Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
#34
“Apa maksudnya, Sayang?” tanya Bagas seperti orang linglung sejenak.
Dinda terdiam tanpa sanggup menjawab, “Hari itu Dinda yang sedang depresi dan putus asa, nekat melompat menabrakkan dirinya ke sebuah mobil yang sedang melaju kencang, kecelakaan itu tak hanya membuat Dinda koma selama seminggu, tapi Dokter terpaksa mengangkat rahimnya yang hancur total.”
Tes!
Setitik buliran bening air mata luruh dari kelopak mata Bagas, semakin dalam penyesalan di hati Bagas, karena ia adalah orang terakhir yang tahu tentang musibah yang menimpa mantan istrinya.
“Sudah, kan? Kamu sudah tahu semuanya sekarang, Mama yakin, kamu dan keluargamu tak akan mau menerima menantu tak sempurna seperti Dinda. Sekarang pergilah! Jangan ganggu anak Mama,” usir Mama Juwita.
“Dinda, masuk ke kamarmu! Jangan temui pria itu lagi.”
“Ma— tolong—”
“Jangan membantah! Kamu bukan istri Bagas lagi, jadi kewajibanmu saat ini adalah mematuhi ucapan Mama.”
Sementara Dinda diseret masuk ke dalam kamar, Dara mengajak Bagas keluar dari rumah. “Kenapa dia tak mengatakannya padaku, Ra?” gumam Bagas saat mereka sudah ada di halaman rumah. “Kamu juga! Kenapa merahasiakan hal ini?!” bentak Bagas, sangat emosional.
“Karena saat itu situasinya tak memungkinkan, Mbak Dinda masih sedih dan terpuruk setelah anak kalian menghilang, lalu perceraian. Mas pikir mudah bagi Mbak Dinda melalui semua ini sendirian?”
Bagas kembali maju, bermaksud masuk ke rumah dan menyusul Dinda. “Lepaskan, Ra! Mas harus temui Mama, bila perlu Mas akan berlutut semalaman!”
“Terlambat! Kenapa Mas Bagas baru datang sekarang?! Kalau Mas masih cinta Mbak Dinda kenapa tak sejak dulu?!” Dara jadi ikut emosional.
“Apa Mas tahu, Mas adalah kesayangan dan kebanggaan Mama. Mama tak punya anak laki-laki, tapi Mama punya menantu baik serta perhatian. itulah yang selalu Mama pamerkan di depan teman-temannya. Tapi menantu kesayangannya itu, ternyata orang yang paling melukai Mbak Dinda, bisa bayangkan bagaimana perasaan Mama?!”
Bagas meraup wajahnya, “Baiklah, Mas minta maaf, karena pernah menjadi orang paling jahat di hidup Dinda. Asal kamu tahu, Mas tak peduli, karena Mas hanya butuh Dinda, tidak yang lain.”
“Aku mengerti, Mas. Tapi, sekarang Mas pulang dulu. Nanti setelah emosi Mama sedikit reda, silahkan datang lagi.”
Bagas tak punya pilihan selain melangkah pergi, meski hatinya tetap tertinggal di rumah ini. Dara sungguh tak tega melihat keadaan Bagas, dan Dinda. Sungguh tragis jalan hidup yang harus mereka lalui, “Aku yakin, suatu saat Mas Bagas bisa bahagia bersama Mbak Dinda dan anak kalian,” monolog Adara setelah melihat Bagas masuk ke mobilnya.
Tiga Puluh menit berlalu, “Mbak, Mas Bagas masih di depan,” lapor Dara.
“Hah?! Ini sudah tiga puluh menit, Ra. Kenapa dia tak segera pulang.”
“Mana aku tahu, Mbak. Tadi aku sudah bilang padanya untuk pulang dulu, lain kali baru datang lagi.”
Dinda mengeluarkan ponselnya, ia berjalan ke arah jendela, dan benar saja mobil mantan suaminya masih berhenti di depan pagar. “Halo, Sayang?”
“Mas kenapa belum pulang?” tanya Dinda.
“Lampu kamarmu masih menyala, mana bisa aku pulang.”
“Tapi ini sudah malam, Mas.”
“Aku tahu, tapi aku ingin memastikan kamu istirahat dengan tenang. Baru aku bisa pulang,” kata Bagas yang membuat Dinda menunduk haru.
Bagas kembali membuka pintu mobilnya, dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat mantan istrinya pun tengah memandang ke arahnya.
“Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kita selalu sama-sama. Aku akan berjuang lebih keras lagi demi mendapatkan restu Mama.”
“Hmm, iya, Mas,” sahut Dinda. “Lalu bagaimana dengan kelanjutan sandiwara kita di depan Eyang?”
Bagas menghela nafas sejenak, “Aku akan jujur saja pada eyang.”
“Kalau terjadi apa-apa pada eyang, gimana?”
“Ya, pelan-pelan saja ngomongnya. Bantu doa, ya, supaya Eyang tidak kenapa-napa.”
