Haikal Sebastian Keano, tidak menyangka bahwa wanita yang telah melakukan cinta satu malam dengannya adalah calon istri kakaknya, Ghisell Carissa Adelardo. Karena yang mereka lakukan disaat mereka sedang sama-sama mabuk.
Padahal sang kaka, Rafael, begitu sangat mencintai Ghisell, dan Ghisell juga mencintai Rafael, apalagi sebentar lagi mereka akan menikah.
Lalu bagaimana kisah mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Setelah Ghisell merasa agak baikan, dia segera keluar dari kamar mandi meski kepalanya masih terasa pening.
"Ya ampun sayang ko lama banget sih, aku ada meeting dengan klien sebentar lagi." keluh Rafael saat melihat Ghisell yang baru datang.
"Iya maaf kak, kepala aku pusing banget tadi." Ghisell memijat keningnya, bahkan dia kelihatan banyak mengeluarkan keringat.
Haikal hanya bisa memandanginya, dia tidak mungkin bisa perhatian kepada Ghisell walaupun dia sangat mengkhawatirkannya.
"Tapi sekarang gak apa-apa kan, sayang?" tanya Rafael sambil membereskan anak rambut di pelipis Ghisell. Dia mengelap wajah Ghisell yang berkeringat dengan tisu.
Haikal bersyukur melihat kakaknya begitu sangat menyayangi Ghisell. Tapi dia sangat merasa bersalah karena tanpa sengaja dia telah merenggut kehormatan calon istri sang kakak.
"Nggak kok Kak, aku baik-baik aja."
"Ya udah syukur lah. Kalau gak apa-apa." Rafael berpamitan kepada adiknya , "Kal, kami pulang duluan ya."
Haikal menganggukan kepala "Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
Haikal menatap dengan sendu melihat kepergian Rafael dan Ghisell. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, dia sama sekali tidak menyangka bahwa sebentar lagi wanita yang dia cintai akan menjadi iparnya.
Rafael menghentikan mobilnya saat berada di depan Kantor Utama Adva.
"Mau mampir dulu kak?" tanya Ghisell sambil membuka seat belt.
"Lain aja ya, kakak buru-buru."
"Hmm... ya udah, aku keluar ya."
Rafael menahan lengan Ghisell, dia mencondongkan wajahnya, ingin mencium kekasihnya itu, tapi niatnya terhenti. Dia hanya mengusap rambut Ghisell dengan lembut "Kerja yang rajin calon istriku!"
Ghisell merasa kegeeran, dia pikir Rafael akan menciumnya, tapi rupanya hanya mengusap rambutnya saja.
"Hmm iya kak." Setelah mengatakan itu, Ghisell keluar dari mobil sedan berwarna putih itu.
Rafael menjalankan mobilnya kembali, dia menghembuskan nafasnya dengan berat, dia sama sekali tidak memandang rendah Ghisell, dia sangat mencintainya. Tapi tetap saja dia belum bisa berdamai dengan perasaannya, hatinya masih sakit membayangkan Ghisell tidur dengan pria lain.
Setelah meeting dengan klien kurang lebih dua jam, karena sudah tiba jam waktu pulang , Rafael mencoba menenangkan diri di sebuah klub, hanya sekedar minum satu atau dua gelas saja.
"Tumben kamu datang kesini?" Tanya Chika yang baru datang ke Klub itu. Dia duduk di samping Rafael.
Rafael tidak menjawab pertanyaan Chika, dia sedang asik memutar gelas kecil di tangannya.
"Kamu jarang minum, kamu minum kalau setiap kali punya masalah berat. Apa kamu memiliki masalah berat?"
"Tidak." ketus Rafael.
"Sampai kapan kamu menghindari aku. Apa salahnya kita berteman?"
"Aku hanya ingin menghargai perasaan Ghisell."
Chika tersenyum sinis, "Kamu terlalu dibutakan oleh cinta. Kita saling mengenal 15 tahun, tapi kamu lebih memilih wanita manja itu yang baru 4 tahun saling mengenal. Kamu tega membuang aku yang selalu setia menemani kamu demi dia."
Rafael menghela nafas, "Aku tidak membuang kamu, Ka. Kita masih berteman, tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan dia. Memang seharusnya kita tidak boleh terlalu dekat."
"Kalau dia cinta sama kamu seharusnya dia ngerti dong dengan pertemanan kita."
Rafael tidak menjawab, dia meneguk kembali segelas wine itu.
"Padahal kamu akan menikah, tapi kenapa kamu terlihat sedang memiliki beban pikiran?"
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong. Aku tau kamu, Raf. Aku tau kamu sedang sedih."
Mata Rafael berkaca-kaca, "Aku sangat mencintai dia, tapi rasanya sangat berat jika membayangkan itu semua."
"Memangnya Ghisell kenapa? Apa dia pernah khianatin kamu?"
"Nggak, dia gak mudah jatuh cinta, aku tau dia hanya mencintaiku."
"Ya terus apa masalahnya?"
Rafael tidak mau menjawab pertanyaan Chika, dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Chika tentang Ghisell.
"Kalau kamu ragu ya udah gak usah dilanjutkan pernikahan kalian!"
Perkataan Chika membuat Rafael sedikit emosi , "Nggak bisa, aku akan tetap menikahinya. Itu adalah impian aku selama ini, ingin hidup bersama dia. Tapi membayangkan semua itu rasanya sangat sakit, aku mencoba beberapa kali melupakannya, tetap saja gak bisa."
"Membayangkan apa sih? Apa Ghisell selingkuh? Atau Ghisell tidur dengan pria lain? Atau apa? Bicara yang jelas dong!"
Rafeal menggelengkan kepala. Dia tidak mau menceritakannya. "Aku gak bisa cerita."
Chika menepuk-nepuk pundak Rafael untuk membuatnya tenang, dengan sedikit memeluknya punggungnya.
Apa kamu harus nikah dulu biar kamu sadar kalau ternyata orang yang paling mengerti kamu itu adalah aku. kata hati Chika.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya...