Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sandiwara Pangeran Lugu
Langkah kaki Lin Chen di atas lantai marmer terdengar sangat pelan, namun bagi Tetua Sekte Teratai Es yang terikat tak berdaya di tanah, setiap ketukannya terasa seperti hantaman palu eksekutor yang menghantam jantungnya.
Mendengar nama Su Qingyue digunakan sebagai tameng ancaman, sisa-sisa kesabaran Lin Chen hancur lebur.
Lin Chen berhenti tepat di depan Tetua tersebut. Ia menoleh sekilas ke arah ayah, kakak laki-laki, dan kakak perempuannya yang masih berdiri waspada dengan pedang terhunus.
Lin Chen memejamkan mata keemasannya sejenak. Saat ia membukanya kembali, Hawa Kekacauan di dalam Dantian-nya berputar dalam rotasi terbalik. Sebuah gelombang transparan yang tidak mengandung kekuatan perusak, melainkan otoritas pembeku jiwa, meledak tanpa suara dari tubuhnya.
Domain Keheningan: Pembekuan Persepsi!
Gelombang itu menyapu pelataran istana. Seketika, tubuh Raja Chen, Lin Feng, dan Lin Xue menegang kaku. Pedang di tangan mereka tetap terangkat, namun pandangan mereka mengabur. Detak jantung mereka melambat hingga nyaris tak terdengar, dan kesadaran mereka terputus dari aliran waktu dunia nyata. Bagi mereka bertiga, waktu berhenti berdetak. Mereka tidak pingsan, hanya kehilangan presepsi akan detik yang berlalu.
Lin Chen menatap keluarganya sejenak untuk memastikan mereka aman dari efek samping, lalu menoleh ke arah ibunya.
Permaisuri Lin Yue, yang berada di luar jangkauan efek domain tersebut berkat garis keturunan Dewa Raja-nya, hanya melipat lengan di dada dan tersenyum simpul. Ia mengangguk pelan, memberikan izin tak terucap pada putranya untuk menyelesaikan masalah ini.
Merasa aman, Lin Chen menundukkan pandangannya. Aura tiran absolut yang pernah membekukan galaksi kini memancar seutuhnya. Udara di sekitar Tetua Teratai Es turun hingga puluhan derajat di bawah nol, menciptakan lapisan es tipis di atas keramik pelataran.
"O-Orang suci macam apa yang bisa membuat keluarga kerajaan fana membeku seperti patung?!" gumam Tetua itu dengan bibir gemetar, matanya membelalak ngeri menatap pemuda yang sebelumnya bersembunyi di balik punggung kakaknya.
Lin Chen berjongkok, menatap mata Tetua itu dengan kedinginan yang membuat neraka terasa seperti musim semi.
"Kau menyebut nama Su Qingyue," bisik Lin Chen, suaranya terdengar seperti gesekan dua bilah pedang es. "Katakan padaku. Apa posisinya saat ini? Dan berani-beraninya kau menggunakan namanya untuk mengancam wilayahku?"
"S-Siapa kau?!" Tetua itu meronta, namun tali sutra Lanying menahannya dengan kuat. "Kau bukan manusia fana! Kultivasimu... a-aku bahkan tidak bisa membacanya!"
"Jawaban yang salah," Lin Chen menjentikkan jarinya.
Sebongkah Hawa Dingin menyusup ke dalam meridian Tetua itu, secara harfiah membekukan aliran Qi di lengan kanannya hingga otot dan tulangnya mengeras menjadi es biru.
"AAARRRGGHH!" jeritan tertahan keluar dari mulut sang Tetua, urat-urat di wajahnya menonjol karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"Aku bertanya sekali lagi," desis Lin Chen. "Apa posisi Su Qingyue di Sekte Teratai Es?"
"H-Hamba akan bicara! Ampun!" Tetua itu menangis histeris, rasa sakit membongkar seluruh arogansinya. "S-Su Qingyue adalah Orang Suci sekte kami! D-Dia memiliki Hawa Dingin yang paling murni dalam sejarah sekte, bahkan melebihi Master Sekte sendiri! N-Namun... karena dia menolak menyerahkan pecahan cermin misterius yang mengikat jiwanya... T-Tetua Agung mengurungnya di Puncak Hukuman Es! D-Dia diasingkan!"
Mata keemasan Lin Chen menyipit tajam. Amarah yang luar biasa dingin meledak di dalam dadanya.
Diasingkan? Wanita yang menyerahkan nyawanya untukku... diasingkan oleh sekte rendahan ini?!
Udara di sekitar Lin Chen bergetar hebat. Mo Yuan, Shen Lu, Xie Yan, dan Zi Lanying yang berdiri di belakangnya tanpa sadar mundur selangkah, menahan napas menghadapi tekanan dari Kakak Pertama mereka.
