NovelToon NovelToon
Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:53.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lisa

Karena ingin dapat uang yang banyak tanpa ribet dengan keharusan punya keterampilan khusus, Asha akhirnya mau jadi tukang cuci pada sebuah keluarga kaya. Padahal dia punya ijazah SMA yang memungkinkan dia punya pekerjaan yang lebih baik dari sekedar tukang cuci.

Banyak kejadian yang terjadi selama dia menyembunyikan pekerjaan dari orangtuanya yang ada di kampung. Juga harus tetap cool saat ada teror menggemaskan dan nakal dari Arga, tuan muda di rumah majikan yang sedang patah hati karena tunangannya berselingkuh. Apalagi teror ciuman sesaat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat Nyonya Wardah

Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Selamat membaca. ❤

.

.

.

.

Sesampainya di rumah, Asha langung turun dan masuk lagi ke dalam mobil lewat pintu belakang. Dia hendak membangunkan Paris yang masih terlelap dengan meletakkan kepala pada bahu tempat duduk mobil.

"Paris, bangun. Sudah sampai rumah. Paris..," Asha menguncang-guncangkan tubuh nona muda itu. Arga tidak keluar dari mobil. Dia masih duduk di bangku kemudi sambil melihat ke belakang.

"Paris, bangun," Arga ikut membangunkan adiknya. Namun Paris masih belum membuka matanya. Asha masih terus berusaha membangunkannya. Kemudian Arga keluar dari mobil dan menuju pintu belakang. "Hei, bangun." Arga mengguncangkan tubuh Paris lebih keras.

"Hmmm..." Akhirnya Paris bisa menjawab lalu membuka matanya perlahan.

"Sudah sampai di rumah. Ayo bangun. Tidak mungkin aku menggendongmu bukan?" kata Arga.

"Ya...," jawab Paris masih dengan suara yang serak. Lalu perlahan beranjak keluar dari mobil. Lalu berjalan dengan gontai. Asha menawarkan diri untuk membantu, tapi Paris menolak karena masih bisa melanjutkan berjalan sendiri. Arga menutup pintu, di susul Asha yang keluar dari mobil dan menutup pintu kemudian.

Arga berjalan memutar dan akhirnya sampai pada sisi mobil yang sama dengan tempat Asha berdiri. Mereka berdua masih memperhatikan Paris yang berjalan dengan tersendat-sendat dari belakang.

"Aku pergi masuk rumah dulu," pamit Asha.

"Besok aku keluar kota beberapa hari," Arga memberitahu yang langsung di sambut gembira oleh Asha dalam hati.

Ow... silahkan. Aku sangat bahagia mendengar berita ini.

"Mungkin hanya tiga hari," lanjut Arga masih membahas topik yang sama.

Lebih juga tidak apa-apa. Aku senang.

"Masuklah dulu," Arga mempersilahkan Asha masuk terlebih dahulu dengan menunjuk rumah dengan dagunya.

"Ya. Aku permisi dulu," pamit Asha membungkuk. Lalu berjalan masuk lewat pintu belakang.

***

Saat di suruh ke ruang tengah, mata Asha melihat ke kanan-kiri tapi orang yang di cari tidak ada. Tuan Muda mungkin benar-benar bertugas keluar kota hari ini. Asha lega karena dirinya benar-benar bebas. Di ruang tengah sudah ada Nyonya Wardah dan Paris.

"Sha, kamu ikut ke pasar. Nanti sore ada arisan ibu-ibu komplek rumah ini di sini," Ada tugas baru buat Asha yaitu kepasar.

"Paris ikut kepasar juga. Biar tahu juga bagaimana belanja di pasar tradisional. Tidak hanya tahu mall saja," kata Nyonya Wardah memberi titah.

Mungkin Nyonya Wardah ingin putrinya seperti beliau yang bisa memasak dan tetap menjadi ibu rumah tangga yang baik. Meskipun dari keluarga kaya tidak harus berleha-leha menyuruh pembantu melakukan pekerjaan seorang istri. "Supaya kalau sudah dewasa nanti bisa menjadi isteri yang merawat suaminya dengan baik. Tidak hanya bisa menjadi nyonya rumah tanpa tahu bagaimana merawat suami." Pagi hari sudah ada nasihat berat dari Nyonya Wardah.

