Sequel Wanita Simpanan CEO
"Aku menyayangimu, aku mencintaimu tapi bukan sebagai kakak melainkan perasaan seorang gadis yang mencintai lelaki, aku ingin menjadi kekasihmu, aku ingin menjadi pendampingmu, aku ingin jadi istrimu kak, tidak bisakah kau mencintaiku". - Abel
"Maaf selama iini aku hanya menganggapmu sebagai adikku".-Excel
Saat kecil Abel dan Excel mereka tumbuh bersama seperti kakak dan adik namun karena suatu hal Excel harus pergi karena ikut orang tua kandungnya dan meninggalkan Abel, saat mereka dewasa dan Excel kembali apakah perasaan mereka sebagai adik kakak masih sama ataukah berubah, dan apakah mereka masih ingat janji masa kecil mereka ?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ribut
Excel membantu Jennie untuk berdiri namun terlihat wanita itu sangat kesulitan hingga berpegangan pada lengan Excel, membuat Abel berdecih dalam diamnya dan hanya melihat drama yang ada di depannya.
Tatapan khawatir Excel berikan untuk Jennie namun sebaliknya ia menatap Abel dengan tatapan kecewa dan kesal. "Jennie apa yang terjadi padamu sebenarnya ?". Tanyanya lagi kepada Jennie.
Abel tak mengatakan apapun dan tak melakukan apapun, saat ia tau jika ada Excel di belakanganya ia sudah mengerti maksud Jennie, pasti akan terjadi fitnah memfitnah disini mengingat Jennie yang pura-pura jatuh.
"Abel tadi tidak sengaja menyenggolku tapi aku beneran nggak apa-apa, mungkin dia nggak sengaja".
Abel menaikan satu alisnya, ia tak menyangka kalau Jennie akan terang-terangan memfitnahnya seperti ini. Bahkan Excel langsung percaya begitu saja dengan apa yang ucapkan terlihat dari tatapannya ke Abel.
Excel menghampiri Abel hingga kini jarak mereka sangat dekat dan Abel tak sungkan mendongakkan kepala melihat Excel tanpa keraguan saat lelaki itu hendak mengatakan sesuatu. "Aku tau kau membenciku tapi apa salah Jennie hingga kau malah menyakitinya, kalau kau benci padaku lampiaskan saja padaku".
"Melampiaskan kepadanya ? Bahkan kau hanya mendengar alasan dari sepihak dan spontan menilai, kau bahkan tidak tau kebenarannya dan menerima semua yang dia ucapkan".
"Itu karena semua yang dia ucapkan masuk akal dan aku tau bagaimana kau sekarang begitu membenciku, tapi melapiaskan kepada Jennie dan juga pekerjaan itu bukanlah hal yang benar, Abel".
"Panggil aku Mariana karena Abel sudah mati". Tiada lagi rasa sungkan ataupun sekedar menghargai Excel yang ada di benak Abel hanya ada kebencian bagi lelaki itu.
"Iya kau sekarang bukan lagi Abel yang dulu, dan sikapmu sangat keterlaluan aku ingin kau minta maaf kepada Jennie". Abel menatap Excel dengan tatapan kesal dan berganti melihat Jennie yang tersenyum di belakang Excel, sayang lelaki itu buta dan tak bisa melihat bagaimana rubah betina itu beracting.
"Aku tidak mau dan tidak akan pernah". Terlihat dari keduanya tatapan kekesalan berbeda dengan Jennie yang tersenyum penuh kemenangan melihat mereka bertengkar seperti ini. "Kau sangat tidak etis mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, setelah kau menyuruhku membuat proposal ulang dan menyakiti Jennie dibelakangku lalu apa ?".
Abel tersenyum miring, dia saat ini benar-benar marah dan tidak bisa terbendung lagi kemarahannya. Abel merebut map yang ada di tangan Excel yang ia yakini adalah proposal pengajuan yang ia minta untuk di revisi. "Bukankah ini proposal yang kuminta, kau bilang mencampuradukan pekerjaan dengan masalah pribadi benar kan ? Aku akan memperlihatkakan kepadamu apa yang di maksud mencampuradukan masalah pribadi dan pekerjaan yang sebenarnya, dan aku juga akan terang-terangan kalau ingin membully seseorang.
Abel membolak-balik map yang ada di tangannya dan tersenyum miring namun senyum itu langsung memudar bersamaan dengan tangannya yang merobek map tersebut dan melemparkannya di hadapan Excel. "Inilah maksudku". jelasnya
"Jennie aku menunggumu dari tadi". Suara pak Bambang membuat mereka semua terkesiap, beliau kembali karena telah terlalu lama menunggu Jennie, ia tak sabar dan kembali untuk mengajak Jennie ke ruang meeting takut kalau yang punya perusahaan akan datang lebih dulu.
"Kenapa kau lama sekali, dan ada apa ini ?". Tanyanya katika melihat banyak kertas yang berserakan. Bahkan pegawai yang kebetulan lewat juga berhenti sejenak demi bisa melihat tontonan yang menurut mereka menarik itu.
"Oh maaf pak tadi aku ada kecelakaan kecil". Jawabnya seraya melihat Abel.
"Ada apa ribut-ribut di perusahaanku ?". Papa Rey tak sengaja lewat dan berhenti kala semua mata tertuju kepada keributan, ia mendekat untuk tau apa yang menjadi dasar keributan itu.
