NovelToon NovelToon
Pusaka Penebar Petaka

Pusaka Penebar Petaka

Status: tamat
Genre:Petualangan / Kutukan / Pusaka Ajaib / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Keris Mpu Gandring menghilang usai berhasil menggenapi tujuh korban sesuai kutukan sang pembuat saat Ken Arok membunuhnya.

18 tahun setelah Pusaka Penebar Petaka itu menghilang, seorang pendekar muda yang baru turun gunung menggegerkan dunia persilatan dengan memegang Pusaka Penebar Petaka itu di tangan nya.

Siapakah dia? Apa hubungannya dengan bayangan hitam yang mencabut keris pusaka itu di tubuh sang korban terakhir saat Seminingrat menghabisi nyawa Apanji Tohjaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyerbu Markas Kelompok Kelabang Ireng

"Kenapa hamba harus ikut Gusti Adipati? Bukankah ini masalah dalam negeri Kadipaten Kurawan?", tanya Arya Pethak yang merasa tidak perlu lagi ikut campur dalam persoalan ini.

"Kau juga terlibat, Arya Pethak.

Kematian Soca Birawa itu karena kau. Aku yakin bahwa permasalahan ini tidak akan selesai jika kita tidak menyerbu markas Kelompok Kelabang Ireng di Kurawan.

Setelah ini berakhir kau bisa pulang ke Kadiri dengan membawa balasan dari ku untuk Patih Pranaraja", jawab Adipati Lembu Panoleh sambil tersenyum penuh kemenangan.

Arya Pethak pun hanya menghela nafas panjang karena mau tidak mau, suka tidak suka harus menyelesaikan ini sebelum kembali ke Kadiri.

Hari itu Senopati Kurawan Dandang Mangore menyiapkan ratusan prajurit pilihan untuk persiapan penyerbuan markas Kelompok Kelabang Ireng di lereng Gunung Lawu.

Arya Pethak dan kawan-kawan nya pun menyiapkan diri sebaik mungkin untuk mengikuti langkah para prajurit Kurawan sesuai dengan perintah Adipati Lembu Panoleh. Penguasa Kadipaten Kurawan itu bahkan memberikan lencana khusus untuk mereka, agar para prajurit yang ikut penyerbuan menghormati mereka sebagai utusan istimewa Adipati Lembu Panoleh.

Hari segera berganti. Matahari sudah sepenggal naik di langit timur. Pasar besar Kadipaten Kurawan pun sudah ramai lalu lalang para pedagang dan pembeli yang memadati jalan raya itu.

Di alun alun Kurawan, 500 prajurit pilihan disiapkan oleh Senopati Dandang Mangore yang akan menemaninya dalam tugas menghancurkan markas Kelompok Kelabang Ireng.

Arya Pethak pun bersiap untuk mengikuti langkah para prajurit Kurawan. Kini di punggungnya Pedang Setan terikat dengan rapi. Itu atas usulan Paramita yang mengatakan bahwa Arya Pethak perlu sebuah senjata yang ampuh agar dia tidak perlu sering sering mengeluarkan Keris Mpu Gandring dari tubuhnya. Karena bagaimanapun pusaka penebar petaka itu adalah incaran semua tokoh persilatan baik dari golongan hitam maupun putih.

"Kau sudah siap, Pethak?", tanya Senopati Dandang Mangore yang baru saja memeriksa keadaan para prajurit Kurawan yang mengikuti nya. Senopati muda itu sama sekali tidak meremehkan kemampuan kanuragan Arya Pethak karena dia tahu Arya Pethak mampu menghabisi nyawa Soca Birawa yang merupakan salah satu tokoh besar dunia persilatan yang cukup di takuti. Pedang Setan di punggung pemuda itu adalah bukti Arya Pethak mengalahkan Soca Birawa.

"Hamba sudah siap Gusti Senopati, kapan kita berangkat?", Arya Pethak menatap ke arah Senopati Dandang Mangore.

"Tinggal menunggu mu. Kalau kau sudah siap, kita berangkat sekarang", jawab Senopati Dandang Mangore sambil tersenyum tipis.

Arya Pethak segera melompat ke atas kuda nya diikuti Gajah Wiru, Sekarwangi, Paramita dan Klungsur yang tak mau ketinggalan.

