WARNING hanya untuk 21+ 🔥🔥🔥 !!!
Keadaan kacau ketika penggerebekan di sebuah club malam, Lana, Sita, Maya, Dion, Putra, Teguh, Marvin dan Surya kocar kacir terpencar yang tadinya satu meja mereka buyar semua entah dimana mereka berada. Mereka semua yang ada di club berusaha keras keluar dari tempat itu berlari sekuat tenaga, bersembunyi untuk menyelamatkan diri dari kepungan razia rutin dari kepolisian.
Karena panik Lana dan Surya bersembunyi di gudang. Maya, Marvin dan Dion berada di dapur club sedangkan Sita, Teguh dan Putra berhasil meloloskan diri keluar dari parkir dan bersembunyi di mobil dan ketika aman mereka pergi meninggalkan mereka semua. Ya memang benar persahabatan kadang terpisah saat razia, disitulah kokoh dan rapuhnya persahabatan dibuktikan. Polisi menyidak sampai dapur dan tak terelakkan Maya, Dion dan Marvin tertangkap dan di gelandang ke Polsek. Seorang satpam karena ingin menyelamatkan miras harus mengunci gudang agar selamat dari razia, tanpa tau di dalam ada Lana dan Surya. Akhir Masa remaja saat yang indah adalah di puncak kelulusan, yaa mereka merayakan kelulusan mereka di club malam, sebuah perayaan untuk melanjutkan hidup mereka atau masalah baru dalam kehidupan mereka. Bagaimana nasib mereka? Dan juga nasib Lana dan Surya yang harus bermalam di gudang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Holiday Is Tidur Day
"Bos, putri salju pulang dari kantor ke studio foto, terus ke butik underwear dan ke toko Mom bikin kue sus, sejam an terus mereka makan malem bersama, sampai jam 7 dianter Mom ke hotel" Lapor Dion.
"Iya mama cerita habis dinner sama Lana, tapi setelah itu kita nggak tau dia dimana" kata Surya
"Dia masuk ke kamar sampai sekarang dia nggak keluar bos, ponsel nya nggak aktif sampai sekarang, pak Aldi, bu Maryam dan Abang nggak bisa hubungin Lana, mereka lagi on the way ke hotel " lapor Dion lagi.
"Intan jadi ikutan?" tanya Surya.
"Dia lagi menuju kesana juga" kata Dion.
"Baiklah.. ayo kesana cepaattt.. apa yang dilakukan anak itu.. dia tak berbuat yang aneh- aneh kan?" kata Surya mulai khawatir.
Dion melajukan mobilnya dan ke arah Hotel sesampainya disana sudah ada keluarga Lana di lobi. Surya memerintahkan beberapa pegawai membuka connecting door yang menghubungkan kamar Lana dan kamar yang di pakainya tanpa sepengetahuan Lana kemarin.
Mereka bergegas menuju kamar Lana dengan perasaan cemas. Sesampainya dikamar sebelah Lana, para pegawai membuka connecting door yang menghubungkan kamar Lana.
"Astagaaaaa Kelaanaaaaa... kamu kira- kira dong tidurnyaaaa.. ya ampunnn Tuhannn.. ponsel pake dimatiin segala! Bangun nggak kamu!" kata Maryam emosi.
"Tante dan om nginep di sini aja.. sama kamar sebelahnya aku udah booking sampai minggu" kata Surya. Maryam dan Pak Aldi sibuk menata tas dan baju meereka dan Ryan pun begitu di kamar sebelahnya lagi, kamar Lana di apit kamar keluarga dan abangnya.
Lana masih menggeliat di balik bedcovernya, dengan tank top tanpa bra dan celana pendeknya.
"Kaaakkkk Lannaa.. ayoo bangunnn" kata Lyla.
"Sini dekk.. boboo yukk" kata Lana memeluk Lyla seperti guling.
Surya membuang muka melihat pemandangan sexy itu, membayangkan tubuh Lana menjadi liar menjalar kemana- mana.
"Iiiihh nggak mau kak.. Lyla mau berenang kak" rengek Lyla. Surya duduk di sofa dan termenung melihat wajah Lana, wajah bangun tidur yang di rindukannya, mata Lana terlihat sembab dan sedikit bengkak.
Apakah dia habis menangis? atau terlalu banyak tidur? Surya.
"Lan emang kamu tidur jam berapa?" kata Ryan dan di jawab dengan jari tangan Lana yang masih terpejam.
"Apaaa?! Jam 8 dan jam segini kamu nggak bangun? ini udah jam 2 siang Lanaa, ayo bangunnn" kata Ryan.
