Zira Aqilla gadis yang berusia 23 tahun. Apakah sudah mencapai kesuksesan untuk seorang Zira. Tinggal di Ibu Kota tanpa didampingi orangtuanya harus mencoba peruntungannya bekerja sana-sani membuka usaha kecil-kecilan, demi mewujudkan impiannya menjadi wanita karir.
Hidupnya berubah ketika di ujung mencapai kesuksesan mungkin final dari kerja kerasnya selama ini. Tetapi Zira harus menelan pil pahit, memiliki sahabat yang dekat dan membagi kasih sayang belum tentu mengantarkannya ketitik sukses, malah menjerumuskanya kedalam masalah yang besar, demi menutupi sebuah kesalahan yang mengantarkan Zira ketitik kehancuran.
Bertemu dengan CEO perusahaan terbesar di Asia, Addrian Admaja Wijaya, pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata berkulit putih, tinggi ideal, wajah yang begitu arogan dan berkarismatik bersikap dingin, Bertemu dengan Zira karena sebuah kesalahan.
Bagaimana, Zira harus menghadapi masalah yang timbul tanpa di ketahui sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 KEMARAHAN ADDRIAN
Zira pun memutuskan untuk keruangan Addrian, Zira mengetuk pintu, tetapi tidak ada respon sama sekali, Zira pun pelan-pelan membuka pintu, kepala wanita itu masuk melihat sekeliling ruangan kosong dan, akhirnya Zira pun memutuskan masuk keruangan itu,dan menutup pintu kembali.
" Addrian, Addrian, Addrian." Panggil Zira matanya terus mencari disekelilingnya tidak menemukan sosok yang ingin ditemui.
Mata wanita itu menoleh kebawah melihat di atas lantai berserakan lembaran kertas. Ada rasa aneh dalam dirinya karena Addrian adalah orang yang rapi, melihat ruangan Addrian yang begitu berantakan, Zira sudah bisa menebak pasti Addrian sedang stress masalah pekerjaannya.
Zira menyentuhkan kedua lututnya kelantai yang dingin mengambil lembaran kertas yang berserakan, menyatukanya menjadi satu seakan ingin membereskannya, ditengah pekerjaannya, Zira melihat kaki yang berdiri dihadapannya.
Zira mendongak kepalanya keatas melihat sang pemilik tubuh, Zira melihat Addrian yang sangat kacau, bahkan pakaianya bukan seperti seorang CEO, seluruh kancing kemeja yang Addrian pakai sudah terbuka dan menampilkan bidang dadanya yang ideal. disebelah tangan kanan Addrian memegang gelas yang berisi anggur.
Zira pun berdiri dan berhadapan dengan Addrian, mata wanita itu mengarah ketangan yang memegang anggur, Zira pasti sudah tau jika pria yang pasti habis minum karena steress masalah pekerjaannya.
Wanita itu sedikit bergeser dari Addrian jarinya seakan menutup hidungnya karena tidak tahan mencium aroma alkohol, Entah berapa gelas Addrian sudah minum dari botol yang terletak di atas meja yang tinggal separuh, pasti kondisi Addrian sudah mabuk.
" Ngapain kamu kemari." Ucap Addrian dengan suara serak
" Hmmm, aku cuma mau antar ini." Zira menyodorkan map berwarna merah pada Addrian.
Addrian mendekati Zira, karena Zira merasa bau tubuh Addrian di penuhi alkohol, Zira kembali mundur. Addrian menarik kasar map itu lalu melemparnya kesembarang tempat, dari exsperesi sangat jelas Zira mulai cemas dengan pria yang ada dihadapanya.
" Kayaknya aku ganggu kamu, kalau gitu aku permisi" Ucap Zira memilih pergi karena melihat Addrian yang tidak beres. Mata pria itu bahkan memerah, Zira membalikkan tubuhnya melangkahkan kakinya, baru satu langkah Addrian menarik pinggang Zira dengan tangan kirinya kedalam dekapannya.
