NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Sesal?

“Aku tidak habis pikir, kenapa ada orang seperti itu? Maksudku … mengapa dia mau menghabiskan waktu dan energinya hanya untuk membuat keributan di tempat orang lain? Astaga, apa dia tidak punya pekerjaan?” omel Fani yang kesal karena harus membereskan kekacauan di depan toko.

Fara yang baru selesai membersihkan kaca depan turut menimpali. “Orang-orang seperti itu memang banyak, Fan. Mereka tidak punya kegiatan lain hingga merusuhi kehidupan orang.”

“Sudah, sudah. Untuk hari ini, toko kue kita tutup saja dulu. Kalian pasti lelah karena harus membereskan kekacauan ini.” Kinara yang sedari tadi membantu juga merasa lelah.

Sagara yang sedari tadi diam duduk di tempat, melirik arlojinya lalu menatap ke arah Kinara. “Kita sudah terlambat.”

Kinara menganggukan kepala. “Iya, Kak.”

Selepas Fara dan Fani pulang, Kinara dan Sagara pergi ke rumahnya. Sesampainya di sana, Sagara langsung meraih kopernya dan berjalan memasuki rumah setelah memarkir mobilnya di garasi.

“Masuklah,” katanya singkat pada Kinara. Membuka pintu, ia melangkah masuk lebih dulu, menyalakan lampu-lampu dan meletakkan koper Kinara di dekat sofa. “Mulai sekarang, kau tinggal di sini saja agar kau berada jauh dari jangkauan pria brengsek itu.”

Kinara tersenyum tipis, menatap seisi rumah itu dengan takjub. “Tapi rumah ini terlalu besar untuk aku tinggali sendiri, Kak. Bukankah lebih bagus jika aku tinggal bersama dengan Shena saja? Dia juga tinggal sendiri.”

Sagara menggeleng pelan. “Siapa bilang kau akan tinggal sendiri?”

Kening Kinara mengernyit dalam, heran. “Maksudnya, Kak?”

•••

Marissa tengah duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya sambil mengusap perutnya yang kian membesar. Lalu, mendongakkan kepala, menatap ke sekeliling rumah besar yang berhasil ia kuasai.

“Akhirnya … usahaku tidak sia-sia,” katanya pelan. Wajahnya dipenuhi kepuasan, apalagi saat mengingat kejadian di mana Rashid mengusir Kinara dari rumah dan langsung menceraikannya.

Ia menarik napas panjang, merentangkan tangannya lebar lalu terkekeh kecil. “Ah, nikmatnya menjadi Nyonya rumah ini. Kau memang cerdik, Marissa. Tidak sia-sia usahamu merayunya selama ini,” monolognya lalu merebahkan diri dengan santai sambil menonton televisi.

Beberapa saat kemudian, suara kendaraan terdengar dari halaman. Marissa langsung menegakkan tubuh, ia mengenali suara mobil Rashid. Dengan cepat, Marissa memeriksa penampilannya melalui kamera depan ponsel, merapikan rambut, lalu bangkit dari sofa.

Pintu utama terdengar membuka pelan, lalu tak lama Rashid masuk dengan langkah berat. Wajah pria itu terlihat lelah dengan ekspresi sayu. Kemejanya sedikit kusut dan dasinya sudah dilonggarkan.

Seharian berada di kantor menghadapi berbagai masalah membuatnya hanya ingin segera beristirahat. Namun, begitu melihat Marissa menyambutnya, ekspresi wajahnya sedikit melunak.

"Mas sudah pulang." Marissa menghampirinya dengan senyum manja. "Mas pasti lelah, ya? Sini biar aku bantu bawakan tasnya."

Rashid mengangguk. "Hm, sangat lelah. Tapi melihatmu menyambut Mas, rasanya semua rasa penat itu menguap, apalagi saat melihatmu tersenyum manis seperti ini."

Marissa langsung meraih lengan suaminya dan bergelayut manja, bersikap seperti wanita yang merindukan suaminya. Ia lantas menyandarkan kepalanya pada bahu Rashid. "Mas pasti sudah bekerja keras seharian, ya? Andai saja aku bisa membantu meringankan beban Mas Rashid di kantor."

Rashid menghela napas. "Iya, ada beberapa masalah di kantor dan Mas harus menanganinya." Ia lalu mengusap pipi Marissa dan mengecupnya mesra. “Tidak usah memikirkan pekerjaan Mas, tugasmu hanyalah menemani dan menikmati hasil kerja kerasku, Sayang.”

