INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 4 kedatangan SELLA
🌸🌸🌸🌸
Ruang rapat utama di lantai delapan kantor Apex Media tampak memukau dengan desain interior bergaya industrial modern. Dinding kaca tebal memperlihatkan pemandangan lanskap kota Jakarta yang sibuk. Di tengah ruangan, Reno duduk di kursi pimpinan dengan senyum lebar yang tak lepas dari wajahnya.
Hari ini adalah hari penting. Apex Media secara resmi menyambut kedatangan investor minoritas baru yang dalam beberapa minggu terakhir terus menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan staf: Sella Anindya.
Pintu ruang rapat terbuka. Langkah kaki berirama dengan ketukan sepatu hak tinggi buatan desainer Italia menggema lembut di atas lantai marmer. Sella melangkah masuk dengan gaun terusan berwarna champagne yang melekat pas di tubuhnya, memamerkan lekuk tubuhnya yang anggun. Rambut gelombang kecokelatannya dibiarkan terurai indah, menyebarkan aroma parfum floral yang lembut namun dominan ke seluruh penjuru ruangan.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Sella dengan suara merdu dan senyuman manis yang menawan.
Reno langsung berdiri dari kursinya, menyambut Sella dengan uluran tangan hangat yang ditahan sedikit lebih lama dari batas profesionalisme. "Selamat datang di keluarga besar Apex Media, Sella. Kehadiran kamu di sini bukan cuma membawa angin segar, tapi juga reputasi besar buat ekspansi bisnis kita."
"Terima kasih atas sambutan hangatnya, Reno," sahut Sella lembut, membalas tatapan Reno dengan tatapan mata yang penuh arti. "Aku sangat kagum sama kepemimpinan kamu. Di usia semuda ini, kamu bisa bawa Apex Media jadi raksasa media digital. Sebuah kehormatan buat aku dan jaringan bisnisku untuk bisa bergabung di sini."
Di sudut meja rapat, Bimo menatap interaksi tersebut dengan pandangan datar. Sebagai Manajer Keuangan Senior, Bimo sudah meneliti profil investasi Sella sejak seminggu lalu. Suntikan modal yang dimasukkan Sella sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan total valuasi perusahaan—hanya sekitar lima persen. Namun, cara Reno menyambut Sella seolah-olah wanita itu adalah penyelamat tunggal yang memegang kunci masa depan Apex Media.
Sella memposisikan dirinya di kursi sebelah kanan Reno—posisi strategis yang biasanya dikosongkan untuk perwakilan pemegang saham utama.
"Mulai hari ini, selain sebagai investor minoritas, Sella juga resmi menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Branding Eksekutif Apex Media," umum Reno dengan nada bangga di depan jajaran manajerial. "Dengan jaringan sosial Sella di kalangan elit dan pebisnis kelas atas, saya yakin citra Apex Media bakal makin meroket."
Tepuk tangan meriah membahana di ruang rapat. Sella tersenyum penuh kemenangan, mengibaskan rambutnya pelan seraya melempar pandangan sekilas ke arah Bimo yang tampak tidak bergeming.
Siang harinya, suasana kantor mulai melandai. Di ruang kerja CEO yang serba mewah, Reno sedang berdiri di tepi jendela kaca besar, menyesap cangkir kopinya. Pintu ruangannya diketuk dua kali sebelum Sella masuk tanpa menunggu diizinkan.
"Reno... sibuk?" bisik Sella seraya melangkah mendekati meja kerja Reno.
"Buat kamu, selalu ada waktu," jawab Reno hangat, membalikkan badan dan menyunggingkan senyum ketampanannya.
Sella berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tepi meja kayu jati mahal milik Reno. Ia menatap deretan piala dan plakat penghargaan yang terpajang di lemari kaca behind meja pimpinan.
"Kantor kamu luar biasa mewah, Reno. Khas pria berkelas yang tahu cara menghargai pencapaiannya sendiri," puji Sella pelan. Matanya lalu beralih menatap foto berbingkai kecil di sudut meja—foto Reno bersama Nadia yang diambil tiga tahun lalu di sebuah taman sederhana.
Sella mengambil bingkai foto tersebut, memperhatikannya sejenak dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran, lalu meletakkannya kembali dengan posisi sedikit miring ke belakang.
"Istri kamu... Nadia, ya?" tanya Sella dengan nada polos yang dibuat-buat.
Reno berdeham pelan, raut wajahnya sedikit berubah canggung. "Iya. Itu foto lama."
