Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Sikap Dingin Eldrick
Eldrick tetap melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.
"Aku juga tahu."Ujar Eldrick setelah diam beberapa saat.
Will hanya mengulas senyum.
Dia sangat mengenal atasannya itu. Atasannya itu sangat mencintai istrinya.
Will adalah satu-satunya orang kantor yang tahu jika atasannya itu sudah menikah. Bahkan Will tahu wajah Lily.
"Di mana Lily?"
"Nyonya berada di tim tuan Hartono."
Eldrick berdecak kesal.
"Aku ingin melihat wajah istriku tapi apa ini?"Eldrick tampak tidak terima tapi dia ingin sang istri berdiri dengan kemampuannya sendiri.
Eldrick sangat tahu jika itu adalah harapan terbesar istrinya.
Di sisi lain, Ana kembali ke meja kerjanya. Para karyawan lain saling memandang.
Mereka jelas sudah tahu apa yang baru saja terjadi.
"Ana, apa kamu mengenal tuan Eldrick? Kami dengar jika tuan Eldrick menangkap mu saat hampir terjatuh?" Salah satu karyawan wanita bertanya karena penasaran.
Jelas dia sedang mewakili para karyawan lain.
Ana tersenyum kecil.
Dia tidak menjawabnya. Tapi dia tersenyum kecil. Para karyawan mulai berspekulasi. Ana hanya membiarkan hal itu.
Beberapa menit kemudian.
Lily baru saja kembali dengan kopi di tangannya. Melihat kedatangan sepupunya. Ana sedikit kesal .
Semua perhatian tertuju kepada Lily. Para karyawan mulai mengambil kopi dan tak lupa mengucapkan terimah kasih.
Lily hanya tersenyum kecil. Dia bersyukur ketika para karyawan menerima kopi buatannya dengan senang hati.
Ana mengepalkan tangannya. Semua perhatian yang awalnya tertuju kepadanya kini tertuju kepada Lily.
"Terimah kasih Lily sudah bekerja keras."
Ana maju dan mengambil kopi.
"Terimah kasih Lily. Ngomong-ngomong apa kamu sudah memberi tahu mereka jika kamu sudah menikah? Mereka harus tahu hal itu."Ujar Ana tersenyum kecil.
Dia jelas sengaja melakukan hal itu.
Dari rautnya, mereka terlihat syok. Mereka mengira jika Lily belum menikah. Penampilannya seperti seorang gadis. Bisa di bilang jika penampilan Lily hampir menjadi idaman semua wanita.
"Kami tidak tahu jika Lily sudah menikah."Ujar salah satu karyawan.
"Apa suami mu tidak menafkahimu Lily?"
Pertanyaan itu keluar dari karyawan yang bersama dengan Ana. Baru hari pertama bekerja. Ana sudah mendapatkan dua teman karyawan yang memiliki sifat yang hampir sama dengan dirinya.
Mereka adalah Jane dan Amber. Kedua karyawan itu berusaha mencari muka di hadapan Ana karena mereka tahu jika Ana adalah cucu keluarga Colins.
Keluarga Colins cukup berpengaruh. Tapi sayangnya hanya keluarga Ana yang tersorot dan di ketahui media. Sementara Lily hampir tidak di kenal orang lain.
Lily menatap mereka satu persatu. Kemudian menoleh kepada Ana. Dia jelas tahu jika sepupunya itu pasti sengaja melakukan hal itu.
Lily tersenyum kecil.
"Itu benar. Tapi aku bekerja bukan berarti suami ku tidak mampu menafkahi. Aku bekerja karena keinginan ku sendiri. Menikah bukan aib dan aku tidak malu mengakuinya."Jawab Lily.
Jawaban Lily membuat para karyawan lain tidak bisa berkata apa-apa. Pernikahan memang bukan aib tapi kebahagiaan bagi sebagian orang. Melihat hal itu, Ana memilih diam. Begitu juga Jane dan Amber.
Ana kembali ke meja kerjanya. Meski begitu, rasa kesalnya untuk sepupunya itu masih ia rasakan.
"Awas saja kamu Lily. Aku pasti membuat mu pergi dari perusahaan ini."Batin Ana.
"Asal kamu tahu jika nenek baru saja menjodohkan ku dengan Eldrick. Entah bagaimana tanggapan karyawan lain saat mengetahui hal itu."Batin Ana kembali.
"Kali ini semua perhatian akan tertuju kepadaku."Batin Ana kembali.
Ana mengalihkan pandangannya kepada layar komputernya. Meski dia adalah sekertaris Eldrick. Ternyata tidak seperti yang dia bayangkan.
Bukannya dia duduk di meja depan ruangan Ceo tapi dia malah duduk bersama para karyawan lain. Dia juga tidak punya akses bertemu dengan Eldrick.
Mengingat hal itu membuat Ana kesal.
Ana kembali melirik ke arah Lily. Wajah Lily yang cantik membuatnya semakin kesal.
"Wajah itu, ingin sekali aku menghancurkannya."
"Dasar menyebalkan.''Batin Ana berdecak kesal.
Dia kembali menoleh ke arah layar komputer miliknya.
"Ana."
Ana menoleh.
Tuan Hartono berdiri di hadapannya saat ini.
Melihat tuan Hartono. Ana segera berdiri dan tersenyum kecil.
"Tuan memanggil saya?"
Ana bertanya dengan lembut.
"Bawakan berkas ini kepada tuan Will. Dia adalah asisten pribadi tuan Eldrick. Setelah salah satu dari kalian mendapatkan kepercayaan maka kamu bisa membawa berkas ke ruangan tuan Eldrick sendiri."Ujar tuan Hartono.
