Jangan lupa follow akun dedek, kalian bakal nemuin visual di sana🤗🤗
- Instagram @Tantye005
Dia adalah Avegas. Geng motor yang terdiri 200 anggota dipimpin 6 pria tampan penuh tanggung jawab. Menjadi raja jalanan membuatnya mempunyai banyak musuh.
Persahabatan indah mereka harus di uji karena kehadiran satu perempuan yang tidak sengaja masuk ke kehidupan mereka.
Konflik antara ketua dan wakil, mulai terjadi sebab mencintai orang yang sama, membuat musuh mempunyai peluang untuk menyerang dan mengalahkan mereka.
Apakah Avegas akan hancur karena cinta? Ataukah salah satu dari mereka akan mengalah demi keutuhan persahabatan?
Simak kisahnya hanya di sini👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Setelah menerima telfon dari Rayhan yang mengatakan Salsa ada di rumah sakit, Azka melajukan motornya di atas kecepatan rata-rata, sebelum ia bertemu dengan gadis berambut sebahu itu hatinya tidak akan tenang.
Setelah memarkirkan motornya, ia berjalan terburu-buru mesuk ke rumah sakit yang di katakan Rayhan, langsung menuju rooftop seperti yang di katakan Rayhan saat melihat Salsa tadi. Dirinya bernapas lega melihat seorang gadis tengah berdiri, dengan kepala sedikit mendongak menatap lagit malam yang indah dengan taburan bintang di atas sana.
Salsa tersetak saat sebuah jaket terpasang di pundaknya, ia menoleh dan mendapati Azka kini berdiri di sampingnya.
"Azka?" kaget Salsa. "Kok bisa lo tahu gue ada di sini?" Kini tatapannya berpindah pada objek ciptaan tuhan yang sangat tampan, tetapi Azka fokus kedepan tak ingin menatapnya.
"Lo kemana aja seharian ini? Nggak bisa kalau pergi ponsel di aktifkan? Bagaimana jika ada yang khawatir sama lo," omel Azka.
"Nggak kemana-mana, cuma ke makam ayah Gue, terus ke sini nemenin mama gue kerja," lirih Salsa kembali fokus pada bintang di atas langit malam. "Ponsel gue ada di rumah, nggak tau masih hidup apa nggak, lagian siapa yang mau khawatir sama gue?"
"Gue khawatir sama Lo."
Kata itu hanya bisa Azka dengar sendiri, tidak mungkin dirinya akan mengatakan hal bodoh itu pada Salsa, yang ada harga dirinya hilang.
"Lain kali kalau pergi kemana-mana ponsel tuh di bawa, gimana kalau kenapa-napa," ketus Azka.
"Biasanya juga gitu," jawab Salsa.
Hening melanda diantara mereka, hanya semilir angin yang bernyanyi di kesunyian malam. Sesekali Salsa menarik jaket yang melingkar di pundaknya untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya.
Tanpa ia mengetahui tangan seorang laki-laki sedari tadi terbentang di belakang punggungnya, tangan itu kadang terbuka kadang mengepal. Azka sedari tadi ingin merekuh tubuh di sampingnya yang terlihat kedinginan, tetapi Ego dan hatinya tak sejalan. Hatinya mengatakan peluk, tetapi egonya terlalu tinggi untuk memulai lebih dulu.
"Azka!"
"Salsa!"
"Kenapa?" Lagi dan lagi mereka berbarengan.
"Mau ngomong apa? Lo duluan aja!" perintah Salsa.
"Lo aja," jawab Azka.
"Nggak jadi," Salsa kembali memandangi langit dengan tangan memegang pembatas. Ia ingin bertanya sesuatu pada Azka tapi ragu laki-laki itu akan menjawabnya dengan jujur.
"Gue cemburu dengan bintang di langit, dan untuk pertama kalinya gue ingin jadi bintang," ucap Azka tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Bintangnya sangat beruntung terus di tatap oleh seorang gadis," jawab Azka.
"Huh?" Bingung Salsa.
"Nggak ada, malam semakin dingin Sal, gue antar pulang."
"Azka, gue boleh tanya sesuatu sama lo? Tapi gue mau lo jawab dengan jujur," Salsa melepaskan gengaman Azka ditangannya saat laki-laki itu hendak mengajaknya pulang.
"Lo deketin gue bukan karena taruhan dengan teman-teman lo kan? Lo nggak sedang jadiin gue bahan taruhan yang bisa di mainin gitu saja?"
"Lo dengar dari siapa?" selidik Azka.
"Gue nggak sengaja mendengar obrolan seseorang jum'at lalu di koridor sekolah. Gue berharap itu nggak benar. Kalaupun ia, sepertinya lo berhenti sampai di sini aja, usaha lo akan sia-sia." Setelah mengatakan itu, Salsa meninggalkan Azka di rooftop, yang diam membisu.
Di dalam taksi, Salsa meremas jaket Azka sangat kuat, tak terasa setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Jujur saja saat mendengar obrolan di koridor, hatinya sangat sakit, padahal dirinya mulai membuka hati untuk laki-laki itu.
Itu juga alasan mengapa ia tidak masuk sekolah hari ini, ia ingin menghindari Azka tetapi laki-laki itu malah menemukannya. Ia sangat berharap tadi Azka dengan tegas mengatakan tidak, tetapi laki-laki itu terdiam dan malah memperkuat asumsinya.
Sesampainya di rumah, Salsa tak langsung tidur, ia mengaktifkan ponselnya setelah tercharger penuh. Memeriksa beberapa pesan dari orang yang berbeda-beda. Ia sengaja mengabaikan pesan dari Azka yang jumlahnya ada tujuh entah apa saja isinya. Kini ia membuka chat dari Rio, laki-laki yang tak sengaja bertemu di rooftop saat itu ternyata sangat menyenangkan di ajak mengobrol apa saja, tak sekaku dan secuek Azka yang bicara seperlunya saja.
Alana: Tadi Azka nanyain lo.
Alana: Lo lagi nggak ada masalah kan? Sini cerita sama gue! atau Azka nyakitin lo ya?
Me: Nggak ada kok Al, gue cuma ada urusan keluarga, hari ini nggak ada tugaskan?
Setelah chetingan dengan Alana dan Rio, Salsa membuka pesan dari Azka.
Azka: Lo udah pulang
Azka: Udah sampai rumah?
Azka: Kabarin gue kalau lo udah sampai
Azka: Maaf soal tadi
Azka: Dengar dari siapa?
Azka: Maaf
Azka: Apa yang lo dengar nggak benar, gue nggak pernah deketin lo hanya karena taruhan seperti yang lo bilang. Gue bukan cowok pengecut yang nyakitin hati anak orang yang nggak bersalah. Gue dekat sama lo memang karena gue mau, bukan paksaan dari siapapun. Jangan terlalu di pikirkan!
Azka Is calling ....
Salsa langsung menonaktiflan ponselnya, lalu mematikan lampu kamar. Membuat laki-laki yang berada di depan pagar rumahnya menghelas nafas panjang.
...****************...
makasih kak othor semoga makin sukses dengan semua karyamu/Good//Heart//Rose/