NovelToon NovelToon
Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.

Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

Rayzan pulang ke rumah berniat mengambil beberapa pakaiannya. Hanya ibunya yang ada di sana karena ayahnya sudah pergi ke kantor.

Sebelum mengambil barang-barangnya, Rayzan duduk di sofa sambil termenung memikirkan kehidupannya. Ia masih belum bisa menerima apa yang telah terjadi kepadanya. Apalagi setelah mengingat perkataan Sultan bahwa istrinya itu bisa membuat hidupnya hancur karena ulah Daulat.

"Rayzan."

"Eh, Umi ... Lagi ngapain, Mi?" tanya Rayzan.

"Baru selesai nyuci piring."

Indah duduk tepat di samping putranya. Sejenak, ia mengelus kepala Rayzan dengan lembut.

"Lagi mikirin apa?"

"Nggak mikirin apa-apa, Mi."

"Istri kamu ke mana? Nggak diajak sekalian?"

"Enggak, Mi."

"Semuanya baik-baik aja, kan?"

Indan menatap anaknya lekat-lekat. Dari raut wajah Rayzan, terlihat jelas bahwa pria itu sedang memikul banyak beban pikiran.

"Dibilang baik juga enggak, Mi. Umi sendiri tahu, ini pernikahan terpaksa."

"Jangan ngomong begitu ... Umi dan Ayah bangga sama kamu. Kamu nggak pernah mengecewakan kami."

Rayzan celingak-celinguk, memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

"Daulat di mana?"

"Dia belum pulang ... Kami sudah coba menghubungi dia, tapi nggak ada jawaban sama sekali."

"Lho ... Terus Ayah ke kantor sendiri, dong?"

"Ya mau gimana lagi?"

Rayzan mengembuskan napas kasar. "Ya udah deh ... Aku siap-siap dulu. Kasihan Ayah sendirian di kantor."

"Nggak usah, Ray ... Ayah kamu juga bilang tadi kalau kamu nggak perlu ke kantor dulu."

Rayzan mengernyitkan kening.

"Kami mau kamu sama Dira mengobrol lebih dalam dulu. Supaya kalian bisa saling mengenal satu sama lain."

"Nggak ada yang perlu kami bicarakan lagi, Mi. Biarkan pernikahan ini berjalan dengan sendirinya."

"Maafin kami, ya. Kamu pasti kecewa sama kami."

"Udahlah, Mi ... Ini semua juga bukan kesalahan Umi ataupun Ayah. Bahkan aku nggak kepikiran untuk menyalahkan Daulat. Ini semuanya sudah menjadi takdir."

"Nanti kalau ada apa-apa dengan rumah tangga kamu, bilang sama kami, ya."

"Nggak usah khawatir, Mi. Semuanya akan baik-baik aja, kok."

[] [] []

Di tempat lain, seorang wanita sudah berpakaian rapi. Banyak sekali hal yang mengganggu pikirannya. Wanita itu merasa perlu pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan stres.

Begitu keluar dari kamarnya, Nadira berpapasan dengan ibunya yang sedang duduk di sofa. Dengan perlahan, Nadira melangkah menuju pintu depan.

"Mau ke mana kamu, Dira?"

"Keluar, Ma. Jalan-jalan," jawab Nadira.

"Dira ... Kamu jangan macam-macam di luar. Ingat, kamu sekarang sudah jadi istri orang."

"Aku ingat, kok, Ma. Bahkan aku juga ingat kalau pernikahan ini cuma pemaksaan."

"Dira!"

Merry berdiri dan menatap anak perempuannya yang sudah hendak keluar dari rumah.

"Kamu masih marah sama kami karena pernikahan kamu dengan Rayzan?"

"Udahlah, Ma. Pernikahan sudah terjadi. Itu yang kalian mau, kan?"

"Dira ... Kamu harus belajar melupakan Daulat. Sekarang Rayzan adalah suami kamu yang sah."

"Tanpa Mama bilang pun aku memang sudah melupakan Daulat. Tapi sakit hati ku sama laki-laki itu nggak akan aku lupakan."

"Mama mohon, sayang. Jangan dendam sama orang lain, sayang. Kamu nggak akan bahagia kalau memiliki dendam di hati."

"Dari kemarin kebahagiaan ku memang sudah hancur."

"Dira, terima Rayzan dengan baik, Sayang."

"Udahlah, Ma. Aku pergi dulu."

Nadira melenggang pergi dari hadapan ibunya. Merry hanya bisa menatap kepergian putrinya dengan penuh kekhawatiran. Ia masih teringat pengakuan Sultan bahwa Nadira berniat membalas dendam kepada Rayzan demi melampiaskan sakit hatinya kepada Daulat.

[] [] []

"Sayang, bangun."

"Hmmm ..."

Daulat masih tertidur hingga saat ini. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah melewati malam panjang bersama istrinya.

"Hei, bangun. Katanya mau pulang hari ini," ucap wanita itu sambil mengelus-elus kepala Daulat.