"Aku kan masih kelas dua SMA, Bun... Terlalu jauh kalau harus memikirkan suamiiii...," kata Paris sambil garuk-garuk kepala gemes ingin marah. Kelihatan banget kalau Paris kesal harus membahas pernikahan.

"Semuanya harus di persiapkan sebelum waktunya Pariss.. Kamu yang sudah kelas dua SMA saja belum bisa memasak, menurut bunda sangat terlambat untuk belajar," Paris mengkerucutkan bibirnya sangat tidak suka topik pembicaraan pagi ini, "Bagaimana suamimu nanti...," inget Bunda. Paris tetap saja garuk-garuk rambutnya yang panjang sebahu, semakin membuat amburadul karena berkali-kali di garuk. Jadi awutan-awutan tak beraturan.

Asha yang ada di situ merasa kalimat Nyonya Wardah menohoknya. Sangat menusuk di hati, di jantung, dan di telinga. Asha merasa sedang di sindir. Di maki tapi tidak secara langsung. Padahal kalimat itu buat Paris seorang. Namun Asha patut tersindir. Dirinya yang sudah lulus SMA beberapa tahun yang lalu saja hanya ahli memasak mie instan, goreng tempe dan tahu. Tak lupa goreng telur.

Alis Asha terangkat mendengar nasihat dari Nyonya Wardah. Rasanya ingin mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menutup telinga. Menghindarkan gendang telinga menerima kalimat ini. Kalau bisa langsung berjalan ke belakang dengan cepat agar tidak mendengar nasihat barusan.

Ekor mata Nyonya melirik ke Asha yang sedang menunduk di sampingnya.

"Ehem...," Nyonya mendehem menyadari beliau sudah menyinggung orang lain. Lalu menepuk-nepuk rambutnya yang sudah di sisir rapi. Seperti salah tingkah.

"Ya... Asha. Saya sedang memarahi putri saya, lho...." kata Nyonya Wardah seperti meminta maaf. Asha cepat tanggap.

"Iya, nyonya," jawab Asha paham. Walaupun tadi terasa jleb di hati saat kalimat itu di ucapkan, dia tahu dan sadar bahwa dirinya memang seperti itu juga.

"Tapi... sepertinya kamu juga harus belajar, Sha," kata Nyonya Wardah yang langsung membuat Asha terhenyak kaget dan tanpa sadar matanya melebar dramatis. Kenapa jadi membahas dirinya juga. Paris yang tadinya mengkerucutkan bibir ikutan noleh juga. Lalu melihat Bundanya enggak paham .

"Maksudnya apaan, Bun?" tanya Paris. Asha juga menajamkan telinganya untuk mendengar kelanjutan kalimat Nyonyanya...

"Asha juga harus belajar memasak. Kamu kan juga perempuan. Setelah dewasa nanti.. eh, bukan. Sebentar lagi kalau sudah menikah kasihan suaminya kalau ndak bisa masak," Asha meringis dalam hati. Paris mengalihkan pandangan ke Asha yang berada di sebelah bundanya.

"Kak Asha juga harus belajar memasak seperti aku gitu, bun?" tanya Paris memastikan. Dia merasa mendapat kejutan.

"Iya. Dia kan tinggal di sini, jadi Bunda juga wajib kasih nasihat sama dia yang umurnya mungkin sudah memasuki masa menikah. Dia juga butuh bimbingan buat jadi istri yang baik dan sempurna bagi suaminya kelak.." jelas Nyonya Wardah sambil menatap ke Asha lembut seperti anak sendiri.

"Pffttt.." Paris tak kuasa lagi ingin tertawa. Asha melihat ke Nona Mudanya itu. Tawa Paris meledak bagai bom atom. Entah kenapa Paris sebahagia itu mendengar Asha harus belajar memasak juga. "Wah... bagus itu," Paris memainkan mata dan bibirnya sambil melihat Asha dengan raut wajah senang.

Menurut Asha, nona muda ya itu sedang mengejeknya. Paris tahu Asha itu paling kesel kalau suruh memasak. Dia lebih mirip sama Paris meskipun umurnya berbeda. Meskipun sudah lulus SMA dan sudah bekerja, Asha masih suka bermain seperti Paris.

"Kamu juga sering-seringlah latihan memasak sama Paris. Melihat kalian sering keluar  berdua saya yakin kalian juga bisa kalau latihan masak bareng," kata Nyonya Wardah.

Paris hanya menipiskan bibir, mendengarkan bundanya.