Para prajurit Kurawan langsung menggebrak kuda tunggangan mereka meninggalkan alun alun istana Kadipaten Kurawan. Mereka menuju ke arah barat daya, tempat yang dipastikan menjadi markas Kelompok Kelabang Ireng sesuai berita dari telik sandi. Debu beterbangan mengiringi perjalanan mereka.

Usai melewati beberapa desa di barat kota Kadipaten, pasukan Kurawan yang dipimpin oleh Senopati Dandang Mangore terus melaju ke arah barat daya.

Saat memasuki desa kecil terakhir di lereng Gunung Lawu, seorang lelaki bertubuh kurus dengan kumis tipis dan janggut lebat menghadang laju pergerakan prajurit Kurawan.

Dia adalah Bantala, telik sandi yang di tugaskan Adipati Lembu Panoleh untuk mengawasi pergerakan para anggota Kelompok Kelabang Ireng yang sudah lama menjadi buronan pemerintah pusat di Singhasari.

"Kau hapal jalannya Bantala?", tanya Senopati Dandang Mangore yang berdiri di depan nya.

"Hamba selalu ingat Gusti Senopati", jawab Bantala segera.

Senopati Dandang Mangore segera menoleh ke arah salah seorang Bekel Prajurit yang ada di dekat nya. Satu isyarat dari Senopati Kurawan itu membuat sang bekel segera menyerahkan kuda tunggangan nya pada Bantala. Dia sendiri berkuda bersama seorang prajurit bawahannya.

Bantala segera memacu kudanya menuju ke arah markas Kelompok Kelabang Ireng. Jalanan mulai menyempit sehingga mereka hanya bisa pelan pelan berkuda, itu pun hanya bisa untuk dua orang penunggang kuda.

Menjelang tengah hari, Bantala menghentikan langkah kuda nya. Karena di depan ada sungai kecil yang menjadi batas akhir mereka bisa berkuda. Dia menghentikan langkah kudanya kurang lebih 20 tombak dari sungai ular.

"Kenapa berhenti Bantala? Apakah kita sudah sampai?", tanya Senopati Dandang Mangore pada Bantala yang baru saja melompat turun dari kudanya.

"Mohon ampun Gusti Senopati,

Di depan ada sebuah sungai kecil yang bernama Sungai Ular. Di balik tebing sungai kecil itu, markas Kelompok Kelabang Ireng berdiri.

Kita harus berhati-hati Gusti Senopati, karena sungai Ular penuh dengan ular berbisa", jawab Bantala segera.

Senopati Dandang Mangore mengangguk mengerti dan segera memerintahkan kepada para prajurit Kurawan untuk bersiap siap.

Mereka bergerak cepat menuju ke arah markas Kelompok Kelabang Ireng mengikuti langkah Bantala.

Sementara itu di dalam markas Kelompok Kelabang Ireng, Ronggo Geni dan beberapa orang dari Padepokan Alas Peteng sedang berbincang tentang kekalahan yang menimpa diri Soca Birawa dan anak murid nya.

"Soca Birawa terlalu gegabah dalam bertindak, Srengganapati..

Sudah tahu Kebo Gunung saja mati di tangan orang itu, dia masih saja tidak mengindahkan peringatan ku", ujar Ronggo Geni sambil mengelus jenggotnya yang berwarna merah.

"Sesepuh benar..

Andai saja waktu itu dia mau memanggil ku untuk sama-sama menyerbu Katumenggungan pasti hasilnya akan lain", jawab Srengganapati sambil menyesali tindakan Soca Birawa yang gegabah.

"Dia terlalu percaya diri, Srengganapati..

Ini juga akan menjadi petaka bagi kita semua. Adipati Lembu Panoleh pasti akan mengirim pasukan Kurawan untuk memburu kita. Aku tidak takut pada mereka, hanya Dandang Mangore saja yang menjadi beban pikiran ku jika sampai mereka menyerbu kemari", Ronggo Geni mengelus jenggotnya lagi.

Saat mereka tengah asyik berbincang di serambi kediaman Ronggo Geni, seorang penjaga gerbang markas berlari tergopoh-gopoh ke arah Srengganapati dan Ronggo Geni.

"Katiwasan pemimpin..

Ratusan prajurit Kurawan mengepung tempat ini", ujar si penjaga gerbang dengan cepat.

Ronggo Geni dan Srengganapati terkejut bukan main. Baru saja mereka membicarakan tentang kemungkinan para prajurit Kurawan mendatangi markas besar mereka namun ternyata justru mereka lebih cepat dari perkiraan.

