Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOLLAR
Pagi itu Melia meninggalkan pria asing yang menyewanya semalaman. Pria itu masih tidur mendengkur di sampingnya. Rasanya masih pusing saat dia bangun. Namun, karena waktu sudah habis, maka dia segera memakai bajunya lalu mengambil tip di atas meja berupa lembaran-lembaran dollar kemudian segera memasukkannya ke dalam tas.
Dia menghubungi taksi online sambil menghitung sepuluh lembar lima puluhan dollar itu. Tersenyum saat mengetahui tip yang diterima melebihi yang dia kira.
Melia memegangi kepalanya yang masih sangat pusing karena champagne yang sangat enak hingga dia lupa meminumnya terlalu banyak di bar. Semalam pun mereka melakukan pelepasan di hotel entah berapa kali.
Taksi yang dipesan datang. Melia naik di belakang dan memainkan ponselnya sampai sesekali terkantuk-kantuk karena pengaruh semalam.
***
"Eh, ada taksi," tutur Eny saat mendengar suara mobil datang.
Dia melongok ke jendela, untuk melihat siapa yang turun dari taksi itu.
"Kok ada wanita cantik tapi sempoyongan gitu? Siapa sih itu?" tanya Eny melihat wanita yang turun dari taksi dengan baju yang seksi, tapi berjalan seperti tak seimbang.
Susi ikut melongok ke jendela. Dia mengangkat kedua alisnya melihat temannya yang datang.
"Lah, itu Melia kan, Bu?" sahut Susi yang menanggapi pertanyaan Eny dengan pertanyaan juga.
"Lah, embuh*. Aku ya lama nggak lihat, tapi kalo iya, kemajuannya pesat sekali. Dulu dia polos, sekarang baju aja kurang bahan gitu," komentar Eny saat melihat ternyata wanita itu memang berjalan mendekati pintu rumah adiknya.
"Ris, itu istrimu pulang. Sambutlah dia, suami yang baik ya menyambut istrinya yang pulang berbisnis to ya," ucap Susi melihat ke arah Haris yang sepertinya belum tahu kedatangan sang istri.
Haris segera bergerak, berdiri lalu melangkah cepat ke pintu, membukakan pintu untuk wanita yang menjadi istri keduanya itu. Namun, wanita itu menubruk pintu dan terjatuh sambil terkekeh sendiri.
"Ealah, malah udah sampai. Tadi kayaknya masih jauh," oceh Melia. Memang tadi pandangannya serasa masih jauh untuk mencapai pintu. Semua rasanya miring, jalan Melia menjadi agak sempoyongan.
Susi meringis melihat kelakuan Melia. Dia tak mau menyapa wanita yang kelihatan konyol itu. Menunggunya menyapa duluan. Namun, sepertinya Melia tak menyadari kedatangannya dan langsung masuk kamar, dipapah oleh Haris.
Eny mengerutkan dahi, melirik ke arah Susi.
"Kancamu kui nggenah opo ora?*" tanya Eny bernada heran melihat sepertinya Melia habis mabuk.
"Halah, mungkin dia kecapekan, Bu. Eh, nggak tau, dhing!" sahut Susi kembali menatap ke layar ponselnya.
Sementara Bu Helen sibuk menggendong anak Susi untuk diajak jalan-jalan ke sekitar rumah. Tentu saja para tetangga menanyakan siapa anak itu. Bu Helen pulang dengan wajah dongkol. Dia menggerutu karena para tetangga malah menuduh Haris yang mandul karena beristri dua tapi belum punya anak.
Kembali Eny menggelengkan kepala, melihat betapa aneh bin antik keluarga adiknya itu.
"Lia, kamu ini dari mana aja, sih?" tanya Haris saat Melia merebahkan diri di atas tempat tidur.
Bau champagne yang soft tercium dari mulut Melia. Haris mengerutkan dahi mengendus baunya. Dia melepaskan sepatu yang dipakai Melia karena wanita itu tak menjawab. Hanya merogoh dua lembar uang dollar yang tadi pagi dia ambil lalu menyerahkan pada Haris. Kemudian berbalik memunggungi pria itu lalu melanjutkan tidurnya.
"Dollar? Ini dollar? Wah, gila! Tapi, bau apa ya ini?" endus Haris kembali mendekati mulut Melia.
