Syafia, gadis yang baru lulus SMA diharuskan menikah dengan anak majikan ayahnya meskipun sebenarnya ia sudah memiliki seorang kekasih. Tapi demi bakti kepada kedua orangtuanya, Argha Pratama yang merupakan seorang pengusaha muda yang mapan berusaha untuk meyakinkan sang gadis bahwa mereka bisa menjalani pernikahan dengan baik dan bahagia suatu hari nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fasya Al Hafizh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
" Apa yang diminta Mama...?" tanya Syafia penasaran.
" Mmmm... Mama pengen kita tidak menunda untuk punya anak..." ucap Argha sedikit berharap Syafia tidak menolak.
" Mas Argha pasti bohong, katanya Fia boleh kuliah..."
" Hubungannya apa kuliah sama anak...?"
" Aku belum siap untuk punya anak, aku ingin fokus pada kuliahku terlebih dahulu..." tegas Syafia.
Sungguh menyakitkan semua ini bagi Argha, dia tidak menyangka Syafia akan mengucapkan semua itu.
" Baiklah jika itu bisa membuatmu bahagia, aku hargai keputusanmu..."
Argha segera beranjak dari kamar Syafia dan kembali ke kamarnya sendiri.
" Mas_..."
" Aku capek mau istirahat...!"
Argha merebahkan tubuhnya di tempat tidur, namun sulit untuk memejamkan matanya. Ucapan Syafia masih terngiang di benak Argha dan itu sangat menyakitkan.
" Apa aku harus membatalkan pernikahan ini...?" batin Argha.
Karena tak bisa tidur, Argha kembali membuka laptopnya dan fokus pada file - file yang ada di hadapannya. Argha melupakan sejenak sakit hatinya dengan setumpuk berkas di mejanya. Tak terasa adzan shubuh telah berkumandang sehingga membuat Argha tersentak kaget.
" Astaghfirullah, sudah pagi ternyata..." gumam Argha.
Argha segera mandi lalu sholat shubuh di kamarnya. Setelah itu dia membereskan semua berkas dan laptopnya untuk dibawa ke kantor. Jam enam pagi, Argha meninggalkan rumah setelah berpamitan kepada Mamanya yang sedang membuat sarapan bersama Syafia di dapur.
" Ma, Argha berangkat ya...?" pamit Argha.
" Inikan masih pagi Ar...? Kamu nggak sarapan dulu...?"
" Nanti aja di kantor Ma, ada berkas di kantor yang ketinggalan belum diselesaikan. Nanti siang mau dipakai buat meeting..."
Syafia merasa Argha tak menatapnya sama sekali pagi ini. Rasanya sangat aneh dicuekin Argha seperti itu membuat hatinya tidak nyaman.
" Ini Mama ambilin dulu, kamu harus sarapan..."
" Ma, Argha bisa sarapan di kantor. Berangkat dulu ya... Assalamu'alaikum..."
" Wa'alaikumsalam..."
Argha langsung keluar rumah menuju garasi untuk mengambil mobilnya.
" Ma, Fia ke depan sebentar ya...?" pamit Syafia.
" Iya Sya..." saut Mama.
Syafia segera mengejar Argha yang hendak masuk ke dalam mobil.
" Mas Argha, tunggu...!" panggil Syafia.
Argha berhenti namun tidak menoleh sama sekali. Dia malam mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang.
" Ponselmu di kamarku ambil saja..." ucap Argha datar.
" Bukan itu_..."
" Aku buru - buru Sya, nggak ada waktu untuk hal - hal yang tidak penting..."
" Mas_..."
" Cukup! Jangan bicara apapun, aku harus pergi sekarang..."
Argha langsung masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Syafia sendirian.
Argha menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi sebelum jalanan semakin macet. Sampai di kantor, Argha langsung masuk ke dalam kamar pribadinya di dalam ruangan khusus CEO miliknya.
" Rasanya ngantuk sekali, lebih baik aku tidur sebentar..." gumam Argha.
Karena sangat lelah dan mengantuk, akhirnya Argha tidur dengan pulas di saat kantor masih sepi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan, namun Argha masih terlelap sambil memeluk guling.
Ferdi yang baru datang langsung masuk ke kuangan Argha namun yang dicari tidak ada. Tak lama, Rea juga datang mencari Argha untuk mengantarkan pesanan.
" Fer, Pak Argha mana...?" tanya Rea.
" Nggak tau Re, saya juga baru datang..."
" Kalau begitu, sarapannya saya taruh disini saja ya...?"
" Iya, makasih Rea..."
" Sama - sama..."
Setelah Rea keluar, Ferdi mencari Argha di kamar pribadinya.
" Astaghfirullah... sepagi ini si Boss malah tidur. Habis begadang apa ya...?" gumam Ferdi.
Melihat wajah Argha yang terlihat sangat lelah, Ferdi tak tega untuk membangunkannya. Ferdi kembali keluar dan mengambil beberapa berkas di meja Argha. Namun dia sangat kaget karena semua berkas itu sudah ditandatangi oleh Argha.
