Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Tangisan Siti (part 1)
Pagi itu cuaca sangat dingin. Sinar matahari yang memancar, tidak bisa mengusir rasa dingin yang menyelimuti dusun Teduh.
Linda meringkuk di atas sofa ruang tamu dengan selimut membungkus tubuhnya. "Kamu nggak dingin, Kak?" tanyanya pada Azra yang sibuk merebus air di dapur.
"Makanya, sini masak, biar hangat tubuhnya," jawab Azra
"Hatchu!" Linda berbangkis.
"Kamu flu?" Azra mengernyit. Setelah air mendidih, dia segera menyeduh dua cangkir teh panas.
Langkahnya bergegas menuju tempat Linda duduk. Disodorkannya secangkir teh panas untuk Linda.
"Makasih, Kak. Hatchu! Ya Allah, dingin sekali ..." Linda meminum teh sambil merapatkan selimutnya.
Tangan Azra bergerak menyentuh kening Linda, "Hmm ... kamu demam. Istirahat sana di kamar. Nggak usah ke Pustu hari ini!" ujar Azra.
Langkahnya beranjak menuju dapur, memasak sesuatu untuk Linda yang sedang demam.
_______
Ketukan sepatu terdengar di koridor Pustu, semua mata menoleh ke sumber suara.
"Dokter Azra!!"
Pasien yang ada di depan loket antrean serentak memanggil nama Azra.
Gadis yang mengenakan kulot dan blus peplum putih gading itu tersenyum ramah. Tiga hari absen dari Pustu, rasanya seperti tiga bulan.
Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir, ketika ada yang memeluknya dari arah belakang, "Ya Allah, Dokter. Kangen sekali. Seperti bertahun-tahun tidak ketemu."
Azra tertawa kecil, membalik badannya dan memeluk Siti dengan hangat, "Apa kabar, Siti?"
Yang ditanya malah menangis, "Maaf, maafkan saya."
"Eh, kok malah nangis? Ada apa? Sebentar tahan dulu sedihnya, kita bicara lagi nanti, ya. Lihat, semua ngeliatin kita," seloroh Azra yang membuat Siti berhenti menangis.
"Mbak Siti kenapa? Wong wis lamaran kok malah sedih?" celetuk seorang ibu berbaju biru.
"Eh?!" Azra menatap Siti terkejut. Matanya menatap jenaka penuh selidik. "Saya tunggu ceritanya nanti," ucap Azra tersenyum sambil berlalu. Tak lupa dia mengangguk kepada pasien yang sedang mengantre di sepanjang koridor Pustu.
Memasuki ruang praktik, Azra segera menyiapkan peralatan pemeriksaan dan rekam medis yang sudah tersusun di atas mejanya.
"Nomor antrean satu, silakan masuk." panggilnya dari depan pintu.
Seorang ibu hamil masuk sambil meringis memegang perutnya. Azra terkejut, dengan cekatan dia menuntun ibu itu menaiki ranjang periksa.
"Ada keluhan apa, Bu?" tanya Azra sambil mulai meletakkan stetoskop-nya ke bagian tubuh yang memerlukan pemeriksaan.
"Dari tadi malam, perut saya sakit sekali, Dok, yang bagian bawah."
Dokter Azra menarik tirai, menutup penuh ruang pemeriksaan. Dinyalakannya alat CTG, untuk memonitor detak jantung janin.
Setelah memastikan kondisi detak jantung janin normal, dr. Azra meraba bagian perut yang dirasakan sakit oleh pasien.
"Apakah di sini sakitnya?"
"Iya, Dok. Kenapa ya, Dok? Padahal saya tidak jatuh."
Dokter Azra membantu pasien duduk. Lalu menuntunnya duduk di kursi depan meja periksa.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini keluhan yang biasa untuk kehamilan tujuh bulan, karena rahim yang membesar, menyesuaikan ukuran janin." jelas dr. Azra
Wajah ibu muda itu langsung berubah tenang.
Dokter Azra mulai menuliskan vitamin yang diperlukan selama kehamilan.
"Rutinkan jalan pagi, jangan bekerja berat dan istirahat yang cukup. Minum madu atau sari kurma asli juga baik untuk kesehatan ibu dan janin. Nah, silakan ini resepnya, ambil vitamin di apotek, ya. Hati-hati, Bu." Dokter Azra menyerahkan resep sambil menuntun ibu muda itu keluar ruangan.
"Nomor antrean dua, silakan masuk." panggilnya kembali.
Seorang nenek masuk sambil digandeng pemuda, memasuki ruang periksa.
Hari itu pasien poli umum dan poli gigi lebih banyak dari biasanya. Dokter Azra dan Dokter Pras baru selesai melakukan pemeriksaan pasien tepat pukul 12.00.
Tok,tok,tok.
Pintu ruangan dr. Azra diketuk.
