Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.
Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.
Bram tak mencintai Habibah!
"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.
Walaupun terus saja terjadi.
"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.
"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.
Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?
Yuk baca>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
"Kalau begitu aku akan mengatakan yang sebenarnya." Habibah merasa yakin setelah ucapan Lee baru saja.
"Tidak semudah itu Nak, aku yakin sekali mereka sudah siap dengan kehadiranmu." Hiko tampak semakin khawatir.
"Dulu, aku pikir dengan membuat ia percaya bahwa bayi Mayra sudah meninggal, Marisa akan pergi dan tidak menganggu kehidupan ibumu lagi. Tapi ternyata ibu mu meninggal di saat aku pergi membawamu keluar. Aku sangat menyesal." ucap Hiko dengan wajah sendu.
"Ayah Frans bilang, kemungkinan Ibuku meninggal karena di habisi seseorang?" tanya Habibah kepada Hiko.
"Walaupun masih kemungkinan, tapi aku yakin sekali seperti itu kejadiannya. Semua suster sudah di periksa saat itu, hanya saja, satu orang perawat pergi dari rumah sakit dan tidak pernah kembali."
Mata bening Habibah berkaca-kaca membayangkan yang terjadi ketika itu, tentu tak akan bisa melawan ketika seorang wanita baru saja melahirkan, mereka pasti dengan mudahan menghabisi nyawa ibunya.
"Aku terus mencari dan mencari kebenaran atas kasus tersebut, hingga satu hari setelah satu tahun. Aku akan ke luar negeri untuk menelusuri jejak seorang perawat tersebut, dan di tengah jalan aku malah kecelakaan hingga membuat aku tidak bisa berjalan hingga saat ini." Hiko menunduk sedih dengan keadaannya yang hanya bisa berjalan dengan kursi roda, satu kakinya putus, dan satu kakinya kesulitan di gerakkan.
"Paman." ucap Habibah menangis, ia mendekati Hiko dengan sangat iba, karena dia dan ibunya laki-laki itu malah harus cacat seumur hidup.
"Aku bersembunyi di sini, karena aku tak akan bisa melawan jika ibu tirimu berniat jahat kepadaku."
"Maaf, maafkan aku dan Ibu. Sebab kami berdua Paman menjadi seperti ini." Habibah bersimpuh memegang tangan Hiko yang sudah banyak berkorban untuk dirinya.
"Dan soal uang perusahaan, aku tidak tahu menahu. Karena setelah umurmu satu tahun, aku kecelakaan dan tidak lagi bekerja." ungkapnya berharap Habibah tidak menyalahkan dirinya. "Aku yakin, suatu saat kau akan menemukan dimana sebenarnya uang itu berada. Dan aku yakin pelakunya adalah orang-orang di perusahaan itu."
"Lalu, bagaimana caraku mengungkapkan identitas diriku pada ayah?"
Hiko menoleh putranya.
"Aku yakin tidak akan lama lagi. Hanya menunggu saat yang tepat." jawab Lee merasa yakin. "Dan sebaiknya kita pulang sebelum sore." Lee melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, terimakasih Paman. Aku berjanji akan kembali mengunjungimu." dia tersenyum manis.
"Ah, ajak saja Lee jika ingin datang kemari." Hiko tertawa senang.
"Dia sudah bersuami Ayah." Lee menyahut.
"Oh, aku lupa." Dia tampak berpikir. "Jangan sampai kisah sedih ibumu terulang lagi. Aku hanya bisa berdoa semoga kau bahagia." Hiko memegang kepala yang terbungkus kerudung itu.
"Terimakasih Paman, kau baik sekali. Aku berjanji akan membalas semua perbuatan mereka yang sudah membuat namamu menjadi buruk, juga atas ketidak adilan mereka terhadap aku." ucapnya bersungguh-sungguh.
"Tidak usah berjanji Nak, tapi berjuanglah untuk kebahagiaanmu sendiri."
Ucapan yang membuat Habibah mengeluarkan air matanya lagi.
"Ayah, kami pergi dulu." Lee menjauhkan kursi roda tersebut. Memanggil seseorang yang bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk membantu ayahnya.
"Assalamualaikum Paman." ucap Habibah lagi, menoleh Hiko ketika sudah diambang pintu.
"Wa'alaikum salam." jawabnya sangat terharu.
