Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Penjelasan
Rintik gerimis tipis yang membasahi pelataran hijau kawasan Sleman malam itu kian merangkak larut, membawa kabut sejuk yang menyelimuti teras rumah bergaya Jawa klasik milik Ibu Sandra. Di dalam ruang tengah yang hangat, Keysha kecil tampak sudah tertidur sangat lelap di dalam pangkuan Anggita. Balita berusia tiga tahun itu memeluk erat ujung gamis Anggita dengan jemari kecilnya, menolak dilepaskan seujung kuku pun semenjak sore tadi. Kevin yang sedang merapikan lembaran berkas kuasa operasional bersama Mas Anggoro, sesekali melayangkan tatapan mata yang sarat akan rasa takjub sekaligus kelembutan mendalam ke arah Anggita yang dengan sabar menepuk-nepuk pelan punggung putrinya.
Dia meyakini pilihannya tidak salah. Keysha yang sulit ditaklukkan selama ini, justru berlari mendekat. "Mungkin ini yang namanya jodoh," batin Kevin. Selama ini ibunya sibuk mencarikan ibu baru untuk Keysha, tapi tidak ada yang cocok. Jangankan bisa tidur di pangkuan seperti saat ini. Mendekat pun putrinya menolak. Mungkin Keysha tahu, mereka tidak tulus merima keberadaan Keysha, tujuan mereka hanya Kevin dan kekayaannya.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu depan yang teratur memecah keheningan malam. Saat Mas Anggoro melangkah lebar untuk membuka pintu utama, sosok pria tinggi tegap mengenakan kemeja katun rapi dan kacamata berbingkai hitam tipis melangkah masuk melintasi batas pintu. Di dalam genggaman tangannya, pria itu membawa sebuah kotak kayu berisi paket suplemen asam folat premium, susu khusus ibu hamil, dan sekeranjang buah kiwi segar. Mas Anggoro segera menyambutnya dan menyimpan kotak itu di atas meja.
Kehadiran sang dosen pembimbing pascasarjana UGM itu seketika membuat seisi ruangan tengah tertegun. Namun, sebelum Arunika atau Ibu Sandra sempat melempar tanya, Kevin yang baru saja menutup tasnya langsung bangkit berdiri dan melangkah maju menyapa pria itu dengan senyuman santai yang teramat akrab.
"Kamu tepat waktu, Mahen. Aku baru saja menyelesaikan final berkas operasional bersama Anggoro," ucap Kevin, menepuk ringan pundak tegap Mahendra.
Mendengar sapaan akrab Kevin tersebut, Dinda yang sedang memegang laptopnya seketika melotot kaget setengah mati dengan mulut sedikit terbuka. Di sampingnya, Arunika, Anggita, dan Ibu Sandra ikut tertegun kaku menatap kedua pria tegap di depan pintu itu laksana melihat sebuah teka-teki takdir yang mendadak menyatu sempurna.
"Pak Kevin... Pak Mahendra... jadi kalian berdua ini saling kenal?" tanya Dinda ceplas-ceplos dengan nada suara yang meninggi saking syoknya, memutus keheningan.
Kevin terkekeh renyah, menoleh ke arah Dinda dan Arunika dengan raut wajah tanpa beban. "Bukan sekadar kenal, Dinda. Mahendra ini adalah saudara sepupu saya, ibu saya adalah adik kandung ayahnya Mahen. Kedatangan saya ke Jogja selama beberapa hari ini sebenarnya bukan hanya mengurus hukum warisan Arunika saja. Firma hukum saya juga bertindak sebagai kuasa hukum resmi untuk bisnis logistik milik keluarga besar Mahendra di sini. Saya dan Keysha juga sengaja menetap lebih lama di Jogja, karena beberapa hari lagi ada acara di keluarga besar kami."
Mendengar fakta Kevin dan Mahendra adalah sepupu, Arunika dan yang lainnya mengangguk mengerti. Ini sebuah kejutan dan benar-benar tidak menduganya sama kali, bahwa dunia ini sesempit itu.
Kevin melirik ke arah putrinya yang masih mendengkur halus di pelukan Anggita, lalu menatap Ibu Sandra dengan gestur yang sangat terhormat. Melihat Keysha yang sejak sore tadi sama sekali tidak ingin lepas dari dekapan Anggita, Kevin ingin Arunika dan keluarga Ibu Sandra berkenalan dengan keluarga besarnya.
"Jika Ibu Sandra dan Arunika tidak keberatan," Kevin melirik Mahendra, "Saya dan Mahendra mengundang Anggita, Ibu Sandra, serta Arunika untuk ikut hadir sebagai tamu kehormatan dalam acara keluarga kami besok lusa."
Ibu Sandra di balik cadarnya tersenyum, melirik Anggita yang wajahnya sudah memerah menahan debaran jantung yang kian bergemuruh hebat di dalam dadanya. Kesalahpahaman status duda Kevin, kini mendadak menjadi sebuah undangan, mendekatkan takdir manis di antara sang pengacara dan gadis Kaliurang tersebut.
"Insyaallah, Pak Kevin. Sebuah kehormatan bagi kami untuk hadir memenuhi undangan keluarga Pak Kevin dan Pak Mahendra," jawab Ibu Sandra dengan kelembutan seorang ibu yang bijaksana.
