"Apa ini? ternyata selama ini kamu selingkuh di belakangku? setelah apa yang aku berikan padamu?"
Fee melempar foto-foto mesra Ronald bersama dengan Dinda, sekretaris pribadinya.
"Aku minta maaf, aku khilaf. Tapi aku tidak bisa melepasnya begitu saja, karena dia sedang hamil anakku?"
Fee tersenyum sinis," apa kamu yakin jika ia hamil anakmu?"
PLAk!
Satu tamparan mendarat di pipi Fee.
"Baiklah, kalau begitu!"
Apakah yang akan di lakukan oleh, Fee pada Ronald dan Dinda?"
Mari kita simak kisah Fee, yang tegar menghadapi permasalahan hidupnya karena di hianati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menderita
Karena Elsa tidak bisa membela diri dengan perkataan, ia pun memutuskan untuk berlalu pergi dari hadapan Tony. Akan tetapi baru satu langkah, Tony sudah mencekal lengannya," mau ke mana kamu? tidak sopan sekali, di saat suami berkata malah pergi begitu saja."
"Apalagi sih? dari awal sudah aku katakan bahwa aku tidak bisa memasak, tapi kamu memaksa juga untukku memasak. Ya hasilnya seperti itu, jadi janganlah menyalahkanku, salahkan dirimu sendiri."
Toni naik pitam mendengar perkataan dari Elsa, ia pun menarik paksa tangan Elsa untuk duduk," duduklah!"
"Untuk apa sih, aku duduk? sepertinya tidak perlu," ucap Elsa.
"Sudah diam tak usah banyak kata! menurutmu tidak perlu, tetapi menurutku sangat perlu. Aku ingin kamu makan hasil masakanmu sendiri di hadapanku hingga habis tak tersisa!"
Sontak saja Elsa terperangah mendengar perintah dari Tony," yang benar saja, kamu memintaku untuk memakan makanan yang tidak layak untuk dimakan, aku tidak akan mau!"
"Jika kamu sudah tahu makanan tersebut tidak layak untuk dimakan, kenapa kamu sajikan makanan itu untukku? bagaimanapun aku ini suamimu, kita menikah secara resmi. Berapa kali harus aku ingatkan akan hal ini? kamu sebagai seorang istri seharusnya patuh dan tunduk serta menghargai suami, tidak seenaknya sendiri seperti ini!"
Kembali lagi Tony mengomel di hadapan Elsa, hal ini membuat kepala Elsa teras pening," sudah-sudah enggak usah ngomel terus! aku pusing mendengarnya, sebaiknya pesan saja makanan sana!"
Tony pun berlalu pergi dari hadapan Elsa, ia segera mandi dan berangkat ke kantor. Ia berencana untuk sarapan di luar saja. Sementara Elsa masih saja menatap makanan hasil dari masakannya sendiri.
Dia pun iseng mencicipinya dan ternyata sama sekali tidak enak. Ia pun melangkah pergi ke arah kamar, tetapi Tony sudah tidak ada karena ia sudah berangkat ke kantor.
"Haduhhh... padahal aku ingin minta tolong padanya untuk membelikan aku sarapan. Repot juga tidak ada asisten rumah tangga. Mau makan saja seperti ini tidak ada makanan. Yah jalan satu-satunya delivery order saja dech. Untung aku masih punya banyak uang di rekening pribadiku."
Saat itu juga Elsa memesan makanan untuk sarapan dirinya. Hanya beberapa menit saja pesanan telah sampai dan ia pun segera menyantapnya.
Setelah selesai sarapan, ia memutuskan untuk menyambangi kantor Tony. Dengan tujuan ingin mengecek keuangan perusahaan.
Tetapi setelah sampai di kantor, ia tersentak kaget pada saat tak sengaja ia memergoki Tony sedang bermesraan dengan seorang wanita cantik yang ternyata adalah sekretaris pribadinya, di dalam ruang kerjanya.
BRAGGGGG...
Elsa membuka kasar pintu ruang kerjanya, awalnya ia ingin marah pada Tony karena keuangan kantor mengalami penurunan drastis. Dan setelah di telusuri oleh Elsa barusan pada bagian keuangan, banyak sekali laporan keuangan yang masuk rekening pribadi Tony, tetapi tidak jelas untuk apa.
"Astagaaaa...jadi seperti ini kerjamu, Tony? setelah kamu korupsi uang perusahaan, kamu juga bermesraan seperti ini, hah?" tegur Elsa membuat kaget Tony dan wanita yang saat ini ada di pangkuan Tony segera turun.
