William Benedict Anderson, CEO Anderson Corp. tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah dirinya ditinggalkan oleh sang kekasih, tetapi sang kakek yang amat disayanginya menginginkan seorang anak darinya. pilihan kemudian jatuh kepada Kyra Queensha, seorang pelayan di Coffe shop milik sahabatnya.
Kyra membutuhkan banyak biaya untuk operasi jantung ibunya terpaksa harus menerima tawaran William, tetapi dia tidak ingin melahirkan anak diluar pernikahan.
William dan Kyra pun sepakat untuk melakukan pernikahan kontrak. Pernikahan tersebut akan berakhir jika anak mereka sudah lahir dan berusia 6 bulan.
Seiring berjalannya pernikahan mereka, Kyra jatuh cinta kepada William yang masih terjebak dengan cinta pertamanya. Apalagi saat wanita itu kembali hadir di dalam pernikahan mereka. Kyra memutuskan untuk pergi tanpa menyadari jika dirinya tengah hamil anak William.
Hingga 7 tahun kemudian keduanya dipertemukan kembali.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MC 34
...DILARANG KERAS MENGCOPPY ATAU MENYADUR CERITA INI....
...CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR DAN FIKSI SEMATA....
...JIKA ADA KESAMAAN NAMA, TEMPAT, DAN PERISTIWA YANG TERJADI ITU HANYA KEBETULAN SEMATA....
..._________...
...Selamat membaca!...
...***...
Setelah pelayan itu pergi, William melangkahkan kakinya menuju kamar.
“Tenang sayang, wanita itu sudah tidak ada di sini. Jadi aku bebas melakukan apapun, bahkan William bodoh itu tidak akan tahu rencana ini.” Lucy kemudian terkekeh.
Brakkk!
Lucy yang terkejut menoleh ke arah belakang. Matanya terbelalak melihat kedatangan William yang menatapnya tajam.
“El,” ujar Lucy dengan suara lirih.
...***...
“E—El, ka—kau sudah pulang?” tanya Lucy dengan nada gugup. Dia langsung mematikan panggilan teleponnya.
Apakah dia mendengar semua yang aku katakan tadi?
Hati Lucy merasa tidak tenang, terlebih William yang masih menatapnya dengan wajah datar itu.
“El,”
William berjalan semakin mendekati Lucy. Tangannya terulur membelai pipi wanita itu, Lucy menjadi sedikit lega.
Namun kelegaan itu tak berlangsung lama karena tubuhnya tersungkur ke lantai setelah William menamparnya.
“El,” cicit Lucy dengan tubuh gemetar karena merasa terkejut dengan tindakan yang William lakukan padanya.
Tidak sampai di situ, William mencengkeram erat dagu Lucy sampai wanita itu meringis kesakitan.
“Kau, sudah menipuku.” Ujar William dengan suara pelan, tapi hal itu justru membuat Lucy semakin ketakutan.
Dan benar saja, suara kesakitan memecah keheningan kamar yang Lucy tempati.
“Argh!”
William menarik rambut Lucy dan menariknya. Berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan tangan tak lepas dari rambut wanita itu.
Lalu menghempaskan tubuhnya.
“Bawa pakaian wanita ini ke sini, dan jangan biarkan jal*ng ini masuk ke dalam kediamanku. Buang semua kasur, bantal dan seprai di kamar yang dia tempati. Buang juga barang - barang yang pernah dia pakai, kau tidak sudi jika kediamanku ini masih ada sisa dari wanita iblis seperti. Usir dia sekarang juga!”
Lucy meraung-raung memohon maaf dan menolak dibawa pergi dari sana. Pengawal William segera menyeretnya secara paksa karena Lucy yang terus memberontak.
Sesampainya di luar mansion, tubuh Lucy dihempaskan berikut dengan koper dan segera barang miliknya.
“Aku akan membalas perlakuanmu kepadaku William! Kau lihat saja nanti, aku akan menghancurkan kalian semua.” Gumamnya dengan kilatan mata penuh dengan emosi.
...***...