"Tadi temenku nyuguhi tape, jangan berpikiran yang enggak-enggak," sahut Melia asal saja saat mendengar pertanyaan Haris.
"Oalah, pantes kok kayak gini, tapi wangi-wangi gitu," ucap Haris lagi.
Namun, sekarang Melia sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. Haris tersenyum dan menggelengkan kepala melihat istrinya itu kelelahan.
"Oalah, sayangku. Kamu begitu kerja keras demi aku dan ibuku. Kamu adalah asetku yang paling berharga," ucap Haris mengelus kepala istrinya dari belakang.
"Itu si Melia kok pulang-pulang kayak orang pusing, Len?" tanya Eny pada Helen yang telah menyerahkan Nina pada ibunya.
"Iya, po? Mungkin kecapekan," sahut Helen membela Melia karena dia pun juga belum melihat bagaimana keadaan Melia saat pulang.
"Nah, bener to, Bu?" tukas Susi seraya menyusui Nina.
Eny manggut-manggut, tapi kedua alisnya masih saling bertaut. Dia masih memikirkan sikap Melia barusan.
"Iya, dia tadi habis makan tape di rumah temannya, kok. Katanya tadi juga ngantuk, lembur semalam berbisnis," celetuk Haris yang menuruni tangga.
Susi tak begitu mendengarkan perkataan Haris karena sibuk dengan anaknya, sedangkan Bu Helen hanya mengangguk-angguk. Eny sendiri mengerutkan dahi.
"Pagi-pagi makan tape? Makannya sambil minum sprite po, jadi sempoyongan gitu?" tukas Eny.
"Wah yo nggak. Bahaya itu makan dicampur-campur gitu," ujar Haris mengibaskan lembaran dollar. Dia memamerkan dua lembar uang dollarnya pada budhe dan ibunya.
"Duit apa itu, Ris?" tanya Helen menarik selembar uang dollar dari tangan anak lelakinya, untuk dia amati.
"Ini uang dollar Bu. Dollar luar negeri."
Bu Helen terbelalak. Dia tak menyangka bisa memegang uang dollar bersih, dengan tulisan lima puluh itu.
"Ini tu berapa kalo dirupiahkan, Ris?" tanya Bu Helen masih takjub.
"Ya ... kalo nggak salah satu dollarnya empat belasan ribu rupiah, Bu."
Haris juga mengamati uang dollar yang dia pegang, dia bolak-balik melihat gambar di uang kertas itu.
"Hah?? Lah sak* lembar ini, jadinya tujuh ratus ribuan, Ris?" sahut Bu Helen terlompat, kaget.
Eny menggelengkan kepala melihat kenorakan mereka. Namun, dia sendiri nyatanya melirik-lirik ke uang dollar yang sedang diperbincangkan.
"Melia yang kasih tadi," ucap Haris mengambil uang yang ada di tangan ibunya.
Wanita itu mendengkus.
"Buat Ibu satu, Ris."
Haris melotot mendengarnya. Dia pun tak terima jika uang itu berpindah ke tangan sang Ibu.
"Nggak bisa, Bu. Kan, Ibu udah pegang uang satu juta yang diminta dari Renata? Ya udah, itu aja. Besok juga dapet lagi satu juta lima ratus ribu rupiah!" sungut Haris.
"Tapi Ibu belum punya yang dollar kayak gitu," rengek Bu Helen.
"Nggak, pokoknya nggak!" tolak Haris langsung memasukkan uang itu ke dalam dompetnya.
"Gusti ... kok ya ada orang rebutan kayak cah cilik* aja!" desis Eny melihat kedua orang itu saling cemberut.
"Sebenarnya, Melia itu kerja apa sih?" tanya Eny penasaran.
"Jualan. Dia pokoknya bisnis, setiap pulang bawa uang, Mbak!" sahut Bu Helen bangga.
Dahi Eny berkerut. Mudah sekali bisnis bawa uang banyak setiap hari, itupun baru saja menjalankan bisnis. Padahal walau bisnis online, bayarannya biasanya ke rekening atau aplikasi lain.
"Luweh, lah."
Eny tak ambil pusing dengan pikirannya sendiri.
***
*embuh \= nggak tau
*kancamu kui nggenah opo ora \= temenmu itu normal atau tidak
*sak \= satu/se-
*cah cilik \= anak kecil
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano