Demi keluarganya dia rela menanggalkan gelar yang diraihnya hingga dia larut dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kesibukan mengurus rumah dan dua anak balitanya.
Sampai pada akhirnya pengkhianatan suami dan hinaan yang tiada henti dari mertuanya menyadarkan dia untuk bangkit dan merubah dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Figur Seorang Ayah
Gilang terus berada di sisi Amanda selama acara berlangsung. Dia terlihat posesif sekali pada janda dua anak itu. Sedikit pun, Gilang tidak mengijinkan Amanda untuk bersalaman dengan tamu lelaki yang datang untuk mengucapkan selamat padanya.
Setelah acara peresmian gedung baru selesai, Gilang pun berniat mengajak Amanda untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Setiap hari ibunya selalu menelpon, menanyakan kabar Amanda dan meminta Gilang untuk segera meresmikan hubungannya dengan Amanda. Hal itu tentu saja membuat Gilang menjadi pusing. Dia juga ingin sekali cepat-cepat menikahi Amanda. Namun, janda dua anak itu seperti menyembunyikan sesuatu. Seperti saat ini, ketika dua sejoli itu sedang menikmati makan siangnya hanya berdua tanpa adanya anak-anak bersama dengan mereka.
"Manda, boleh aku tanya sesuatu? Aku hanya ingin kejujuranmu, sebenarnya ada hal apa sehingga kamu terus mengulur waktu?" tanya Gilang.
Amanda menghela napas dalam sebelum dia menjawab apa yang Gilang tanyakan. Sebenarnya Amanda ingin menyembunyikan apa yang terjadi padanya pada GIlang. Akan tetapi, dia berpikir lagi, jika Gilang memang tulus mencintainya, dia pasti akan menerima semua masa lalunya.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengingat kembali kejadian itu, tapi A Gilang juga harus tahu agar tidak keceewa dan menyesal di kemudian hari." Amanda pun akhirnya menceritakan bagaimana Apandi menodainya sehingga dia memutuskan untuk pindah rumah karena tidak ingin kejadian naas itu terulang lagi.
Tangan Gilang terkepal dengan kuat. Meskipun kejadian itu terjadi di saat mereka belum resmi memiliki hubungan yang serius tetapi Gilang merasa kecolongan karena tidak bisa menjaga wanita yang dicintainya dari perbuatan tidak senonoh mantan suaminya.
"Manda, bagaimanapun keadaan kamu saat ini, aku akan menerimanya dengan tangan terbuka. Kalau memang tertinggal benih mantan suami kamu di rahimmu, aku pasti akan mengakuinya sebagai anakku." Gilang menggenggam tangan Amanda untuk menguatkan hati wanita yang sudah membuat hidupnya terasa bermakna.
"A, aku menunggu sampai akhir bulan ini. Seandainya, aku tidak datang bulan, berarti ada benih Mas Pandi di rahimku. Kalau memang aku datang bulan seperti biasa, aku pun bersedia menikah secepatnya. Bukankah niat baik harus disegerakan?" Amanda menatap ke manik pekat milik Gilang. Terlihat keteduhan dari sorot maa Gilang yang membuatnya merasa nyaman.
"Baiklah! Manda, Ibu terus menanyakan kapan kita ke sana. Apa kamu tidak keberatan kalau besok kita berkunjung ke rumah ibu? Sekalian membawa anak-anak juga," tanya Gilang.
"Boleh, A! Sekarang 'kan urusan peresmian gedung baru sudah selesai, waktunya kita mengajak anak-anak untuk refeshing." Amanda langsung menyetujui ajakan Gilang.
Gilang tersenyum bahagia mendengar persetujuan Amanda. Hatinya menghangat, dia yakin tidak akan lama lagi janda daster itu akan menjadi miliknya. Tak jauh berbeda dengan Gilang, hati Amanda pun sangat plong setelah dia memberitahu hal yang selama ini ditutupinya dari Gilang dan juga yang lainnya.
"A, boleh aku minta sesuatu?" tanya Amanda.
"Katakan! Mau minta apa?" tanya Gilang dengan tidak sabaran.
"Aku harap, Aa tidak melakukan apapun pada Mas Pandi. Bukan karena aku masih mencintainya, tetapi aku tidak ingin kedua anakku sedih karena memiliki seorang ayah yang kelakuannya tidak baik. Bagaimanapun juga figur seorang ayah sangat penting untuk tumbuh kembang anakku," tutur Amanda yang sukses membuat Gilang tertegun.
