Kepergiannya 5 tahun lalu membuat kehidupan Deevana hancur berantakan, ia yang terbiasa hidup bebas dan lekat dengan dunia malam di manfaatkan oleh Ayah dan Kakak laki-lakinya. Deeva di paksa menemani para pria hidung belang setiap malam demi menghidupi keluarganya yang jatuh miskin lalu memiliki banyak hutang.
Di tengah rasa lelah dan putus asa ,nyatanya Deeva di jual kepada seorang pengusaha kaya raya.
Dan, betapa terkejutnya gadis malang itu saat tahu jika pria yang membelinya ternyata berondong kecilnya di masa lalu.
Apakah, cinta lama akan bersemi kembali setelah kontrak pernikahan di antara mereka telah ditanda tangani?
Sekuel dari nupel SAGARA ya, belum mampir silahkan baca lapak Ibun dan PanDa dulu, keh 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
🍂🍂🍂🍂🍂
Perkara ngidam Deva tentu tak sampai di buah rambutan, karna orang rumah kembali di gemparkan oleh kelakuan wanita yang belum orang tahu jika ia sedang berbadan dua..
Huaaaaaaa....
Tangis sesegukan sambil berteriak nyatanya membuat Aga kaget, ia yang masih terlelap langsung bangun dan mencari sumber suara.
"Apaan itu?"
Huuaaaaaaaaaa.... Huhuhuhu... huuuuuuuu...
"Deeva? Sayang, kamu kenapa?" tanya Aga bingung, ia langsung merangkul tubuh istrinya untuk di tenangkan dalam pelukan.
"Agaaaa--," lirih Deeva sedih sambil terisak.
"Iya, aku disini. Kamu kenapa? kok nangis sih? kamu pasti mimpi ya?"
Deeva pun mengangguk, wajah cantiknya sungguh penuh dengan air mata yang berderai. Siapa pun pasti akan ikut sedih jika melihatnya saat ini.
"Mimpi apa? kok sampe segininya?" Aga kembali bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Selama ia menyandang status suami dari Deeva, baru ini ia mendengar wanita halalnya itu sedih bukan main, apalagi ini hanya perkara mimpi. Jadi tak salah jika Aga terlihat sangat kesal pada si mimpi yang singgah di tidur wanita halalnya itu.
"Sudah ya, jangan menangis lagi," mohon Aga yang hatinya seperti teriris ikut sedih.
"Gak bisa, air matanya turun terus, Aga!"
"Ya udah, Deeva mau apa?" Tanya si bayi besar kesayangan Ibun Aisyah.
"Mau ke kantor Skala," Jawabnya di sela isak tangis.
Aga yang semakin tak paham terus di buat bingung, mulai dari tangis yang tiba-tiba, mimpi yang entah apa dan sekarang sang istri malah ingin mendatangi kantor si Terompet kiamat.
.
.
Drama bangun tidur dengan derai air mata sudah berakhir, namun sayangnya tak sampai disitu sebab saat di ruang makan tak ada satupun yang di sentuh oleh Deeva.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Ibun, rasa penasaran tak kuasa ia tahan saat melihat sang menantu hanya diam tanpa menikmati sarapan.
"Gak apa-apa, Bun. Cuma gak laper aja," jawab Deeva.
"Mau makan yang lain?" timpal PanDa Sagara, dalam hal perhatian, semua keturunan Gajah memang paling nomer satu. Tak perduli dari siapa dan untuk siapa.
Deeva hanya menggeleng, ia memang benar benar tak ingin makan apapun pagi ini termasuk buah buahan yang juga tersedia di atas meja makan.
"Aga, coba bawa Deeva ke dokter. Mungkin istrimu sedang kurang sehat," titah Ibun pada si bungsu belahan jiwanya selain suami berondongnya.
"Kamu sakit?" tanya Aga seraya mengusap punggung tangan wanita halalnya itu.
"Enggak, Kok, aku sehat dan gak. apa apa," Jawab Deeva meyakinkan.
"Tapi--, pokonya kita kerumah sakit ya."
"Aku mau ke kantor Skala, Ga!" tolak Deeva dan masih tetap pada keinginannya yang semula di anggap bercanda oleh sang suami.
Ibun Aisyah dan PanDa Sagara pun saling tatap, ada pertanyaan yang sama dalam pikiran mereka saat ini yaitu tentang tujuan sang menantu mendatangi perusahaan Barata Rahadian Wijaya.
Aga yang selalu mengusahakan yang terbaik dan apapun itu untuk istrinya pun langsung mengiyakan, usai sarapan pasangan beda usia tersebut bergegas menemui Skala yang selalu bangga karna beribu dua.
Selama perjalanan, Deeva tak banyak bicara. Ia malah tak fokus dengan apa yang di tanyakan oleh sang suami, hingga akhirnya kendaraan mewah mereka berhenti di Lobby kantor si terompet kiamat.
"Ruangan Skala di lantai berapa?" tanya Deeva.
Aga hanya tersenyum tanpa menjawab. Namun, ia langsung menekan tombol angkat dengan tangannya sendiri.
Dan, hanya butuh waktu beberapa menit pasangan tersebut kini sudah sampai di lantai yang di tuju.
Dengan langkah tergesa bahkan Deeva sampai meninggalkan Aga yang berada di belakangnya, ia membuka pintu ruangan Skala dengan cukup keras.
Plaaaak
Satu pukulan cukup keras mendarat sempurna di lengan pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur tersebut, Skala yang kaget hanya bisa tercengang sambil mengusap bagian yang sakit karna ulah tangan si Tupu Tupu.
"Woy! Apaan sih?" tanya Skala, tatapannya kini beralih ke Arah Aga di ambang pintu yang sama kagetnya, malah saliva yang ia telan seolah tersangkut di kerongkongan.
"Kamu!" ucap Deeva dengan amarah yang siap meledak.
"Apa? gue kenapa? Bini lo kenapa sih Bayi?" Pertanyaan di lempar Skala pada Aga yang langsung menggelengkan kepala.
"Mana gue tau, Mpeeet! Deeva cuma minta anter kesini."
"Kamu itu udah habisin Cilok mercon aku, Skala!"
"Cilok mercon? kapan gue makan Cilok? kalo nyolok sih iya aja!" jawab Skala bingung dengan tuduhan menantu Pradipta tersebut.
"Semalem!" sahut wanita itu lagi.
"Dimana?" Skala yang tak Terima sampai bangun dari duduknya di kursi kebesarannya tersebut.
.
.
.
Di MIMPIKUUUUUU....