"Kalian harus menikah jika tidak, desa kami akan terkena sial" Begitulah kata para warga yang terus mendesak.
Shasa Bella Putri yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di jenjang SMA, namun dia terpaksa menikah dengan lelaki yang tak di kenal karena terciduk berduaan di sebuah rumah kosong.
Niatnya ingin berteduh karena hujan deras, siapa sangka mala petaka terjadi. Hari itu adalah hari kesialan bagi Shasa, yang di mana kekasihnya berselingkuh di depan matanya sendiri. Dan parahnya dia berselingkuh dengan saudara tirinya sendiri.
Dan sekarang dia harus terjebak dengan pernikahan yang sangat tidak di harapkannya. Akankah dia mendapatkan akhir yang bahagia dari pernikahan ini?
Atau malah sebaliknya?.
Ikuti ceritanya yuk. "Terjebak Menikah"
IG : Lesmiyelesti_07
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Les07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Pagi yang sangat buruk, sangat sial sekali bertemu dengan pria menyebalkan ini!." hardiknya mendengus kesal, lalu berbalik badan untuk melanjutkan langkahnya.
Kenapa hari harinya selalu buruk, tidak bisakah sehari saja dia merasa tenang tanpa gangguan duo ibu dan anak ini. Keduanya sama saja, sama sama menyebalkan.
"Apa yang kau lakukan di sini." kembali terdengar suara lengkingan yang menyakiti telinga itu, membuat Shasa memutar bola matanya jengah.
"Bertambah sial lagi kan. Kapan aku bisa tenang tanpa suara nenek lampir itu!." keluhnya mengacak rambut.
Ameera yang baru saja mendengar dari salah satu pelayan, bahwa putranya sudah kembali pulang ke rumah. Dia bergegas untuk menemui Satria, namun alangkah terkejutnya saat melihat Shasa menendang anaknya, sehingga terpelanting mengenai pintu.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada putraku, hah?."
"Dasar gadis kurang ajar kamu!." pekik Ameera, menghampiri Shasa dengan langkah gusar tentu saja ia sangat marah sekarang. Tangannya bersiap untuk melayangkan tamparan.
"Argh."
"Lepaskan tanganku." suara lengkingan Ameera menggema di koridor itu.
"Hus, makanya jangan macam macam. Beraninya kamu mengangkat tanganmu untuk menampar wajah paripurna ku, heh. Jangan mimpi." Shasa berdecak.
Belum sempat tangan Ameera mengenai wajah Shasa, gadis itu dengan sigap menangkapnya. Lalu memelintirnya dengan kuat, membuat Ameera menjerit kesakitan.
"Argh, sakit."
"Memohon lah!." seru Shasa mengangkat sudut bibirnya, senang sekali dia melihat wajah Ameera yang meringis kesakitan.
"Lepaskan tanganku, kau ingin membuatnya patah, hah!." pekik Ameera.
"Cih." Shasa langsung menghempaskan tangan Ameera dengan kasar. Dia menghentikan nya karena masih punya hati ya, catat itu.
"Sudahlah, makanya jangan sering berurusan denganku. Atau kedepannya tanganmu itu benar benar aku patahkan!." ancamnya menatap tajam ke arah Ameera, ia melirik satria yang sudah terbaring di lantai.
Entah pria itu pingsan atau tertidur, dia tak peduli, rasanya ingin sekali ia membuat kedua ibu dan anak itu babak belur hingga masuk rumah sakit.
"Argh, awas kau gadis sialan!." sentak nya, melotot ke arah Shasa, sedangkan gadis itu menguap dengan santainya.
Sangat membosankan kenapa wanita tua di hadapannya ini sangat menyebalkan, jujur telinganya sangat sakit mendengar suaranya yang melengking itu.
"Sudah lah, aku malas berurusan denganmu!." gerutunya, ia langsung meninggalkan sepasang ibu dan anak yang telah terkapar di lantai.
Ameera mendesis kesakitan, karena sikunya nyaris patah akibat ulah gadis sialan itu. Dia sungguh tidak menyukai istri Jaevano sedari awal penampilannya saja sudah terlihat bukan seperti wanita terdidik, dan lihat lah sekarang gadis itu sudah berulah.