Dua orang tua itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar menuju ke arah pintu gerbang markas Kelompok Kelabang Ireng bersama sama.

Dan benar saja, saat mereka melompat ke atas pagar kayu gelondongan yang menjadi benteng pertahanan markas Kelompok Kelabang Ireng, Ronggo Geni dan Srengganapati melihat ratusan prajurit Kurawan bergerak menuju ke arah tempat itu. Mereka melihat Senopati Dandang Mangore yang memimpin langsung para prajurit Kurawan.

"Huhhhhh...

Keparat Lembu Panoleh! Dia sepertinya tahu bahwa kekuatan Kelompok Kelabang Ireng di sini tengah melemah hingga berani mengutus Dandang Mangore bertindak.

Kau!

Bunyikan kentongan tanda bahaya. Kita sambut pasukan Kurawan dengan senjata terhunus. Mereka sendiri yang mencari mati", teriak Ronggo Geni yang membuat seorang anak buah nya memukul kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya.

Para anggota Kelompok Kelabang Ireng yang berjumlah sekitar 300 orang mendengar kentongan bertalu-talu langsung meraih senjata mereka masing-masing dan berlari menuju ke arah pintu gerbang markas.

Suasana di tengah hari itu terasa panas apalagi pertarungan antara mereka akan segera terjadi.

"Dandang Mangore!

Berapa banyak nyawa mu hingga berani menyerbu kemari ha? Apa kau sudah bosan hidup?", teriak Ronggo Geni saat Senopati Dandang Mangore terlihat semakin dekat. Lelaki tua berambut merah menyala itu mendelik tajam ke arah Senopati andalan Kurawan itu dari atas benteng pertahanannya.

"Nyawaku hanya satu, Ronggo Geni..

Tapi ini saja sudah cukup untuk melenyapkan pengacau keamanan seperti mu!", balas Senopati Dandang Mangore tak kalah sengit.

Phuihhhh..

"Sombong sekali kau, Dandang Mangore!

Selepas ini jangan sesali kebodohan mu karena berani mengganggu markas Kelompok Kelabang Ireng.

Dan kau bocah tengik,

Hari ini aku akan cabut nyawamu untuk menemani Kebo Gunung di neraka!", tunjuk Ronggo Geni pada Arya Pethak yang ada di belakang Senopati Dandang Mangore. Rupanya Ronggo Geni mengenali Pedang Setan di punggung Arya Pethak.

Ronggo Geni segera menoleh ke arah para anggota Kelompok Kelabang Ireng yang berlindung di balik pintu gerbang markas.

"Buka pintu gerbang!

Bunuh para prajurit Kurawan!!", usai berkata demikian Ronggo Geni melesat turun ke arah Senopati Dandang Mangore. Srengganapati langsung mengikuti langkah pemimpin markas Kelompok Kelabang Ireng itu segera.

Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!

Pintu gerbang benteng pertahanan itu terbuka dan ratusan orang anak buah Kelompok Kelabang Ireng bergerak maju ke arah para prajurit Kurawan.

Pertarungan sengit antara mereka segera dimulai.

Ronggo Geni melesat cepat kearah Senopati Dandang Mangore seraya mengayunkan tangan kanannya yang di lapisi tenaga dalam tingkat tinggi.

Angin kencang berhawa panas menyertai gerakan sesepuh Kelompok Kelabang Ireng itu.

Whuuussshh..

Senopati Dandang Mangore berkelit ke samping menghindari hantaman tangan Ronggo Geni. Senopati andalan Kurawan itu merubah gerakan tubuhnya dan menyapu kaki Ronggo Geni yang membuat kakek tua berambut merah itu melompat ke atas.

Melihat lawan bisa menghindar, Senopati Dandang Mangore langsung melompat sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah lawan.

Ronggo Geni menyambut serangan itu dengan tapak tangan kanannya.

Blllaaammmmmmmm!!

Baik Ronggo Geni maupun Senopati Dandang Mangore sama sama terdorong mundur sejauh 2 tombak ke belakang. Sepertinya mereka berimbang dalam hal tenaga dalam nya.

"Tak sia-sia kau di sebut jagoan andalan Kadipaten Kurawan, Dandang Mangore.

Kau rupanya berisi juga", ujar Ronggo Geni sambil menyeringai lebar.

"Jangan banyak bicara!

