NovelToon NovelToon
BadBoy

BadBoy

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kiandra 025

Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .

Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Hari semakin larut, langit pun semakin menghitam. Bintang bintang kecil yang biasanya menemani langit malam pun telah menghilang terganti dengan rintik rintik air hujan.

Di tengah dingin nya malam, terlihat seorang pria tengah merapikan meja meja di sebuah cafe, tanpa rasa takut karena hanya ada dirinya di dalam cafe yang cahaya nya tidak seterang ketika lampu di nyalakan.

Dia adalah Arsen, pria tampan berwajah datar yang terpaksa bekerja di cafe kecil hanya untuk bisa tetap bersekolah tanpa harus menggunakan uang orang tua nya yang sudah hitam di mata nya.

Setelah dirasa pekerjaannya selesai, Arsen mengambil jaket levis yang tergeletak di atas meja dan memakainya. Berjalan dengan langkah tenang keluar cafe, menutup dan mengunci kedai cafe dengan baik.

Arsen berdiri di depan pintu cafe, merogoh ponsel di saku celana seragam sekolah nya. Baru saja Arsen akan menelepon Devan, mata nya tak sengaja mengarah ke mobil Lamborghini Ulur berwarna merah. Bukan, bukan mobil nya yang membuat Arsen terpaku. Melainkan sosok wanita yang berdiri di samping mobil itu, yang kini menatap nya dengan sebuah payung yang melindungi nya dari rinrikan hujan.

Melihat kehadiran nya, wanita itu berjalan cepat ke arah Arsen, membuat Arsen tak mampu lagi untuk menghindar.

"Akhir nya kamu keluar juga," suara yang di ucapkan pertama kali oleh wanita itu membuat Arsen mendesis tak suka, Arsen ingin menjauh, namun tangan wanita itu dengan cepat menahan nya.

"Mama ingin bicara sebentar sama kamu," wanita yang memanggil dirinya sendiri sebagai mama itu menatap Arsen lekat lekat. Seolah dalam sorot mata nya itu menunjukan betapa banyak nya yang ingin ia bicarakan.

"Sudah malam. Aku harus pulang,"

"Arsen Mama serius."

Arsen menghela napas nya sejenak, beralih menatap wanita yang sangat di benci nya, wanita yang sial nya adalah mama kandung nya.

"Apalagi yang harus di bicarakan? Apa belum cukup anda membuat hidupku berantakan. Apa belum cukup semua penderitaan yang sudah anda berikan. Tidak bisakah anda membuat hidup ku tenang?" ucap Arsen meluapkan segala sesak dalam dada nya, menunjukan pada Erina, bahwa dirinya benar benar lelah, dan Arsen hanya butuh ketenangan dalam hidup nya.

"Anda?" Erina menatap Arsen tak percaya, kata Anda kembali terucap dari bibir Arsen, membuat sebagian hati Erina sebagai orang tua merasa di lukai.

"Arsen, tidak bisakah kamu kembali memanggil Mama dengan sebutan Mama? Kenapa harus Anda?" terlihat jelas sorot mata kecewa dari mata Erina.

Arsen tersenyum sinis, merasa lucu dengan permintaan yang baru saja di ucapakan oleh mama nya.

"Mama? Sejak kapan anda menjadi mama saya?"

"Apa selama ini kamu tidak pernah menganggap aku sebagai Mama kamu. Apa sebegitu benci nya kamu sama Mama?" entah apa yang terjadi, suara Erina terdengar bergetar, mata nya berkaca kaca menatap wajah sinis putranya.

"Bukan aku yang tidak menganggap Anda, tapi Anda sendiri lah yang tidak menganggap saya sebagai Anak Anda. " desis Arsen membuang pandangan nya ke arah jalan yang tampak remang remang, hujan yang tadi nya mulai reda kini kembali deras, bercampur petir yang saling bersautan.

Erina menghapus air mata nya, tidak ada yang mampu menggetarkan kan hati nya kecuali ketika berhadapan dengan Arsen, putra nya. Bola mata hitam bersorot tajam yang di miliki Arsen selalu mengingatkan nya kepada almarhum suami nya, yang membuat hati nya terluka ketika menatap mata nya.

"Baiklah kalau itu memang anggapan kamu tentang Mama. Sekarang sudah malam, tunjukan dimana tempat kamu menginap biar Mama yang antar kamu pulang."

