Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Nampak Berubah
Bab 35 Nampak Berubah
Kepergian Danes tiga hari yang lalu membuat Kalila cukup sedih. Dia merasa sangat bersalah, karena selama ini tidak pernah menganggap Danes. Sikap Kalila yang seperti itu membuat Akbar sangat cemburu. Entah kenapa, kalau itu semua menyangkut Kalila, Akbar pasti sangat sensitif.
“Mas, kenapa?” tanya Kalila yang kini merubah panggilannya pada Akbar atas permintaan kekasihnya sndiri. Akbar sejak tadi hanya diam, ketika mereka pergi untuk membeli persiapan berangkat ke Anyer.
Sedikit cerita tentang pengajuan Akbar atas permintaan anak-anak didiknya, kalau mereka akan mengadakan perpisahan di Anyer. Pengajuan liburan ke Anyar akhirnya disetujui oleh wakil kepala sekolah. Akbar pun mengumumkan hal ini pada anak-anak kelasnya dan itu membuat mereka langsung bahagia.
Akbar pun mencari travel yang lengkap mengakomodasi semuanya mulai dari hotel, makan dan agenda-agenda yang akan mereka lakukan di sana. Setelah mengurus semuanya, para murid pun membayar biayanya lalu waktu dan tanggal baru ditentukan.
“Aku enggak kenapa-kenapa!” jawab Akbar sambil mendorong troli mencari aneka cemilan yang lainnya Kalila berlari kecil menyusul kekasihnya sambil menggenggam tangannya.
“Beneran enggak ada apa-apa? Kok aku merasa ada yang aneh ya? Emmm ... Kalau gitu aku juga bakal diem seperti yang Mas lakukan.” dengan cepat Akbar melirik dan menghentikan langkahnya. Akbar tidak mau kalau Kalila menyembunyikan apa yang dia rasakan. Karena, sangat sulit membuat Kalila terbuka.
“Kok gitu sih sayang? Kamu bisanya ngancem mulu deh.” Akbar kesal memasang wajah yang masam. Kalila tersenyum sambil menempel wajahnya di lengan kekasihnya.
“Ya makanya, jangan ada yang disembunyiin dong!”
“Aku cemburu! Sejak kepergian Danes, kamu tampak berbeda. Dan setiap hari kamu selalu saja membicarakan dia. Masih banyak hal yang bisa dibicarakan, kenapa harus dia terus yang dibahas? Apa aku terlalu membosankan ya, sampai-sampai kamu selalu membahasnya. Mendengar apa yang dikatakan Akbar membuat Kalila tersenyum. Baru kali ini dia melihat Akbar yang sangat cemburu padanya.
“Sayang, maafin aku ya! Aku janji deh tidak akan membicarakan orang lain selain kita berdua.
“Ya ... enggak seperti itu juga. Ada waktu yang pas untuk membahas masalah orang lain. Aku cuma enggak suka kamu terus-menerus membicarakan laki-laki lain depanku,” ucap Akbar dan kembali berjalan.
Kalila tersenyum dan mencubit kedua pipi kekasihnya sampai si empunya kesakitan. Kalila menjulurkan lidahnya dan berjalan jauh di depan. Akbar tersenyum menggelengkan kepala dan menyusul kekasih dia yang sudah berdiri menunggunya di kasir. Banyak makanan yang Kalila beli untuk cemilan selama perjalanan. Karena perjalanan Jakarta-Anyer memakan waktu yang cukup lama yaitu tiga jam untuk jalanan yang lancar.
“Totalnya 368.000, Kak!” ucap kasir itu. Kalila langsung mengeluarkan dombetnya di dalam tas kecil tapi dengan cepat Akbar membayar semua tagihannya.
“Terima kasih, Kak!” ucap kasir itu, Akbar pun mengangguk tersenyum dan membawa beberapa plastik di tangan kanannya dan menggenggam tangan Kalila di tangan kirinya.
“Mas, kenapa dibayarin? Itu 'kan jajanan aku semua.” Akbar hanya melirik tersenyum membuat Kalila binggung.
Sampai di parkiran motor, Akbar terlebih dahulu mengantungkan belanjaannya. Motornya tampak sangat penuh membuat Kalila merasa tidak enak.
“Mas, bisa enggak nyetirnya? Kalau enggak bisa nanti aku ....”
