Cerita ini berkisah tentang petualangan seorang pemuda bernama Aryasetya yang bertransmigrasi ke tubuh seorang pangeran bernama Agha Agana.Pangeran itu menerima racun sebelum dinobatkan sebagai Raja, setelah dia memasuki tubuh Agha Agana, dia dinobatkan sebagai seorang Raja di Kerajaan Agrapana.
Dengan berbagai bantuan dari para bawahannya yang terampil, Agha Agana memulai petualangannya. Menemukan berbagai hal baru di dunia yang ia tinggali dan perlahan dia mengerti seberapa luas dunia yang ia tinggali.
Dengan bantuan sistem, Agha Agana
mulai memperkuat kerajaannya dan perlahan dia mulai menapaki jalan penaklukkan. Dimulai dari dunia yang ia tempati kemudian dia menaklukkan berbagai dunia yang memiliki keunikannya masing-masing.
Dan nantinya kerajaan yang ia bangun akan terus ada dan berakhir menjadi Dinasti tanpa akhir.
Ikuti perjalanan Agha yang menapaki langkahnya menjadi seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OmuraRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Jendral Gajah Mada Bergerak
Hentakan kaki pasukan Agrapana terdengar hingga kejauhan, tanpa ada halangan, mereka akan tiba di Suku T'halcha dua hari kemudian.
Mereka bergerak dengan cepat untuk ukuran pasukan besar, Danadyaksa tidak ingin mengambil waktu terlalu lama di perjalanan. Gajah Mada mengirim beberapa kavaleri untuk menjadi pelopor sekaligus pengintai, kavaleri ini dikirim untuk mencari tahu apakah ada halangan di sepanjang jalan.
"Vicar, aku harap kita tidak terlambat untuk menjadi pasukan bantuan bagi Yang Mulia," ujar Albert Hailsten gelisah akan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak menuju ke Suku T'halcha.
"Tenang Albert, yakin saja kita bisa sampai kesana tepat waktu. Aku harap." Vicar Herraudsson mencoba meyakinkan Albert Hailsten meskipun dia sendiri juga tidak yakin.
"Ya... semoga saja, aku pergi dulu."
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Vicar Herraudsson heran akan kata-kata Albert Hailsten yang mengisyaratkan dia akan pergi.
"Hahahaha.... lihatlah Vicar aku dipanggil oleh Marsekal Agung," ujar Albert Hailsten sembari menunjuk ke arah posisi Danadyaksa.
" Ya. Hahahaha mungkin kau akan dihukum," canda Vicar Herraudsson.
"Sialan kau.. mana mungkin aku mendapat hukuman."
"Percaya diri sekali kamu, lihatlah raut wajah Marsekal Agung."
Albert Hailsten mencoba untuk melihat raut wajah Danadyaksa dari kejauhan, dan raut wajah Danadyaksa terlihat marah.
"Sial.. apa benar aku akan mendapat hukuman?"
"Cepat pergilah ke sana sebelum Marsekal Agung semakin marah."
" Ya.. ya.. aku pergi dulu."
Meninggalkan Vicar Herraudsson sendiri di tengah-tengah formasi bagian belakang, Albert Hailsten memacu kudanya pergi menuju tengah formasi dimana ada Danadyaksa dan Gajah Mada.
"Albert, berapa lama waktu yang harus kita tempuh untuk sampai ke sana dengan kecepatan seperti ini?" Danadyaksa menanyakan waktu pada Albert Hailsten yang baru saja tiba di hadapannya.
"Dengan kecepatan saat ini kita bisa sampai di Suku T'halcha kurang dari dua hari, Tuan Marsekal Agung."
"Masih lama ya, Jendral Gajah Mada pergilah ke suku T'halcha terlebih dahulu dengan seluruh kavaleri dan pergilah bersama Vicar Herraudsson salah satu anggota The Dark Vanguard." Danadyaksa memberikan perintah pada Gajah Mada untuk pergi ke suku T'halcha dipandu oleh Vicar Herraudsson.
Danadyaksa memutuskan hal itu untuk mempercepat bantuan yang akan diterima oleh Agha, dia terlalu khawatir dengan keselamatan Agha, dia tidak memilih anaknya sebagai pelopor karena Danadyaksa lebih mempercayai kekuatan yang dimiliki Gajah Mada.
