DISARANKAN UNTUK MEMBACA MARRIED WITH STRANGER LEBIH DULU.
Jevian R Hugo.
Seorang konglomerat abad 21 berdarah campuran Italia datang ke negara ini untuk dua tujuan, yang pertama adalah menemukan ibu kandungnya dan yang kedua adalah menemukan wanita yang telah mencuri hatinya tujuh tahun yang lalu.
Seperti sebuah keajaiban, wanita itu datang tepat didepannya di salah satu pertemuan bisnis, sayang statusnya sebagai istri orang lain.
Namun bukan senyum cantiknya yang Jevian terima, karena gadis itu memandangnya layaknya orang yang baru pertama kali bertemu.
Sebagai seorang pria sejati haruskah ia melupakan cinta terlarang di hatinya? atau malah memperjuangkannya meski harus memisahkan sang wanita dengan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap tikus
"Aku membawa hadiah sederhana" ujarnya.
Jevian menyerahkan paperbag bersimpul pita ke arah Seira, pria itu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa, seolah ia dan Seira hanya sekedar rekan biasa.
"Terimakasih"
Seira menerimanya dengan gugup, ia yakin pria ini tidak akan pernah sesederhana itu, tapi sekarang ia tidak peduli pada hadiah. Yang ada diotaknya hanyalah bagaimana caranya bisa punya waktu berdua dengan Kai.
Disisi lain ibunya juga pasti sedang kebingungan, sungguh sebuah pencapaian luarbiasa wanita paruh baya itu masih bisa duduk tenang dan anggun, sedangkan dalam hati ia ingin sekali menyeret Jevian ke sudut ruangan dan melemparkan serentetan pertanyaan untuk Jevian dan putrinya sendiri, namun sekarang ia hanya bisa memandangi pria itu dari kursinya.
Keluarga Renald mulai mengobrol tentang bisnis, hingga waktu berjalan bermenit-menit kemudian. Tak ada yang menyadari ketegangan yang melanda segelintir orang.
Menghabiskan beberapa waktu mengobrol Renald akhirnya tidak sabar mengajak Jevian berkeliling, memperkenalkannya pada rekannya yang lain. Rencananya untuk pamer masih belum surut.
"Mr. Jev, aku ingin mengenalkanmu pada beberapa teman bisnisku disana" Renald memberanikan diri untuk bertanya.
Jevian melirik sekilas pada Kai, sebelum ia mengangguk.
"Nona Sei, aku tidak bisa percaya siapapun. Bisakah kau menjaganya disini untukku?"ia menatap ke arah Seira.
Memancarkan gelombang telepati yang hanya bisa dimengerti kedua orang itu, Seira belum sempat menjawab saat Renald mengangguk antusias.
"Tentu saja, istriku akan menjaganya. Anakmu akan aman Mr. Jev" jawabnya bersemangat.
Mereka akhirnya beranjak dari kursi, sebelum pergi Jevian berbisik kepada bocah kecil yang masih duduk diam itu. Ia sudah menjelaskan rencana mereka sebelum datang jadi Kai sudah tahu apa yang harus ia lakukan dengan ibunya.
"Kau ingin makan ini?" Seira mengambil dessert manis kesukaan Kai dan anak itu mengangguk gembira meski ia tidak mengatakan sepatah katapun.
"Dia mirip sekali dengan ayahnya" setelah Jevian pergi barulah orang-orang di meja besar itu berani mengamatinya terang-terangan, tidak terkecuali Rahardian.
Meskipun ia bukan bagian dari dunia bisnis namun perusahaan investasi raksasa yang dibawa Jevian beberapa waktu yang lalu juga menarik perhatian pemerintah.
Ia tahu Jevian bukan orang biasa, bahkan pria itu juga investor terbesar di perusahaan Renald, menantunya sendiri.
Sementara bocah itu hanya sibuk makan panna cotta yang diambilkan sang ibu, meskipun tidak bisa memeluk ibunya tapi ia sudah merasa senang bisa duduk di sebelahnya seperti ini, mengingat dulu mereka harus bersembunyi tiap bertemu.
"Siapa namamu?" ibu Renald bertanya dengan gemas,
Kai mengerjap bingung, matanya sontak melirik Seira meminta bantuan.
"Mr. Jev bilang dia jarang bicara," Seira mengingatkan setelah berdeham, membuat mereka akhirnya tidak berani bertanya lebih lanjut, takut kalau anak ini tidak bahagia dan mengadu dengan ayahnya.
Selesai dengan satu mangkok kecil panna cotta, Kai mulai bergerak gelisah di kursinya. Ia ingin buang air kecil.
Sebagai seorang ibu tentu saja Seira tahu kebiasaan Kai, "Kau ingin ke toilet?" ia akhirnya bertanya dan sedetik kemudian disusul anggukan pria kecil itu.