Majulah Ronggo Geni. Akan aku ladeni kemauan mu untuk adu ilmu kanuragan", jawab Senopati Dandang Mangore yang sudah bersiap menyambut serangan lawan.

"Baik kalau itu mau mu. Akan ku buat ini menjadi lebih cepat dari biasanya", Ronggo Geni segera melesat ke arah Senopati Dandang Mangore. Keduanya bertarung dengan sungguh sungguh.

Di sisi lain, Srengganapati langsung mengayunkan senjata nya berbentuk cakar panjang pada Arya Pethak yang baru saja melompat turun dari kudanya.

Shrraaaakkkkhhhh..

Arya Pethak segera melompat tinggi sambil bersalto di udara. Dengan cepat dia mencabut Pedang Setan di punggung nya dan meluncur turun sembari membabatkan Pedang Setan kearah Srengganapati dengan bertubi-tubi.

Thhhrriinnngggggg thriiiinnngggggg tringgg!!

Srengganapati langsung menangkis sabetan pedang Arya Pethak dengan kedua senjata cakar serigala nya. Lalu melompat mundur beberapa langkah.

Srengganapati yang memiliki wajah berbulu lebat dan hidung sedikit mendongak ke atas mirip wajah serigala mendengus keras lalu melompat ke arah Arya Pethak sambil mengayunkan cakar panjang nya.

Whuuuuuttt..

Angin dingin setipis pedang merangsek cepat kearah Arya Pethak. Putra angkat Mpu Prawira itu langsung menebaskan Pedang Setan memotong angin tajam yang menderu.

Thhraaaangggggggg...

Bllarrrrrrr!!!

Angin tajam terputus saat Pedang Setan memotong nya namun sisa angin masih menerabas ke arah lengan kiri Arya Pethak.

Shhhrreeeetttthhhh..

Baju di lengan kiri atas Arya Pethak terkoyak 3 bagian dan menciptakan luka meskipun tidak dalam tapi cukup mengeluarkan darah.

Srengganapati langsung menyeringai lebar melihat itu.

"Sebentar lagi bukan hanya bajumu yang tercabik, tapi kepala mu yang aku penggal", ujar Srengganapati dengan jumawa.

"Buktikan ucapan mu, muka serigala!

Jangan hanya besar mulut", jawab Arya Pethak usai menotok jalan darah nya agar darah nya berhenti mengalir.

"Kurang ajar!

Mentang-mentang kau bisa membunuh Soca Birawa lantas sombong di hadapan ku. Kau hanya beruntung bocah tengik!", usai bicara demikian, Srengganapati langsung melesat ke kembali ke arah Arya Pethak sembari mengayunkan kedua cakar serigala nya kearah Arya Pethak.

Enam larik angin tajam bersilangan menerabas cepat kearah Arya Pethak. Namu kali ini pemuda itu telah merapal mantra Ajian Lembu Sekilan.

Arya Pethak menggunakan Ajian Langkah Dewa Angin nya langsung melesat menghadang angin tajam dari Srengganapati.

Whhhuuuuuttttthhhh..

Blllaaammmmmmmm!!

Ledakan keras terdengar. Srengganapati tersenyum girang melihat serangan nya telak menghantam Arya Pethak namun sekejap mata kemudian dia terkejut bukan main melihat Arya Pethak melesat cepat kearah nya sambil menebaskan Pedang Setan.

Shreeeeettttthhh..

Sesepuh Padepokan Alas Peteng itu menyilangkan kedua cakar serigala nya ke depan dada untuk menahan sabetan Pedang Setan.

Blllaaammmmmmmm!!!

Srengganapati langsung terpental ke belakang sejauh 2 tombak. Tubuh pria bermuka serigala itu menghantam tanah dengan keras. Darah kehitaman muncrat keluar dari mulutnya.

Dengan susah payah dia mencoba untuk berdiri tegak. Matanya menatap Arya Pethak dengan penuh kebencian dan nafsu membunuh tercermin disana.

Tanpa banyak basa-basi, Arya Pethak kembali melesat cepat kearah Srengganapati dengan Ajian Langkah Dewa Angin. Satu tebasan Pedang Setan mengarah ke leher Srengganapati. Sesepuh Padepokan Alas Peteng berusaha menghindari tebasan Arya Pethak dengan merobohkan tubuh nya ke kanan. Namun dia terlambat beberapa saat.

