Vanya Apride tiba-tiba didorong ke laut oleh kekasih baru mantan pacarnya saat bekerja paruh waktu di kapal pesiar. Dari kedalaman lautan, terlihat ada orang yang menyelamatkannya berwujud sesosok makhluk yang disebut 'Merman'.
"Si . . . siapa kamu? Umm! Umm!" tanya Vanya sambil menahan napasnya karena berada di dalam air.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku," balas Merman sambil memberikan napas buatan melalui mulut ke mulut kepada Vanya.
Merman tersebut pun membawa Vanya ke tepi pantai, lalu setelah itu ia kembali lagi ke lautan. Ketika Vanya hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, ia melihat orang yang menyelamatkannya sangat mirip dengan superstar terkenal sekaligus idolanya yang bernama James Haolin.
Apakah benar orang yang telah menyelamatkannya saat dia tenggelam adalah James Haolin? Namun, mengapa James Haolin berkaki seperti ikan ketika di dalam lautan?
~
PERHATIAN
Mohon kepada para pembaca terhormat JANGAN BOOMLIKE karya ini !
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyoChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - Merasa Cemburu
Vanya pun berangkat ke universitas di pagi hari karena jadwal kuliahnya yang dimulai pukul sembilan pagi. Ia berangkat bersama Pricilla dengan diikuti oleh bawahan James secara diam-diam. Pembelajaran kuliahnya pun telah selesai tepat saat pukul dua belas siang.
Di halaman depan universitas ...
"Wah, ini adalah konferensi pers film movie terbaru yang akan dibintangi oleh James Haolin dan Bella Smith. Mereka terlihat sangat cocok ketika di potret sambil bergandengan tangan seperti ini," ucap seorang Mahasiswi penggemar James sambil melihat sesuatu di telepon genggamnya.
"Benar-benar! Apalagi mereka berdua sama-sama masih belum mempunyai pasangan. Film ini pasti akan melambung tinggi karena dibintangi oleh dua selebriti papan atas ini," timpal Mahasiswi di sampingnya.
Vanya dan Pricilla pun tidak sengaja mendengar ucapan para mahasiswi yang sedang membicarakan konferensi pers film terbaru dari James Haolin. Kebetulan mereka sedang berjalan di halaman depan universitas menuju ke tempat parkir. Sepanjang perjalanan, mereka terus saja mendengar para mahasiswi yang menyebut-nyebut Nama James Haolin.
Pricilla pun menjadi sangat penasaran setelah mendengar hal yang dibicarakan oleh para mahasiswi. Ia lalu mencari berita soal James Haolin yang terbit pada hari ini di internet. "Van! Lihat ini pacarmu dekat-dekat dengan perempuan lain!" Pricilla menyodorkan teleponnya ke Vanya.
"Biarkan saja, Sil. Kan itu merupakan pekerjaannya," sahut Vanya.
"Hoho! Apakah kamu benar-benar rela ketika melihat pacarmu tangannya di gandeng oleh wanita lain? Mungkin ketika kamu menjadi seorang penggemar akan menyebutkan hal seperti yang kamu katakan barusan tetapi kini statusnya dihatimu sangat berbeda jauh dengan yang dulu," goda Pricilla.
"Aku . . . aku tidak apa-apa, kok. Aku nggak akan berpikiran sempit seperti i ...." Vanya tiba-tiba menghentikan ucapannya sambil menengok ke arah gerbang masuk yang didepannya terdapat seorang pria sedang duduk di depan mobilnya.
"Eh? Leo? Mau apa dia kemari? Apakah menjemput Isabella?" ucap Vanya.
Pricilla pun menengok ke arah gerbang masuk karena penasaran dengan hal yang dilihat oleh sahabatnya. Ia sangat terkejut ketika melihat Leo sedang berdiri di sana. Ia lalu menepuk pundak sahabatnya agar tersadar dari lamunannya.
"Hey! Jangan perhatikan dia! Apakah kamu masih ada rasa padanya walaupun telah dicampakkan dengan sangat kejam?" tanya Pricilla dengan nada suara tinggi.
"Apa? Aku memperhatikan dia cuma penasaran saja mau apa dia kemari, bukannya masih ada rasa sama dia," tegas Vanya.
"Ooh .... Baguslah kalau begitu," sahut Pricilla.
"Itu . . . Kak Vano? Eh? Iya benar itu Kak Elvano," ucap Vanya tiba-tiba.
Pricilla terkejut atas apa yang diucapkan sahabatnya. "Vano siapa? Berapa banyak sih sebenarnya mantan pria yang kamu punya," tanya Pricilla.
***
Vanya pun tiba-tiba berlari ke gerbang masuk universitas seraya menghampiri pria yang dia panggil dengan nama "Vano". Pria tersebut pun menghampirinya saat melihat Vanya berlari ke arahnya. "Sudah lama, ya? Kira-kira berapa tahun kita tidak bertemu?" tanya Elvano.
"Em . . . sekitar empat tahun Kak Vano. Bagaimana bekerja di sana apakah sangat menye ...." Pria itu pun tiba-tiba memeluk Vanya sehingga Vanya menghentikan ucapannya.
"Aku sangat merindukanmu adik sepupuku," ucap Elvano.
"Eh? Adik sepupu? Kok aku nggak tahu sih Van kamu punya keluarga yang masih peduli sama kamu?" tanya Pricilla tiba-tiba.
