rasa takut. Takut jika Andara baik padanya sebagai salam perpisahan.
Wajar Andri berpikir demikian, karena perubahan Andara terlalu mendadak.
"Saya harap kamu tidak akan menyerah dengan rumah tangga kita, Ra..." bisik Andri di dekat telinga Andara. Beberapa menit kemudian Andri ikut terlelap.
...****************...
Pagi harinya Andri merasakan tubuhnya lebih ringan, seperti sedia kala, tidak ada rasa pusing maupun mual.
Untuk pertama kalinya setelah hari dimana Andara meninggalkannya Andri mendapatkan kwalitas tidurnya kembali, Andri tahu sumbernya dari mana, tentu dari perempuan yang kini masih terlelap disampingnya.
Senyum lelaki itu tidak pernah pudar, sampai pada saat matanya bertemu dengan mata sang istri yang kini telah terbuka.
"Antar aku ke rumah sakit, hari ini Bunda di operasi."
Andri sudah menahan napas siap-siap menerima kemarahan Andara, tapi yang terjadi justru wanita itu memintanya untuk menemani.
"Ra, kamu berubah bukan karena ada rencana untuk membuat saya lengah dan pergi dari hidup saya kan?" tanya Andri mengungkapkan isi hatinya.
Andara yang masih menyamankan posisinya kembali menatap Andri.
"Mas, apa boleh aku bertanya, kapan terakhir kamu tidur dengan Gia melakukan hubungan intim?"
Mendengar perkataan Andara, Andri terkejut.
"Jawab saja mas, aku tak akan marah." tambah Andara.
Andri menelan ludah. Dia berusaha mengingat kapan terakhir kali dia tidur dengan Gia dan melakukan hubungan suami istri, Andri bahkan lupa. Yang Andri ingat waktu itu Gia menangis karena Andri tidak berbuat adil padanya, memohon agar Andri memberinya hak yang sama seperti yang diberikan Andri dengan istri lainnya. Malam itu bahkan Andri sampai menelan pil agar bisa meniduri Gia, tanpa merasa berdosa pada Andara. Jika diingat-ingat hari itu terjadi jauh sebelum Gia memintanya untuk menghadiri acara pernikahan keluarganya di Bali. Berarti sudah cukup lama.
"Sebelum dia pergi ke Bali." jawab Andri menyesal.
Andara mengerjab. Andara akan menghitung mundur dan membandingkan dengan bulan kehamilan Gia tapi suara Andri kembali terdengar.
"Saya memang menidurinya, tapi saya berhenti setelah kesadaran saya kembali, saya bahkan ragu apa saya sudah terpuaskan atau belum."
Artinya Andri sendiri ragu jika Gia hamil anaknya?
"Satu tahun menikah, sudah berapa kali mas melakukannya?" biarpun sakit mendengar pengakuan Andri, Andara tetap ingin tahu.
"Dua puluh kali?" tanya Andara yang dijawab Andri dengan gelengan.
"Dua lima?" Andri tetap menggeleng.
"Empat puluh? Lima puluh? Apa sampai kamu tidak dapat menghitungnya?"
Andara berseru keras.
"Ra..." Andri menarik Andara mendekat, tapi Andara segera menepis tangan Andri.
"Maaf, aku akan mengatakannya dan mungkin membuatmu kecewa."
Andara membuang muka.
"Dua kali, dan yang pertama ketika aku merenggut kesuciannya tanpa ku sadari!" desah Andri putus asa.
APA???
Berarti Andri selama setahun hanya pernah berhubungan satu kali saja? Bagaimana bisa? kurang apa Gia? Hingga Andri tak tertarik dengan gadis itu.
Air mata haru menetes dari mata Andara. Tapi Andri mengira itu adalah air mata kekecewaan.
Andri tidak mau berbohong lagi dengan Andara, cukup dia menjadi pengecut setahun ini.
Andri memang memperlakukan Gia romantis seperti yang dia lakukan pada Andara, tapi untuk berhubungan intim, Andri tidak mampu melakukannya karena cintanya pada Andara.
Mencium Gia, sering Andri lakukan, menggendongnya, memeluknya, memberi kasih sayang semua adil untuk gadis itu, hanya nafkah batin yang Andri tidak bisa adil, karena rasa cintanya pada Andara memenjara hasrat seksu*l Andri hingga kehilangan minat.
######
Masih ada yang setuju Andara meninggalkan Andri dan menjalin hubungan dengan dokter Farazt???