Cladi terpaksa menerima perjodohan antara dirinya dan kakak iparnya, setelah sang kakak meninggal dunia akibat sakit. Karena kedua orang tua mereka tidak ingin cucu-cucu mereka tidak kehilangan kasih sayang seorang Ibu. Akhirnya perjodohan itu dilakukan demi menjaga mental anak-anak yang baru saja ditinggalkan ibunya. Terlebih kedua keponakan Cladi begitu dekat dengan Cladi.
Sementara kakak ipar yang akan dijodohkannya merupakan orang yang dingin dan datar sejak istrinya meninggal. Tidak jarang perlakuan tidak ramah sering Karan berikan pada Cladi karena menganggap Cladi menerima begitu saja perjodohan mereka.
Mampukah Cladi bertahan dalam hubungan pernikahan naik ranjang ini dengan sikap suami yang dingin dan datar serta tidak ramah. Yuk nantikan kisah naik ranjang antara Cladi dan Karan si kutub utara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Perdebatan yang Menguras Otak
Cladi mendengus, lagi-lagi dosa besar. Terlepas dari itu dia pengen Karan sesekali memahami perasaannya. Laki-laki bisa dengan mudah melupakan perasaan cinta atau sakit hati atau yang berhubungan dengan hal sensitif lainnya, beda dengan perempuan yang memerlukan waktu yang agak lama untuk melupakan. Cladi ingin Karan memahami sedikit perasaannya. Itu saja.
Pikiran Cladi yang semrawut ini, tiba-tiba dibayangi Syamsir kekasih yang sangat dicintainya. Cladi sedih, sebab Syamsir pun sama seakan sudah melupakan perasaan cintanya yang dulu menggebu-gebu kepadanya. Syamsir dan Karan sama saja, mudah melupakan perasaan cinta pada lawan jenisnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Memikirkan Syamsir? Aku peringatkan, jangan sekali-kali mengingat lelaki itu di rumah ini. Kamu harusnya bisa melupakannya, karena dia juga sedang berusaha melupakanmu. Apakah kamu tahu mantan kekasihmu itu sudah sangat bagus berusaha melupakanmu, tapi kamu masih saja mengingatnya. Katamu dia lelaki baik, dan terbukti dia pergi dan berusaha menghindarimu karena kamu tidak bisa dia miliki lagi," tutur Karan tegas. Dia tidak mau membiarkan Cladi terjebak dalam dosa hanya karena mengingat lelaki lain mantan kekasihnya.
"Aku beda Mas, aku perempuan. Aku butuh waktu untuk benar-benar melupakan seseorang yang pernah mencintai diriku. Beda sama laki-laki yang mudah berpaling," sergah Cladi tidak kuasa menahan kesedihannya karena dilupakan Syamsir.
"Kamu buang-buang waktu jika terus mengingat mantan kekasihmu itu, dosa iya. Kalau memang itu maumu, coba saja kamu kejar dia. Asal kamu sanggup menerima resiko dari perbuatanmu," tekan Karan seraya berdiri lalu menuju pintu kamar, sepertinya Karan akan keluar kamar.
"Cobalah kamu mengerti perasaanku Mas, kamu tahu perempuan kalau patah hati seperti apa, butuh waktu dan dijaga hatinya dengan sikap dan kata-kata yang lembut. Bukan ditekan seperti ini dan harus dengan cepat melupakan orang yang pernah dicintai," ujar Cladi menahan langkah Karan di pintu kamar.
Karan menoleh lalu menatap mata Cladi tajam. "Sudah aku katakan, silahkan kejar mantan kekasihmu itu, asal kamu berani menerima semua resikonya. Aku ingin lihat sampai di mana kamu berani mengejar lelaki itu sementara kamu sudah memiliki ikatan secara hukum denganku."
"Semua lelaki memang seperti itu egois dan tidak pernah bertahan lama dalam sebuah kesetiaan. Contohnya kamu, Mas. Kamu dengan mudahnya melupakan Kak Diara, sedangkan beberapa minggu yang lalu kamu masih memujanya dan menyebutkan namanya juga menatap fotonya. Itu sudah bukti bahwa laki-laki mudah berpaling. Sedangkan perempuan berbeda, dia setia dan tidak mudah berpaling. Kalaupun berpaling, itu butuh waktu yang lumayan lama. Jadi, kamu jangan menganggap gampang dengan perasaan seorang perempuan," tukas Cladi membalas ucapan Karan.