Wanita ini mendadak wajahnya pias, dan ia segera merapikan kancing bajunya yang terbuka semua serta rambutnya. Pada saat wanita ini akan berlalu pergi, Elsa mencekal lengannya," tunggu sebentar wanita ******!"
Wanita tersebut tertunduk ketakutan, ia tidak berani berucap, sementara Tony sedang sibuk menutup kembali kancing bajunya serta resleting celananya.
"Heh, apa kamu tidak tahu jika lelaki yang kamu cumbu itu adalah suamiku, hah? dasar pelakor kamu ya! kamu tahu jika dia bisa duduk di sana itu karena aku, paham! jika tidak, ia bukanlah siapa-siapa!"
Tony sangat kesal mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Elsa, segera ia menghampiri Elsa yang masih mencekal lengan wanita tersebut.
"Lepaskan tangannya! asal perlu kamu tahu, sebelum aku menikah denganmu, aku sudah berpacaran dengan dirinya. Dia ini wanita yang sangat aku cintai dan aku sayangi. Sedangkan aku menikah denganmu cuma untuk menolong dirimu menutupi aibmu yang hamil tanpa adanya seorang suami."
"Makanya walaupun kita telah menikah, aku tidak menyentuh dirimu karena aku tidak cinta sama sekali dan juga jijik padamu. Bisa saja kamu tidur bukan hanya dengan satu lelaki. Makanya aku tidak ingin melakukan hubungan suami istri denganmu, walaupun kerap kali kamu berusaha menggodaku, tetapi burungku ini tidak akan tergoda denganmu!"
"Dia bukan Pelakor atau wanita murahan. Justru kamu yang wanita murahan karena hamil di luar nikah dan entah dengan siapa!"
"Sayang, kamu kembali bekerja ya. Nanti aku chat kamu dech."
Wanita itu pun lekas kembali ke ruang kerjanya. Sementara Elsa dan Tony melanjutkan perdebatannya. Elsa tidak terima jika dirinya di hianati.
"Bagaimana pun, aku ini istri sahmu seperti yang kamu katakan. Jadi aku berhak melarangmu jalan dengan siapa pun. Apa lagi berselingkuh, aku tidak ingin ya di selingkuhi olehmu!"
Tony tersenyum sinis," aku tidak selingkuh darimu karena aku sudah sejak lama menjalin kasih dengan wanita tadi dan bahkan kami sudah lama menikah siri. Kamu tidak berhak mengatur hidupku! karena aku menikahimu juga karena untuk menutupi aibmu saja bukan? apakah kamu lupa akan hal itu?"
Elsa tidak bisa berkata lagi, ia pun diam saja. Karena memang apa yang dikatakan oleh Tony ada benarnya juga, dimana mereka menikah tidak ada rasa cinta. Elsa butuh seorang lelaki untuk menutupi aib dirinya saja.
"Baiklah, aku tidak akan lagi mempermasalahkan hubungan dirimu dengan wanita lain. Tapi kamu juga tidak berhak memaksaku untuk berperan sebagai istri seutuhnya dengan mengurus rumah tangga seperti yang kamu inginkan."
"Dan aku juga tidak mau ya, uang perusahaan ini digunakan untuk foya-foya. Bagaimana pun ini adalah perusahaan milik diriku."
Kembali lagi Tony tersenyum sinis," astagaa.. apakah kamu ini sudah pikun atau terkena penyakit alzheimer? perusahaan ini sudah resmi menjadi milikku. Lagi pula, awalnya perusahaan ini juga bukan milikmu seutuhnya? tapi milik almarhum suamimu bukan? kamu juga bukan apa-apa jika tidak menikah dengan Almarhum Iqbal, kamu cuma anak yatim piatu yang
Tinggal di panti asuhan."
Elsa tidak bisa berkutik lagi, karena Tony sungguh pintar sekali dalam merangkai kata-kata. Hingga ia selalu saja kalah telak oleh semua yang dikatakannya.
Elsa sangat sedih dan kecewa, ia pun berlalu pergi dari hadapan Tony tanpa mengatakan apapun lagi.
"Kenapa hidupku malah menjadi seperti ini? aku pikir Tony itu pria yang baik dan pendiam serta tidak bertingkah. Aku salah memilihnya untuk menjadi suamiku. Tapi semua sudah terlanjur, dan tidak bisa di rubah."
"Apa lagi aku telah menyerahkan sepenuhnya perusahaan padanya. Aku juga nggak tahu bagaimana kedepannya kehidupan diriku dan calon anak yang aku kandung ini."
Terus saja sepanjang keluar dari perusahaan itu, Elsa berkeluh kesah. Bahkan ia melupakan dendamnya pada Fee dan Boby. Ia lebih memikirkan dirinya sendiri.