"Hehhh ayo bangun Lan.. kamu belom makan itu jangan kebiasaan kebanyakan tidur begitu.. nggak suka ayah Lan" kata pak Aldi.
"Ryan.. shower selangnya sampai sini nggak sih.. mau ibu siram biar bangun" kata Maryam kesal.
"Duuhhhh kalian ini... brisikkk banget deh" kata Lana kesal.
"Bangun Lan ini serius" kata Ryan yang duduk di tepi ranjang.
"Iyaa udahh nihh bangun" kata Lana duduk namun masuk dipelukan abangnya, dia mengedarkan pandangannya ke arah Surya yang sedang melihatnya lalu membuang mukanya.
"Ayolah Lan.. udah 16 jam kamu tidur" kata Ryan.
"Lana tuh migraainn... Lana tuh pusiiinggg.. kalian sana kalau mau berenang hiks.. Lana tuh lagi mens.. malah pada marah- marah hiks.." kata Lana menangis di pelukan Ryan.
"Ayo dehh berenang.. dasar anak manja" kata Maryam.
"Ibuuuuu.. ihhh" kata Lana.
"Udah.. udahh.. kamu istirahat dulu aja.. ayah mau berenang, tapi nanti kamu harus turun" kata Ayah dan Lana mengangguk pelan.
Surya merebus air di teko listrik dan menyeduh teh manis di sebuah cangkir.
"Ini minumlah selagi panas" kata Surya memberikan secangkir teh manis hangat.
"Saya akan nemenin Lana dulu aja om, nanti akan saya bawa turun kalau perlu saya gendong" kata Surya.
"Mau abang temenin juga? Tapi Moniq udah dibawah" kata Ryan.
"Dia tiap hari ketemu abang.. abang nggak tiap hari sama aku" kata Lana cemberut dan kembali tidur dipangkuan Ryan.
"Abang nggak ketemu Moniq, dua minggu tau dek" kata Ryan.
"Biarin sama aku aja bang.. tinggalin aja" kata Surya dan dipelototi Lana.
"Naahh Moniq telpon.. udah kamu tidur lagi aja deh, jangan lupa makan.. muaach" kata Ryan mencium pipi Lana dan meninggalkan mereka.
"Minum lagi teh mu" kata Surya.
"Enggak... ngapain kamu kesini.. ngapain nemuin orang bodoh.. buang- buang waktu aja" kata Lana memunggunginya membuat tangan Surya mengepal menahan dirinya.
Sabar Surya.. sabar.. Batin Surya menghibur diri.
Surya merebahkan dirinya di belakang Lana, membelai rambutnya dan menciuminya.
"Kalau kamu begini, gimana caranya aku ngajarin kamu mencintai wanita lain?!" kata Lana yang tak di gubris oleh Surya.
Surya menyibakkan rambut Lana yang menutupi lehernya dan diciumnya perlahan- lahan.
"Aaaa..aahhh stop it.. apa ini ucapan selamat tinggal?" Tanya Lana.
Surya semakin menggila menciumi leher pundak.. tangannya menyusup di balik tank topnya dan memainkan dada Lana yang membuat Lana menggeliat kesana kemari.
"Aaaa.. aahh stop it" kata Lana membalikkan badannya menjauhi Surya dan berhadapan dengan Surya.
Surya menelantangkan badannya, memejamkan matanya dan menahan gejolak kelelakiannya yang menggelora. Lana tersenyum melihatnya.
"Bagaimana kalau kau bisa mencintai wanita lain?" kata Lana.
Surya diam meredamkan hasratnya.
"Aku akan menjauhimu agar kau bisa mencintai wanita lain" kata Lana.
Surya menarik tangan Lana memasukkan ke dalam pelukannya lalu mencium bibirnya perlahan dan menuruni leher dan dada Lana.
"Stoopp.. Suryaa.. Stopp.." Lana meronta melepaskan diri sekuat tenaga.
Surya kembali telentang dan memejamkan matanya kembali menahan hasratnya. Lana kembali tersenyum melihat Surya.
"Kau tak akan bisa membuatku mencintai orang lain, usahamu akan sia- sia.. kau bahkan telah mencobanya berulang kali tanpa kau tau" kata Surya.
"Kapan? aku tak mengajari apapun" kata Lana.
"Saat kau menerima cinta Marvin, apa kau pikir itu bukan caramu mengajariku secara tidak langsung untuk mencintai orang lain? Aku memilih menunggumu, karena aku tidak bisa mencintai lagi.. mencintai bagiku cuma sekali dan itu dirimu" kata Surya.