Gadis bermata hazelnut itu mengalihkan pandangan dari laporan yang sedang dia kerjakan. "Eh, Dokter Pras! Silakan masuk," ujarnya tersenyum sambil berdiri, menyalami rekan kerja yang sudah satu bulan ikut melayani kesehatan warga di Pustu Sukamakmur.
Memiringkan kepala, tatap mata Azra tertuju pada seorang wanita berjilbab, yang berdiri di belakang dr. Pras sambil menggandeng gadis kecil berumur tiga tahun.
"Istri Dokter Pras?" tanyanya ramah.
Yang ditanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Azra berjalan cepat ke arahnya, menjabat tangan istri Dokter Pras dengan erat, "Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu istri Dokter Pras yang hebat. Salam kenal, saya Azra."
"Salam kenal juga, saya Yeni." jawab Yeni mulai merasa hangat.
Azra berjongkok di depan gadis kecil yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama masuk, "Hai! Namanya siapa anak cantik?"
"Nayla. Kenapa mata Kakak seperti itu?" tanyanya polos. Tangan mungilnya bergerak hendak menyentuh mata Azra.
"Nay, jangan!" Yeni menarik lembut tangan mungil Nayla.
Azra tertawa renyah.
"Tidak apa-apa, Bu. Mata Kakak memang begini warnanya. Nay tidak takut?"
Nayla menggeleng dan tersenyum lebar, hingga nampak deretan giginya yang rapi dan putih bersih.
Suasana di ruang praktik dr. Azra terdengar riuh. Dipenuhi kelakar Dokter Azra yang berbincang akrab dengan Yeni. Sesekali mereka menggoda Nayla kecil, yang akan diakhiri dengan rengekan manja dan teriakan gemas gadis gembil itu.
Dokter Pras tersenyum. Sekali waktu dia menyela obrolan dua wanita yang asyik dengan topik pembicaraan seputar wanita dan dunianya.
Prasetyo bernapas lega, istrinya sudah bisa mengatasi kecemburuannya.
_______
"Wis mbok maem opo durung toh, Mbak?"
"Apa sih, Mbak Siti? Berisik!" jawab Linda.
"Eh, dibilangi kok malah ngeyel. Nasinya wis mbok maem opo urung? Ojo ngalah-ngalahi cah cilik lho ya, kalau sakit!" Siti menarik selimut yang menutupi tubuh Linda.
Memaksanya duduk, dan memberikan segelas air hangat. Linda meminum dengan cemberut.
"Udaah. Jangan cemberut. Cepat makan, habis itu minum obatnya. Dokter Azra masih ngobrol sama istri Dokter Pras ..."
"Uhuk ... uhuk ..." Linda tersedak karena kaget mendengar info Siti.
"Hati-hati toh Mbak," Siti menepuk-nepuk punggung Linda.
"Istri Dokter Pras datang?"
Siti mengangguk. "Sama si kecil Nayla. Wuih guemes aku, Mbak. Bocahe gembil, putih, ginuk-ginuk. Wis lucu pokoke," ujar Siti sambil berekspresi gemas membayangkan Nayla.
"Eh, Mbak. Kamu sudah cerita masalah lamaranku ke dr. Azra belum?" tanya Siti tiba-tiba.
"Belum!" jawab Linda sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Jaremu ra oleh. Kamu sendiri yang mau nyampein."
"Syukurlah ..." Siti menepuk-nepuk dadanya seperti orang yang terselamatkan dari bahaya.
"Assalamu'alaikum!" Suara Azra terdengar bersamaan dengan derit pintu yang terbuka.
"Wa'alaikumussalam," jawab Siti dan Linda. Kedua gadis itu berpandangan.
Terdengan langkah Azra memasuki kamar, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Setelah bersih-bersih diri, dia kembali ke kamar menunaikan salat zuhur.
Mereka bertiga, kini duduk di sofa ruang tamu, saling berhadapan. Linda memaksa ikut ngobrol, sambil meringkuk di sofa panjang. Azra hanya menggeleng kepala, menghadapi ke-ngeyel-an Linda.
"Apa kabar, Mbak Siti? Sepertinya ada banyak hal yang saya tidak tahu, selama saya sakit," tanya Azra.
"Anu, maaf Bu Dokter, bukan maksud saya menyembunyikan dari Bu Dokter. Tapi situasinya mendadak sekali saat itu.
Tiba-tiba saja ada yang datang ke rumah mengajukan lamaran. Dan Bu Dokter sedang pergi ke nikahan Dokter Wita. Jadi maaf, saya tidak sempat mengabari Bu Dokter." Siti berhenti bicara. Mengangkat kepala dan baru tersadar saat menatap Azra yang mengernyit bingung. Refleks dia menutup mulutnya.
Linda yang meringkuk di sofa, tertawa lepas melihat ekspresi Siti yang keceplosan lagi.
Azra tersenyum, menghela napas. Paling mudah membuat Siti mengakui sesuatu yang disembunyikan, batin Azra.