Gajah Mada mengiyakan perintah Danadyaksa dan segera mengumpulkan seluruh kavaleri bersama dengan Vicar Herraudsson kemudian memimpin kavaleri pergi menuju Suku T'halcha. Danadyaksa melihat keberangkatan unit kavaleri lalu dia meminta seluruh pasukan infanteri agar bergerak lebih cepat sebelum hari berubah menjadi petang.
Pergerakan pasukan infanteri secara bertahap mulai menunjukkan kelelahan ketika hari mulai petang, melihat moblilitas pasukan menurun Danadyaksa memberi perintah untuk beristirahat sembari membuat tenda.
Dia memikirkan kavaleri yang dipimpin Gajah Mada, mereka sudah cukup lama berpisah. Mengesampingkan pemikirannya tentang Kavaleri , Danadyaksa segera bermeditasi dilanjutkan dengan istirahat dan menunggu hilangnya kegelapan yang mengganggu perjalanan mereka.
Meskipun menunggangi kuda , kecepatan yang dimiliki kavaleri Kerajaan Agrapana yang dipimpin Gajah Mada tidak terlalu cepat hanya dua kali lebih cepat dari infateri di belakang.
Meskipun menjadi pemimpin pasukan pelopor, Gajah Mada tidak dapat mempungkiri bahwa dia ingin secepatnya tiba di tempat Agha berada agar dia dapat menunjukkan nilainya sebagai seorang bawahan.
Walaupun hari telah berganti menjadi petang, Gajah Mada tetap memerintahkan agar perjalanan dilakukan sebelum menemukan tempat yang tepat untuk istirahat. Menempuh jarak yang cukup, mereka menemukan semacam tempat untuk istirahat dan Gajah Mada menyuruh pasukan kavaleri untuk istirahat dan makan. Sebelum suasana menjadi sangat terang mereka telah berangkat melakukan perjalanan menuju suku T'halcha.
"Vicar, masih jauhkan tempat suku T'halcha berada?" Gajah Mada menanyakan jarak yang harus mereka tempuh sebelum sampai di tempat suku T'halcha berada pada Vicar Herraudsson.
"Tidak terlalu jauh Jendral, kita sudah dekat dengan tempat tujuan."
"Hmmm... apakah kita akan sampai disana hari ini?"
"Ya, Jendral. Kemungkinan besar kita akan sampai sebelum malam tiba," jelas Vicar Herraudsson pada Jendral Gajah Mada.
"Baik. Pasukan pacu kuda kalian dengan keras, raja kita sudah menunggu tak jauh dari sini. Kita harus tiba disana sebelum malam tiba, pacu kuda kalian. Bergerak," teriak lantang Gajah Mada memaksa seluruh pasukan untuk mengerahkan kekuatan kuda yang mereka tunggangi hingga maksimal.
Pergerakan kuda yang ditunggangi pasukan kavaleri Kerajaan Agrapana mulai menurun ketika mereka melihat pagar yang melintang menutupi sebuah pemukiman, dan terlihat beberapa Goblin yang tengah menjaga pintu gerbang sembari berpatroli tak jauh dari dinding.
Vicar Herraudsson memimpin pasukan untuk memasuki wilayah Suku T'halcha, mereka memasuki wilayah Suku T'halcha dengan mudah karena penjaga gerbang telah mengetahui identitas dari Vicar Herraudsson disamping itu ada Ner Riock yang telah menunggu kedatangan mereka.
"Riock, dimana Tuan Agha?" Vicar Herraudsson menanyakan keberadaan Agha pada Ner Riock ketika mereka masuk dan pergi menuju rumah yang menjadi tempat tinggal Agha.
" Tuan Agha telah berangkat bersama dengan pasukan yang dipimpin oleh T'halcha Morikan. Dan aku punya pesan penting yang harus kusampaikan pada
Jendral Gajah Mada." Ner Riock menjelaskan keberadaan Agha pada Vicar Herraudsson.