Perjalanan yang saat pergi terasa seperti naik kuda, kini tak di hiraukan karena pikiran yang berkelana. Paling tidak pertanyaan yang selama ini menjadi teka-teki itu sudah terjawab sebagiannya, membuat Habibah semakin yakin untuk mengungkapkan semuanya.
Tapi, bagaimana dengan Bram? Jelas jika ia tidak suka Habibah bertahan di perusahaan itu.
Entahlah, walau terkadang terbersit curiga mengapa dia tidak mendukung atas usahanya untuk mendapatkan pengakuan dari Rudy Utama. Bukankah itu hak seorang anak?
Walaupun alasannya juga benar, bahwa tak mau berhubungan dengan Larisa dan keluarganya, ingin fokus dengan pernikahan saja. Tapi malah membuat hati Habibah merasa terbagi, antara bahagia juga keinginan untuk memiliki ayah. Walaupun iya, harta bukanlah segalanya.
"Kita harus ganti mobil." Lee membuyarkan lamunan panjang Habibah.
"Hah!" Dia menoleh terkejut. Melihat sekeliling, dan mereka memang sudah berada di showroom tempat ia bertukar mobil.
Habibah segera turun menuju mobil mereka.
"Terimakasih." Lee menyerahkan beberapa lembar uang kepada seorang wanita yang berseragam rapi ya juga melayani mereka sebelumnya.
"Sama-sama." jawab wanita tersebut senang sekali.
Mereka kembali melaju menuju kota, dan langsung ke rumah Bram karena hari sudah petang.
"Lee, terimakasih banyak." ucap Habibah ketika mereka sudah setengah perjalanan.
"Ya." jawabnya seperti biasa.
"Hanya kau yang terlihat sangat tulus dan mendukung ku." ucapnya lagi terlihat sedih.
"Karena kita sama, hidup kita berawal dengan kejadian yang tidak baik-baik saja. Tapi semuanya akan selesai jika kita sendiri yang menyelesaikannya. Jika tak juga mendapatkan titik terang, maka menyerah akan menjadi pilihan. Itu diriku." Dia tersenyum kecut.
"Aku juga, hanya sekarang aku masih mau berusaha." Habibah menunduk.
"Apakah kau ingin membawa mobil ini? Kau bisa belajar menyetir dengan Bram, atau bisa menyewa seorang sopir." Lee merasa Habibah butuh mobil dan sopir mungkin.
"Kau tidak mau lagi menjadi sopirku?" tanya Habibah sedikit bercanda, tapi benar dia hanya percaya kepada laki-laki itu.
"Aku tidak akan melepaskan mu. Hanya mungkin kau butuh privasi."
"Kau manis sekali." Habibah terkekeh mendengarnya.
Lee menoleh dengan heran, lalu menatap ke depan, enggan menanggapi candaan Habibah yang aneh menurutnya.
"Terimakasih." ucap Habibah lagi, mereka sudah berada di halaman rumah Bram suaminya.
Lee turun lebih dulu, niat hati ingin membukakan pintu untuk Habibah namun hal tak terduga malah datang menyambut.
Bugh
Sebuah pukulan mendarat di wajah halus Lee
"Mas!"
Pekik Habibah melihat Bram yang berdiri sangat marah, bahkan pukulan itu melesat begitu saja.
"Masuk!" perintahnya kepada Habibah yang baru saja keluar dari mobil, berdiri di tengah-tengah mereka.
"Tapi Mas, kau salah faham."
"Masuk Habibah." ucapnya lagi menatap nanar Habibah.
"Mas."
Bram menyeret tangan Habibah masuk ke dalam rumahnya. Dengan wajah yang benar-benar marah Bram tak memberi kesempatan Habibah bicara.
"Mas, dengarkan aku."
Lee mengejar keduanya menarik tangan Bram.
"Kau bahkan berani ikut campur?" Bram menepis tangan pria itu.
"Dengarkan dulu apa yang akan dia katakan! Jangan hanya bisa marah padanya!" kesal Lee.
Bram tak peduli, ia kembali menyeret Habibah masuk.
"Mas!"
Habibah mencoba memberontak ingin melepaskan tangannya.
Hingga kemudian Bram membuang tangan Habibah dengan kasar.
"Kau berpacaran dengannya?" Marah Bram kepada Habibah.
"Tidak Mas, demi Allah aku tidak memiliki hubungan khusus dengan Lee."
"Tapi kalian jalan berdua, kau pergi dari kantor hanya untuk bersama dengan laki-laki sialan itu!"
"Mas dia hanya membantuku!"