NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Kepergian Helen, suasana tegang perlahan mencair. Brian dan Caesar melanjutkan perjalanan mereka mengelilingi mal untuk mencari sepatu dan beberapa pakaian baru. Sesuai janji, Caesar yang membayar semua belanjaan tersebut, membuat suasana hati Brian kembali cerah.

Setelah selesai berbelanja, perut mereka mulai berbunyi. Mereka pun segera pergi ke sebuah restoran untuk makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.

Mereka memilih meja di sudut restoran yang agak sepi agar bisa menikmati makanan dengan tenang. Suasana sempat hening beberapa saat sampai makanan mereka dihidangkan. Caesar yang sejak tadi memendam rasa ingin tahu, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Caesar yang merasa penasaran tentang konflik Brian dan keluarganya pun bertanya ke Brian.

"Brian," panggil Caesar pelan, menatap lurus ke arah pemuda di depannya. "Soal yang di koridor tadi... kalau kamu gak keberatan, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu sama keluarga kamu? Dan apa maksudnya soal pembunuh bayaran itu?"

Brian terdiam sejenak lalu menjawabnya. Dia meletakkan sendoknya, bersandar pada kursi dengan tatapan yang menerawang ke langit-langit restoran.

"Mereka bukan keluarga gue lagi, Caesar," ucap Brian memulai ceritanya dengan nada datar, seolah luka itu sudah mati rasa. "Sejak kecil, Helen selalu menganggap gue sebagai pembawa sial karena bisnis suaminya mantan bokap gue sempat hancur pas gue lahir. Gue selalu dianaktirikan, dibanding-bandingkan, sampai akhirnya mereka buang gue."

Brian tersenyum sinis, mengingat kebodohan masa lalu ibunya. "Tapi roda berputar. Beberapa tahun lalu, bokap gue sadar kalau kehancuran bisnisnya itu bukan karena gue, melainkan karena keserakahan Helen dan selingkuhannya. Akhirnya bokap sama kakak-kakak gue mutusin buat ninggalin Helen. Mereka semua muak sama kelakuan wanita itu."

Caesar mendengarkan dengan saksama, rahangnya mengeras mendengar betapa menderitanya masa lalu Brian.

"Terus soal pembunuh bayaran?" tanya Caesar lagi, suaranya merendah.

"Setelah ditinggal sendirian dan jatuh miskin, Helen jadi gila harta. Dia tahu kalau gue punya tabungan dan aset sendiri dari hasil kerja keras gue sekarang. Dia mau ngerebut itu semua dengan cara nyingkirin gue. Makanya dia sewa pembunuh bayaran murah sekelas amatir buat neror atau bahkan bunuh gue," jelas Brian dengan kekehan meremehkan. "Tapi dia gak tahu, semua pergerakannya udah gue pantau. Dan bentar lagi, lewat jalur hukum, gue bakal bikin dia benar-benar bangkrut sampai gak punya apa-apa lagi."

Mendengar penjelasan itu, Caesar meraih tangan Brian dan menggenggamnya erat di atas meja. "Gue gak akan biarin siapa pun menyentuh lo, Brian. Termasuk pembunuh bayaran atau ibu lo sekalipun. Mulai sekarang, lo aman sama gue."

Brian menatap tangan Caesar yang menggenggamnya, lalu beralih ke wajah serius sahabat kutubnya itu. Senyum tulus akhirnya terukir di wajah Brian, rasa bosan dan kesalnya sejak di apartemen tadi kini benar-benar hilang

.Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Brian dan Caesar memutuskan untuk kembali ke apartemen [CONTINUITY]. Begitu pintu apartemen terbuka, suasana hangat—namun sedikit berisik—langsung menyambut mereka.

Di ruang tengah, Christian, Elvian, dan Revangga masih berada di posisi yang sama seperti saat mereka pergi tadi. Elvian dan Revan sedang asyik bermain game di televisi, sementara Christian asyik menyesap kopinya [CONTINUITY].

