NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI KE EMPAT

Bak belakang mobil pikap itu kini sudah kosong melompong, hanya menyisakan beberapa boks plastik kosong yang bertumpuk di sudut dan selembar kain terpal yang sudah dilipat rapi.

Daiki baru saja mengunci pintu bak belakang, Dengan bertumpu pada ban mobil, gadis itu langsung melompat naik dan duduk santai di dalam bak belakang pikap.

"Hei!" mata daiki melotot kaget. "Masuk ke depan, kita mau jalan."

Yukari menggeleng kuat-kuat, tangannya mencengkeram tepi bak besi mobil. "Tidak mau!" Beberapa helai rambutnya tampak beterbangan ditiup angin pasar yang berdebu. "Aku ingin menikmati perjalanan pulang dari belakang sini."

Sebelah tangannya berkacak pinggang. "Tidak, Jarak dari kota ke desa itu jauh, jalannya menanjak. Nanti kalau terlempar karena guncangan gimana?"

"Tidak akan," sahut Yukari, dagunya terangkat menantang.

"Cepat turun, Yukari."

"Tidak mau."

"Yukari..." Daiki mulai menaikkan nada suaranya, memberi peringatan.

"Pokoknya tetap tidak mau!"

Daiki memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening, mode keras kepala gadis ini sudah kumat, tidak akan ada yang bisa memaksa. "Dasar bebal," gerutunya pasrah.

Akira yang sejak tadi berdiri diam di samping pintu kemudi akhirnya angkat bicara. "Tidak apa-apa."

Daiki menoleh dengan dahi berkerut.

"Biarkan saja," Akira menatap flat ke arah bak belakang, lalu melangkah mendekat ke arah Yukari. "Aku juga akan duduk di belakang."

Akira melompat naik ke atas bak dengan gerakan stabil "aku akan mengawasinya "

Sudut bibir Daiki perlahan terangkat. Rasa khawatirnya langsung berkurang "Baiklah kalau begitu..." gumamnya sambil terkekeh pelan. "Aku titip anak nakal ini padamu, Akira."

Daiki kemudian berjalan memutar lalu naik ke kursi kemudi.

Sementara di atas bak, Yukari memandang pria di hadapannya dengan tatapan heran. "Kau ingin melihat pemandangan juga?"

Akira tidak langsung menjawab. Dia memilih menggeser tubuhnya, duduk bersandar pada dinding bak mobil "Iya, sepertinya seru!!."

Mendengar itu, senyum Yukari langsung merekah lebar. "Iya, kan!!"

Mobil pikap hijau itu pun kembali melaju, meninggalkan area kota yang bising menuju jalur pegunungan Oku-Nikko.

Angin sore yang sejuk berembus lembut, menerpa wajah mereka sepanjang perjalanan. Selama beberapa menit pertama, tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya ada suara deru mesin mobil tua dan hantaman angin yang konstan.

Namun, Rasa lelah setelah seharian bekerja di ladang dan pasar mulai menagih haknya. Kepalanya mulai terangguk-angguk menahan kantuk.

Hingga ketika mobil berbelok melewati sebuah tikungan panjang yang cukup miring, tubuh Yukari perlahan kepalanya terkulai pelan ke arah kiri, tepat di bahu Akira.

Akira sempat menegang seketika, ia menolehkan kepalanya perlahan, melirik gadis yang kini bersandar di pundaknya.

Wajah Yukari tampak begitu damai saat memejamkan mata. Napasnya terdengar teratur, dengan beberapa helai rambut yang tertiup angin sesekali menyentuh leher Akira.

Akira berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Yukari-san..."

Tidak ada jawaban atau Gadis itu sudah benar-benar tertidur lelap.

Akira menatap jalanan beraspal di depannya selama beberapa saat. Perlahan, dia mengendurkan ketegangan di bahunya, lalu diam-diam menggeser sedikit posisi duduknya ke bawah agar pundaknya menjadi sandaran yang lebih nyaman bagi Yukari. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia membiarkan Yukari terus terlelap sepanjang sisa perjalanan pulang menuju desa.

***

Mobil pikap akhirnya berhenti dengan mulus di pekarangan rumah kayu keluarga Honami.

Daiki mematikan mesin mobil. Suara kendaraan perlahan menghilang, digantikan oleh cicit serangga sore yang mulai memenuhi udara desa yang dingin.

Daiki membuka pintu kemudi, lalu berjalan ke arah bak belakang. Begitu melihat kepala Yukari masih bersandar nyaman di bahu Akira dengan mata terpejam rapat, Tatapannya berubah menjadi jauh lebih lembut.

Dengan gerakan setenang Daiki membuka tuas pengunci bak belakang lalu naik perlahan.

"Apa... kita bangunkan saja?" bisik Akira dengan suara yang sangat rendah.

Daiki menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan," suaranya hampir menyerupai bisikan angin.

Akira kembali menatap wajah polos Yukari sesaat. ia menggeser sedikit posisi kedua tangannya, bersiap untuk mengangkat tubuh gadis itu. "Kalau begitu...aku akan menggendongnya masuk ke dalam."

Namun, belum sempat Akira menggerakkan badannya, telapak tangan Daiki lebih dulu menahan lengannya dengan kuat. "Tidak usah."

Akira menatap Daiki, dahinya agak berkerut bingung.

Daiki hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Biar aku saja."

Daiki merogoh saku celana lalu menyerahkan seikat kunci rumah kayu milik Yukari ke tangan Akira. "Tolong bukakan pintu depannya, Akira."

Akira menerima seikat kunci besi yang terasa dingin itu di telapak tangannya. "...Baik."

