NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LANGKAH PERTAMA YANG HANGAT

Roda koper hitam besar milik Kaito bergelinding pelan di atas lantai marmer terminal Bandara Haneda. Namun kali ini, arah jalannya tidak lagi menuju ke dalam gerbang keberangkatan internasional, melainkan menuju ke pintu keluar—kembali ke dalam pelukan kota yang sempat ingin ia tinggalkan.

Di samping Kaito, langkah kakiku terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Meski mataku masih terasa agak sembap dan tenggorokanku sedikit pegal akibat tangisan histeris tadi, rasa hangat yang mengalir di dadaku mampu menghapus seluruh sisa-sisa keputusasaan yang sempat meremukkan jiwaku.

Jemari Kaito yang panjang dan hangat tidak pernah melepaskan genggamannya pada tanganku. Ia menggenggam jemariku begitu erat namun lembut, menyalurkan sebuah keteguhan yang seolah-olah berbisik tanpa suara: Aku di sini, dan aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi.

Selama perjalanan di dalam kereta menuju kawasan perumahan kami, tidak ada kata-kata kaku yang perlu terucap. Duniaku memang selalu sunyi tanpa suara, tetapi berada di samping Kaito saat ini terasa bagaikan berada di dalam tempat paling aman di seluruh dunia. Sesekali, Kaito melirik ke arahku, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, lalu memberikan senyuman tipis—sebuah senyuman tulus yang sudah berbulan-bulan hilang dari wajahnya yang tirus.

Tiba di gang perumahan kami, udara dingin siang hari masih terasa menusuk. Kaito menarik kopernya menuntunku menuju ke pintu pagar rumahnya.

Begitu Kaito memutar kunci dan membuka pintu depan, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah dapur. Ibu Kaito muncul dengan wajah yang dipenuhi raut cemas dan mata yang masih memerah. Beliau memegang kain lap di tangannya, bersiap untuk meratapi kepergian anak tunggalnya ke benua Eropa.

Namun, begitu pandangan sang ibu mendarat di ambang pintu, langkah kakinya terhenti seketika.

Beliau mematung. Matanya membelalak tak percaya melihat sosok Kaito berdiri di sana—bukan hanya membawa kembali koper besarnya, tetapi juga berdiri berdampingan denganku, saling menggenggam tangan dengan raut wajah yang tak lagi dibalut oleh duka.

"Kaito... Hana...?" cicit ibunya dengan suara bergetar pelan.

Kaito mengangguk perlahan. Pria itu melangkah mendekati ibunya, lalu menggerakkan tangan kanannya lewat bahasa isyarat yang amat lembut:

[Aku tidak jadi pergi, Ibu. Aku tetap di sini.]

Tangis ibu Kaito seketika pecah kembali, tetapi kali ini adalah tangis kebahagiaan dan kelegaan yang amat besar. Beliau langsung menghambur memeluk Kaito dengan erat, lalu mengulurkan tangannya untuk merengkuhku masuk ke dalam pelukan hangat keluarga itu. Beliau mengusap kepalaku berulang kali, menyadari bahwa badai kesalahpahaman yang selama ini mengurung anak-anaknya akhirnya telah musnah disapu angin dingin.

Setelah menenangkan sang ibu, aku mengikuti Kaito menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya di lantai dua.

Kamar yang tadi pagi sempat terasa hampa, gelap, dan asing kini perlahan-lahan kembali bernyawa. Kaito meletakkan koper besarnya di sudut ruangan, lalu membuka kuncinya. Aku berinisiatif duduk di atas karpet berbulu di samping koper, membantunya mengeluarkan barang-barang yang sempat ia kemas secara terburu-buru.

Saat jemariku merapikan tumpukan buku di dalam koper, mataku terpaku pada deretan buku tebal berisikan teks-teks hukum, kitab undang-undang, serta modul persiapan ujian advokat milik Kaito.

Dadaku seketika berdesir hebat. Aku menyadari betapa gilanya pengorbanan Kaito sebelumnya. Pria ini hampir saja membuang seluruh impian besarnya untuk menjadi seorang ahli hukum—sebuah cita-cita yang ia perjuangkan mati-matian sejak awal masuk bangku kuliah—hanya demi mengasingkan dirinya ke Eropa karena merasa kehadirannya hanya akan menjadi beban dan perusak kebahagiaanku.

Aku mengambil salah satu buku hukum tebal itu, meraba sampul kerasnya, lalu menatap Kaito yang sedang berdiri di dekat meja kerja.