"Itu beda konteks, Sayang. Kamu jangan sama ratakan semua lelaki itu egois dan tidak setia. Ada dua jenis lelaki yang harus kamu kenal. Ada lelaki yang hobby mengumbar hawa nafsu lalu dia mencari kesenangan di luar sementara di dalam rumah dia punya pasangan sah. Lalu yang kedua, ada lelaki yang terus mempertahankan hubungan pernikahan sampai salah satunya dijemput ajal. Tidak perlu ambil contoh lain, contohnya ada di depan matamu, yaitu aku. Aku setia selama pernikahan dengan Kakakmu dan aku tidak pernah mengkhianati cinta kami, sampai aku dijodohkan denganmu aku masih setia dan tidak mengobral hawa nafsuku di lain tempat. Jadi, apa yang kamu katakan itu tidak benar, tidak semua lelaki tidak setia dan mudah berpaling." Karan menjeda ucapannya untuk mengatur nafas.
"Aku tipe lelaki yang setia jika pasanganku juga setia dan saling menghargai satu sama lain. Seperti halnya hubunganku dengan kakakmu. Kami saling cinta dan membangun rumah tangga dengan saling menjaga dan menghormati satu sama lain. Sehingga tidak pernah terbayang dalam benakku untuk mendua dan berpaling. Jadi, dari situ kamu bisa menilai, tipe seperti apa aku menurutmu?" lanjut Karan menggebu.
"Satu lagi, tentang aku yang kamu nilai mudah berpaling dan tidak setia. Wajar saja, sebab Diara sudah meninggal, lalu di depan mataku ada ikan segar dan lezat, masa iya aku tidak tergoda. Terlebih sudah lama aku berpuasa untuk menahan semua godaan yang ada. Dan kamu adalah makanan pertamaku setelah sekian bulan aku berpuasa sejak Diara meninggal," tegas Karan.
Setelah mengatakan itu, Karan membalikkan badan lalu melangkah keluar kamar. Kini langkah kakinya dia tujukan ke ruang kerjanya. Karan lebih baik menenggelamkan diri di sana supaya amarahnya mereda, dan perdebatan dengan Cladi barusan tidak membuat kepalanya sakit.
Karan duduk di kursi kebesaran di ruang kerjanya dengan kaki berselonjor bertumpu pada meja kerjanya. Sesekali tangannya memijit kepala yang berdenyut. Perdebatannya dengan Cladi begitu menguras otaknya sehingga berefek sakit kepala. Karan dan Cladi sama-sama memiliki watak yang keras, sehingga tidak mudah melembutkan hati Cladi yang keras juga. Sedangkan Karan pun tidak bisa bersikap lembut jika urusannya dengan masalah yang berhubungan dengan melibatkan pihak ketiga.
Karan memang tidak bisa lembut jika dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan seorang kekasih. Contohnya saat kuliah dulu, Karan pernah dikhianati kekasihnya sebelum Karan bertemu almarhumah Diara. Karan ngamuk dan berkata dengan keras pada mantan kekasihnya karena telah dikhianati. Setelah itu hubungan Karan putus dan melupakan mantan kekasih yang sudah pergi dengan lelaki lain.
Sementara Cladi yang kini menangis di dalam kamarnya, merasa Karan tidak paham dengan perasaannya. Dia ingin Karan mencoba mengerti, bahwa tidak semudah itu bisa melupakan orang yang pernah dicintainya sepenuh hati.
Cladi bangkit dengan air mata yang masih bercucuran. Malam ini dia akan tidur di kamar Kappa dan Khalia untuk meredakan semua perasaan sedihnya. Dengan kasar dikuncinya kamar kedua anak sambungnya dari dalam supaya Karan tidak bisa menemuinya.
Malam semakin larut, tapi Cladi masih belum bisa memejamkan mata. Dia terlalu larut dalam perasaan sesak oleh semua ucapan Karan. Cladi merasa semua kata-kata Karan menohok ulu hatinya. Karan menyuruhnya mengejar Syamsir, tapi semua itu hanya ironi. Untuk mengejar Syamsir, Cladi tentu saja tidak akan sanggup menghadapi semua resiko yang akan dihadapi.
Di ruang kerjanya, Karan bangkit menyudahi renungannya. Dia kini sedikit tenang setelah tadi menumpahkan segala perasaannya pada foto Diara. Sementara Diara seakan tersenyum dan memberi kekuatan pada Karan. Bayangan Diara tersenyum padanya seraya melambaikan tangan. Dia terlihat sangat bahagia. Mungkinkah Diara sudah merelakan dirinya untuk sepenuh hati mencintai Cladi, adik semata wayang Diara?
Bayang-bayang itu seperti nyata. Karan melepas foto Diara dan meletakkan kembali di dalam laci. Karan keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke kamarnya yang ternyata kosong. Karan mencari Cladi. Setelah perdebatan tadi dan emosinya mereda, Karan begitu merindukan Cladi.
Ternyata Cladi berada di kamar Kappa dan Khalia. Pintu kamarnya dikunci dari dalam sehingga Karan tidak bisa masuk, padahal Karan sangat merindukannya. Besok Karan akan berusaha baik-baikan Cladi supaya malamnya bisa melepas rindu bersama Cladi.