Dengan gerakan yang sangat terlatih dan hati-hati, Daiki menyelipkan satu tangan kekarnya ke bawah tekukan lutut Yukari, sementara tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Dia mengangkat tubuh Yukari dalam satu gerakan mantap. Gerakannya terasa begitu alami, seolah-olah Daiki sudah melakukan hal yang sama selama puluhan kali di masa lalu.

ada sesuatu yang terasa mengganjal Bukan rasa marah, Hanya... ada sedikit rasa sesak yang sulit dia jelaskan dengan kata-kata.

Tak ingin larut, Akira berjalan cepat menuju pintu rumah disusul oleh Daiki melangkah masuk ke dalam kamar merebahkan tubuh Yukari di atas futon yang sudah dibentangkan oleh akira sebelumnya.

Daiki memandangi wajah tidur Yukari selama beberapa detik, lalu sebuah senyum kecil terukir di bibirnya. "Tidurlah yang nyenyak," bisiknya lirih lalu menarik selimut hingga batas dada.

Akira berdiri beberapa langkah di belakang Daiki, menyaksikan seluruh interaksi itu. Melihat bagaimana perhatian Daiki yang begitu tulus tanpa ada niat terselubung kepada Yukari, perlahan-lahan Akira mulai memahami sesuatu.

Hubungan keduanya memang berbeda. Sebuah Ikatan murni yang dibangun dari fondasi puluhan tahun untuk saling menjaga satu sama lain, perasaan ganjil yang sempat membuat dadanya sesak di luar tadi perlahan-lahan mulai menguap sirna.

Daiki membalikkan badannya, lalu menatap Akira. "Terima kasih sudah membukakan pintu dan menyiapkan futonnya."

Akira menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak melakukan sesuatu yang besar."

Daiki tersenyum kecil, lalu berjalan mendahului Akira keluar kamar. "Justru itu."

Akira mengernyitkan dahi, tidak paham maksud kalimat pria itu.

Melirik sekilas ke arah Yukari yang masih tidur pulas, Daiki berkata pelan, "Sekarang kau sudah mulai mengerti bagaimana cara menjaganya dengan benar."

Kalimat pendek dari Daiki itu membuat langkah kaki Akira langsung terhenti di ambang pintu. Dia kembali menatap sosok gadis yang sedang terlelap dengan wajah damai di atas futon.

Akira menyadari sesuatu, dirinya mulai memiliki keinginan untuk menjadi salah satu orang yang berdiri menjaga senyuman di wajah Honami Yukari.

...----------------...

Sinar matahari musim semi yang hangat menyelinap masuk melalui celah-celah jendela rumah kayu, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai.

Yukari membuka kedua kelopak matanya perlahan. Ia melangkah keluar menuju ruang tengah. Daiki tampaknya sudah pulang kembali sejak subuh tadi

Saat ia melirik ke arah pintu geser samping yang terbuka, ia melihat Akira sedang menjemur handuk bibirnya melengkung tipis melihat pemandangan itu.

Hari ini, sudah waktunya untuk memberikan hadiah atas pencapaian baru pria itu. Yukari berjalan mendekati meja makan, mengambil buku memo kuning dari atas sana, lalu memilih sebuah hanko kayu berbentuk daun ek dari dalam kotak koleksi pribadinya.

Tiba tiba dari arah pintu belakang Akira masuk ke dalam rumah. Rambut cokelatnya masih tampak agak basah.

Pandangan mereka beradu sesaat sebelum salah satu dari mereka tersenyum "selamat pagi Yukari-san "

Yukari menepuk-nepuk permukaan kursi kayu di hadapannya dengan ceria. "Pagi akira-san, Ayo duduk di sini."

Dia menarik kursi lalu duduk hadapan Yukari yang sedang membuka halaman keempat dari buku memo kuning milik Akira. Ujung pena hitamnya mulai menari dengan gerakan telaten di atas kertas, menuliskan beberapa baris kalimat baru di sana. Setelah selesai, dia menekan stempel kayu daun ek itu ke atas bantalan tinta merah, lalu menekannya dengan mantap di ujung halaman.

Cekrek.

Yukari mengangkat buku memo tersebut dengan senyum hangat yang terkembang di wajahnya.

"Kamu sudah bekerja keras di ladang lobak" ujar Yukari lembut. "bukan hanya sekadar membantunya mengangkat boks-boks berat ke atas bak mobil... tapi kamu juga belajar memahami profesi kasar di pasar"

Yukari kemudian menggeser buku memo kuning itu ke atas meja, tepat di hadapan Akira. Di halaman tersebut, kini telah terukir sebuah tulisan tangan yang rapi:

Halaman 4

Judul: Menyamar Menjadi petani dan kuli panggul

[ LULUS 🍁]

Yukari menatap mata Akira dengan binar ketulusan. "Stempel daun ek ini melambangkan keteguhan dan proses pertumbuhan. Menurutku... sekarang kamu sudah mulai berhasil menumbuhkan akarmu sendiri di dalam rumah kayu tua ini."

Akira terpaku memandangi barisan tulisan tangan dan cap merah berbentuk daun ek itu dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Namun, momen haru itu tidak bertahan lama ketika perut Yukari tiba-tiba berbunyi pelan, memecah keheningan ruang tengah.

Krrriiiuukkkkk...krruukk

Gadis itu langsung tertawa canggung sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Akira dengan binar usil. "Nah, karena urusan apresiasi hanko sudah selesai, sekarang saatnya Koki Akira menjalankan misi darurat untuk mengisi perut pustakawan yang kelaparan ini."

Akira hanya bisa mengembuskan napas pendek pasrah, meski sisa senyuman tipisnya masih tertinggal di sudut bibir. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah ke dapur untuk menyiapkan menu sarapan praktis yang aroma gurihnya langsung menyeruak dalam waktu singkat.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!