"Wah, anak gadis udah pulang. Gak kemalaman kan?" celetuk Christian dengan nada jahil yang sama seperti sebelumnya, melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul satu siang [CONTINUITY].

"Gadis apaan, Kak, belanjaannya aja seabrek gitu. Dibayarin si kutub ya?" timpal Elvian tanpa menoleh dari layar TV, menyadari beberapa kantong belanjaan bermerek yang dibawa Caesar [CONTINUITY].

Brian memutar bola matanya malas, lalu melempar tubuhnya ke sofa kosong di samping Christian. "Bacot lo pada. Tapi iya sih, untung si kutub lagi baik," sahut Brian jujur, membuat Caesar yang baru meletakkan barang belanjaan hanya mendengus pelan sambil tersenyum tipis [CONTINUITY].

Namun, Christian yang peka menyadari ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Caesar yang tampak lebih tegang dari biasanya. Christian meletakkan cangkir kopinya. "Kenapa lo, Sar? Muka lo kayak habis mau nelan orang."

Mendengar pertanyaan Christian, Elvian langsung mematikan gamenya. Revan pun ikut menoleh. Mereka tahu, jika Caesar yang biasanya datar sampai menunjukkan aura tidak bersahabat, pasti telah terjadi sesuatu yang serius.

"Tadi kita ketemu Helen di mal," jawab Caesar dengan suara rendah dan dingin.

Seketika itu juga, suasana ruang tengah apartemen menjadi sunyi senyap. Senyum jahil di wajah Christian langsung hilang, digantikan oleh tatapan mata yang tajam. Elvian dan Revan bahkan langsung menegakkan posisi duduk mereka.

"Ngapain si nenek sihir itu? Dia nyari masalah lagi sama lo, Yan?" tanya Revan, suaranya mendadak berubah serius dan penuh selidik.

"Dia mau nampar Brian," potong Caesar cepat sebelum Brian sempat menjawab. "Tapi sudah saya tahan. Dan wanita itu sempat mengancam akan menggunakan pembunuh bayarannya lagi untuk menyingkirkan Brian."

Mendengar kata 'pembunuh bayaran', Christian langsung mengepalkan tangannya di atas lutut. "Dia benar-benar sudah gila harta. Gak kapok-kapok setelah ditinggal suami sama anak-anaknya yang lain."

"Tenang aja, Kak, semuanya aman," ucap Brian santai, mencoba mencairkan ketegangan para sahabatnya. "Tadi gue udah skakmat dia sampai mukanya pucat. Lagian, semua bukti pergerakan pembunuh bayarannya udah gue pegang. Tinggal tunggu tanggal mainnya aja buat bikin dia benar-benar bangkrut ke akar-akarnya."

Elvian menyeringai mendengar jawaban Brian. "Bagus. Kalau si nenek sihir itu berani macem-macem lagi, jangan cuma jalur hukum, biar gue sama Revan yang turun tangan langsung buat beresin kecoak-kecoak suruhannya."

"Gue juga gak akan tinggal diam. Biar kita awasi setiap sudut apartemen ini lebih ketat," tambah Christian tegas, lalu menatap Caesar. "Sar, makasih udah jagain Brian tadi."

Caesar hanya mengangguk pelan. Dia duduk di samping Brian, secara implisit menunjukkan bahwa dia akan selalu menjadi perisai terdepan bagi pemuda itu dari ancaman apa pun.

" apapun untuk Brian akan saya lakukan meski harus membunuh dia "ucap Caesar dengan nada dingin

Mereka semua yang mendengar nada dingin Caesar meneguk ludahnya kasar tak terkecuali Brian yang melihat tatapan membunuh dari Caesar

" (auranya cok serem jirr, apa ini ya aura mafia nomor 1 dunia)"monolog dalam hati Brian

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!