Resya masih mengenakan kimono setelah selesai mandi. Ia mencoba membangunkan Daulat agar lelaki itu segera beranjak dari tempat tidur.

"Bangun, Sayang. Udah jam sepuluh."

Daulat akhirnya membuka mata dan menatap sang istri. Senyum manis langsung terlihat di wajahnya.

"Kenapa, hm?" tanyanya.

Dengan perlahan, Daulat duduk menghadap wanita itu. Ia menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Tangan lembut Resya kemudian mengelus lengan suaminya.

"Gimana tidurnya? Nyenyak?"

Bukannya menjawab, Daulat malah tersenyum sendiri sambil terus menatap sang istri.

"Ngapain senyum-senyum?" tanya Resya dengan wajah malu-malu.

"Makasih ya buat tadi malam."

"Iya ... Sekarang kamu mandi. Katanya mau ngajak aku pulang ke rumah."

"Hmmm ... Menurut kamu, waktunya sudah pas nggak kalau hari ini aku bawa kamu pulang ke rumah?"

"Aku sih ngikutin kamu aja. Kalau kamu merasa belum siap, aku nggak apa-apa, kok."

Daulat mengembuskan napas perlahan. Kemudian, ia memajukan wajahnya ke arah wanita itu.

"Mau ngapain?" tanya Resya sambil mendorong dada Daulat.

Lelaki itu malah memberikan senyuman nakal.

"Udah, udah. Mending kamu mandi sekarang. Aku mau masak dulu."

"Hmmm ... Oke, Sayang."

[] [] []

Seperti dulu, Nadira memang terlalu mandiri dalam banyak hal, bahkan untuk urusan sederhana seperti jalan-jalan. Ia sudah terbiasa melakukannya seorang diri. Bahkan ketika bepergian ke luar negeri pun, Nadira mampu melakukannya tanpa ditemani siapa pun.

Baginya, saat ini tidak ada yang lebih menarik selain berjalan-jalan dan mencoba membahagiakan dirinya sendiri. Namun, kebahagiaan yang sempat ia rasakan mendadak sirna.

Nadira justru ingin segera pergi dari tempat itu ketika melihat mantan calon suaminya sedang berjalan bersama seorang wanita.

"Daulat!!!"

Pria yang dipanggil itu langsung membalikkan tubuhnya. Begitu pula dengan wanita yang berada di sampingnya.

"Dira, Mas."

Resya menggenggam lengan suaminya. Melihat kedekatan mereka, Nadira segera menghampiri keduanya.

Plak!

Di tengah keramaian pusat perbelanjaan, Nadira menampar wajah Daulat. Ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan laki-laki itu.

"Ngapain kamu nampar suami aku?" tanya Resya.

"Diam! Aku nggak ada urusan sama kamu," ucap Nadira tegas. "Tega kamu, Daulat ... Kamu lari di hari pernikahan kita. Apa kamu nggak mikirin gimana hancurnya aku?"

"Dira, cukup! Semuanya sudah berlalu. Kita sudah nggak punya urusan lagi."

"Kamu dengar aku!" Nadira menunjuk wajah pria itu.

"Aku akan membalas dendam melalui adikmu."

"Jangan kamu ganggu Rayzan. Dia nggak ada kaitannya dengan kita berdua."

"Oh, ya?"

Senyum sumringah terlihat jelas di bibir wanita itu.

"Daulat, Daulat ... Ternyata kamu belum tahu, ya? Karena ulah kamu, Rayzan mendapatkan masalah."

Daulat semakin tidak mengerti dengan ucapan Nadira.

"Aku sudah menjadi istri adikmu."

Lelaki itu membulatkan mata. Ia sama sekali tidak mengetahui kabar tersebut. Setelah kejadian kemarin, Daulat bahkan tidak lagi mengaktifkan ponselnya.

"Masalahmu sama aku, bukan sama Rayzan."

"Kenapa enggak? Rayzan itu adikmu."

Nadira tidak berhenti tersenyum ke arah pria itu.

"Daulat ... Sakit hatiku akan kubawa sampai mati. Kalau aku nggak bisa menghancurkan kamu, aku akan menghancurkan adikmu."

Nadira melenggang pergi begitu saja.

Daulat mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah berkali-kali Rayzan mengalami masalah karena dirinya. Dan sekarang, masalah yang jauh lebih besar sepertinya akan kembali menghampiri adiknya.

"Udah, Sayang. Kamu jangan pikirin wanita itu lagi." Resya mengelus lengan suaminya.

"Umi sama Ayah pasti marah besar sama aku. Apalagi Rayzan. Aku sering membuat dia ikut masuk ke dalam masalahku."

"Tenang aja ... Kayaknya dia cuma mengancam kamu, deh. Nggak mungkin dia menyakiti suaminya sendiri."

"Kita harus ke rumah sekarang."

1
Rian Moontero
mampiirr👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!