Lana berguling mendekat dan meringkuk di samping Surya, mengusap- usap perut Surya.
"Kau membahayakan lama- lama" kata Surya.
Surya mencium bibir Lana kembali, Lana membalasnya dengan penuh kehangatan. Tangan nya bermain kesana kemari membuat Surya berusaha keras menahan keinginannya.
Tangan Lana semakin liar ketika Surya tenggelam di dada Lana, tangannya bergerak liar membuka kancing celana Surya dan menyentuh miliknya dengan tangannya.
"Baby.. bukannya kau masih haid.. aaahh berhenti Lana.. apa yang kau lakukan!" kata Surya.
Lana mendorong tubuh Surya dan menyusurinya dengan bibir lembutnya yang penuh kehangatan. Ketika kehangatan mulut Lana menyatu dengan miliknya, Surya benar- benar membulatkan matanya tak percaya dan tak bisa menahan dirinya lagi.
"Lana stopp.. Laannaaa.. oohh Tuhaann apa yang kamu perbuat.. " Tak terelakkan desahan Surya dan cengkeraman Surya di rambut Lana meluapkan hasratnya yang selalu di tahan akhirnya meledak juga.
"Kau nakal sekali, lihat saja aku akan membalasmu" kata Surya menyambar handuk yang diberikan Lana.
"Five second? Hahahaha just Five second" kata Lana tergelak.
"Heii... this is the first time for me.. and this is amazing.. kau membuatku semakin mencintaimu.. aku jamin ajaranmu untuk tidak mencintaimu, tidak akan mempan" kata Surya mencium bibir Lana berulang- ulang.
"Jangan pernah berniat meminta ku untuk mengajarimu" kata Lana mencium bibir Surya.
"Maafkan aku, gadis bodoh dan terima kasih untuk hari ini" kata Surya memeluk erat tubuh Lana dengan penuh cinta.
"Iya aku bodoh.. maafkan aku.. ehmm aku akan melakukannya lagi di gudang.. terima kasih untuk La Sunny" kata Lana memeluk Surya.
"Aku akan menghabisimu disana.. lihat saja" bisik Surya mencium Lana dengan penuh perasaan.
"Baby.. aku sekarang berasa lapar" kata Lana.
"Hahaha ayoolahh.. aku juga lapar kau menguras energiku.. pakai baju mu dengan benar" kata Surya mencium pucuk pundak Lana.
Lana memakai bra dan mengganti baju tidurnya dengan jeans pendek pink dengan kaos oblong favoritnya tanpa lengan, Surya memandanginya dan tersenyum seakan tak percaya dengan yang terjadi barusan.
Mereka keluar kamar dan menuju lounge yang ada kolam renangnya, sepanjang jalan mereka berciuman seakan tidak ada seorang pun di sekitarnya, Surya menggandeng tangan Lana erat- erat.
"Eehh anak ayah gimana.. masih pusing nggak" tanya pak Aldi sesampainya mereka di kolam renang.
"Lana udah laper yah.. yang laperr ayooo pesennn" teriak Lana.
"Kamu yang bayarin yaa.. kalau mau jadi calon mantu" kata Lana membuat ayahnya tergelak.
"Jangankan bayarin, nikahin kamu sekarang juga ayoo" kata Surya.
"Tuh laki- laki gentle tuh kaya Surya gini Lan, selalu pasrah ama wanita" kata pak Aldi.
"Hahahah kaya ayah ke ibu ya yahh.. hahaha ayah curcol" tawa Lana.
"Kan laki- laki harus banyak ngalah ama perempuan Lan, beda tipis lah ama suami takut istri hahaha" kata pak Aldi tertawa
"Sebenernya takut kehilangan itu om, saya nanti kayanya tipe suami takut istri deh om, Lana galak soalnya" kata Surya.
"Emang kudu banyak sabar kalau ama adekku ini Sur" kata Ryan tiba- tiba datang bersama Moniq.
"Gimana calon adik ipar? Katanya migrain karena haid.. kamu minumin susu kunyit coba.. pasti enakkan" kata Moniq dari arah yang sama dan Lana langsung memeluknya.
"Miss you calon kakak Ipar... kakak masih inget Surya kan?" kata Lana.
"Haii Surya.. inget lahh.. cowok bucin kamu yang paling macho" kata Moniq sambil berbisik ke telinga Lana.