"Tidak perlu, Devan akan datang menjemput ku,"

"Biar Mama yang mengantarmu, dan besok kamu gak perlu datang lagi ke Cafe ini. Saham yang sudah kamu tawarkan ke Mama, sudah mama proses dan besok uang nya cair. Kamu bisa membuka usaha sendiri dengan uang itu." Erina membuka dompet nya dan mengeluarkan sebuah kartu cart di sana.

"Kamu pegang ini, uang nya akan masuk kedalam kartu ini," ucap Erina menyerahkan sebuah kartu credit.

Arsen terdiam untuk beberapa saat, menatap kartu yang di sodorkan mama nya dengan tatapan tak percaya. Arsen mendongak menatap Erina, melihat Erina yang tersenyum tipis membuat hati Arsen merasa berbeda.

"Ambilah!"

Arsen tidak menjawab, dia mengambil kartu itu dan berlari kecil menerjang air hujan dan masuk ke dalam mobil Lamborghini milik Erina.

Erina tersenyum lega, dengan segera dia mengikuti Arsen dan masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Arsen pulang. Mungkin, dengan cara ini Erina bisa tau dimana Arsen tinggal selama ini.

📝

Pagi ini, Aresha tidak lagi telat datang ke sekolah. Aresha datang 20 menit sebelum waktu ujian di mulai. Saat ini, seperti biasa Aresha menjadi sorotan teman satu sekolah nya, bukan karena penampilan nya, melainkan karena seseorang di samping yang tengah merangkul nya.

Suitan demi suitan terdengar semakin heboh, membuat Aresha mendesis karena malu, berbeda dengan Arjuna yang tersenyum menanggapi nya.

"Kamu langsung masuk ke kelas saja, biar aku pergi ke kelas sendiri." ucap Aresha melepas rangkulan nya.

Arjuna mengangguk dan berjalan ke arah kanan koridor sekolah, di ikuti oleh Aresha yang berjalan sebelah kiri menuju ruangan ujian nya.

Dari ujung jalan, Aresha melihat Arsen duduk di bangku depan kelas, Arsen terlihat serius dengan buku bacaan nya, di ikuti oleh kedua sahabatnya, Devan dan Refal yang tampak asik mengoda siswa perempuan yang melewati nya. Aresha mencoba tenang melewati mereka bertiga, namun sial nya suara Devan terdengar hingga mau tak mau membuat nya berhenti sebelum Aresha memasuki kelas yang hanya tinggal satu langkah lagi.

"Buru buru amat Aresha jalan nya, duduk sini ngobrol ngobrol dulu,"

Aresha berhenti menoleh menatap Devan, lalu melirik sekilas Arsen yang tampak tak memperdulikan keadaan sekitar nya.

"Iya nih, mumpung ada Arsen tuh," sahut Refal menimpali.

"Apa urusan nya sama gue?" jawab Aresha terdengar acu tak peduli, walaupun dalam hati nya meronta ingin di tatap oleh pria yang sama sekali tak mempedulikan kehadiran nya.

"Cih, sombong banget. Gak ada Arsen aja nyari nyari kita buat kasih tau dimana Arsen, terus sekarang udah ada orang nya, berlagak kayak gak peduli. Lo munafik atau gimana?"

Semua yang tadi nya berisik, mendadak diam mendengar suara datar dari seseorang yang berdiri di belakang Aresha.

Aresha menggeram marah menatap Sakra yang selalu bisa menyulut emosi nya. Seseorang yang tadi berucap sangat tajam adalah Sakra, salah satu sahabat Arsen yang mendapat julukan si cassanova. Pria tampan namun suka mematahkan hati para wanita.

"Lo gak tau apa apa mending diam," desis Aresha pelan.

"Gue lebih tau segala nya dari lo, termasuk perasaan lo sendiri." balas Sakra mendesis tajam. Sakra beralih menatap Devan dan Refal yang tampak diam, lalu menatap Arsen yang terlihat datar menatap keadaan sekitar.

"Bro, gue cabut dulu. Nanti istirahat kita berkumpul di tempat biasa." ucap Sakra sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka semua.

"Kenapa pada ngumpul di sini, ayo cepetan masuk. Bentar lagi ujian akan segera di mulai," teriak Bu Farra dari ujung kanan, membuat mereka semua yang berada di depan kelas berlarian memasuki ruangan masing masing, tak terkecuali Aresha yang masih mencerna baik baik perkataan Sakra barusan.