“Bisa, Sayang. Ya sudah naik yuk! Udah malam, nanti mami sama papi nyariin kamu lagi. Kalika mengangguk dan anik ke atas motor kekasihnya. Sebelum naik, terlebih dahulu Akbar memakainya helm pada Kalila.
Selama perjalanan, Kalia memeluk Akbar dengan sangat erat dan menempelkan wajahnya di atas dagu pas bersebelahan dengan wajah kekasihnya.
“Bagaimana beasiswa kamu?” tanya Akbar. Ya ... Kalila diterima beasiswa di universitas negeri di Jakarta jurusan manajemen ekonomi, melalui jalur prestasi, sedangkan kembarannya sudah mendaftar ke jurusan kedokteran di kampus yang sama.
“Aku lolos, sayang. Emmm ... enggak kerasa udah kuliah lagi dan sebentar lagi akan berpisah denganmu,” ucap Kalila sambil membuang napasnya dengan kasar.
“Kok ngomongnya seperti itu sih, Sayang? Walaupun kita berbeda tempat, tapi 'kan aku setiap hari akan mengantar dan menjemput kamu.” Mendengar itu membuat Kalila merasa senang. Walaupun dia sudah diizinkan mengemudi mobilnya sendiri, tapi mendengar ucapan Akbar tadi, Kalila memilih untuk dijemput kekasihnya mengunakan motor bebek kesayangan kekasihnya.
“Emang sayang bisa selalu ada buat antar jemput aku?” sengaja Kalila menanyakan hal ini untuk mengetes kekasihnya kalau apa yang dia ucapkan benar-benar serius.
“Kamu tenang saja, Sayang! Aku pasti bisa meluangkan waktu untuk sekedar mengantar dan menjemput kamu.”
“Makasih ya, Sayangku!” Akbar menarik salah satu lengan Kalila dan mencium punggung tangannya.
Sampai di depan rumah Kalila, Akbar membantu Kalila untuk membawakan belanjaannya. Dia sengaja, karena Akbar yang harus buru-buru untuk menulasi pembayaran pada pihak travel.
“Aku pamit ya, Sayang! Nanti sampai rumah akan aku telepon.” Kalila hanya mengangguk tersenyum dan melambaikan tangannya saat Akbar berjalan kembali keluar rumahnya.
Akbar pun melajukan motornya dan kembali moto bebeknya. Sebelum pulang Akbar mampir terlebih dahulu ke tempat travel dan membayar semuanya. Selesai melunasi, Akbar dengan cepat kembali ke rumahnya. Sampai di rumah Akbar dikagetkan dengan keberadaan sang ibu yang berdiri di belakang pintu rumahnya.
“Ibu! Kenapa Ibu ada di sini?” tanya Akbar sambil memegangi dadanya.
“Akhir-akhir ibu lihat kamu sering sekali terlambat pulang tidak seperti biasanya. Apa wanita itu yang membuat kamu berubah seperti ini?” tanya Nurma membuat Akbar sedikit emosi.
“Ibu kenapa sih selalu berpikiran jelek tentang kekasih, Mas? Sepertinya ibu harus bertemu langsung dengan dia. Mas janji, setelah study tour, Mas akan membawa Kalila bertemu dengan ibu.” Nurma nampak syok dengan perkataan anaknya.
“Maafkan ibu kalau ibu salah ya, Mas!” Nurma langsung membalikkan badanya dan hendak berjalan ke dalam, dengan cepat Akbar langsung memeluk tubuh sang ibu dari belakang, “Mas yang minta maaf, Bu! Karena tadi Mas sudah sedikit terbawa emosi.” Nurma hanya mengangguk tersenyum dan membelai kepala anaknya.
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu tunggu wanita itu datang ke rumah. Ibu penasaran wanita apa dia sampai-sampai membuat kamu sangat berubah seperti ini.” Nurma melepaskan pelukan anaknya dan berjalan masuk ke dalam. Akbar menyenderkan tubuhnya merasa bersalah.
~Bersambung~
Teman-teman, maaf ya kemarin tidak UP, karena Author sedang sedikit tidak enak badan. Author berharap kalian semua dalam keadaan sehat Wal'afiat, Aamiin yaa Rabbala'lamin...
Terima kasih ya sudah menantikan novel ini UP, sambil menunggu novel ini UP intip-intip yuk karya Author yang lainnya ada di aplikasi NL judulnya HOLD ME, kisah seorang anak remaja mencari jati diri karena perceraian kedua orang tuanya. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini, yuk baca yuk!