Menghampiri Gajah Mada, Ner Riock memberikan sebuah surat yang ditulis Agha pada Gajah Mada dan dia juga menjelaskan kalau ia telah membaca isi surat tersebut. Gajah Mada menerima surat itu lalu membacanya dengan teliti dan dia mendapatkan informasi cukup beserta sebuah perintah dari Agha.
Tak berselang lama setelah membaca surat itu, Gajah Mada meminta Ner Riock dan beberapa pasukan untuk mengintai kondisi Suku T'halcha dan jumlah pasukan yang menjaga suku ini.
Gajah Mada memerintahkan sisa pasukan untuk memasuki keadaan siap tempur, dia telah mendapatkan perintah dari Agha untuk menyerang suku T'halcha sebelum membantu Agha di medan perang.
Tidak butuh waktu yang lama untuk Ner Riock beserta pasukan lainnya untuk mendapatkan informasi tentang keadaan Suku T'halcha, dengan informasi yang telah dia dapat Gajah Mada mulai memberi perintah pada pasukan kavaleri untuk menyerang suku T'halcha dan menaklukkannya.
Dipimpin Gajah Mada seluruh pasukan kavaleri mulai menyerang goblin yang mengenakan armor seperti seorang prajurit dan meninggalkan penduduk biasa, kavaleri tidak perlu mengerahkan tenaga terlalu besar untuk menaklukan Suku T'halcha karena hampir seluruh prajurit yang dimiliki suku T'halcha pergi ke medan perang hanya menyisakan sedikit pasukan.
Meskipun hanya memiliki sedikit prajurit, mereka masih dipimpin oleh beberapa Hob-goblin dan satu High-Goblin yang mempertahankan suku T'halcha. Namun mereka semua dihabisi oleh Gajah Mada dengan mudahnya, mereka dapat dengan mudah dihabisi oleh Gajah mada karena perbedaan kekuatan yang terlampau jauh seperti anak kecil melawan orang dewasa.
Gajah Mada menaruh hormat pada pasukan goblin ini setelah melihat perjuangan mereka untuk menghalau serangan yang dilakukan pasukannya, meskipun mereka kalah jumlah dan pemimpinnya telah terbunuh.
Penduduk suku T'halcha yang melihat prajurit yang mereka bangga-banggakan dihancurkan dengan mudah, merasa marah dan frustrasi, mereka merangsek maju hendak menyerang pasukan Jendral Gajah Mada sebelum dihentikan oleh Ner Riock.
"Tenang..... tenang.... tenanglah kalian semua. Kami tidak akan membunuh kalian, menyerahlah junjungan kami tidak ingin menumpahkan darah lebih dari ini. Aku mohon menyerahlah."
Ner Riock berteriak dengan lantang meminta penduduk Suku T'halcha agar menyerah dan tidak menyerang pasukan kavaleri. Ner Riock tidak ingin melihat penduduk biasa menjadi korban dari sebuah peperangan apalagi mereka berasal dari ras yang sama yakni goblin.
"Diamlah, dasar penghianat bunuh mereka semua. Ayo serang!!!" teriak salah satu goblin yang tersulut emosinya setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Ner Riock.
Gajah Mada telah mengunci Goblin yang memprovokasi Goblin lainnya untuk menyerang prajuritnya dengan aura pembunuh beserta energi ki nya, lalu dia menghela nafas dan menajamkan tatapan matanya pada sosok Goblin itu.
Goblin yang tengah berbicara serta memprovokasi Goblin lainnya merasakan tekanan kuat dan rasa sakit yang tidak dapat dia terima sebelum dia memuntahkan darah dan terbujur kaku.
Goblin itu tewas tak kuasa menahan energi ki milik Gajah Mada, energi ki adalah sebuah energi misterius yang akan bertambah kuat seiring dengan kekuatan yang dimiliki oleh penggunanya. Gajah Mada mampu membunuh orang biasa tanpa harus menggunakan kedua tanganya dan hanya dengan energi ki nya saja dia sudah bisa membunuh mereka.
Menatap Goblin yang mati seketika memadamkan kemarahan yang dimiliki oleh Goblin lainnya dan berubah menjadi sebuah ketakutan beserta teror yang mendalam karena mereka belum pernah melihat adegan seperti ini.
kurang piknik nehhh authornya..