"Menikahlah dengan putraku. Maka aku akan menolongmu!"
Apa! Menikah untuk mendapatkan bantuan.
Ini gila. Menikah dengan orang asing.
Adira terpaku, ia tidak tahu siapa yang akan menikah dengannya?
Adira datang ke sebuah alamat sakti yang konon di percaya bisa menyelesaikan masalah yang membelitnya, Adira pun mencoba mencurahkan kesahnya namun, sial. Tidak ada yang gratis di dunia ini.
“Ingat hanya aku yang bisa menolongmu! Tapi dengan syarat menikah dengan putraku.”
Menikah dengan putra yang membantunya.
Ini gila. Syarat apa itu Adira tidak mengenalnya!
“Bagaimana jika lelaki perjaka tua bau tanah.”
“Atau duda anak 6.”
“Lelaki lumpuh terkena strooke.”
Adira meringis ngeri membayangkan ciri calon suami yang di gambarkan oleh adiknya.
“Kenapa aku mengiyakan.” Sesal Adira.
Apa benar lelaki itu sama dengan bayangan pikiran Adira. Bagaimana rupa suami Adira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syakira Sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata pulang
Malam telah menyambut, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam. Elgi baru saja menginjakan kaki di rumah. Niatnya untuk pulang awal untuk memastikan sesuatu ia urungkan setelah berspekulasi tentang perasaanya yang mengarah ke jatuh cinta. Uhg, itu pasti salah. Karena itu Elgi lebih memilih menyibukan diri. Masa bodoh pada tuyul kecil itu. Rasa gundah ini hanya akan sementara, sebentar lagi akan menghilang.
Elgi masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti di ruang tengah. Pemuda itu menghela napas berat saat netra tertuju pada sofa yang kosong. Tak sesuai dengan harapannya, Tuh kan dia memikirkan perempuan itu lagi. Walau mengatakan tidak peduli. Akan tetapi jauh di ujung hati Elgi kecewa. Melihat lagi tidak ada senyum dan sapaan lembut menyambut kepulangannya.
“Selamat malam tuan,” sapa lembut seorang perempuan membuat Elgi tersentak berbalik menatap perempuan tua itu.
“Bibi Anna. Kau sudah kembali,” ujar Elgi menatap bibi Anna yang mengukir senyum lembut.
“Iya tuan. Saya kembali karena Nona Adira menghubungi saya untuk pulang mengurus tuan,” balas bibi Anna yang sempat bertukar kabar dengan Adira dari sambungan telepon. Karena itulah bibi Anna kembali untuk mengurus sang tuan.
“Anda butuh sesuatu tuan, biar saya yang akan menyiapkannya. Karena Nona Adira pulang ke rumahnya,” jelas bibi Anna.
Deg
What
“Pulang!” sentak Elgi memasang wajah terkejut, bak di sengat listrik mendengar informasi yang ia dapatkan. Bagaimana bisa? Oh pantas saja dia tidak pernah melihat bayangannya itu lagi di rumah.
“Iya tuan,” balas bibi Anna singkat.
“Anda butuh sesuatu tuan?” tanya bibi Anna ulang mengalihkan pembicaraan tentang Adira. lebih baik mengurus keperluan tuannya dulu baru memberi penjelasan tentang kepulangan Adira.
“Tidak ada. Istirahatlah,” balas Elgi setelahnya melangkah meninggalkan bibi Anna menuju kamar.
Sepanjang menapaki tangga. Otak Elgi mengudara merunut tentang malam kejadian saat ia meledakkan amarah pada perempuan itu. Sejak saat itulah dia tidak pernah lagi melihat Adira di rumah. Apa Adira tersinggung dengan ucapan Elgi saat kesal.
Ah. Apa yang telah dia lakukan. Adira pulang ke rumahnya karena mendapatkan amarah darinya.
***
Fajar akan menyinsing. Di kamar terlihat Elgi bergerak gelisah di atas ranjang king size. Sekejap pun kelopak matanya tak bisa terpejam.
“Apa ucapanku sangat keterlaluan, sampai dia pergi dari rumah,” gumam Elgi sejak tadi berpikir.
Elgi tenggelam dalam kepingan kenangan malam itu. Ketika ia meluapkan amarahnya pada Adira. uhg, ini semua karena ia tersulut rasa panas setelah melihat kedekatan tuyul kecil itu dengan sahabatnya. Akhirnya dia meledak.
“Yang kau lakukan hanya membuatku muak. Jangan pernah menungguku lagi. Ingat posisimu. Kau hanya Office Girl di kantorku. Jadi jaga batasanmu.” Kenang Elgi.
Ah sial, Elgi berdecak. Benar, Tajam sekali ucapannya bak pisau menghunus perasaan. Kenapa dia Tega sekali dia berkata seperti itu?
Pikiran Elgi semakin jauh mengudara, irama jantung Elgi terasa terpukul kencang akan sebuah bayangan buruk. Seketika mengingat hari-hari yang telah berlalu bersama. Bagaimana ia selalu bersikap dingin dan ketus pada Adira. belum lagi ucapannya yang tajam begitu melukai hati.
“Apa dia tidak akan kembali lagi ke rumah ini?” batin Elgi memikirkan sikap abainya. Bagaimana jika ia sudah tidak bisa melihat tuyul kecil itu lagi? Oh astaga. Rasa takut berbalut cemas menjalar di perasaannya akan kemungkinan itu.
***
Maaf ya, sya janji up malam ternyata ngak jadi, ketikan Sya hilang udah begadang juga. Uh. Kesel banget bawaanya emosi. Jefri Nickol aja kalau nyapa ini, Sya bentak saking kesalnya.
semangat semangat...🥰🥰🥰
Di lanjut lagi donk novel nya
Novelnya bagus loh Kak Sya
Semoga Komen ku di respon kak Sya😊
Tolong dilanjutkan kak ceritanya
padahal ceritanya bagus loh