"Aku dengar dari Ibu Risma tadi siang, Nadia itu tipe wanita yang sangat betah di rumah, ya?" Sella memutar tubuhnya, menatap Reno dengan pandangan penuh simpati yang manipulatif. "Kasihan kamu, Reno. Pria sehebat, sekeren, dan sesukses kamu... harusnya didampingi oleh wanita yang bisa berdiri sejajar di samping kamu saat bertemu para menteri, investor asing, atau di pesta-pesta red carpet."
Kata-kata Sella menembus tepat ke bagian terlemah dari ego Reno: kebutuhan akan pengakuan sosial.
Reno mendesah pelan, menyandarkan pinggulnya di samping Sella. "Nadia memang sulit diajak kompromi soal gaya hidup bisnis, Sella. Dia terlalu kaku, selalu mikirin soal hemat, tabungan, dan hal-hal membosankan. Kadang aku merasa dia nggak pernah bisa paham seberapa tingginya level yang udah aku capai sekarang."
Sella tersenyum lembut, mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan jas Reno secara halus. Sentuhan dingin dari jemari Sella yang dihiasi cincin berlian membuat dada Reno berdesir.
"Itu karena Nadia tidak tumbuh di lingkungan yang sama dengan kamu yang sekarang, Reno," bisik Sella penuh racun. "Setiap pengusaha hebat butuh pendamping yang bisa jadi muse, bisa menambah nilai tawar citra di mata publik. Wanita yang paham estetika, paham kemewahan, dan bisa bikin pria lain iri melihat kamu."
Sella mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Reno. "Kalau aku berada di posisi istri kamu, aku bakal pastikan seluruh dunia tahu betapa beruntungnya aku punya pria sejenius kamu. Aku nggak bakal biarkan kamu berjuang sendirian di dunia bisnis yang keras ini."
Napas Reno sempat tertahan sejenak. Tatapan mata Sella, aroma parfumnya yang memikat, serta sanjungan berlipat-lipat yang terus memanja egonya membuat pikiran jernih Reno makin terkikis. Di matanya saat ini, Sella adalah gambaran sempurna dari wanita impian seorang CEO sukses—berkelas, berpengaruh, dan sangat memujanya.
"Terima kasih, Sella," ujar Reno pelan, suaranya agak serak. "Kamu memang wanita yang sangat pengertian."
Sella tertawa kecil, suara tawa yang begitu manja di telinga Reno. "Oh ya, Reno... soal fasilitas ruang direktur baruku. Aku butuh beberapa perabotan impor baru dan satu set komputer buatan edisi terbatas untuk menunjang kerja pemasaranku. Tadi aku sudah bicarakan sama Bimo, tapi Bimo agak kaku soal anggaran."
Reno langsung melambaikan tangannya seolah hal itu bukan masalah besar. "Bimo itu memang terlalu berpatokan sama aturan lama. Biar nanti aku yang langsung tanda tangani persetujuan anggarannya. Apapun yang kamu butuhkan buat kenyamanan kamu di sini, langsung minta ke aku."
"Kamu memang CEO paling royal dan pengertian yang pernah aku kenal," puji Sella dengan binar mata yang berkilat puas.
Di balik senyuman manisnya, Sella tahu betul bahwa pintu menuju hati—dan kas perusahaan—Reno telah terbuka lebar. Reno begitu mudah dikendalikan hanya dengan sedikit pujian dan belaian ego.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang sepi di rumah, Nadia baru saja menerima notifikasi email sistem internal yang memantau pergerakan akun-akun eksekutif Apex Media.
Layar laptop Nadia menampilkan dokumen persetujuan pengangkatan Sella Anindya sebagai Direktur Pemasaran, lengkap dengan draf alokasi anggaran renovasi ruangan dan fasilitas baru bernilai ratusan juta rupiah yang baru saja ditandatangani oleh Reno tanpa melalui Rapat Dewan Komisaris.
Nadia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap nama Sella Anindya di layar dengan tatapan dingin tanpa riak emosi.
"Sella Anindya..." gumam Nadia pelan. "Masuk ke dalam jajaran eksekutif tanpa persetujuan holding induk."
Nadia meraih penanya, mencatat nama Sella ke dalam buku catatan hitam pribadinya di bawah kolom Pihak Terkait Penggelapan Aset.
"Nikmati permainan barumu, Reno," bisik Nadia pada heningnya ruangan. "Makin tinggi kamu menerbangkan dia dengan uang perusahaan... makin keras bunyi kejatuhan kalian berdua nanti."
Hati hati kamu Sella😏😏
🌸🌸🌸🌸