" Kapan dia mengerjakannya...? Perasaan dari kemarin masih menumpuk di ruang kerja rumahnya belum tersentuh. Ini berkas buat minggu depan juga udah dikerjain, apa karena mau cuti nikah ya...?" gumam Ferdi.
Ferdi keluar dari ruangan Argha dan menghampiri Rea yang sedang menyusul jadwal Argha minggu depan.
" Re, tumben kamu bawain sarapan buat Argha...?"
" Tadi pagi Pak Argha chat saya sekitar jam enam minta dibeliin sarapan sebelum ke kantor..."
" Nggak biasanya Argha seperti itu, untuk apa dia ke kantor sepagi itu...?"
" Mungkin Pak Argha sedang ada masalah di rumahnya..."
" Perasaan semalam baik - baik saja, semuanya merayakan ulang tahun Nyonya Pratama dengan bahagia..."
" Mungkin dengan calon istrinya...?"
" Mungkin, semalam sepertinya dia marah waktu saya sedang bercanda dengan calon istrinya..."
" Lagian kamu gangguin calon istri Boss..."
" Aku kan cuma sekedar menemani saja, apa salahnya...? Argha sedang sibuk bersama keluarganya jadi tidak salahkan aku mendampinginya sebentar..."
" Dasar kau ini, cepat kembali kerja sana...!" usir Rea.
" Ok my baby, kapan kita dinner...?" goda Ferdi.
" Ishh... pergi sana jangan menggangguku...!"
" Bye sayang..."
Hingga jam sepuluh, Argha belum juga bangun dari tidurnya. Ferdi merasa heran lalu menyusulnya ke dalam karena sebentar lagi ada meeting.
" Ar, bangun..." Ferdi menggoyangkan tubuh Argha dengan kencang.
" Hmmm... berisik...!"
" Sebentar lagi meeting, kamu kenapa sih...?"
" Tidak apa - apa, keluar sana...! Aku mau mandi dulu..."
" Jangan lama - lama...!"
" Jangan mengaturku...!" teriak Argha.
* * *
Hari Sabtu pagi, kediaman Pratama nampak ramai karena besok adalah hari pernikahan Argha dan Syafia. Semua persiapan sudah hampir selesai.
Syafia yang berada di dalam kamarnya termenung, mengingat beberapa hari ini Argha mengabaikannya. Tak ada senyuman yang dapat ia lihat dari sosok calon suaminya. Argha seakan menghindar darinya padahal Syafia ingin sekali bertemu dengannya. Bahkan Argha lebih memilh menginap di rumah Ferdi sepulang dari kantor.
Dengan ragu - ragu, Syafia mengetuk pintu kamar Argha. Mungkin rasa rindu mulai terselip dalam hatinya.
" Tok... Tok... Tok...!!!"
" Masuk...!" saut Argha tanpa menoleh.
" Mas_..." ucap Syafia ragu.
" Masuklah...!" perintah Argha singkat.
" Ada apa...?" tanya Argha menatap tajam gadis di depannya.
" Syafia minta maaf_..."
" Maaf...? Memangnya kamu salah apa...?"
" Beberapa hari ini Mas selalu mengabaikan Syafia, pasti Fia sudah berbuat salah sama Mas..."
" Kamu tahu salahmu apa...?"
Syafia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
" Ya sudah, itu artinya kamu tidak punya salah padaku..." ucap Argha tersenyum.
" Tapi kenapa Mas Argha marah...?"
" Itu hanya perasaanmu saja Sya, sebaiknya kamu tidur sekarang..."
" Fia belum ngantuk..."
Syafia enggan untuk beranjak dari kamar Argha karena calon suaminya itu tidak seperti biasanya.
" Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat..."
" Mas Argha masih marah...?" ucap Syafia sambil mengusap airmata yang mulai menetes.
Argha menghela nafasnya lalu mendekati Syafia yang masih menundukkan wajahnya. Walaupun rasa kecewa itu masih melekat dalam hatinya, namun dia tidak tega melihat ada airmata di wajah calon istrinya itu.
" Kenapa menangis...? Mas nggak suka lihat airmata kesedihan ini..." Argha menghapus airmata di kedua pipi Syafia.
Syafia malah menangis semakin kencang lalu memeluk Argha dengan erat. Syafia terisak dalam dada bidang calon suaminya.
" Jangan menangis sayang, sekarang Mas antar ke kamarmu ya...? Tapi mulai besok, kamu harus tidur disini bersamaku..." bujuk Argha.
" Mas jangan marah sama Fia..."
" Iya sayang, Mas nggak marah sama kamu..."
Argha mencium kening Syafia dengan lembut lalu mengantarkannya ke kamar gadis itu.
.
.
TBC
.
.
karwna ini dunia halu,,aman" aja posisi syafia.....
keren,semangat
lanjut