Ana mendengarnya tapi dia sama sekali tidak memperhatikan maksud tuan Hartono.
"Saya mengerti tuan. Tuan tidak lupa bukan dengan perjanjian kita?"
Tuan Hartono tersenyum kecil.
"Tentu saja. Semua orang tahu siapa dirimu dan siapa Lily."
Tuan Hartono meninggalkan Ana setelah mengatakan hal itu.
Ana menatap berkas di hadapannya.
Ini adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan perhatian Eldrick. Sebelum menemui Eldrick, Ana kembali menambah riasan wajahnya.
Setelah merasa sempurna. Dia meraih berkas itu dan berjalan menuju ke ruangan Eldrick.
Setibanya di depan ruangan Eldrick. Ana tersenyum kecil.
Tidak ada siapa pun di depan meja. Dengan cepat, Ana melangkah masuk ke dalam setelah mengetuk pintu.
Begitu masuk. Netranya langsung terpaku pada wajah tampan Eldrick.
Ana tersenyum kecil.
"Tuan Eldrick."
Eldrick menoleh.
Raut wajahnya terlihat tidak senang tapi dia berusaha tenang.
"Apa kamu tidak tahu aturan di perusahaan ini? Kamu karyawan baru tapi tidak berusaha mencari tahu."Ujar Eldrick tampak tidak senang.
Ana mendekat.
Seperti tadi, dia melepaskan kancing bajunya sebelum ia masuk. Hal serendah itu pun dia lakukan demi mencapai tujuannya.
"Tuan Eldrick. Maaf jika aku lancang. Masalah perjodohan anda tidak perlu memikirkannya."Ujar Ana dengan lembut.
Gerakan tubuhnya menunjukkan jika dia sedang berusaha menarik perhatian Eldrick.
Menyadari hal itu. Eldrick menyeringai kecil.
"Jangan bodoh. Apa kamu tidak bisa membedakan masalah pribadi dan masalah perusahaan? Satu hal lagi. Jangan pernah mencoba masuk ke dakan ruangan ku. Jika ada keperluan. Beritahu Will. Aku bisa memecatmu detik ini juga jika kamu melampui batas mu."Ujar Eldrick dengan dingin.
Sikap dingin Eldrick membuat Ana sedikit kesal. Pria di hadapannya itu sama sekali tidak melirik ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Bentak seseorang yang baru saja masuk.
Ana menoleh.
Dia tidak tahu siapa pria yang baru saja masuk.
"Darimana saja kamu Will? Kamu baru saja membuat seekor rubah masuk ke dalam ruangan ku."
"Maafkan saya tuan."
"Keluar sekarang." Bentak Will kembali.
Ana mulai gugup. Dia sama sekali tidak menyangka jika seseorang akan membentaknya seperti itu. Bahkan Eldrick menyamakan dirinya dengan seekor rubah.
"Maafkan saya tuan. Saya hanya membawa berkas kepada tuan Eldrick."Jawab Ana berusaha membela diri.
"Beritahu tuan Hartono agar lebih memperhatikannya."
"Baik tuan."
Will menoleh kepada Ana.
" Keluar sekarang."Perintah Will kembali.
Ana tidak mengatakan apa pun lagi. Dia meninggalkan ruangan Eldrick. Tangannya sedikit gemetar.
"Dasar menyebalkan."
Ana kembali ke meja kerjanya.
"Ana, manajer memanggil mu."Ujar Amber.
Ana berdecak kesal.
Dia menuju ke ruangan manajer.
Tok..
"Tuan memanggil saya?"
Ana berdiri di depan meja tuan Hartono. Dari raut wajah pria paruh baya itu. Dia terlihat tidak senang.
"Apa yang baru saja kamu lakukan Ana? Aku sudah bilang berikan berkas itu kepada tuan Will. Bukan memberikannya langsung kepada tuan Eldrick."Ujar tuan Hartono sedikit kesal.
Ana menatap kesal kepada tuan Hartono.
"Tuan Will tidak ada. Itu sebabnya aku mengantarkannya langsung. Lain kali jangan menatap ku seperti itu. Jangan lupa dengan uang ku."
Seketika tuan Hartono diam tanpa suara.
Melihat hal itu. Ana berjalan keluar dengan angkuhnya.
Dia kembali ke meja kerjanya.
Amber dan Jane mendekat.
"Kamu baik-baik saja? Aku dengar jika kamu masuk ke dalam ruangan tuan Eldrick? Kamu tidak tahu jika tuan Eldrick tidak suka seseorang masuk ke dalam ruangannya. Kecuali orang kepercayaannya." Tanya Amber.
"Sebelumnya tuan Eldrick memecat seseorang karena lancang masuk ke dalam ruangannya."Timpal Jane.
"Dia juga seperti mu. Dia belum jadi sekertaris utama. Dia masih dalam percobaan atau lebih tepatnya tahap seleksi. Aku dengar dia mencoba menggoda tuan Eldrick."Ujar Amber.
Ana tersenyum kecil.
Untung saja dia tidak di pecat. Tapi sikap Eldrick begitu dingin kepadanya. Bahkan pria itu sama sekali tidak meliriknya.
Memikirkan semua itu membuat Ana sedikit kesal.
"Aku mengerti. Kalian berdua kembalilah bekerja." Ujar Ana tersenyum kecil.
Meski sebenarnya dia tidak begitu suka dekat-dekat dengan mereka berdua yang di anggap berada kasta di bawahnya.
Ana melirik ke arah Lily. Sepupunya itu terlihat begitu sibuk menatap layar komputer miliknya.
"Kalau begitu, aku akan menyingkirkan seseorang yang selalu merusak suasana hatiku."Batin Ana tersenyum licik.