“Pasti.”
•••
Bagas melangkah keluar kamar, butuh keberanian besar baginya untuk memulai hari ini, terutama setelah ia tahu bahwa jalannya untuk kembali meraih hati Mama Juwita tidaklah mudah.
Maka sebagai pembukaan, ia ingin jujur pada Eyang Tuti, agar langkah ya ke depan semakin mudah.
“Lho, kok, sendirian? Kenapa Dinda nggak diajak turun sekalian?”
Belum apa-apa, Eyang Tuti sudah menanyakan keberadaan cucu menantu tersayangnya.
“Dinda nggak ada di sini, Eyang.”
“Lha, terus kemana? Apa pergi kerja pagi-pagi?”
“Bukan, Eyang. Tapi Dinda pulang ke rumah orang tuanya." Kejujuran pertama terucap.
“Kapan? Bukannya semalam masih di sini? Apa ada sesuatu dengan Mamanya?”
Deg!
“Mamanya nggak papa, Eyang. Tapi papanya yang sakit.”
Puk!
Sepotong kerupuk tiba-tiba meluncur ke piring Bagas, “Kamu itu, mbok kalau bohong jangan setengah-setengah, papanya Dinda sudah meninggal, kamu bilang sedang saki—” Eyang Tuti tiba-tiba membungkam mulutnya.
“Dari mana Eyang tahu Papa sudah meninggal? Bukankah Eyang—”
Eyang Tuti nampak gugup, “Bi Sani yang kasih tahu Eyang, iya, kan, Bi?”
Bi Sani yang tak tahu apa-apa mendadak ditodong pertanyaan mengejutkan. “Saya— kenapa, Nyonya Eyang?”
“Eyang, sejak kapan Eyang pandai berbohong begini?” geram Bagas, ternyata selama ini Eyangnya bersekongkol dengan seluruh keluarga, sepakat membohonginya dan juga Dinda tentang penyakit demensia yang dideritanya.
“Eyang—”
“Pantas saja selama ini Eyang tak terlihat seperti orang pikun. Tega sekali Eyang melakukan ini.”
“Eyang tak bermaksud jahat, ya, maaf kalau Eyang terpaksa berbohong. Tapi, Eyang sungguh-sungguh ingin melihat kalian rujuk itu saja,” jawab Eyang sungguh-sungguh.
“Eyang tahu, hidupmu kacau meski kamu selalu mencoba bersikap baik-baik saja. Lagi pula, Eyang sungguh-sungguh rindu sama Dinda.”
Bagas menggaruk kepalanya dengan kesal, mau marah, tapi, kok, ya, masih takut dosa. Kalau tak marah, kok, ya— gara-gara kebohongan Eyang, Bagas terpaksa tidur sekamar dengan mantan istrinya. Untung saja tak sampai Khilaf, kalau sampai khilaf, entah apa yang akan terjadi.
“Maafkan Eyang,” ucap Eyang Tuti.
“Lupakan,” kata Bagas cemberut, mau marah juga, Bagas tak bisa sungguh-sungguh marah pada eyangnya. Sebab eyang juga yang membuatnya bisa dekat lagi dengan Dinda, meski kini, harus berusaha keras membuka jalan agar kembali terbuka lebar.
“Nanti malam, jemput Dinda lagi, ya, biar Eyang minta maaf sama dia.”
“Nggak bisa, Eyang. Mamanya nggak mengizinkan.”
“Lho—”
“Mama Juwita belum bisa memaafkan Bagas, karena pernah menyakiti Dinda.”
Eyang Tuti ikut menunduk lesu, “Gimana kalau Eyang pura-pura kena serangan jantung? Agar nanti—”
“Eyang— Bagas nggak mau memulai sesuatu yang baik dengan kebohongan.” Ucapan Bagas menghentikan semangat Eyang Tuti.
“Lagian mana ada eyang yang mengajari cucunya berbohong?”
“Bohongnya, kan, demi kebaikan, iya, kan Bi Sani?” Bi Sani kena lagi, padahal ia hanya duduk dan ikut makan dalam diam, tanpa menimpali obrolan
“Jangan cari pembelaan, Eyang!”
Tak lama kemudian, ponsel Bagas berdering, Bagas mengira Dinda yang menghubunginya, rupanya Mama Yanti.
“Iya, Ma.”
“Bagas! Kamu bisa datang ke rumah Tari?” pinta Mama Yanti tanpa basa-basi.
“Ada apa, Ma? Kok tiba-tiba sekali, dan kenapa suara Mama—”
“Ah, jangan banyak bicara! Cepat datang saja!”
“I-i-iya, Ma,” sahut Bagas tanpa membantah.
Setelah ponselnya mati, Bagas masih menatap heran pada benda tersebut. Kenapa tiba-tiba Mama Yanti memintanya datang? Ke rumah Tari pula. Ada apa ini?
ko ya ikut bahagia
apa lagi yang jemput orang bisa di percaya jadi gasss