Seira tersenyum, karena Jevian menyuruhnya menjaga anak ini maka tidak akan ada yang curiga kalau ia dekat dengan Kai.
"Ayo" wanita itu membantu Kai turun dari kursi, sebelum pergi keluar ruangan untuk mencari toilet.
Ibu Seira bangkit kemudian "Tunggu, ibu juga mau pergi ke toilet" panggilnya sambil berusaha mengejar mereka.
"Kai, apa dia ayahmu?" Kai mengangguk saat neneknya bertanya.
Mereka berdiri disudut sepi setelah keluar dari toilet.
"Dia pria yang kau bilang pada ibu di pesan singkat itu?" tanyanya lagi, kali ini pada Seira.
"Iya Bu, dia pria tujuh tahun yang lalu" jawabnya pelan, terlalu takut untuk menatap mata ibunya.
Meski sudah tahu fakta ini namun wanita paruh baya itu masih tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. "Untuk apa dia datang lagi?"
Seira menelan ludah, dibanding dirinya sendiri, sebenarnya ibunya adalah manusia yang paling membenci Jevian kala itu bahkan mungkin sampai sekarang ibunya masih menaruh dendam.
Jika saja tidak banyak orang disana wanita ini pasti sudah mencabik-cabik Jevian dengan marah.
"Itu bukan murni kesalahannya Bu, dan dia bilang akan membantu kita" ujarnya berusaha menenangkan.
"Kau masih saja bodoh? tidak belajar dari masa lalu? Renald juga bilang akan membantumu tapi pada akhirnya dia malah membuat hidupmu tambah susah"
Garis keriput di matanya nampak jelas saat ia menahan marah, putrinya selalu naif dan gampang ditipu, sebagai seorang ibu ia harus terus mengingatkannya meskipun Seira sudah sedewasa ini.
Kai berdiri diantara mereka dengan bingung, ia tahu dua wanita didepannya sedang membicarakan Jevian, sepertinya neneknya tidak suka jika ia dekat dengan ayah.
"Bu tidak baik membicarakannya didepan Kai," Seira melirik anaknya yang mulai menarik ujung gaunnya.
Wajahnya yang kebingungan membuat Seira merasa kasihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu disudut lain, Jevian dan Renald masih mengobrol dengan beberapa pebisnis. Namun matanya memperhatikan Cindy yang juga duduk tidak jauh dari kursinya.
Ia ingat wanita ini adalah wanita yang ada di balik pintu apartement dengan Renald dulu, menurut laporan Martin, Cindy juga termasuk salah satu artis dibawah agensinya.
Jevian menjilat bibirnya sejenak, ia mencondongkan wajahnya ke telinga Renald lalu berbisik pelan.
"Kau pernah menawariku wanita, kan?" tanyanya pelan, namun sontak membuat mata Renald membulat.
"Aku bisa mengenalkanmu pada semua gadis yang ada disini Mr. Jev" ia balik berbisik.
Pria itu tidak menyangka Jevian tertarik pada tawaran itu, padahal dulu lelaki ini seperti ingin menggorok lehernya saat ia menawarkan perempuan.
Ia sudah tahu semua pria di dunia sama aja.
"Benarkah? semuanya tanpa kecuali?" Jevian menaikkan alisnya, sudut mulutnya membentuk seringai tipis yang hampir tidak terlihat.
Wanita disini kebanyakan adalah model dan artis, Renald yakin mereka tidak akan menolak tangkapan besar seperti Jevian jadi ia mengangguk dengan yakin.
Tujuan mereka datang kesini juga pasti karena ingin memanjat status sosial.
"Kalau begitu kenalkan aku dengan wanita disana" mata Jevian menunjuk tepat ke arah Cindy.
Renald mengikuti arah pandangannya, ia berkeringat dingin saat menyadari kalau Jevian menunjuk ke arah selingkuhannya sendiri.
Cindy memang yang paling menarik diantara artis lain dibawah agensinya, itulah mengapa karirnya meroket dengan cepat.
Tapi, Cindy?
Bisakah ia merelakan wanita itu dengan Jevian? Renald menelan ludah berkali-kali, beberapa detik berlalu namun ia tidak tahu bagaimana harus menyahut saat ini.
"Kau tidak bisa?" suara Jevian terdengar meremehkan.
Jika ia bilang tidak bisa maka Jevian pasti akan menganggapnya orang yang hanya bicara omong kosong, Renald jatuh dalam kebimbangan besar.
"Aku akan mengenalkanmu dengannya, Mr. Jev" ia akhirnya menjawab setelah mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Lagipula Jevian hanya meminta Cindy bukannya Seira, ia masih bisa menoleransi itu.
boleh sesih jev tp jangan berlarut karena hidup terus berjalan dan yg pasti ada seira dan kei yg akan sllu ada untuk kamu