"Iya, Nyonya." Asha masih menunduk sambil menyatukan kedua tangannya. lalu melirik ke arah Paris. Nyonya Wardah menuju ke dapur. Di ikuti oleh mereka berdua.

"Sudah mau berangkat, Nyonya?" tanya Bik Sumi yang sudah siap berangkat di dapur.

"Tidak, Bi. Biar mereka berdua yang berangkat ke pasar," kata Nyonya Wardah membuat Bik Sumi khawatir. Lalu melihat Asha dan Paris. Di dalam pikiran Bik Sumi, bagaimana mereka berdua bisa belanja kepasar? Asha saja jarang ke pasar. Apalagi nona muda.

"Tidak saya saja Nyonya?" tawar Bik sumi dengan sopan. Bukan maksud membantah perintah. Nyonya Wardah paham Bik sumi takut mereka bingung di pasar nantinya.

"Tidak Bik Sumi. Paris itu perempuan yang harus tahu segala macam hal yang berkaitan dengan dapur. Karena nantinya dia akan jadi menantu dan istri seseorang. Dia harus belajar dari sekarang." Bik Sumi mengangguk setuju dengan tujuan mulia majikannya. Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak seorang perempuan memang punya kewajiban mendidik putrinya menjadi wanita sesungguhnya.

"Saya tidak mau nanti jadi malu kalau punya besan. Punya putri cantik kok ndak bisa masak. Apa kata keluarga besan, Bik.." kata Nyonya Wardah lagi.

"Bunda berlebihan deh. Usia menikahku masih jauhhh... Dan juga laki-laki yang jadi suamiku itu adalah orang baik. Jadi dia akan terima saja walaupun aku ndak bisa masak." kilah Paris. Bik Sumi tersenyum sendiri sama khayalan nona muda.

"Hush. Memangnya kalau laki-laki calon suamimu itu baik, kamu tidak akan kasih dia makan? Justru karena dia baik, kamunya harus semakin memberinya perhatian yang lebih. Bukan malah bersikap seperti kamu ini...," Nyonya memegang daun telinga Paris seperti menjewer dengan gemas. Paris lagi-lagi mengkerucutkan bibir.

"Ingat, Asha harus belajar masak juga." Bik Sumi melihat ke arah Asha dengan raut wajah penasaran. Mungkin bik Sumi berpikir kalau Asha pasti tertekan di suruh belajar memasak.

"Iya Nyonya."

"Biar semua perempuan di dalam rumah ini pintar memasak," ujar Nyonya Wardah bangga dan menggebu-gebu untuk menjadikan keinginannya terwujud, "Dan Paris, untuk permintaanmu yang itu ingin di kabulkan, ikuti perintah Bunda, Mengerti?" ancam Bunda sambil membeliakkan matanya.

"Iya bun...," jawab Paris melemah.

Kenapa tiba-tiba jadi siap lahir dan batin seperti itu.

"Kalian berdua harus kepasar pagi ini. Berdua. Hanya berdua. Tidak ada Bunda atau Bik Sumi. Belajar ke pasar. Ayo paris dan Asha bersiap." Paris yang tadi tidak semangat mengikuti anjuran Bundanya, sekarang seperti siap menerima pelajaran.

.

.

.

.

Terima kasih yang sudah vote, like, favorit dan memberi komentar pada cerita ini. Luv yuu...💋

1
Kusyanti Handayani
bner visualnya bener bener bikin baper meleyotttt
ainie lee
q kngen sma asha .bca lagi 😍
Diandra Kim
😍park seo joon oppa..syukaaaa
Gustein Arifin👑
cediiiiiihhhhh 😩😩😭😭😭
Dewi Purbowati
sudah ke 3 kalixa q baca Thor
Fadillah Ahmad
Nah, sekarang, ini sudah tidak relevan lagi kak, Sekarang berdasarkan berat badan.