"Laann.. kamu nggak berenang? Oohh iya deng kamu lagi haid" kata Maryam menghampiri mereka di Round table di pinggir kolam renang yang menyatu dengan lounge Hotel
"Cieee kakakk udah pegangan ajaa dari tadi.. kakak akhirnya pacaran ama kak Surya" kata Lyla yang membuat mereka reflek saling melepaskan tangan.
"Apaan sih anak kecil" kata Lana melempar handuk ke Lyla.
"Waahh dunia ini indah kalau mereka dunia akur" kata Intan istri Dion muncul bersama Dion.
"iiinnntaannn.. miss youu" teriak Lana memeluk Intan. Intan salah satu sepupu Surya yang dikenalnya saat SMP dan akhirnya menjadi kekasih Dion sang tangan kanan.
"Udah tidurmu Lan? Tidur kamu parah banget gila.. bisa seharian gitu.. emang berat banget apa Lan?" kata Dion.
"Diihh apaan sihh.. apanya yang berat? tau kan semboyanku dari dulu, Holiday is Tidur day?" kata Lana cemberut.
"Yaa apaa gitu kek.. ckkk ahhh pura- pura nggak paham kamu mah" kata Dion.
"Tanya sendiri ama boss mu tuh... aku laperrr.. aku mau makan.. ayoo Baby kita makann.. kalian pesennn ajaa yaa.. pak boss nih yang bayarin" kata Lana saat melihat pesanannya datang.
"Gratis kali Surya mah nggak usah bayar.. kamu nggak tau Lan.. hotel ini miliknya" kata Intan.
"Oohh yaa.. seriuss?! Iiiihh tau gitu nggak usah pake booking- booking segala" kata Lana.
"Yang ngilang siapa.. kamu udah kaya agen FBI gonta ganti nomer ponsel" kata Surya.
"Kalian mending cepet- cepet nikah.. dari dulu udah nempel kaya cicak" kata Moniq.
"Ya abang ama kak Moniq dulu lahh.. eehhh" kata Lana keceplosan membuat mereka tertawa.
"Deal yaa.. abang ama kak Moniq nikah.. kita juga nikah.." kata Surya membuat mereka seru melihatnya.
"Ini lamaran nih jadinya?" tanya Lana dengan makanan di mulutnya.
"Kamu mana mau nggak ada cincin nggak ada bunga nggak berlutut" kata Surya membuat semuanya tertawa.
"Nah itu tau.." kata Lana.
"Aaahh Lannn.. si bos kan berlutut udah, cincin udah ada, tinggal bunga aja di lobi hotel aku comotin juga bisa" kata Dion.
"Dihh kapan? Bukan ama aku kali berlulutnya" kata Lana
"Aahh mulai lagi kan curigaannya" kata Surya.
"Itu bawaan ibunya kalau curigaan Sur" kata pak Aldi.
"Hahahaha.. kalau ayah jelek nggak ibu curigain lah, tapi ayah sekali curiga ngambeknya lama, ibu nggak suka" kata Maryam.
"Ibu kamu soalnya dari dulu idola, yang antri kaya antrian sembako" celetuk pak Aldi membuat semua terbahak- bahak.
"Lan inget nggak lima tahun lalu di bandara? itu kan bos berlutut dan bawa kotak merah masa nggak liat sih, ampe nangis lho Lan" kata Dion membuat Lana meletakkan sendoknya dan berdenting dengan keras.
Duuggg.. Surya menendang kaki Dion.
"Tuh sayang.. aku selalu di aniaya sama mereka berdua terutama sepupu kamu itu tau" kata Dion merengek pada istrinya.
"Iiihhh kak Surya jangan gitu ama suami aku dong" kata Intan.
"Dasar bucin" kata Surya kepada Intan.
"Surya, itu bener kata Dion?" kata Lana.
"Itu ehmm.. " kata Surya ragu- ragu bercerita dihadapan keluarga Lana.
"Cerita aja tante nggak dengerin kok Sur" kata Maryam terkekeh.
"Itu hari yang menyedihkan.. melihatmu pergi dan aku nggak bisa mengucapkan salam perpisahan dengan baik, aku nggak perduli, kamu terima apa enggak waktu itu.. kan aku pernah bilang, aku siap menerima ribuan penolakan dari mu" kata Surya bercerita dengan muka memerah.
"Iiihhh kak Surya so sweet banget sih kak" kata Lyla.
"Eehh anak kecil nggak boleh ikutan" kata Ryan.
"Iihh apaan sih.. Lyla kan udah kuliah udah gede lah" kata Lyla.
"Awas kamu pacaran mulu" kata Ryan.