"B-Bukan hanya itu!" Tetua itu melanjutkan dengan panik, mencoba menyelamatkan nyawanya. "T-Tetua Agung berencana menggunakan Turnamen Seratus Tahun ini... j-jika para murid yang turun ke dunia fana berhasil membawa Roh Dunia... Tetua Agung akan menggunakannya untuk menghancurkan pecahan cermin itu secara paksa, dan merampas fondasi Hawa Dingin Su Qingyue untuk dirinya sendiri!"
Keheningan kuat menyelimuti pelataran istana.
Lin Chen berdiri perlahan. Wajahnya tidak berekspresi, namun badai yang berkecamuk di matanya menjanjikan kehancuran bagi seluruh Sekte Teratai Es di Alam Abadi.
"Begitu," gumam Lin Chen, suaranya sangat tenang, terlalu tenang. "Kalian mengincarnya."
Ia membalikkan badan, menatap Mo Yuan.
"Bawa sampah ini dan semua anak anjingnya kembali ke Markas Utara," perintah Lin Chen tanpa basa-basi. "Kunci mereka di ruang bawah tanah paling dalam. Jika mereka kekurangan makanan, biarkan kadal Xie Yan memakan tangan dan kaki mereka. Tapi pastikan mereka tetap bernapas hingga aku memberikan perintah selanjutnya."
Mo Yuan menyeringai buas dari balik topengnya. "Sesuai perintahmu, Kakak Pertama!"
Dengan lambaian tangan Zi Lanying, para murid Teratai Es yang terikat dan masih tertawa karena bubuk gatal, diangkat menggunakan angin spiritual. Mo Yuan memanggul Tetua yang lengannya telah membeku itu seperti memanggul karung beras.
Dalam hitungan detik, keempat penguasa Aliansi Bayangan Langit itu melesat ke langit, membawa puluhan tawanan mereka, dan menghilang di balik awan fajar.
Setelah bayangan mereka lenyap, Lin Chen menarik napas panjang, menekan kembali seluruh Hawa Kekacauan-nya ke dasar Dantian. Ia menjentikkan jarinya sekali lagi.
SNAP!
Domain Keheningan ditarik kembali.
Kesadaran Raja Chen, Lin Feng, dan Lin Xue kembali terhubung dengan waktu. Pandangan mereka kembali jernih.
"Mati kau—!" Lin Feng mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah tempat Tetua itu berada satu detik yang lalu.
Namun, pedangnya hanya membelah udara kosong.
Raja Chen dan Lin Feng terbelalak. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri dengan kebingungan. Kereta perang es itu masih mengambang di langit, namun puluhan murid dan Tetua arogan itu telah lenyap tanpa bekas!
"K-Ke mana mereka pergi?!" seru Raja Chen, pedangnya masih terangkat waspada.
Lin Chen, yang kini kembali memasang wajah pangeran bungsu yang polos dan sedikit ketakutan, menunjuk ke arah langit dengan tangan gemetar.
"A-Ayahanda! Kak Feng! Orang-orang berjubah hitam tadi... m-mereka luar biasa hebat!" seru Lin Chen dengan nada penuh kekaguman dan kengerian fana. "Saat Ayahanda dan Kak Feng berkedip, mereka langsung membawa orang-orang es jahat itu terbang ke atas sana! Mereka seperti hantu!"
Raja Chen dan Lin Feng saling bertukar pandang, menelan ludah dengan susah payah.
"Apakah... apakah mereka ahli kultivasi pelindung rahasia yang dikirim oleh dewa untuk menjaga kerajaan kita?" gumam Lin Feng, tubuhnya masih tegang. "Bahkan dengan Qi baruku, aku tidak bisa melihat pergerakan mereka sama sekali."
"Dunia ini... benar-benar telah berubah," Raja Chen menghela napas panjang, menurunkan pedangnya. Ia menatap Lin Chen dan Lin Xue, merasa lega karena keluarganya selamat. "Mulai hari ini, kita harus lebih serius berlatih. Kita tidak bisa terus mengandalkan pelindung bayangan ini."
Mendengar tekad ayahnya, Lin Chen tersenyum lega dalam hati. Bagus. Ayah dan Kak Feng sekarang punya motivasi kultivasi yang kuat.
Namun, saat ia berbalik, ia melihat Permaisuri Lin Yue sedang bersandar di pilar istana. Sang ibu tidak terpengaruh oleh domainnya sejak awal, dan telah menonton seluruh sandiwara pangeran lugunya dengan senyum simpul yang sangat bermakna.
Mata Lin Yue seolah berkata: Akting yang bagus, Tuan Tiran. Tapi Ibu akan menagih penjelasan tentang siapa wanita bernama Su Qingyue ini nanti.
Lin Chen hanya bisa menelan ludah, membuang muka dengan canggung, dan berpura-pura membersihkan debu di jubahnya.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