Chrraaasssshhh..

Aaaarrrgggggghhhhh!!

Tangan kiri Srengganapati yang terangkat langsung terpotong oleh tebasan Pedang Setan dari Arya Pethak. Srengganapati menjerit keras dan berguling ke tanah menjauhi Arya Pethak. Darah segar mengalir keluar dari luka di tangan kirinya yang buntung.

Dengan cepat Srengganapati menotok jalan darah nya hingga darah segar berhenti mengalir.

"Bajingan!

Ku cincang tubuh mu bangsat!", maki Srengganapati sambil melesat cepat kearah Arya Pethak yang dengan cepat berkelit menghindari sabetan cakar serigala Srengganapati.

Satu gerakan cepat Pedang Setan menusuk perut Srengganapati dengan keras.

Jleeeeppppph..

Ooouuugggghhhhh!

Srengganapati meraung keras saat Pedang Setan menembus perut nya. Matanya melotot lebar sesaat sebelum tersungkur ke tanah. Dia tewas bersimbah darah.

Pertarungan sengit antara pasukan Kurawan dan anggota Kelompok Kelabang Ireng terus terjadi. Satu persatu mayat mulai bergelimpangan di tempat itu. Genangan darah segar dan bau anyir memenuhi markas Kelompok Kelabang Ireng.

Arya Pethak langsung melesat ke arah pertarungan sengit antara Ronggo Geni dan Senopati Dandang Mangore sambil menebaskan Pedang Setan kearah Ronggo Geni yang baru menghindari serangan Senopati Dandang Mangore.

Whuuuugggggggh..

Angin dingin berbau busuk dari Pedang Setan berdesir kencang kearah Ronggo Geni membuat Sesepuh Kelompok Kelabang Ireng itu harus menjatuhkan tubuhnya dan berguling ke tanah untuk menghindarinya.

Usai berdiri Ronggo Geni menatap tajam ke arah Arya Pethak yang ikut campur dalam pertarungannya dengan Senopati Dandang Mangore.

"Bocah tengik!

Kau berani menyerang ku dari belakang? Pendekar macam apa kau ha?", hardik Ronggo Geni segera. Mulut nya mendesis desis tanda kemarahan nya memuncak.

"Aku hanya bocah tengik. Namamu Ronggo Geni bukan?", ujar Arya Pethak dengan cepat.

"Namamu sama dengan orang yang ku habisi tempo hari. Dan itu artinya..

Kau pun akan bernasib sama".

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yang masih setia dengan Arya Pethak mana suaranya? 😁😁😁😁

Selamat membaca 🙏😁😁🙏

1
Da Kurnianto
Bagus sekali
Agen One: Mampir yok, judulnya Iblis penyerap darah, Mc psikopat+gila
total 1 replies
Aifa 2 Jeddah
😁😁😁 pendekar penakut
Aifa 2 Jeddah
sang jagoan selalu tebar pesona
Aifa 2 Jeddah
lanjut thor
Aifa 2 Jeddah
mantap,lanjut.....
4L1
Luar biasa
Herman Ahmad
lha dendam ke kumaradewa gmana nih..
Rafly Rafly
Paramitha dan anak bupati itu kok sekalian jadi istri Ar ya pethak
Rafly Rafly
satu minta syarat... satunya punya syarat.. wkwkwk
Rafly Rafly
kabupaten NGROWO ikut di sebutkan juga.... Tulungagung ku/Tongue/
Service dinamo Pak Endro
ilmu lembu sekilan nggak digunakan dulu malah menggunakan keris mpu gandring .katanya rahasia kok dipamerkan
lulang kebo landoh .kan jaman islam kebonya saridin /seh jangkung dari desa landoh .masih jauh masanya bro
mau crita seru tapi bikin ngelu
Nggenk Topan
josssss thor
Nggenk Topan
mpu Wikarto bercanda hidup lagi deh 🤣🤣
Nggenk Topan
lepaskan lebah arya pethak
Nggenk Topan
wide... boooo abohhhh tak pes kempes 😀
Nggenk Topan
wah gatottttt raden margawati kaciaaannn deh
Nggenk Topan
lucu lucu saat lebah" mengejar resi Sunyaluri akibat keusilan resi bagaspati 😂😂
Nggenk Topan
Luar biasa
Faiza Alya
kalau bisa jangan pake bahasa Sunda yang belepotan
Nunung Setiawan
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!