Zira mulai panik, melihat perubahan sikap Addrian, aroma alkohol yang menusuk hatinya semakin kuat, bahkan wanita itu ingin menahan napasnya karena tidak sanggup mencium aroma jahat itu.
" Addrian lepasin," Zira mendorong bidang dada Addrian, tetapi Addrian begitu kuat sehingga tidak bergeser sedikitpun, malah mendekatkan wajahnya ke wanita itu.
" Kamu, mau kemana, kamu gak ingin minum dulu." Suara serak itu terdengar.
" Ayo minum bersama ku." Addrian menyodorkan minuman yang dipegangnya ke mulut Zira, Zira menutup mulutnya rapat, menggeserkan wajahnya dari minuman itu.
" Aku, gak bisa minum, lepasin aku Addrian."
" Munafik, munafik munafik, jangan munafik dihadapanku." Sinis Addrian begitu marah terhadap wanita yang dihadapanya yang berusaha menahan napasnya.
Zira, tau Addrian pasti sudah mabuk, sampai perkataanya mulai tidak beres.
" Addrian, lepasin aku, kamu mabuk Addrian." Zira terus memberontak saat Addrian kembali ingin memberinya minuman beralkohol itu.
" Terus kenapa kalau aku mabuk, bukankah itu memang bagus, jadi kamu bisa leluasa melakukan apapun sesukamu."
" Addrian, kamu lagi mabuk, kamu gak sadar apa yang kamu lakukan, jadi sebaiknya kamu lepasin aku." Ucap Zira berusaha tenang menghadapi Addrian yang dipenuhi alkohol.
" Cih.. ha ha ha." Addrian malah terkekeh mendengar ucapan Zira, dia semakin merapatkan tubuh Zira kedalam dekapannya sampai jarak wajah diantara keduanya hanya 5cm saja.
" Aku sadar Zira, aku selalu sadar, aku tidak pernah tidak sadar, aku sadar atas apa yang aku lakukan terhadap mu, sudah jangan sok polos dihadapanku aku muak melihatnya, ayolah minum, kita minum sama-sama." Addrian terus berusaha menyodorkan minuman kemulut Zira, dengan memaksanya Zira terus menghindar memberontak.
Zira menepiskan gelas yang hampir masuk kemulutnya. Parrrrrrrrr........
gelas itu jatuh kelantai dan pecah. Zira mendorong bidang dada Addrian dengan mengeluarkan semua tenaganya dan berhasil lolos dari dekapan Addrian.
Kepala Addrian menoleh kebawah melihat gelas yang berisi anggur itu pecah dan berserakan di lantai membuat Addrian kesal.
" Aku sudah bilang tidak mau, berarti tidak mau, kamu terus memaksaku, kalau kamu mau minum sampai mabuk, terserah, kamu jangan paksa orang lain untuk menemanimu." Bentak Zira meluapkan semua yang ingin dikatakannya. Zira pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
" Munafik." Desis Addrian, berlari kearah pintu menghalangi Zira, Addrian dengan sigap langsung mengunci pintu tersebut.
" Apa, yang kamu lakukan Addrian, buka nggak." Zira semakin panik melihat Addrian yang otaknya mulai tidak waras. Addrian tidak mempedulikan omongan Zira, Addrian berjalan kearah jendela dan melempar kunci keluar jendela.
" Addrian." Teriak Zira, dengan suaranya yang menggelegar.
" Kamu gila, ya, apa yang kamu lakukan ha."
" Kamu gak akan bisa kemana-mana." Ucap Addrian senyum kemenangan. Tiba-Tiba ponsel Zira berbunyi, Zira mengambil ponselnya dari tasnya, baru ingin mengangkat kontak panggilan yang masuk Addrian langsung merampasnya kasar.