Pak Bambang yang telah mengenal papa Rey tertunduk hormat, mereka sudah lama benerja sama karena pak Bambang bisa di bilang selalu menjadi sutradara langganan untuk semua produk yang hendak diiklankan perusahaan milik papa Rey.
"Tuan Reymond". Sapanya dan papa Rey hanya mengangguk.
Ia kembali melihat semua dan menyimpulkannya namun kala melihat Abel dan Excel disana juga membuat ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. "Jadi siapa yang akan menjelaskan semua ini ?". Tanyanya kepada semua yang berdiri di sana.
"Maaf tuan tadi ada sedikit kesalah fahaman antara aku dengan pegawaimu". Jennie melihat ke arah Abel membuat papa Rey juga ikut melihat putrinya. "Apa yang dilakukannya padamu ?". Tanya papa Rey kepada Jennie.
"Dia tak sengaja menyenggolku tapi tidak apa hanya saja lenganku sedikit terkilir, tapi tidak apa yuan pegawaimu tidak sepenuhnya salah". Jawabnya.
Papa Rey lalu melihat ke arah Abel seakan mencari kejelasan yang lain namun Abel hanya tersenyum tipis ke arah papanya. "Abel apa yang dikatakannya itu benar ?". Tanyanya.
"Tentu tidak papa, kalau tidak percaya silahkan papa lihat cctv saja". Jawabnya santai seolah ia tak memiliki masalah apapun bahkan Abel tersenyum puas dalam hati ketika melihat wajah Jennie yang terkejut kala ia memanggil papa. "A-apa papa ?".
"Dan Excel ada urusan apa kau kesini ?". Tanyanya kepada Excel.
"Aku datang memberikan proposal pengajuan yang sudah di revisi tapi_". Excel melihat ke lantai dimana hasil kerjanya kini berubah menjadi kertas yang robek dan tiada artinya.
"Baiklah untuk masalah kerja sama kita bicarakan lain kali dan untuk masalah tangan yang terkilir aku rasa kita tak dapat menyimpulkan sesuatu sebelum ada bukti dan Excel sebaiknya kau juga ikut melihat rekaman cctv, bukankah dia tunanganmu ?". Tanyanya dan Excel mengangguk.
Jennie menggeleng dengan cepat ia takut kalau jatuhnya tadi ketahuan hanya akal-akalannya saja. Cukup ia tau kalau Abel adalah anak pemilik perusahaan ini, ia tak mau apes dua kali kalau sampai ketahuan kalau dialah yang berbohong dan membuat Abel juga Excel saling bertengkar.
"A aku rasa tidak perlu lagian kita sudah berbaikan iyakan bel, kita juga saling dekat". Jennie berusaha menjelaskan agar masalah ini tak perlu di bahas lagi.
"Tidak Jen masalah ini harus di tuntaskan, aku tidak mau kau melindungi orang yang tidak tau caranya bersikap". Ujarnya seraya melihat ke arah Abel. Tentu Abel meyadari itu di tujukan untuknya dan ia hanya memutar bola matanya karena jengah. "Kita lihat saja siapa yang salah disini". Batinnya.
Papa Rey terlebih dulu melangkah ke ruang cctv diikuti oleh yang lain. Begitu juga Excel yang jngin memperlihatkan kepada papa Rey bagaimana perubahan Abel yang baru dan lebih kasar. Tak menghiraukan Jennie yang berusaha menahannya hingga tangannya berkeringat dingin Excel dan yang lainnya kini memasuki ruang cctv.
Abel meminta pengawas cctv memutarkan rekaman kala ia bersama Jennie tadi hingga saat papa Rey datang. Semua mata terbelalak apalagi Excel yang langsung melihat Jennie dengan tatapan kesal dan tajam.
"Baiklah aku rasa semua sudah jelas". Ujar Abel seraya melihat ke arah Excel yang menahan malu.
"Jennie cepat minta maaf ke Abel". Perintah Excel kepada Jennie setelah mereka semua selesai melihat rekaman cctv tadi. Tatapan tidak suka dan tidak setuju akan perintah dari Excel membuat Jennie hendak menolak namun ia urungkan kala melihat Excel yang kesal. "Abel aku minta maaf".
"Mariana panggil aku mariana". Perintahnya dengan wajah datar dan tangan yang bersedekap.
"Maafkan aku nona Mariana". Ujarnya terpaksa bahkan nadanya suaranya sedikit mengecil dan kurang jelas. Tapi Abel tak mempersalahkan itu yang terpenting namanya tak tercoreng dengan acting Jennie yang menyebalkan, bonusnya lagi ia bisa melihat wajah Jennie yang menahan malu dan kesal.
"Ya aku memaafkanmu tapi lain kali jangan seperti itu". Ujarnya dan tersenyum puas dalam hati.
"Pa seandainya aku yang salah apakah papa akan memberikanku surat peringatan atau malah aku akan papa pecat ?". Papa Rey terkekeh menanggapi putrinya dan menepuk pelan bahu Abel. "Kau jangan bercanda perusahaan ini akan papa berikan kepadamu mana ada yang berani memberikanmu sp atau memecatmu".
Abel sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat Jennie yang sungguh kesal. Ia sengaja menanyakan itu untuk memperjelas posisinya di perusahaan ini. Karena Abel yang dulu sudah mati dan kini ia hanya akan hidup sebagai wanita kuat yang bernama Mariana, nama pemberian dari mama Dina.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gimana episode kali ini puas nggak, jangan lupa tinggalkan jejak dan jangan lupa vote yang kenceng ya
sukses
semangat
mksh