William berjalan mondar - mandir menunggu kabar dari orang kepercayaannya, tak lama ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
“Bagaimana?”
“.........”
Xavier sudah tidak bekerja lagi di Blue Bottle Coffe, Tuan. Beberapa hari lalu setelah izin berlibur, keesokan harinya Xavier memberikan surat pengunduran diri dari sana.
Hati William mencelus mendengar penuturan orang suruhannya itu. Kalau sudah begini, dia harus meminta bantuan Lucas dan pastinya Angela akan tahu tentang hal ini.
William mengehala napasnya.
“Baiklah, terus cari informasi lagi mengenai dimana keberadaan istriku.”
“........”
William mengakhiri panggilannya, dan segera merobek kertas yang ada di tangannya. Surat perceraian dengan Kyra yang belum diproses di pengadilan, maka dari itu Kyra tetaplah istrinya. Satu - satunya nyonya Anderson.
William mendongakkan kepalanya.
“Kau di mana, Kyra.” Ujarnya dengan nada lirih.
...***...
Lucy berjalan mondar - mandir mengigit kukunya dengan gelisah. Setelah di lempar keluar dengan cara yang sangat memalukan oleh William, dirinya langsung kembali ke apartemennya.
Dia memutar otak untuk bisa kembali ke sana, kembali berada di samping William karena Lucy merasa tidak terima jika pria itu membuangnya begitu saja.
“Aku harus mencari cara, tapi apa?”
Berpikir, ayo berpikir, bodoh!
Tiba - tiba saja Lucy mengehentikan kakinya yang sedari tadi bergerak.
“Ya, cara itu. Hanya itu satu - satunya cara saat ini,” gumamnya.
Sebuah seringai terbit di bibirnya.
Dia segera menyambar tas dan kunci mobil miliknya, menuju ke apartemen sepupunya.
...***...
William masih terus mencoba mencari tahu keberadaan Kyra, dia terus berpikir dan berpikir. Mencari dan terus mencari informasi tentang keberadaan Kyra.
Mengingat isi surat itu, sepertinya malam di mana dia menghabiskan waktu bersama dengan Lucy, Kyra ada di sana tapi karena terlalu mabuk dia tidak bisa menyadari.
Hal itu dia ketahui dari salah seorang pelayan yang saat itu datang, dan setelah naik ke atas Kyra turun kembali. Namun, keadaannya tidak baik - baik saja. Dia menangis tergugu, bahkan salah satu dari mereka sampai merasa khawatir dan memberikan air minum.
Alkohol sialan! Tidak, tapi semua adalah salah wanita itu. Lucy.
Jika saja William tak termakan atau masuk perangkap yang wanita itu buat dengan berbagai lembaran foto sialan itu, William yakin keduanya saat ini masih bersama. Kyra dan dirinya, serta anak mereka.
“Berengsek! Kau memang berengsek.” umpatnya pada diri sendiri.
Bagaimana jika sesuatu terjadi kepada istri dan juga calon anak mereka yang ada di dalam perut Kyra. Dada William tiba - tiba terasa sesak, hanya dengan membayangkan hal itu.
William menyewa detektif dan menyuruh pengawalnya untuk mencari keberadaan istrinya. Meskipun belum ada hasil yang memuaskan dari mereka, tapi William akan terus mencarinya.
...***...
“Ayo ikut Mama,” Lucy membawa Leo yang dititipkan di penitipan anak oleh Bryan sepupunya.
“Mama, kita mau kemana? Nanti uncle mencariku.”
“Kita akan ke rumah yang besar, ke rumah Papamu.”
Leo memandang Lucy dengan tatapan polos dan tidak mengerti.
“Kita ke rumah Papa. Apa kau senang?”
“Papa Cedric?”
“No, no, bukan dia tapi Papa William. Kau harus memanggilnya begitu saat bertemu dengannya nanti, Oke?”
Leo hanya menganggukkan kepalanya tanda memahami apa yang Mamanya ucapkan. Sedangkan Lucy tersenyum penuh arti.
...****...
...VOTE 🎟️...
...LOVE ❤️...
...LIKE 👍...
...~TERIMA KASIH~...