Kakak laki-lakinya disandera oleh bos gangster karena tidak bisa membayar hutang setelah kalah dalam pemainan judi. Adik perempuannya dijual untuk dinikahkan dengan pria yang sedang koma.
Seperti sebuah kutukan, dia menyebrang dan menjadi adik perempuan itu.
Dan di dalam kisah ini dia bukan protagonisnya. Setelah terbangun dari koma, suaminya mengajukan cerai.
Ketika dia melihat nominal tiga ratus juta yang menjadi harta gono-gini bagiannya. Tanpa nostalgia, dia menandatangani surat perceraian itu dalam satu tarikan nafas.
Saat dia hendak berbalik badan, suaminya yang akan segera menjadi mantan suami itu merobek surat cerai yang baru dia tandatangani dan berkata. "Tiga ratus juta setiap bulan selama kau masih menjadi istriku."
Dengan spontan dia berbalik badan, senyum ribuan watt di wajahnya. "Suamiku~~"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chu Seldom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Air Sungai dan Air Sumur
Jiang Yi menolak untuk menundukkan kepalanya, tiga hari berlarut-larut menjadi satu minggu. Jiang Yi memusatkan semua perhatiannya dengan bekerja lembur, baru pulang jika sudah lewat jam dua dini hari, kemudian pada jam tujuh pagi keesokan harinya dia sudah berada di kantornya.
Hari ini dia lembur lagi dan baru sampai di rumah pada jam tiga pagi. Mengetahui jika dirinya tidak akan bisa tidur, dia melewati kamar tidur dan pergi ke ruang studi.
"Yiyi."
Tangan Jiang Yi yang hendak memutar ganggang pintu mengepal. Telinganya mendengarkan dengan seksama, suara langkah kaki di belakangnya terus mendekat. Kemudian tanpa aba-aba sepasang tangan memeluk pinggangnya. "Yiyi." Lun Li meletakkan kepalanya pada punggung pria itu dan berbisik.
Jiang Yi membeku. Matanya melirik sepasang tangan ramping yang putih dan mulus pada pinggangnya. Wajahnya mengeras dengan kedua tangan yang mengepal, "Lepaskan." ucapnya dingin.
Lun Li di belakangnya, bukannya dia tidak mau melepaskan pelukannya, tapi tubuhnya berada di luar kendali. Kalau bukan karena terpaksa mana mungkin dia mau meninggalkan hari-hari dengan makan, minum dan tidur di rumah orang tuanya, dia tidak pernah menginginkan yang lain, tapi siapa suruh dia adalah pemeran pendukung. Ketika sedang menikmati tidur siangnya, tiba-tiba dia dibangunkan dan dipanggil untuk memenuhi perannya. Seperti robot dia kembali ke kediaman Jiang.
"Yiyi jangan mengabaikan ku." Lun Li berkata, menekan pipinya pada punggung Jiang Yi lalu menggosoknya. Bertingkah manja seperti kucing. Tapi sungguh, itu bukan keinginannya!
Motherfu***r !
Dia mengumpat di dalam hati. Tapi pada kenyataanya dia mengetatkan pelukannya.
Jiang Yi menunduk dan menatap sepasang tangan itu, sebenarnya dia bisa dengan mudah melepaskannya, tapi pikirannya sudah kacau pada saat wanita itu pertama kali memanggilnya. Tidak tahu seberapa keras usahanya untuk mengontrol tubuhnya agar tidak berbalik dan membalas pelukan wanita itu. Dia tidak akan menyerah, dan jika dia menyerah satu kali ini, dia tahu, di masa depan akan terus terulang. Dia tidak akan membiarkan wanita itu menguasainya. Tapi--
Sial !
Entah sejak kapan wanita itu sudah berpindah ke depannya dan sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, lalu air mata berjatuhan seperti bunga pear di musim semi, jatuh satu persatu dan membasahi kemejanya. Jiang Yi mengeraskan rahangnya dan mengeraskan keinginan hatinya, kemudian dia mendorong wanita itu hingga membuat pelukannya terlepas.
