Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034
Kantor Pertama
Sedikit demi sedikit, ia mulai membawa orang-orang yang merindukannya.
Dan sedikit demi sedikit pula, barang titipan mulai memenuhi kamar kosnya.
Awalnya hanya satu clutch di atas meja kecil. Lalu dua scarf di gantungan baju. Lalu pouch kain, plastik bening, lap microfiber, buku nota, dan kardus pengiriman di bawah ranjang. Pada hari ketiga setelah party, Bunga hampir menginjak dompet titipan klien ketika bangun tidur.
"Ini tidak bisa lanjut," katanya.
"Akhirnya kamu mengakui perlunya sistem penyimpanan," jawab Rangga.
"Aku mengakui kalau tidur sambil takut menendang tas orang kaya itu melelahkan."
Bunga turun ke lantai satu kos dan menatap ruangan kosong di samping area jemur. Dulu ruangan itu dipakai untuk laundry kecil, tetapi sudah lama berhenti. Catnya mengelupas di satu sisi, lantainya kusam, jendelanya seret, dan ada bau lembap yang membuat hidung Bunga langsung bekerja.
Penjaga kos melipat tangan. "Kalau mau pakai, tambah bayar. Ini bukan bagian kamar."
"Berapa?"
Angka yang disebut membuat Bunga ingin batuk, tetapi ia menahannya. Komisi pertamanya masih ada sebagian. Dua transaksi kecil berikutnya memberi tambahan. Ia menghitung cepat di kepala.
Rangga bertanya, "Boleh saya memberi pendapat keuangan?"
"Boleh, tapi jangan langsung bilang tidak."
"Kalau kamu membayar sewa tambahan tiga bulan sekaligus, kas kamu terlalu tipis. Tawar satu bulan deposit, satu bulan berjalan. Minta hak pasang rak dan kunci sendiri."
Bunga mengangguk sedikit.
Ia menawar.
Penjaga kos mengeluh. Bunga tetap berdiri. Penjaga kos menyebut harga lain. Bunga menghitung biaya cat, rak bekas, dan risiko tas klien tertendang di kamar. Akhirnya mereka sepakat: satu bulan deposit, satu bulan sewa, kunci sendiri, tidak boleh mengganggu penghuni lain.
Saat kunci kecil itu berpindah ke tangan Bunga, dadanya terasa aneh.
Bukan seperti menang lotre.
Lebih seperti pertama kali seseorang berkata, ini ruangmu, dan tidak langsung mengambilnya kembali.
Rangga diam cukup lama sebelum berkata, "Selamat atas... ruangan lembap."
"Terima kasih atas ucapan yang sangat menyentuh."
Membersihkan ruangan itu memakan setengah hari. Bunga menyapu debu, mengepel dua kali, menggosok kaca jendela sampai tangannya pegal, dan menaruh kopi bubuk di mangkuk kecil untuk mengurangi bau. Ia membeli rak bekas dari tetangga kos, meja lipat murah dari marketplace, dan kursi plastik yang satu kakinya perlu diganjal kardus.
Melati datang sore hari membawa kotak penyimpanan bening.
"Aku tidak mau dengar kamu bilang ini terlalu banyak," kata Melati sebelum Bunga membuka mulut. "Ini bukan hadiah. Ini investasi teman pada usaha yang mungkin nanti bikin aku dapat diskon."
Bunga menerima kotak itu dengan kedua tangan. "Kalau pakai kata investasi, aku jadi tidak bisa marah."
"Itu strategiku."
Melati melihat ruangan kecil itu. Matanya tidak mengejek. Justru berbinar.
"Ini lucu."
"Lucu seperti anak kucing atau lucu seperti kasihan?"
"Lucu seperti mulai."
Kalimat itu membuat Bunga sibuk menyusun plastik agar tidak perlu menunjukkan wajahnya.
Candra juga mengirim pesan.
Candra: Kalau kamu sudah punya tempat simpan yang aman, aku bisa kabari beberapa teman yang mau titip jual tanpa masuk marketplace.
Bunga menatap pesan itu, lalu ruangan kosong yang pelan-pelan berubah menjadi tempat kerja.
Bunga: Tempatnya kecil, tapi ada kunci sendiri.
Candra: Kunci sendiri itu kemewahan pertama.
Bunga membaca kalimat itu dua kali. Candra Wicaksana, anak keluarga besar, tahu cara menghargai kunci kecil. Entah kenapa itu membuatnya tersenyum.