Marissa tersenyum puas mendengarnya. "Mas baik sekali, aku janji, Mas. Aku pasti akan berusaha menjadi istri yang baik, dan juga belajar menjadi ibu yang baik untuk anak kita ini," janji Marissa manis, sambil mengusap perutnya.

Rashid hanya mengangguk. "Mas mau mandi dulu, ya."

"Oke. Aku tunggu di sini, ya." Marissa menatap punggung Rashid yang berjalan menaiki undakan tangga.

Namun, alih-alih menyiapkan keperluan Rashid seperti yang biasa dilakukan Kinara untuk pria itu. Marissa justru kembali ke sofa dan melanjutkan menonton televisi. Ia sama sekali tidak memikirkan apakah Rashid sudah makan atau belum.

Hampir 30 menit kemudian, Rashid turun kembali. Rambutnya masih sedikit basah, tetapi ia sudah mengenakan pakaian rumahan dan tampak jauh lebih santai dibandingkan sebelumnya.

Namun perutnya terasa semakin lapar. Berjalan ke dapur, Ia berharap menemukan makanan di meja makan seperti biasanya. Akan tetapi, meja makan itu kosong. Rashid lalu membuka lemari pendingin. Di dalam kulkas, hanya ada beberapa bahan makanan yang tersimpan di dalamnya.

Ia menatap semuanya dengan wajah tidak percaya.

"Kenapa tidak ada makanan sama sekali?" Rashid kemudian mengambil ponselnya dan melihat jam. Sudah hampir pukul sembilan malam. Ia menghela napas panjang sebelum kembali ke ruang tengah.

Marissa masih berada di sofa dengan posisi yang sama.

"Marissa,” panggilnya pelan sambil berkacak pinggang.

"Hm?" Marissa menyahut, namun tetap tak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

"Kau tidak masak hari ini?"

Marissa mengalihkan pandangan dari televisi, lalu menggeleng pelan. "Aku ‘kan tidak bisa memasak, Mas."

Rashid mengerutkan kening. "Lalu? Aku lapar sekali, Mar. Di kulkas juga tidak ada apa-apa. Kau tidak belanja kebutuhan dapur?"

"Aku tadi tidak sempat, Mas. Aku pesankan makanan online saja, ya?" Marissa sudah meraih ponselnya dan hendak memesan layanan pesan antar.

"Apa saja yang kau lakukan di rumah hingga tidak sempat belanja?" Nada suara Rashid mulai terdengar kesal.

Marissa langsung memasang wajah tidak senang. "Mas, aku ini sedang hamil besar. Aku tidak bisa terlalu lelah, kata dokter bisa berbahaya bagi kandunganku. Lagipula, hanya ini saja aku lupa."

Rashid mengusap wajahnya kasar, ia tak mengatakan apa-apa, tetapi jelas sekali menahan kesal dengan sikap Marissa. Ditambah lagi, perutnya sudah meronta meminta diisi.

“Kenapa, Mas? Kesal? Atau kau mau membandingkan aku dengan Mbak Kinara? Ingat, ya, Mas. Jangan sekalipun membandingkan aku dengan mantan istriku itu! Aku tidak suka!” sentak Marissa, melemparkan ponselnya ke sofa dan kembali berbaring malas.

Melihat sikap itu, Rashid menghela napas lelah. Namun, tak ingin memperpanjang masalah sepele itu, ia memilih mengalah, menepi dari sisi Marissa dan memesan sendiri makanan yang diinginkannya.

Meski begitu, tak bisa Rashid pungkiri bahwa ia merasa perbedaan yang sangat jauh antara Marissa dan Kinara. Jangankan memasak untuknya, Marissa bahkan terkesan tidak peduli padanya. Padahal, saat mereka menjalin hubungan beberapa bulan lalu, Marissa sangat perhatian padanya.

1
yosh—
wah, kelas✨
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tentu saja, pulanglah 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
HK: 😔😔😔😔😔
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
serakah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
Iffanaya 😽
double up kk 😁
Iffanaya 😽: semangat ya kak 💪
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Janji harus ditepati 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantan istrimu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pasti kerjaan Marisa 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tas dan juga kopernya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
Iffanaya 😽
si jalang itu gk cukup kah jd pelakor skrng ngehancurin usaha mantan istri suami nya 😠
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain kegagalanmu 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
hati" modus penjahat 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!