📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...
Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 [Kau kenapa?]
"Om!" Elea menangis. Di saat itu pula Glans terjaga dari ruang bawah sadarnya. Melepas cekikan di leher dan remasan di dada Elea.
Masih terbatuk-batuk sebelah tangan Elea yang gemetar kerap mengusap usap leher yang terasa pedas. Barusan napasnya hampir selesai di tangan besar seorang dokter ahli bedah.
"Aku minta maaf."
Sambil meringkuk di pojokan ranjang, Elea menepis tangan Glans. Tak dinyana, tangan damai yang Glans pakai untuk mengoperasi pasien, menolong sesama manusia, ada sesuatu hal mengerikan di baliknya.
Nyata yang benar-benar pahit bagi Elea, lelaki baik-baik yang sangat ia percaya kini menjadi seseorang yang berpotensi paling tinggi menyakiti dirinya.
"Aku minta maaf." Glans meredup tatapan yang semula berapi-api. Hanya tersisa sesal yang melingkupi kedua maniknya.
Belum berhasil membuat Elea jatuh cinta, Glans sudah tergoda untuk menunjukkan jati diri yang memiliki F.e.t.i.s.h tak biasa.
Glans menundukkan wajahnya seraya mengutarakan satu persatu alasan kenapa lelaki itu tidak pernah mau menyentuh Elea.
Bukan tidak ingin bercinta. Menurut Glans percuma saja jika Elea hanya menginginkan sentuhan lembut darinya, sebab hasratnya hanya akan tersalurkan jika Elea juga mau pasrah di bawah kekerasan fisik yang Glans berikan.
Glans tak bisa mengontrol kemauan tubuhnya saat sudah dalam mode On. Itulah kenapa Glans tak pernah mau terangsang selama ini.
Sekedar mencium, tidak saling menikmati, karena jika sudah terlanjur bergairah, Glans akan kacau. Dia akan berubah menjadi iblis terganas seketika itu juga.
"Aku tidak bermaksud menyakiti mu," lirih Glans. Dia beringsut ke bawah sisi ranjang mendekati Elea yang terisak di sana.
"Apa pernah ada wanita yang kau tidurri?"
"Pertanyaan macam apa ini?" Glans menghunus tajam matanya. "Kita sepakat tidak akan membahas masa lalu."
"Tadinya begitu. Tapi Elea penasaran. Om tahu orientasi Om berbeda, bukankah itu berarti Om sudah pernah mencobanya?"
Glans menunduk. Dia laki-laki yang memiliki kesulitan saat berbohong. Meski bibir berkata tidak, bahasa tubuhnya takkan mungkin seirama.
"Jawab saja... Aku istrimu. Tapi sama sekali aku tidak mengenal mu. Om menakuti Elea barusan. Apa pernah ada wanita yang kau tidurii sebelum menikah dengan ku?"
"Itu masa lalu."
Elea terkekeh. Benar kan, Glans pernah bersama wanita lain. Minus yang lagi-lagi membuat Ezra lebih unggul dari lelaki itu.
Sial memang. Kenapa selalu saja Ezra, Ezra dan Ezra yang dia bandingkan. Ezra tidak lebih baik dari Glans, tapi kenapa sulit menemukan jeleknya lelaki penipu itu.
"Yang kemarin datang ke pesta?" Sempat Elea melihat gelagat lain dari wanita yang pernah Glans kenalkan padanya. "Om berubah dingin semenjak dia datang menyapa kita."
Tampak Glans meneguk saliva yang sedang membantunya menetralisir suasana. "Aku sudah lama tidak bersamanya."
Getir, Elea tersenyum. "Jadi dia yang bisa melayani Om dengan cara yang Om sukai, begitu? Kalian bermain ekstrim?"
"Kami sudah selesai. Semenjak aku berhubungan dengan mu, kami tidak lagi saling bertemu."
"Masalahnya, aku tidak bisa seperti dia kan, Om? Aku hampir mati ketakutan tadi!" Tak perlu pikir panjang, Elea bangkit dan keluar dari kamar bulan madunya.
"Elea..." Glans mengusap kasar wajahnya. Bukan inginnya memiliki kelainan ini, Glans sudah mencobanya berulang kali, dia dan f.e.t.h.i.s nya adalah satu kesatuan.
Hanya terlilit sehelai selimut, Elea berlari keluar dari villa. Menyatroni mobil Porsche milik Glans dan segera melarikan kendaraan tersebut.
Trauma..., mungkin itu yang saat ini Elea rasakan. Awalnya Elea tidak pernah mau peduli masa lalu Glans. Elea hanya mau beralih dan melupakan mantan suaminya secepatnya.
Glans nyaris sempurna. Lewat Glans, selama kurang lebih hampir dua tahun Elea mampu berlari dari kesakitan yang Ezra torehkan.
Harapan akan bahagia bersama Glans seolah lenyap tak berbekas. Bersama Ezra, hanya dua bulan saja waktu pernikahannya.
Kemudian, di pernikahan ke duanya, apa harus bercerai kembali, yang bahkan belum sampai menginjak satu bulan. Sebenarnya kutukan macam apa ini Tuhan? Sakit....
Mobil putih itu Elea arahkan ke kota, sempat Elea menepi di tempat sepi, sekedar untuk meraih kemeja Glans yang selalu dia siapkan di bagasi, kalau-kalau Glans ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur mendadak.
Di saat begini, Elea tak mungkin mengadu pada Rangga. Elea hanya terpikir untuk menjemput Galaxy; sumber kekuatannya.
Dari villa Elea langsung ke rumah utama keluarga mantan mertuanya. Dan rupa-rupa nya rumah minimalis itu sepi.
Gegas Elea melajukan kembali mobilnya, beralih ke perumahan berlogo Millers corpora yang dihadiahkan Dhyrga untuk Galaxy, mungkin Galaxy di bawa ke sana.
Namun sayang, lagi-lagi Elea tak melihat siapa pun di rumah itu. Jelas tak ada Galaxy di dalamnya, karena tak terlihat satu pun dari empat pengawal pribadi yang diutus Dhyrga dan Badai untuk putra semata Ezra.
"Di mana kamu Sayang?"
Elea tak membawa ponsel. Sejenak Elea menundukkan wajahnya di atas setir mobil. Pikirnya mulai berkelana lagi, mungkin Ezra tahu di mana Galaxy saat ini.
Lagi, Elea melajukan mobilnya, langsung mengarah pada alamat rumah mantan suaminya. Rumah yang sama yang dulu pernah ditinggali dirinya.
Tak ada satu jam, mobil yang ditunggangi Elea telah berhasil masuk ke pekarangan rumah Ezra. Elea parkir tepat di depan teras rumah minimalis modern tersebut.
Di joknya, ia menatap dirinya sendiri, tak mengenakan celana, hanya kemeja putih over size dan CD serta bra tali kecil saja yang melekat di tubuhnya. Entah lah, tiba-tiba jantung Elea bekerja lebih keras.
"Aku ke sini untuk Galaxy, bukan untuk menggodanya." Elea bergumam sambil membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
Ingin mengetuk pintu rumah Ezra, tapi dia masih mengingat sandi pintu itu. Jika belum diganti, dia akan bisa masuk tanpa berlama-lama menunggu.
Dewi Fortuna bersamanya. Sandi pintu yang telah lama tak ia masuki masih bisa dia buka dengan tangannya sendiri.
Sedikitpun Elea tak merasa asing dengan kondisi rumah ini, masih sama seperti saat dia meninggalkan tempat itu. Banyak perabot miliknya dan masih tertata rapi di tempatnya.
"Non..."
Elea yang barusan mengedarkan pandangan, beralih fokus pada wanita yang duduk di sofa ruang tengah. Ternyata benar dugaannya, Mei ada di sini. "Mbak... Syukurlah," leganya.
"Aden kecil di kamar sama Tuan muda," kata Mei menginformasikan. Elea menghela napas. Sedikit lebih lega dari sebelumnya.
Tak butuh waktu lama, bergegas menapaki satu persatu anak tangga, Elea naik ke lantai dua, tempat di mana kamar Ezra berada. Dan masih sama, ia masih bisa membuka pintu kamar tersebut dengan sandi lamanya.
Tak ada yang dirubah, Elea masih merasa ini rumah yang sama. Yang dia desain sendiri dan dia rawat selama dua bulan bersama Ezra. Mendadak, Elea terenyuh, sesak, di sini Ezra dan dirinya memiliki banyak kenangan.
Lebih sesaknya lagi, panorama di balik selimut tebal itu. Di sana Galaxy tertidur nyaman dalam dekapan mantan suaminya.
Susah payah dia berusaha move on. Kenapa harus dikembalikan ke rumah ini.
Kenapa laki-laki yang dulu menipu dirinya, bebas memeluk putra yang susah payah dia lahirkan dengan segala kesakitannya.
"Elea..." Mendengar derit kecil di ranjangnya, sontak Ezra terbelalak. Dia mengerjap demi memastikan yang dia lihat bukan khayalan.
Elea menelan ludah, terlebih saat Ezra mulai peka pada keadaan fisiknya. "Leher mu kenapa?"
📌 Nyicil... Yaaak....