Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Persekongkolan Akta Wasiat Palsu
Kantor Pengacara Rudi Wirawan tidak memasang papan besar.
Hanya ada plakat kecil di lantai sebelas gedung tua dekat Kuningan, cukup rapi untuk terlihat sah, cukup sepi untuk orang-orang yang datang membawa niat kotor.
Vincent masuk lebih dulu. Vania mengikuti dengan kacamata hitam walau malam sudah turun. Bernard Wijaya datang terakhir, tongkatnya mengetuk lantai marmer pelan.
Wirawan menyambut di ruang rapat kecil. "Pak Bernard. Pak Vincent."
Bernard tidak duduk sebelum memastikan pintu terkunci. "Kita tidak punya banyak waktu."
Vincent melempar map ke meja. "Saya dicopot. Mereka memakai alasan audit."
Wirawan membuka map. "Audit bisa dilawan kalau prosedurnya cacat."
"Saya tidak mau cuma melawan. Saya mau kursi itu kembali."
Bernard menatap putra bungsunya. "Kursi bukan masalah utama."
Vincent tertawa dingin. "Tentu. Papa selalu bicara seolah uang dan kursi tidak penting, padahal Papa datang karena takut orang-orang yang Papa ambil uangnya mulai menagih."
Vania menahan napas.
Wajah Bernard mengeras. "Hati-hati."
"Rp 300 miliar, Pa. Itu bukan uang arisan."
Tongkat Bernard menghantam lantai. "Saya melakukan itu untuk keluarga."
"Keluarga yang mana? Yang selalu menyebut Ko Reihan meski dia mati?"
Nama itu membuat ruangan diam.
Wirawan justru tampak tertarik. "Status Pak Reihan sudah final?"
Bernard menjawab, "Pengadilan menerima status hilang dan keluarga menjalankan prosedur kematian. Barang pribadinya ditemukan. Cincin."
"Jenazah?"
"Tidak."
"Lebih baik untuk kita," kata Wirawan.
Vincent menatapnya. "Jelaskan."
Wirawan melipat tangan. "Selama tidak ada jenazah, orang sentimental akan terus memakai nama Reihan. Tetapi secara administratif, jika statusnya mati, hak waris bisa bergerak. Masalahnya, trust dan wali amanat masih menahan aset karena tidak ada akta wasiat yang jelas."
"Maka buat jelas," kata Vincent.
Vania menoleh cepat. "Buat?"
Wirawan tersenyum kecil. "Saya tidak mendengar kata itu."
Bernard duduk perlahan. "Apa yang dibutuhkan?"
"Contoh tanda tangan Reihan, dokumen lama, akses notaris yang bisa diajak bekerja sama, dan saksi yang mau mengingat sesuatu sesuai kebutuhan."
Vania berbisik, "Itu pemalsuan."
Vincent menatapnya. "Kamu baru sadar kita tidak datang untuk misa?"
Wirawan mengangkat tangan. "Bahasa kita harus bersih. Kita tidak memalsukan. Kita menemukan dokumen yang selama ini tersimpan."
Bernard membuka tas kulitnya. Ia mengeluarkan beberapa dokumen lama. Surat kuasa, kartu identitas lama, salinan tanda tangan Reihan dari berkas internal.
Vincent menatap ayahnya. "Papa sudah menyiapkan ini?"
"Saya menyiapkan banyak hal sejak Reihan hilang."
"Termasuk mengganti dia dengan aku?"
Bernard menatapnya dingin. "Jangan terlalu percaya diri. Kamu pilihan yang tersisa."
Kalimat itu menampar Vincent lebih keras daripada RUPS.
Vania cepat menyentuh lengannya. "Vin."
Ia menepis tangan itu.
Wirawan memeriksa contoh tanda tangan. "Bisa dibuat. Tetapi isi akta harus masuk akal. Tidak boleh terlalu serakah."
Vincent tertawa. "Saya mau semua saham."
"Itu terlalu serakah."
Bernard berkata, "Tulis bahwa Reihan menyerahkan mandat kepemimpinan dan hak kendali keluarga kepada Vincent. Sisanya dibuat bertahap melalui yayasan keluarga."
Wirawan mengangguk. "Lebih halus."
"Saya tidak mau halus," kata Vincent.
"Anda mau menang atau mau berteriak?" tanya Wirawan.
Vincent diam.
Di luar gedung, Bram duduk di mobil gelap dengan earbud kecil. Perangkat di ruang rapat tidak menangkap semua suara, tetapi cukup. Kata akta, tanda tangan, notaris, dan saksi masuk bersih.