" Addrian, kembalikan, jangan aneh-aneh kamu, balikin nggak." Suara wanita itu sudah mulai tertekan seakan menghadapi pria gila.
" Gak, akan." Addrian melihat kontak yang masuk dan langsung mematikannya.
" Addrian kamu." Wanita itu semakin marah
" Kok, dimatikan." Tanya Saski mulai bingung yang mencoba menghubungi Zira karena sudah menunggu di parkiran Perusahaan.
" Aneh, banget telpon lagi lah." Saski mencoba menghubungi sahabatnya itu lagi.
Ponsel Zira masih di tangan Addrian dan masih berdering.
" Sini, gak Addrian, sini." Zir berusaha mengambilnya dari Addrian tetapi Addrian malah menghempaskan ponsel Zira dengan keras sampai pecah dan suara bunyi itu tidak terdengar lagi. Sepertinya memang Addrian begitu marah terhadap Zira.
" Addrian, Kurang ajar kamu." Teriak Zira, berusaha kembali mengambil ponselnya yang sudah pecah di lantai berharap kalau masih bisa hidup.
" Kamu itu kelewatan ya, Addrian, otak kamu itu taro mana. Ha." Umpat Zira mendongakkan kepalanya keatas melihat pria iblis yang berdiri tegap seakan tidak berdosa
" Kenapa Ha, kamu bisa apa." Addrian menarik kasar Zira, karena tidak terima dengan penghinaan Zira, dan menghempit tubuh wanita itu ke tembok.
" Lepasin aku, sakit." Ucap Zira dengan suara tertekan, geram melihat perlakuan Addrian yang semakin tidak terkontrol mungkin efek dari minumanya.
" Tidak, aku tidak akan melepaskan mu kamu sendiri yang datang kemari, kenapa apa kamu tidak puas bersamanya sampai harus mencari pria lagi, ha." Addrian semakin menghimpit tubuh wanita itu ketembok seperti ingin menerkam.
" Apa, maksud kamu." Tanya Zira, matanya sudah mulai berkaca-kaca disertai ketakutan karena melihat perubahan sikap Addrian yang seperti akan kelaparan.
" Aku sudah mengatakan jangan sok polos dihadapan ku, jangan munafik aku sangat membenci wanita yang sok suci seperti mu. Kamu sengajakan bersikap sok suci dihadapan banyak pria, biar apa ha, biar mereka tertarik."
" Tutup mulut mu." Sinis Zira tidak sadar butir air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya meneteskan juga.
" Hmmmmmm.... air mata, ini menjadi andalan mu, aku sangat jijik melihat air mata ini." Addrian menghapus air mata Zira.
" Addrian."
" Kenapa, apa yang aku katakan salah, kamu selalu sok jual mahal, trikmu untuk membuat pria tergoda untuk menikmati tubuhmu, cihh berpenampilan selalu terbuka."
" Kamu sadar gak, kenapa orang ingin memperkosamu, ha, karena secara tidak langsung kamu yang menawarkan diri dengan caramu yang sangat menjijikkan itu." Teriak Addrian.
Perkataan tajam Addrian sungguh menusuk hati Zira, air matanya terus mengalir dengan semua penghinaan Addrian yang sangat keterlaluan.
" Kuakui Zira tubuhmu memang sangat menggoda, jadi jangan marah atau merasa tersakiti jika kamu berhasil menggoda orang. Ohhhhhhh.... aku tau kamu pasti sengaja datang kesini. Karena kamu tidak dapat sentuhan dari pria itu kan." Ucap Addrian seakan mengeluarkan semua yang bisa menyakiti hati Zira.
" Oh... atau jangan-jangan sudah, tapi kurang puas, baiklah Zira, biar aku yang melakukanya, aku akan membuat puas supaya kamu tidak mencoba merayu pacarmu itu untuk memenuhi keinginanmu." Tegas Addrian ingin menerkam Zira.