📝

Ujian kedua untuk mata pelajaran pertama pun selesai, semua siswa berhamburan menuju ke kantin. Mengisi perut mereka yang terasa keroncongan setelah menguras otak mereka untuk berfikir.

Aresha berjalan ingin menuju kantin, menghampiri ketiga sahabat nya yang sudah menunggu kedatangan. Namun, begitu berada di lantai dasar, Aresha memincingkan mata nya menatap seorang wanita yang baru saja masuk ke ruang kepala sekolah, wanita itu begitu familia baginya, dan Aresha yakin wanita itu adalah Erina, sahabat lama bunda nya.

"Ngapain tante Erina masuk keruang kepala sekolah? Apa Arsen kembali membuat masalah," gumam Aresha mencoba menerka nerka apa yang sedang berada di pikiran nya.

Aresha mengurungkan niat nya yang ingin ke kantin, berbalik arah dan berjalan ke arah ruang kepala sekolah. Aresha mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru sekolah. Merasa sepi dan aman, Aresha sedikit mengintip ke cendela yang kaca nya sedikit terbuka.

"Maaf pak, boleh saya bertanya sudah berada hari Arsen gak masuk sekolah?" suara Erina mulai terdengar di telinga Aresha.

"Saya tidak tahu berapa hari nya Arsen gak masuk sekolah, tapi yang saya dengar dari wali kelas nya, Arsen sudah lama tidak masuk sekolah dan baru senin kemarin dia masuk sekolah karena harus mengikiti ujian sekolah semester awal, dan yang saya ketahui, Arsen kembali bersekolah ketika dia sudah melunasi uang sekolah nya bulan ini."

"Melunasi maksut nya apa ya? Bukankah saya sudah melunasi semua nya sejak pendaftaran pertama. Dan anda juga tau kan kalau sekolah ini di bangun atas nama keluarga saya?"

"Itulah yang membuat saya binggung Nyonya Erina, tiga hari yang lalu Arsen memberi uang kepada staf tata usaha, dia bilang ini uang bulanan selama dia bersekolah. Saat mereka menolak nya, Arsen bilang jika mulai bulan ini dia sendiri yang akan membayar nya."

Aresha yang mendengar pembicaraan anatara mama Arsen dan kepala sekolah sedikit merasa terkejut. Sebegitu niat nya Arsen ingin menjauh dari mama nya, sehingga menolak uang pembayaran sekolah yang memang seharusnya menjadi urusan orang tua nya.

"Yaudah pak kalau begitu saya permisi dulu,"

Aresha buru buru berlari pergi meninggalkan tempat ruang kepala sekolah ketika Erina berdiri dan mulai berpamitan. Setelah melihat kepergian Erina, Aresha kembali menaiki tangga untuk sampai di ruang ujian nya, mood Aresha yang ingin ke kantin entah menghilang kemana.

Brukk..

"Awashh," Aresha meringis merasakan sakit pada pantat nya yang mencium lantai saat seseorang tak sengaja menabrak nya.

"Lo gak papa?"

Aresha terdiam mentap seseorang yang kini berjongkok di depan nya, memegang bahu nya dan juga kaki nya dengan tatapan yang tak bisa Aresha deskripsikan.

"Lo punya mata gak sih? Gak lihat di depan lo ada orang,"

Bukan. Itu bukan suara Aresha yang marah, melainkan Arsen, seseorang yang tadi berjongkok di depan Aresha. Arsen mendongak menatap pria yang tadi bertabrakan dengan Aresha dengan tatapan tajam.

"Maaf, aku gak sengaja, tadi aku buru buru." jawab pria itu menunduk takut, apalagi kini sedang berhadapan dengan Arsen, dan pria itu jelas tau siapa Arsen dan bagaimana Arsen ketika marah.

"Gue gak papa, lo gak perlu khawatir," ucap Aresha yang sedari tadi diam. Aresha berdiri dengan di bantu oleh Arsen, sedikit merapikan rok nya dan berlalu pergi masuk ke dalam kelas nya.

"Sekali lagi lo tabrak dia dan buat dia terluka, gue gak bakal lepasin lo," desis Arsen berjalan melewati pria itu dengan sedikit menyenggol bahu pria itu.