"Huh kenapa pagi pagi aku sudah bertemu dengan nenek jelek itu, mana mukanya tebal sekali dengan bedak apa lagi telingaku sangat sakit mendengar teriakannya." gerutu Shasa, dia misuh misuh di sepanjang jalan.
Membuat para pelayan yang tengah membersihkan mansion, menatap heran ke arah Shasa. Entah lah mereka bingung sendiri, karena bukan pertama kalinya mereka melihat tingkah istri Jaevano bersikap aneh.
"Nona Shasa tidak gila kan?." tanya seorang pelayan kepada temannya.
"Aku tidak tau, kasihan cantik cantik kalau stres." timpalnya bergidik.
"Heh maksud kalian apa ya, mengatakan saya gila. Kalian pikir aku gak dengar hah?." Shasa berkacak pinggang, menatap tajam ke arah kedua pelayan yang tengah mengelap guci.
Keduanya seketika menundukkan kepala. "Ma-maaf, kami tidak bermaksud...."
"Ah sudahlah, berisik!." ucap Shasa ketus, moodnya pagi ini sungguh buruk ia langsung meninggalkan kedua orang itu. Membuat keduanya saling berpandangan dengan heran.
Eca yang tengah mengepel lantai, menghentikan aktivitasnya tak kala mendengar suara yang tak asing di telinganya. "Itu bukannya suara Shasa ya?." gumamnya.
"Lah, eh Shasa ini beneran kamu kan?."
"Maksud kamu apa, Ca?." tanya Shasa mengerutkan dahinya dia baru saja lewat, mendapat pertanyaan aneh dari pelayan pribadinya.
Eca mengernyit, seraya melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Lah tumben kamu bangun jam lima pagi, kesambet dedemit kamu?." cetusnya.
Shasa memutar matanya malas. "Eh itu mata kamu kenapa hitam begitu?." tanya Eca lagi, dia meringis melihat lingkaran hitam di bawah mata gadis cantik di depannya ini.
"Berisik, kalau mau ketawa ya ketawa aja huh nggak usah di tahan!." ucapnya kesal, melihat Eca yang tengah menahan tawanya.
"Pf, hahaha ma-maaf Sha, lagian lucu banget sih. Sumpah mata kamu mirip dengan mata panda!." ucapnya terkekeh.
Shasa mendesah, ini semua gara gara Jaevano semalam membuatnya tidak bisa tidur. "Sudahlah, mending kamu buatkan aku sarapan. Lapar sekali ini!."
"Iya sebentar, aku mengembalikan ini dulu!." ucap Eca seraya mengangkat pel dan ember yang berisi air.
"Hum, oke aku tunggu di ruang tamu!." Shasa langsung berjalan menuju ruang tamu.
Gadis itu terdiam seraya memikirkan hal apa yang akan dia lakukan hari ini, rasanya sangat bosan jika terus berada di dalam rumah. Bagaikan burung di dalam sangkar, saja.
"Hey penyedap rasa!!." seru seseorang memecahkan lamunan Shasa.
Mata gadis itu membulat menatap Dirga yang berjalan dengan langkah cool. "Heh om tua, apa maksud mu memanggilku penyedap rasa hah. Kau kira aku ajinomoto apa?." kesalnya.
Dirga memutar kedua bola matanya. "Sudahlah, aku malas sekali berdebat denganmu. Ini ambil." Dirga menyodorkan sebuah map berwarna coklat di depan Shasa.
Gadis itu mengerutkan dahinya, lalu mengambilnya dengan ragu ragu. "Apa ini?."
_To Be Continued_
kenapa hidup Shas & Jaevano begitu menyedihkan sichh.., sudah cukup penderitaan mereka berdua akibat ulah dari orang2 yang serakah..
Pertemukan Shasa dengan JaeVano serta kedua anaknya agar penderitaan selama 6 Tahun bisa terobati dengan kebersamaan dalam keluarga yang seharusnya Memnag hidup bersama..😥😥💙💛💙😘😘😘
Samapi harus baca dr awal walau sebagian ada yg di lewati nichh.. lupa kisah awalnya shsa dn jaevano l.. 💙💛💙😘😘😘