"Aku tahu semua tentangmu. Terima kasih sudah menjaga adikku dengan baik ketika aku tidak ada disini. Ah! Untuk pertanyaanmu barusan, aku jarang muncul di sisi Vanya karena aku bekerja di Eropa selama sepuluh tahun," sahut Elvano yang masih memeluk Vanya.
"Kakak! Tolong lepaskan pelukan Kakak yang sangat erat ini!" seru Vanya.
"Eh, maaf. Van, ayo tinggal bersamaku! Kakak akan mengurusmu dengan baik karena kini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus di Amerika," lanjut Elvano sambil melepaskan pelukannya.
"Em . . . soal itu . . . aku harus meminta izin kepadanya terlebih dahulu," sahut Vanya.
"Dia siapa?" tanya Elvano pada Vanya.
"Pacarku. Hehe! Aku tinggal dirumahnya karena rumahku kebakaran," sahut Vanya.
"Apa? Kebakaran? Kok bisa?" tanya Elvano terkejut.
"Panjang ceritanya. Namun, aku nggak mau ikut kakak. Aku mau tetap tinggal dirumahnya," sahut Vanya.
"Kamu .... Ternyata kamu sudah besar, ya. Sebaiknya kamu jangan tinggal bersamanya. Kamu tinggal bersama Kakak saja. Kakak juga akan mengucapkan terima kasih padanya karena telah menjaga adik Kakak dengan baik," ucap Elvano.
"Nggak mau! Kakak tinggal sendiri saja. Lalu, sebaiknya Kakak segera mencari pasangan di usia Kakak yang sudah tidak muda lagi itu," sahut Vanya.
"Hoho! Kamu nggak mau jadi obat nyamuk, ya, Van. Sebaiknya Kakak memang harus merelakan Vanya yang tidak mau tinggal bersama Kakak ini," sahut Pricilla tiba-tiba.
Di sisi lain, Leo memperhatikan Vanya dari kejauhan. Ia memperhatikan Vanya yang sedang di peluk oleh seorang pria. "Sungguh wanita murahan! Dia yang menghinaku dengan sebutan binat*ang tempo hari sekarang malah dia yang terlihat seperti seorang jal*ng. Lihat saja beberapa hari lagi sebuah pembalasan dariku," gumam Leo.
Dari kejauhan Isabella datang menghampirinya. Leo pun tersenyum kepada kekasihnya. Mereka lalu menaiki mobil Leo dan pergi dari depan universitas.
***
Vanya pun pulang ke rumah James. Ia menolak untuk tinggal bersama Elvano dan mereka hanya bertukar nomor telepon untuk saling menjalin komunikasi. Vanya sangat terkejut melihat James yang sudah berdiri di depan kamarnya seraya menampakan ekspresi masam diwajahnya.
"Eh? Kamu sudah pulang? Katanya tadi pulangnya mau agak malam," tanya Vanya.
James lalu menghela napas pelan. Ia mengatur napasnya agar nada bicaranya tidak terdengar seperti orang yang tengah dirundung emosi. "Aku . . . pulang lebih cepat," jawabnya singkat.
"Emm . . . kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Vanya sambil menghampiri James lalu memeluknya.
"Aku nggak papa," jawab James lagi singkat.
"Haah! Aku tahu jika kamu mengeluarkan ekspresi seperti itu tandanya kamu sedang marah. Perasaan kita tidak ada masa ...." James tiba-tiba memotong ucapan Vanya.
"Siapa pria yang kamu peluk tadi?" James menatap Vanya dengan serius.
"Pft! Jadi, kamu marah karena hal itu. Eh? Tapi dari mana kamu tahu ...." James tiba-tiba memeluk Vanya dengan sangat erat sambil menyenderkan kepalanya di pundak Vanya.
"Dia kakak sepupuku yang datang setelah bekerja di Eropa. Katanya dia sekarang mau menetap kembali di Amerika. Aku pun sudah empat tahun tidak bertemu dengannya," lanjut Vanya sambil memeluk James kembali.
"Walaupun dia kakak sepupumu, tidak seharusnya kamu memeluknya seerat itu," sahut James sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Pfttt!" Vanya menahan tawanya karena merasa gemas setelah mendengar ucapan James barusan.
"Jangan mengejekku seperti itu! Aku benar-benar tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan pria lain selain aku," gerutu James dengan kesal.
Secara tiba-tiba, James mengangkat Vanya dan membawanya ke arah kamarnya. Vanya meminta James untuk segera menurunkannya, tetapi James tetap bersikukuh membawa Vanya ke dalam kamarnya. Ia lalu menidurkan Vanya di atas tempat tidurnya.
***
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
Semangat yaa Thor
𝚂𝙴𝙼𝙰𝙽𝙶𝙰𝚃 𝚢𝚊𝚊...
𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊𝚖𝚞 𝚒𝚗𝚍𝚊𝚑, 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚒𝚋𝚞𝚛 𝚔𝚑𝚞𝚜𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚢𝚐 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚏𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜𝚒...
𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚞𝚙 𝚍𝚊𝚝𝚎 𝚋𝚊𝚋 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚛𝚢𝚊²𝚖𝚞... 𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚞 𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚛𝚎𝚊𝚍𝚎𝚛 𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚢𝚐 𝚗𝚢𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐...
𝙶𝚘𝚘𝚍 𝙻𝚞𝚌𝚔 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚞𝚙𝚞𝚗 𝚍𝚒 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚙𝚎𝚗𝚊 𝚖𝚞
up thor
sepertinya saya tidak tahu kapan melanjutkan karya saya ini dikarenakan sedang mencari pekerjaan.