Ia mengetik ke Han:
Mereka masuk jalur akta wasiat palsu. Bernard bawa contoh tanda tangan.
Balasan datang:
Biarkan mereka pilih tanggal.
Di ruang rapat, Wirawan membuka kalender. "Tanggal akta harus sebelum kecelakaan. Jangan terlalu dekat dengan hari H jika ada jadwal publik."
Bernard berkata, "Tiga hari sebelum Nirwana Bay."
Vincent menatap ayahnya. "Papa ingat?"
"Saya ingat semua yang membuat keluarga ini hampir runtuh."
Vania memandang mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya, ia terlihat takut pada keluarga yang ingin ia masuki.
Wirawan mencatat. "Kita butuh media panggung. Kalau dokumen ini hanya muncul di ruang sidang, orang akan bertanya. Kalau dibacakan di depan keluarga besar dan mitra, tekanan moral terbentuk dulu."
"Konferensi pers?" tanya Vincent.
"Acara keluarga. Lebih halus. Pembacaan akta wasiat mendiang Reihan Wijaya."
Bernard mengangguk. "Saya yang membaca."
Vincent menatapnya. "Agar orang percaya."
"Agar orang takut membantah."
Wirawan menutup map. "The Grand Kencana. Satu minggu dari sekarang. Undang keluarga besar, beberapa mitra, sedikit media yang ramah."
Vania berbisik, "Kalau ada yang memeriksa?"
Wirawan tersenyum. "Orang mati jarang datang membantah tanda tangannya."
Vincent akhirnya tersenyum.
"Kalau Reihan sudah mati," katanya, menyentuh kertas contoh tanda tangan itu, "biarkan dia mati berguna untukku."
Di mobil, Bram menyimpan rekaman. Ia tidak bereaksi, tetapi rahangnya mengeras.
Pesan Han masuk.
Jangan hentikan. Kita butuh panggung mereka sendiri.
Bram mengetik:
Mereka akan menekan wali amanat lewat opini publik. Bukan hanya dokumen.
Balasan Han datang cepat:
Maka publik juga yang akan melihat mereka jatuh.
Di ruang rapat, pembicaraan belum selesai. Wirawan meminta Vincent menandatangani perjanjian jasa hukum terpisah, memakai nama konsultan, bukan perkara waris.
"Kenapa tidak langsung tulis akta wasiat?" tanya Vania.
"Karena orang pintar tidak meninggalkan jejak dengan judul kejahatannya sendiri," jawab Wirawan.
Bernard menyetujui tanpa membaca lama. Vincent menandatangani setelah melihat ayahnya melakukan itu.
Wirawan menyimpan dokumen ke map hitam. "Mulai malam ini, semua komunikasi lewat Bram atau staf saya. Tidak ada pesan yang memakai kata palsu, pemalsuan, atau tanda tangan tiruan."
Vincent tertawa. "Kamu takut sekali."
"Saya mahal karena takut pada hal yang tepat."
Vania memandang map hitam itu seperti melihat lubang. Ia ingin keluar dari ruangan, tetapi ia juga tahu dirinya sudah terlalu jauh masuk ke hidup Vincent.
"Kalau Reihan ternyata tidak mati?" tanyanya pelan.
Semua orang menoleh.
Vincent tertawa paling keras. "Kalau dia hidup, dia sudah pulang dari dulu."
Bernard tidak tertawa.
Bram yang mendengar dari mobil mencatat jeda Bernard itu. Bahkan seorang ayah yang berkhianat pun masih punya rasa takut pada anak yang ia kubur terlalu cepat.
Bram menatap gedung tua itu.
Di dalam ruang rapat, Bernard berdiri paling akhir.
"Vincent," katanya.
"Apa lagi, Pa?"
"Kalau dokumen ini keluar, tidak ada jalan mundur."
Vincent tersenyum. "Aku sudah dicopot. Mundur ke mana?"
"Ke hidup tanpa borgol."
"Papa baru memikirkan borgol sekarang?"
Bernard tidak menjawab. Ia menatap contoh tanda tangan Reihan di map, lalu memalingkan wajah. Untuk sesaat, ia tampak seperti laki-laki tua, bukan pendiri konglomerat.
Vincent melihat kelemahan itu dan membencinya.
"Ko Reihan tidak akan kembali," katanya.
Bernard menggenggam tongkat. "Pastikan saja begitu."
Bram mendengar kalimat terakhir itu dari earbud. Ia segera menambahkan catatan: Bernard ragu pada finalitas kematian Reihan. Keraguan kecil, tetapi dalam perkara besar, keraguan sering menjadi celah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia hampir kasihan pada Vincent.
Hampir.