Kalau minum air putih 8 gelas sehari, itu sama saja kekurangan Cairan. Kalau misalnya nih, kita haus, terus jatah minum air putih sudah 8 gelelas, terus gimana? sementara kita haus nih 😁

Jadi lebih baik Minum Air putih sesuai kebutuhan tubuh saja kak, jika haus minum. Udah gitu Saja sih 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ah, Seharusnya ksmu banting saja semua yang ada di dalam Ruangan itu Arga. Untuk meluapkan emosi. Biar istrimu itu tidak melewati batas. Apapun itu, itu nggk bisa di terima. Kalsu aku mah, sudah mengamuk itu. Aku nggk terima, istriku sama pria lain! enak aja dia! 🤬
Fadillah Ahmad
Iyalah, memang mau di harapkan apalagi? Menikah? Ya Nggk mungkin lah, di usia 17, 18 itu mengharapkan seperti itu. Nah Kalau Sudah 21 Tahun Keatas Baru, tidak masalah, mengharapkan Sebuah Pernikahan. Sah-sah saja itu mah, Asha. 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ini benar ini, Kadang, orang masih menyebut "Susu Kenat Manis" Sebagai Susu. Sesungguhnya, "Susu Kenatal Manis" itu di boleh di sebut "Susu" Karena lebih banyak gulanya, di bandingkan yang lainnya. Jadi tidak tepat, jika, "Susu Kental Manis" di sebut "Susu" itu tidak boleh.

Sekarang, hanya boleh di Sebut "Kental Manis" saja. Tantapa embel-embel kata "Susu" di dalamnya. ini benar nih. 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Nah Ini, "Perjalanan Bisnis" Asha sebagai Istri Arga, juga harus siap kapan saja, mendampingi Suaminya dalam perjalanan Bisnis. Baik itu Keluar Kota, ataupun Keluar Negri. Karna Asha adalah Istri CEO, jadi harus menemani Arga, melakukan Perjalanan Bisnis. 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Betul, padahal suaminya CEO dari Perusahaan Besar, tapi istrinya malah Suka yang murah. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Cerita Sederhana ini, yang bikin Kangen. 😁😁😁 Ke pasar tradisional, juga masuk dalam cerita 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Aduh Arga... Masa Sih, Seorang CEO Dari Hendarto Group, nggk bisa mencuci perabotan memasak? itu pekerjaan yang tidak sulit, jika di lalukan dari hati. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Kak, Adain dong Cerita Anaknya Arga ❤️ Asha kak 🙏🙏🙏 Aku kangen mereka kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Kau Harus berterima Kasih dengan Asha, Evam. Katena Asha... Mantan Pelayan Arga itulah, Arga bisa melupakan istrimu. Dan Akhirnya Arga mencintai Istrinya Asha. Ya ampun, kenapa ya... Rasanya berat sekali, ingin mengakhiri Novel ini? Bagi aku, Ceritanya sangat mendalam. Sangat mengena di hati. Aku merasa berada di dalam cerita ini. Seperti di tarik masuk. dan akhirnya, tenggelam dalam kisah ini. Semoga, novel ini Bisa di buatkan WebSeriesnya 🙏🙏🙏😁 Aamiin. Aku ingin melihat Arga ❤️ Asha, dalam betuk Visual. Semoga Pihak NovelToon, memilih cerita ini, untuk di jadikan WebSeries 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Cie, sekarang, Asha sudah Menjadi Nyonya Arga Hendarto tuh, dan Sudah hamil pula... Hah, yah meskipun penuh lika-liku. Mengingat Kanu adalah Pelayan dulunya. Meskipun mendapatkan Cemo'ohan daei tentangga, di karenakan kamu yang dulu hanya seorang pelayan. Dan Berubah Setatus Menjadi Nyonya Arga Hendarto. Mungkin mereka kepo kali ya? dengan dongeng Cinderella. Seorang Pelayan, bisa menjadi istri majikannya. 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Kak, Apakah Cerita Anaknya Asha dan Arga tidak ada kah kak? Rasanya, aku nggk rela menamatkan cerita ini dengan cepat 😭😭😭 Terlalu berkesan.
Maria Magdalena: ada judulnya CEO MAGANG
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Ceritanya Sederhana, tapi Berkesan. Menancap di hati Pembaca. Konfliknya juga tidak berat. bukan soal poligami juga. Coxok untuk rileks dari kerasnya hidup. 😁
Fadillah Ahmad
Itulah, Sudah dari Zaman nenek moyang, perkataan itu ada, Wanita itu harus bisa memasak, meskipun Wanita itu bekerja. Tetap harus bisa memasak, untuk anak dan susmi sendiri. Ini pelajaran ni. 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Bapak ini gimana sih? emang kalu ingin pamit sama istri sendiri haru pengantin Baru aja? emang kslsu pengantin lama, nggk boleh apa, pamit sama iatri sendiri? Aneh nih Bapak. 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!