Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Ambar terdiam di dalam kamarnya memikirkan ucapan teman-teman sosialitanya. Dia tampak berpikir keras untuk melakukan usulan teman-temannya untuk menjodohkan menantunya dengan putra bungsunya. Ambar terlihat pesimis melihat putra bungsu yang sekarang menjadi putra semata wayangnya itu. Pasalnya putranya itu sulit sekali diatur juga selalu menolak apa yang diinginkan olehnya.
Berbeda dengan almarhum kakaknya, yang selalu menuruti apa yang diucapkan saat itu juga selama hal itu tidak menentang norma dan agama. Almarhum Ken sendiri tak segan-segan menuruti untuk membelikan barang mewah selama dengan harga batas wajar. Mengingat dirinya sekarang sudah menjadi kepala keluarga setelah kematian suaminya.
Hanya satu permintaan putra sulungnya itu saat dia masih hidup. Dia bersedia menuruti apapun yang dikatakannya asal untuk urusan istrinya kelak, almarhum Ken meminta ibunya untuk tidak ikut campur dengan siapapun hatinya tertambat. Dan saat itu almarhum Ken hatinya sudah dimiliki sepenuhnya oleh Karina yang mampu meruntuhkan tembok penghalang setelah pengkhianatan mantan kekasihnya juga mantan sahabatnya.
Dan sekarang, putranya sudah tenang disana. Dan untuk mempertahankan warisan almarhum putranya Ambar mencoba mencari jalan keluar lainnya selain menikahkan putra bungsunya dengan. Tadi setelah pertemuan dengan teman sosialitanya, Ambar mampir di kantor firma hukum yang dikenalnya dari salah seorang teman sosialitanya untuk mencari tahu bagaimana cara menguasai harta almarhum putranya tanpa menjadikannya menantu lagi.
Sebenarnya Ambar tidak setuju almarhum putranya berhubungan dengan Karina, seorang gadis dari panti asuhan yang jelas-jelas asal usulnya tidak diketahui karena sejak kecil sudah dibuang di panti asuhan. Namun karena janjinya pada almarhum putranya itu untuk tidak ikut campur, Ambar dengan berat hati merestui mereka asal dia tidak ikut campur dengan urusannya.
Dan beruntung wanita yang menjadi menantunya itu sangat baik dan pendiam. Bahkan tidak neko-neko malah menurut sekali dengannya hingga hal itu bisa dia manfaatkan suatu saat nanti.
"Ibu memanggilku?" Tanya Karina siang itu saat tiba di dalam ruang keluarga rumah ibu mertuanya.
"Duduklah!" Titah Ambar dengan arogan.
Karina pun duduk di sofa depan ibunya yang terhalang meja.
"Ada yang mau ibu sampaikan." Ucap Ambar memulai pembicaraan.
"Iya ibu." Karina mendongak menatap Ambar yang menatapnya benci.
"Kau yakin harta itu akan kau berikan pada ibu dengan ikhlas?" Tanya Ambar menatap Karina intens.
"Iya ibu." Jawab Karina sopan.
"Kalau begitu tanda tangani ini!" Titah Ambar menyerahkan lembaran kertas di depannya tepat di atas meja depan Karina duduk.
"Ini apa Bu?" Tanya Karina tidak mengerti.
"Surat pernyataan perjanjian." Jawab Ambar.
"Surat pernyataan perjanjian?"
"Iya."
"Un.. untuk apa Bu?" Tanya Karina ragu.
"Tentu saja untuk mengalihkan harta warisan almarhum putraku padaku!" Jawab Ambar sarkas.
"Baik bu." Jawab Karina setelah lama berpikir. Tanpa banyak bertanya lagi dan membaca surat itu karena dia percaya ibunya tidak mungkin melakukan hal buruk padanya.
"Baguslah, kau boleh pergi!" Karina bengong menatap Ambar.
"Tunggu apa lagi sana!" Titah Ambar tak suka.
"I..iya Bu." Karina pun pergi meninggalkan kamar Ambar setelah menghela nafas panjang.
***
"Bagaimana pengacara?" Tanya Ambar esok paginya setelah menyerahkan surat pernyataan perjanjian yang ditandatangani Karina kemarin.
"Maaf Bu, setelah saya mencari informasi yang ibu berikan kemarin lusa. Sepertinya surat ini tidak berlaku lagi." Jelas pengacara yang dikenalnya dari salah seorang teman sosialitanya.
"Apa maksudmu? Bukannya kau bilang beberapa hari yang lalu aku cukup mendapat tanda tangan menantuku?" Tanya Ambar tak terima.
"Benar Bu, dan setelahnya saya mencari tahu pada pengacara yang memegang wasiat dari almarhum putra anda. Dan ternyata harta warisan berdasarkan wasiat almarhum putra anda menyatakan. Siapapun tidak berhak meminta semua harta istrinya meski sudah ditandatangani oleh menantu anda." Jelas pengacara itu.
"Apa maksudmu?" Teriak Ambar tak terima.
"Harta itu bisa dilimpahkan oleh menantu anda jika sudah menjadi istrinya selama satu tahun atau setidaknya menjadi menantu anda selama satu tahun. Dan selama kurun waktu satu tahun itu, menantu anda berhak hanya untuk mengelolanya sampai semua harta itu bisa dikuasai oleh menantu anda." Jelas pengacara itu menghela nafas berat.
"Bagaimana bisa begitu, lalu menjadi milik siapa sekarang kalau harus menunggu menjadi menantuku selama satu tahun?" Tanya Ambar tak terima.
"Tentu saja menantu anda dengan dibantu asisten almarhum putra anda untuk mengelolanya. Setelah dirasa menguasai semuanya minimal satu tahun dia baru bisa dianggap pemilik sah semua harta yang diwariskan tersebut."
"Tidak mungkin?"
"Mungkin almarhum putra anda sengaja membuatnya untuk hal yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab." Termasuk anda, yang sepertinya sangat tidak menyukai menantu anda. Batin pengacara tak mampu mengatakannya langsung.
"Lalu? Bagaimana solusinya sekarang?" Tanya Ambar terpaksa menyetujui.
"Salah satunya cara menikahkan menantu anda dengan seseorang yang masih menjadi keluarga anda, misal adik, kakak atau sepupu almarhum." Saran pengacara itu.
Ambar tampak berpikir keras. Rencana untuk menjodohkan dengan putra bungsunya akhirnya terlintas di benaknya juga.
Apa aku harus menikahkan mereka? Pasti sangat sulit membujuk anak nakal yang semaunya sendiri itu. Tapi kalau tidak... tidak...tidak...aku tak akan membiarkan warisan harta almarhum putraku dihabiskan oleh suaminya suatu saat nanti. Lebih baik aku akan memaksa Johan menikah dengan Karina. Batin Ambar tersenyum saat terlintas ide di benaknya itu.
.
.
TBC