Malamnya, setelah Melati pulang, Bunga berdiri di tengah ruangan baru. Di dinding, ia menempel kertas putih bertuliskan:
Bunga Lestari
Preloved & Titip Beli
By Appointment
Tulisan itu sedikit miring.
Rangga berkata, "Boleh saya memberi catatan desain?"
"Tidak."
"Baik."
"Kamu tetap mau ngomong, kan?"
"Font tulisan tanganmu memberi kesan usaha darurat."
"Memang darurat. Darurat naik kelas."
Rangga menghela napas, tetapi Bunga merasakan ada senyum di baliknya.
"Secara definisi, ini lebih mirip ruang operasional daripada kantor."
"Kamu menghina kantor pertamaku?"
"Saya hanya menyampaikan klasifikasi."
Bunga menatap lantai yang masih ada noda lama, dinding yang belum rata, kursi plastik ganjal kardus, dan rak bekas yang agak miring. Lalu ia tertawa.
"Kamu pernah tidur di bawah jembatan layang?"
Rangga langsung diam.
Bunga tidak mengatakannya dengan sedih. Fakta itu keluar datar, seperti harga cabai. "Aku pernah. Dua malam waktu pertama kali sampai Jakarta dan belum tahu harus ke mana. Jadi jangan hina ruangan yang punya kunci sendiri. Ini tempat terbaik yang pernah kutempati."
Keheningan di kepala Bunga berubah.
Rangga tidak mengisi keheningan itu dengan logika.
"Maaf," katanya pelan.
"Tidak usah minta maaf kalau kamu belum pernah miskin. Minta maaf kalau kamu menghina orang yang baru bisa punya pintu."
"Saya tidak akan mengulanginya."
"Bagus. Sekarang bantu aku hitung kapasitas rak."
"Dengan izin?"
"Dengan izin dan tanpa menghina kardus."
Mereka menghitung. Satu rak untuk tas titipan, satu kotak untuk scarf, satu kotak untuk aksesori kecil, satu buku nota untuk barang masuk dan keluar. Bunga menulis kode sederhana di kertas tempel. Rangga mengusulkan nomor transaksi. Bunga menambahkan warna stiker karena menurutnya angka saja membuat barang terlihat seperti tahanan.
Pukul sembilan malam, kurir mengetuk pintu kos.
Paket pertama yang memakai alamat ruangan baru tiba lebih cepat dari perkiraan. Isinya scarf sutra titipan klien dari grup Melati, dibungkus rapi dengan bubble wrap dan catatan singkat. Bunga hampir membuka paket di kamar karena kebiasaan, lalu berhenti di ambang pintu.
"Kantor dulu," katanya pada diri sendiri.
Ia membawa paket itu ke lantai satu, menaruhnya di meja lipat, memotret kondisi luar, membuka bungkus perlahan, lalu memotret isi dari empat sisi. Rangga tidak mengatur tangannya. Ia hanya memberi daftar pemeriksaan setelah bertanya izin.
"Boleh saya sebutkan urutan dokumentasi?"
"Boleh."
"Foto sebelum buka, saat buka, kondisi barang, cacat jika ada, lalu konfirmasi penerimaan ke pemilik."
Bunga mengikuti. Setelah itu ia menempel stiker kuning bertuliskan S-001 di plastik scarf.
"Kenapa S?"
"Scarf. Jangan protes."
"Saya belum protes."
"Wajah pikiranmu sudah protes."
Untuk pertama kalinya, barang orang lain tidak berbaring di atas kasurnya. Barang itu punya kode, foto, dan tempat sendiri.
Itu membuat kantor kecil tersebut terasa sah.
Menjelang tengah malam, kantor pertama itu selesai dalam versi paling sederhana.
Kipas angin kecil berputar pelan. Bau lembap belum hilang seluruhnya, tetapi sudah bercampur kopi bubuk dan sabun lantai. Bunga duduk di kursi plastik, menatap tulisan di dinding.
"Kantor," katanya.
"Ruang operasional."
"Kantor."
Rangga berhenti melawan. "Kantor."
Bunga tersenyum puas.
Ponselnya bergetar di atas meja lipat. Ia mengira itu pesan klien. Namun yang muncul adalah notifikasi berita bisnis dari grup yang diikutinya sejak mulai jual beli barang socialite.
PT Garuda Perkasa Resmi Menang Kontrak Pengamanan Proyek Pemerintah Baru.
Senyum Bunga hilang.
Di kepalanya, udara Rangga berubah dingin.
"Buka beritanya," katanya.
Kali ini, ia tidak lupa bertanya.
"Boleh?"