Setelah pamit, Kevin menggendong perlahan tubuh lelap Keysha menuju mobil SUV hitam di halaman depan dibantu oleh Mas Anggoro. Matanya kembali bertemu dengan mata Anggita saat mengambil alih Keysha dari pangkuan gadis itu. Kevin tersenyum penuh arti, dan Anggita hanya bisa menunduk malu.
Mahendra melangkah menuju teras depan. Arunika juga melangkah perlahan mengikutinya dari belakang, blus batik longgar yang ia kenakan meliuk anggun menampakkan siluet perut buncit yang kian menonjol. Mereka berdiri berhadapan ditemani suara gerimis malam.
"Diminum susunya secara teratur, Arunika. Kandunganmu sudah jalan lima bulan, janin di dalam rahimmu sedang membutuhkan asupan protein tinggi agar staminamu tidak tumbang menghadapi proposal ekonometrika minggu depan," ucap Mahendra, suara baritonnya yang rendah bergema memecah sunyi dengan nada kaku yang khas, namun tindakan nyatanya memancarkan kehangatan yang teramat luar biasa.
Arunika melihat Mahendra. Setelah rahasia identitas sepupu Kevin dan Mahendra terbongkar di dalam tadi, Arunika akhirnya memantapkan hatinya untuk memberanikan diri bertanya lebih jauh demi mencari kejelasan. Pertanyaan yang sudah lama dia simpan, sejak di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Meskipun mereka sempat bertemu di kampus, tapi Arunika tidak punya kesempatan untuk bertanya.
"Kak Mahen..." panggil Arunika lembut, menatap lurus ke sepasang mata tajam di balik kacamata hitam tipis milik dosen pembimbingnya. "Terima kasih banyak atas semua perlindungan dan asupan gizi yang tidak pernah absen Kakak kirimkan ke rumah ini. Tapi Kak... setelah mendengar penjelasan Pak Kevin di dalam tadi, ada satu hal lagi yang terus mengusik pikiran saya. Bagaimana... bagaimana bisa Kak Mahen tahu begitu detail mengenai status saya dan Saka? Bagaimana Kakak bisa mengenal mantan suami saya sejauh itu?"
Mahendra terdiam sesaat. Sebagai pria yang sangat menghormati hukum agama dan etika, Mahendra tidak ingin merusak masa iddah Arunika dengan sebuah ungkapan perasaan cintanya. Namun, dia tidak boleh lagi menyembunyikan hubungan kekeluargaannya dengan Lina dan Saka.
"Tante Lina... dia saudara sepupu ibu saya," Mahendra membuka suara dengan nada tenang namun sarat wibawa. "Ayah Tante Lina, yang berarti kakek Saka, adalah saudara kandung Kakek saya. Dan Kakek saya juga sahabat karib Kakek Agung Daniswara. Itulah mengapa aku tahu bagaimana keluarga mereka, termasuk hubungan kamu dengan Saka."
Mahendra menjeda kalimatnya, tatapan matanya melembut dalam kilat ketulusan yang teramat pekat menembus sepasang mata Arunika. "Namun, hubungan saya dengan keluarga Tante Lina bukan alasan utama mengapa saya berdiri di sini. Jauh sebelum kamu menikah dengan Saka, saya sudah lebih dulu mengenalmu. Bertahun-tahun lalu di Jakarta, dalam sebuah pertemuan bisnis informal tertutup yang diadakan kakek saya bersama almarhum Om Raditya Daniswara, saya berdiri di sudut ruangan dan melihatmu berjalan masuk mendampingi almarhum ayahmu, Bapak Bagus Wiranata. Sore itu, kamu mengenakan gamis sederhana dengan senyum tulus yang tidak pernah luntur oleh intrik korporasi di sekitar kita."
Mendengar pengakuan yang jujur mengenai pertemuan pertama mereka di masa lalu dari mulut Mahendra, dada Arunika seketika terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Dia tidak menyangka Mahendra sudah mengenalnya lebih dahulu sebelum menjadi mahasiswi Mahendra, bahkan sebelum dia menikah dengan Saka. Entah mengapa ada rasa yang Arunika sendiri tidak paham.
Sementara di balik gorden jendela kaca ruang tengah yang sedikit terbuka, Dinda dan Anggita tampak sedang mengintip jail dengan senyuman menggoda menatap dua sosok di teras luar tersebut.
"Tuh kan, Gita... tebakanku nggak pernah salah," bisik Dinda jail, menyenggol lengan Anggita. "Pak Mahendra yang kaku itu kalau di depan Arunika langsung berubah jadi pangeran pelindung yang manis banget. Cocok kan mereka?"
Anggita mengangguk setuju sambil tersenyum, dia sangat menyetujui kalimat Dinda. Sedangkan jauh di balik pintu paviliun samping, Kakek Agung Daniswara yang sedang duduk bersandar juga ikut menatap siluet cucu kandungnya dari balik jendela kamar, mengulas senyum teduh penuh rasa syukur karena tahu Arunika telah berada di tangan pria yang tepat. Tidak salah dia memberikan restunya pada Mahendra.
gtu jg yg arunika rsakan dlu...jd trima nsib aja,hkum krma udh dtang.......
udh msuk rak kk,tp aku glau bcanya....sedih.....😭😭😭
skrng pawangnya bnyak,pd galak pula...sklinya ngusik,abis d bntai....😁😁😁
sorryyyy yeee.....😛😛😛
apakh kluarga bsar mahen dn kevin bkln mrestui????
emng sih skrng blm rsmi,tp kl suatu saat nnti mreka srius....bsakh mnerima arunika dgn statusnya????🤔🤔🤔