"Lyla mau cari yang kaya ayah, belom nemu tau Bang" kata Lyla
"Ayah ibu abang.. Lana boleh peluk Surya nggak.. Lana jadi sedih inget lima tahun lalu" kata Lana matanya berkaca- kaca.
"Oohh anak ayahh.. sini pelukk ayaah" kata Pak Aldi dan Lana menggelengkan kepalanya.
"Kalau peluk ibu Lan?" kata Maryam, Lana menggelengkan kepalanya melihat Surya dengan penuh perasaan.
"Abang aja gimana" kata Ryan.
"Enggak mau" kata Lana akhirnya meneteskan air mata.
"Eehh kok nangis sih.. kan udah lama cerita itu" kata Surya menghapus airmata Lana.
"Tapi aku nggak tau cerita itu" kata Lana airmatanya makin deras. Membuat ayahnya trenyuh.
"Yaa udah sini pelukk Ayah" kata pak Aldi menggoda semua tertawa dibuatnya.
"Enggak mau.. maunya Surya" kata Lana. Surya masih sibuk menghapus airmata Lana.
"Hahahahah ya udah sana peluk tapi jangan lama- lama" kata pak Aldi.
"Enggak mauu.. mauunya lama" kata Lana berhamburan memeluk Surya.
"Udahh Baby.. itu cerita lama" kata Surya mencium kening Lana.
"Jadi kamu udah resmi pacaran nih ?" tanya Maryam.
"Dia aja nggak pernah nembak Lana bu, nembaknya ngajak nikah kan Lana bingung bu, Lana belum siap" kata Lana beringsut dari pelukan Surya.
"Jadi kamu maunya ditembak jadi pacar gitu?" tanya Surya.
"Tau ahh mikir aja sendiri.. sebelum nikah tuh apa" kata Lana.
"Dioonn.. " kata Surya memberi kode ke Dion dengan kedipan matanya dan Dion berlarian mencari tas nya.
Semua terpana melihat Dion yang berlari ke arah tasnya dan kembali secepatnya membawa kotak merah yang diserahkan kepada Lana.
"Ini di hadapan keluarga mu.. mau kah menjadi kekasihku..dan calon istriku. Kelana Dermawan? Ingat kalau kamu menolak aku tidak akan melakukannya lagi sampai kau memohonnya sendiri, ini cincin yang sama lima tahun yang lalu" kata Surya memperlihatkan cincin berlian yang akan di berikannya 5 tahun lalu di bandara kala itu.
"Ayaahh gimaana?" kata Lana.
"Yang mau pacaran itu kamu, bukan Ayah" kata Maryam.
"Kan abang bilang dari dulu kamu ama Surya aja" kata Ryan saat mata Lana melihat ke arah abangnya.
"Terima aja Lan.. itu beban buat aku.. tau nggak, aku tuh bawa itu kemana- mana.. kalau ilang atau di colong Intan kan berabe, itu harganya bisa dapet mobil Lan" kata Dion membuat semua tertawa ketika Intan mencubit perut Dion.
"Nihh pasangin.. " kata Lana mengembangkan jemarinya ke arah Surya.
Surya menutup kotak merah dengan wajah kesal.
"Hahahah.. iyaa aku mau menjadi kekasih mu.. Surya Gahardhi Rajasa.. aku mau jadi calon istrimu" kata Lana memeluk Surya lagi lalu Surya memasangkan cincin itu ke jari manis Lana.
"Ini cincin pengikat kekasih, aku masih punya PR nyari cincin pertunangan kita kalau abang menikah nanti" kata Surya.
"Makasih ya aku sudah sangat berharga di matamu" kata Lana.
"Ayah aku bolehh.." pertanyaan Lana di potong sang ayah.
"Iyaa boleh.." kata pak Aldi menutup mata Lyla agar tak melihat Surya dan Lana berciuman walau hanya di pipi Surya.
Cekrekkk... cekrekkk.. cekrekkk..
Seperti biasa Dion melakukan aksinya mengkoleksi foto sang bos.
"Aaayyyyaaaahhh.. Lyla tuh bukan anak SD yahh" teriak Lyla di iringi gelak tawa semuanya.
"Aaahhh aku semakin lapar.. ayooo kita makann lagi" kata Lana bersemangat.. semakin semangat cacing di perutnya semakin memberontak.
Makan malam yang indah dan hangat saat itu, di pinggir kolam renang dengan temaramnya lampu taman. Obrolan yang panjang meniti hari menjelang malam, Lana terus bergelayut di pundak Surya seperti rembulan bergelayut pada malam.
Entah cinta entah ketergantungan yang mendatangkan kenyamanan di antara keraguan sekeping hati yang rapuh.