"Yiyi kamu tidak menginginkanku lagi..." katanya dengan suara serak yang dipenuhi oleh kesedihan. Kepalanya menunduk dengan tangan yang terkulai lemah pada kedua sisi tubuhnya.
Jiang Yi menurunkan pandangan dan yang menyambutnya adalah sepasang kaki mungil tidak memakai alas, lalu jari-jari kaki berwarna merah muda yang terlihat lembut. Seketika itu emosinya meledak. Dia menyambar tubuh wanita itu dan mengangkatnya dari tanah.
Huh, Lun Li tertegun. Tubuhnya merasa kehilangan gravitasi dan melayang, dia menatap kakinya yang menjauh dari tanah kemudian mendongak. Dia menatap wajah Jiang Yi yang masih dipenuhi dengan amarah dengan bingung, tapi ketika pria itu mulai bergerak, secara spontan dia memeluk leher pria itu.
"Yiyi kamu tidak marah lagi, kan?" dia berbisik lirih, menatap sisi wajah pria itu, "Yiyi." tanpa sadar tangannya terulur dan menyentuh wajah pria itu, kemudian menariknya kembali ketika kulit telapak tangannya tertusuk oleh rambut halus yang mulai tumbuh.
Jiang Yi terus diam dan memasang wajah dingin. Dia berjalan ke kamar tidur dan melemparkan tubuh wanita itu ke atas kasur kemudian dia berbalik arah dan meninggalkannya dengan langkah lebar-lebar.
Brak!
Lun Li mendengar pintu ruang studi ditutup dengan kasar. Apa yang terjadi? dia mencondongkan tubuhnya dan bertumpu pada kedua sikunya, menatap pintu kamar yang terbuka lebar dengan penuh pertanyaan. Jadi, mereka sudah berbaikan atau belum...
"Hoam." dia menguap, tangannya menarik sebuah bantal kemudian meletakkan kepalanya. Kemudian dia terlelap begitu saja.
Di ruang belajar, Jiang Yi menuangkan alkohol ke dalam gelas lalu menegaknya seperti meminum air. Dia rasa, dia butuh minum untuk menenangkan pikirannya.
Dia menyandarkan kepalanya pada punggung kursi dan menatap langit-langit ruangan.
Sejak kapan, dia tidak tahu. Tapi semakin jelas jika wanita itu memiliki pengaruh yang besar terhadap dirinya. "Tsk."
Esok paginya Lun Li bangun menjelang waktu makan siang, dia menoleh ke samping dan mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya masih rapi, tidak ada tanda-tanda seseorang tidur di sana.
Jiang Yi tidak tidur malam itu, dia kembali ke kamar pada waktu subuh, mengganti pakaiannya dan pergi ke kantor.
Lembur gila-gilaan yang dilakukan oleh Jiang Yi terus berlanjut, tapi bedanya dia tidak lagi marah-marah. Semua karyawan bersyukur dan menjalani lembur selama satu bulan tanpa protes. Lembur tiga ratus enam puluh lima hari dalam satu tahun masih lebih baik dari pada menghadapi mood buruk presdir Jiang.
Selama berhari-hari itu Jiang Yi berangkat sebelum Lun Li bangun dan pulang setelah Lun Li tidur. Jika bukan karena kasur di sampingnya yang sedikit kusut dan pakaian kotor di keranjang toilet, Lun Li tidak akan tahu jika Jiang Yi pulang setiap hari.
Hari-hari seperti itu berlanjut hingga musim dingin tiba dan tahun baru semakin dekat, mereka menjalani keseharian seperti air sungai yang tidak mencampuri air sumur, tidak menganggu satu sama lain. Tapi sebenarnya mereka masih saling terhubung. Kadang-kadang ketika Jiang Yi pulang, Lun Li belum sepenuhnya tidur, dan mengetahui jika pria itu selalu membenarkan letak selimutnya.
Dia tidak mengerti kenapa pria itu melakukannya, tapi dia tahu jika dia menikmatinya. Seperti malam ini, dia sengaja mengeluarkan kakinya dari dalam selimut ketika mendengar suara pintu dibuka.