Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. RENCANA SANG RATU
Pukul 05.00 WIB. Fajar belum benar-benar menyingsing di atas kota, tetapi di dalam ruang komando kedap suara Penthouse Vane Tower, takdir baru tengah ditempa.
Victoria—nama yang kini sepenuhnya merengkuh jiwa Clarissa—berdiri di depan dinding kaca interaktif berukuran raksasa.
Layar digital di hadapannya menampilkan skema rumit jaringan bisnis klan Pratama, lengkap dengan alur aliran dana, anak perusahaan shell, hingga nama-nama pejabat korup yang terhubung langsung dengan Konsorsium Hitam.
Di belakangnya, Julian Vane berdiri sigap seraya mengoperasikan konsol keamanan.
"Seluruh fasilitas medis bawah tanah di Sektor Empat telah diisolasi total, Nyonya Victoria," Julian melaporkan dengan nada rendah dan mantap. "Tim dokter spesialis terbaik saya telah menyelesaikan operasi darurat Tuan Dominic. Serpihan ledakan di dekat organ vitalnya berhasil diangkat. Beliau kini berada dalam kondisi koma medis terkontrol untuk mempercepat pemulihan sel."
Victoria tidak membalikkan badan, namun sudut bibirnya terangkat tipis. "Apakah ada kebocoran informasi mengenai lokasi atau keberadaan Dominic?"
"Sama sekali tidak ada," tegas Julian. "Semua staf medis di fasilitas tersebut bekerja di bawah protokol militer tertutup. Bagi jaringan intelijen Paman Felix dan Konsorsium Hitam, Dominic Pratama hanyalah abu yang hanyut di laut Dermaga Sektor Tiga."
"Bagus," sahut Victoria merdu, jemari lentiknya yang kini mengenakan sarung tangan kulit hitam mengusap permukaan layar digital.
"Biarkan Dominic beristirahat dan pulih di balik bayangan. Tugas menyelamatkan klan dan membalas setiap tetes darah ini... adalah milikku."
Victoria menggeser salah satu grafik pada layar interaktif, memperbesar bagan perusahaan bernama Aegis Holdings—sebuah entitas keuangan yang berbasis di Sektor Barat.
"Felix selalu merasa dirinya adalah ahli strategi finansial yang tak tertandingi," ujar Victoria, binar keemasan di matanya menyala tajam di balik kegelapan ruangan.
"Namun meski aku baru satu tahun masuk dan mempelajari sistem internal perusahaan klan Pratama, Kakek Silas telah membukakan seluruh dokumen kunci dan celah rahasia kepadaku. Aku tahu persis di mana titik lemah dan pendarahan terbesarnya berada."
Julian melangkah mendekat, memperhatikan bagan Aegis Holdings. "Aegis Holdings adalah saluran utama yang digunakan Felix untuk mencuci dana gelap dari Konsorsium Hitam sebelum disuntikkan ke kas klan Pratama. Jika kita menghancurkan entitas ini sekarang, RUPS luar biasa lima hari lagi bisa batal karena Felix akan panik dan memperketat pertahanannya."
Victoria berbalik pelan, menyandarkan tubuhnya pada meja kaca. Senyuman tipis namun sangat dingin terukir di bibirnya.
"Itu sebabnya kita tidak akan menyerangnya sekarang, Julian," desis Victoria penuh kalkulasi. "Memberinya kejutan terlalu dini hanya akan membuat musuh waspada. Aku ingin memberikan jeda."
Julian menatap Victoria dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Jeda, Nyonya?"
"Ya. Biarkan pemilihan RUPS berjalan sesuai skenario Felix," jawab Victoria anggun, matanya memancarkan kecerdasan kelas tinggi.
"Biarkan dia memenangkan RUPS luar biasa itu. Biarkan dia duduk di kursi Patriark, merayakan kemenangannya, dan merasa bahwa seluruh dunia berada di bawah kendalinya. Saat seseorang berada di puncak kesombongan... di situlah kewaspadaannya berada di titik terendah."
Victoria melangkah mendekati layar interaktif, mengamati grafik pemulihan fisik Dominic yang terus merambat naik.
"Lagipula, kita butuh waktu," lanjut Victoria merdu. "Kita akan memanfaatkan masa tenang ini untuk mengumpulkan bukti tak terbantahkan, memetakan seluruh jaringan Konsorsium Hitam sampai ke akarnya, dan menunggu Dominic benar-benar pulih secara fisik. Ketika saatnya tiba, serangan kita bukan sekadar menggertak—melainkan eksekusi mati bagi seluruh kerajaan palsu yang dibangun Felix."
Julian tersenyum kagum, lalu berlutut satu kaki di hadapan Victoria dengan kepatuhan mutlak. "Strategi yang sangat luar biasa, Nyonya Victoria. Biarkan musuh mabuk dalam kemenangan semu."
Victoria menyunggingkan senyuman mematikan, menatap menembus kegelapan fajar yang perlahan merekah.
"Nikmatilah takhta sementaramu, Paman Felix..." bisik Victoria dingin. "Karena saat aku dan Dominic melangkah keluar dari bayangan, kursi kebanggaanmu itu akan menjadi panggung eksekusimu."
sangat menarik sekali