Betapa beruntungnya aku bisa memiliki seorang istri yang hatinya begitu lembut seperti Amanda. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi lebih mementingkan kebahagiaan anak-anaknya. Kamu bodoh Apandi! Sudah membuang sebongkah berlian demi sebuah batu kerikil. Mungkin aku harus berterima kasih padanya karena telah memberikan aku kesempatan untuk memiliki berlian yang berharga ini, batin Gilang.
Melihat Gilang yang malah bengong, Amanda pun menepuk tangan kekasihnya pelan untuk menyadarkan Gilang dari lamunannya. "A, malah melamun, bisa kan memenuhi permintaanku?"
"Demi kamu dan kebahagiaan anak-anak, aku tidak akan mengusik mantan suamimu itu. Apa ini alasan kamu menyembunyikannya?" tanya Apandi dengan menatap lekat kekasih hatinya.
"Iya, A!" Amanda menunduk menyembunyikan rona kesedihan di wajahnya. Setiap kali dia teringat dengan perbuatan suaminya, hatinya selalu terasa sakit. Namun, sebisa mungkin dia segera menepisnya.
"Manda, kalau misalkan mantan suamimu tidak bisa menjadi figur ayah yang baik untuk anak-anak, aku yang akan menggantikannya. Kamu tidak usah khawatir, anak-anakmu akan kehilangan figur seorang ayah. Aku menyayangi kedua anakmu, seperti aku menyayangi Langit. Aku harap, kamu pun tidak membedakan antara Langit dengan kedua anakmu. Sejujurnya, Langit pun sangat membutuhkan sosok seorang ibu yang tidak dia dapatkan dari ibu kandungnya." Gilang terus menggenggam tangan Amanda dengan menatap lekat wajah cantik pujaan hatinya.
"Iya, A! Aku akan menjadi ibu untuk Langit dan anak-anak kita nanti."
...***...
Keesokan harinya, semuanya sudah bersiap untuk berkunjung ke rumah keluarga Ramadhan yang berada di daerah kawasan puncak. Terlihat wajah-wajah ceria dari ketiga bocah yang sangat menggemaskan. Apalagi Langit yang begitu antusias karena akan ke rumah neneknya.
"Papa, Om Rama tidak diajak ikut? Biasanya kita selalu bertiga kalau pulang ke rumah nenek," tanya Langit saat akan masuk ke dalam mobil.
"Papa lupa tidak memberitahunya, coba Langit ke rumahnya dan tanyakan mau ikut bareng atau menyusul?" suruh Gilang.
Langit pun berlari kecil menuju ke rumah Rama yang ada di sebelah rumah Gilang. Meskipun rumahnya tidak sebesar punya Gilang, tetapi terlihat sangat asri dan nyaman. Langit yang sudah biasa keluar masuk rumah Gilang tanpa membunyikan bel, mendadak termenung saat melihat apa yang dilihatnya di ruang tamu.
"Om Rama, kenapa Tante Tania ditindih? Kasian 'kan tantenya nanti kesakitan," tanya Langit yng melihat Rama sedang mengungkung Tania di sofa ruang tamu.
Astaga! Kenapa aku lupa tidak menutup pintu dengan rapat? Jangan sampai dia cerita pada papanya, bisa ditegur aku karena mengajari yang gak bener, batin Rama.
Duh malu banget! A Rama sih, suka tidak tahu tempat. Aku lagi nyiram bunga main tarik saja," gerutu Tania dalam hati.
"Ada apa, Langit? Tadi Om tidak sengaja kesandung jadi jatuh nimpa tantemu," jelas Rama.
"Oh! Tante tidak apa-apa kan?" tanya Langit yang terlihat cemas.
"Tidak apa-apa, Sayang! Langit mau ke mana sudah rapi?" tanya Tania.
"Langit mau ke rumah nenek. Kata papa, mau bareng apa nanti nyusul?" tanya Langit.
"Om nyusul aja ya! Takutnya papamu nungguin. Bareng bunda 'kan ke sananya?" tanya Rama.
"Iya, Om! Ini mau berangkat jemput Bunda dan adek-adek. Langit berangkat duluan ya Om, Tan!" pamit Langit.
"Hati-hati ya Langit! Nanti Om nyusul," ucap Rama.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...