Merasakan tatapanku, Kaito memutar badannya. Ia melangkah mendekat, lalu ikut duduk bersila di atas karpet menghadapku. Sorot matanya menatap buku hukum di tanganku, lalu beralih menatap wajahku lekat-lekat.

Jemari Kaito terangkat perlahan ke udara, bergerak menyusun kalimat isyarat yang amat tegas dan tenang:

[Aku akan menyelesaikan kuliah hukumku di sini, Hana. Aku akan belajar lebih keras lagi agar bisa lulus dengan nilai terbaik.]

Aku menatap gerakan jarinya dengan binar mata yang penuh haru. Jemariku bergerak membalas:

[Kamu pasti bisa, Kaito. Kamu adalah calon ahli hukum yang paling hebat.]

Kaito tersenyum hangat—senyuman tulus yang begitu tampan hingga membuat kedua pipiku mendadak terasa panas. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipiku yang merona, lalu melanjutkan isyaratnya:

[Aku ingin menjadi ahli hukum yang kuat, agar di masa depan... aku bisa melindungi hak-hakmu, menjagamu, dan menjadi sosok yang bisa kamu andalkan sepenuhnya tanpa perlu cemas lagi.]

Membaca janji ketulusan dari jarinya, hatiku terasa begitu membuncah oleh kehangatan yang tak terlukiskan. Kaito yang selalu berpikir jauh ke depan, Kaito yang selalu menjadikan diriku sebagai pusat dari seluruh tujuan hidupnya.

Aku melepas buku hukum di tanganku, lalu bergerak mendekat. Aku meraih kedua telapak tangan Kaito, menggenggam jemarinya yang panjang, dan memanjakannya dengan tatapan lembut. Aku menyadari betapa kurusnya tubuh Kaito saat ini. Pipinya agak tirus dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya—bukti nyata betapa ia tidak merawat dirinya sendiri selama berbulan-bulan memendam rasa sakit.

[Mulai hari ini, aku yang akan merawatmu, Kaito,] gerak jariku penuh keteguhan. [Aku akan memastikan kamu makan makanan yang bergizi, tidak lagi bergadang, dan tidak boleh lagi menyiksa dirimu sendiri. Kamu harus kembali sehat.]

Kaito terkekeh pelan tanpa suara—sebuah kekehan kecil yang teramat merdu di mataku. Ia menganggukkan kepalanya menurut, bagaikan seorang anak kecil yang menurut pada perintah orang yang paling dicintainya.

Malam harinya, setelah kami menyantap makan malam hangat yang dimasak bersama ibu Kaito, aku dan Kaito duduk berdua di balkon lantai dua kamarnya.

Udara malam musim dingin memang terasa menggigit, tetapi syal tebal yang dilingkarkan Kaito di leherku serta kehangatan tubuhnya yang duduk bersisian denganku membuat rasa dingin itu menguap begitu saja.

Di bawah naungan langit malam Tokyo yang dipenuhi pendar bintang redup, Kaito meraih tangan kananku, menautkan jari-jemarinya di antara jemariku. Kami saling terdiam sejenak, menikmati keheningan malam yang tak lagi terasa menyiksa, melainkan dipenuhi oleh kedamaian yang utuh.

Secara perlahan, Kaito melepaskan genggamannya sebentar, lalu menggerakkan tangan kirinya untuk menyampaikan satu pesan sederhana di hadapanku:

[Ini terasa seperti mimpi, Hana. Aku masih sering merasa takut jika besok pagi terbangun, semua kebahagiaan ini hanya halusinasiku saja.]

Aku tersenyum manis menatap wajahnya. Aku meraih wajah Kaito dengan kedua telapak tanganku yang hangat, memaksanya menatap lurus ke dalam mataku. Aku mendekatkan wajahku, menyentuhkan dahiku ke dahinya secara lembut, membiarkan napas kami menyatu di udara malam yang dingin.

Aku merenggangkan jarak wajah kami sedikit, lalu menggerakkan jariku tepat di depan dadanya:

[Ini bukan mimpi, Kaito. Aku di sini, dan aku milikmu. Kita tidak akan pernah saling membiarkan sendirian lagi.]

Kaito menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cinta yang teramat dalam. Tanpa ragu lagi, ia merengkuh pinggangku, menarik tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat di bawah pendar cahaya bulan.

Malam itu, di kamar dan balkon yang menjadi saksi bisu perjalanan masa kecil kami, sebuah babak baru resmi dimulai. Bukan lagi sebagai dua sahabat masa kecil yang saling memendam rasa dalam diam, melainkan sebagai sepasang kekasih yang siap menyembuhkan setiap luka masa lalu dan melangkah bersama menatap masa depan.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!