Arsen masuk ke dalam kelas dan mendudukan badan nya di kursi berhadapan langsung dengan Aresha, menatap wajah cantik Aresha yang terlihat enggan menatap nya.

"Sepulang sekolah, kita bertemu di taman belakang sekolah."

Aresha tetap diam meskipun Arsen mulai mengajak nya bicara.

"Kalau lo gak dateng, gue anggap pertemanan kita memang gak ada gunanya,"

"Bukanya lo marah sama gue?" tanya Aresha mendongak menatap Arsen.

"Iya, sebelum gue tau yang sebenarnya." sahut Arsen cepat, Arsen berbalik memunggungi Aresha. Hingga tak lama kemudian semua siswa masuk ke dalam kelas dan di susul dengan suara bell pertanda ujian palajaran kedua akan segera di mulai.

Tanpa sadar, Aresha menyunggingkan senyum nya memperhatikan punggung tegap Arsen yang terbalut kemeja putih sekolah. Merasa senang dengan ajakan Arsen bertemu sepulang sekolah, entah ini pertanda baik atau tidak, yang jelas Aresha merasa bahagia dengan adanya pembicaraan bersama Arsen, pria yang beberapa hari lalu terasa jauh dari nya.

📝

Coba tebak untuk apa Arsen ngajak Aresha bertemu di belakang sekolah? 😁

1
K_Forza
beranda sekali aku baca pas bagian ini 🤣
K_Forza
ternyata novel ini udah ada di tahun 2020 dan aku baru tau di 2025 lewat dubber nya novel ini..
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu
K_Forza
gak suka Arjuna ih
K_Forza
jangan bilang kalo vino juga suka Aresha?
K_Forza
bener, paling gak kuat dan males punya cowok cuek apalagi gak peka🥲
K_Forza
astaga koplak juga gurunya 🤣😂
Qaisaa Nazarudin
Kenapa aku gak rela cerita ini END sih thor,, Aku pengen baca sampai mereka nikahan semua dan punya anak masing2 nya..ck thor huaaa..Aku gak rela END😩😩😩😩
Qaisaa Nazarudin
Kita kawal sampai pelaminan thor..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Yezzzz 💪🏻💪🏻💪🏻👏🏻👏🏻👏🏻 Mau2,Mau dong 🥰🥰🥰😍
Qaisaa Nazarudin
Pikuran yg kel gini yg gak benar,Harus di perjuangkan,Bukannya nyerah gitu aja,,Sebel aku..
Qaisaa Nazarudin
Berarti cinta kamu belum kuat utk Aresha,nyatanya kamu tdk mempercayai nya,,Kamu malah lebih memilih Ego mu,Aku kecewa dgn mu Arsen..
Qaisaa Nazarudin
Aresha terlalu gengsian dan gak pernah peka dgn keadaan Arsen,Heran aku,,,
Qaisaa Nazarudin
Waahh Arjuna licik,Bawak bawain mama nya utk dekatin Aresha lagi, Curang..
Qaisaa Nazarudin
Mendingan sama Aldrin dari pada kamu yg masih mencintai cewek lain,tapi pacaran dgn Stephany,,🙄🙄Rasain kamu kan..
Qaisaa Nazarudin
Aneh ya,Kok ada kembaran yg saling musuhan kek gitu,Hanya di dunia novel kan..😂😜
Qaisaa Nazarudin
Sengaja ya Arsen kasih nomornya ke Nabila, katanya Cinta sama Aresha,Tapi kenapa gak bisa jagain hatinya Aresha?? Lama2 sebel aku dgn sikapnya Arsen,,
Qaisaa Nazarudin
Itu pasti nomor Nabila,Blokir aja deh Aresha nomor nya..
Qaisaa Nazarudin
Arsen gengsian banget, giliran di dekatin Nabila malah diam aja,, Ini yg bikin mereka tambah salah paham, Kamu sendiri yg kasih peluang Arjuna dekatin Aresha lagi, Ntar jgn nyesel kamu..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya kamu yg nemuin Arsen dan minta maaf,Kok sekarang malah kebalik,kamu yg ingin Arsen nemuin kamu,ck🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Sikap Arsen yg suka berantem membuatkan Aresha meninggalkan Arsen,Udah tau Aresha gak suka kamu berantem,Malah Arsen kayak menantang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!