NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Dimas tahu hubungan Mas Arka dan Mei Li berubah dari hal yang sangat sederhana.

Mas Arka mulai menaruh ponsel dengan layar menghadap atas.

Biasanya, sepupunya itu adalah manusia paling rapi sedunia. Ponsel menghadap bawah, notifikasi mati, wajah tenang, hidup seperti rapat yang tidak pernah selesai. Tapi pagi itu, di ruang makan rumah Pradipta Menteng, ponselnya diletakkan tepat di samping piring.

Layar menyala.

Mei Li:

Sudah sarapan?

Dimas hampir menjatuhkan sendok.

"Mas."

Arka mengangkat cangkir kopi. "Apa?"

"Dia tanya kamu sudah sarapan."

"Saya bisa membaca."

"Kak Mei Li tanya kamu sudah sarapan."

"Dimas."

"Ini bukan hal kecil. Ini lompatan peradaban."

Arka mengetik balasan dengan wajah terlalu tenang untuk orang yang baru saja menerima pesan sejenis itu.

Sudah. Roti, telur, kopi. Anda?

Balasan datang setengah menit kemudian.

Kopi bukan sarapan.

Dimas menepuk meja. "Dia marahin kamu pakai kalimatmu sendiri!"

Arka gagal menahan senyum.

Itu bukti kedua.

Mas Arka tersenyum seperti orang bodoh.

Tidak bodoh secara umum. Arka tetap tampan, tetap rapi, tetap terlihat seperti laki-laki yang bisa menyelesaikan konflik antarnegara sambil memilih teh. Tapi ada sesuatu di sudut matanya yang membuat Dimas ingin berdiri dan bertepuk tangan.

"Mas, aku ikut bahagia," kata Dimas tulus.

Arka menatapnya curiga. "Kenapa nada kamu terdengar seperti akan membuat masalah?"

"Karena aku memang ingin membuat masalah kecil yang konstruktif."

"Tidak."

"Aku belum bilang."

"Tetap tidak."

Ponsel Arka bergetar lagi. Kali ini bukan pesan teks, melainkan foto. Di foto itu, meja makan kecil dengan semangkuk bubur ayam, buah potong, dan teh melati. Tidak ada wajah Mei Li. Hanya satu pesan:

Saya makan.

Dimas memegang dada. "Mas, ini sudah serius."

Arka menatap foto itu lama, lalu membalas:

Bagus. Saya lega.

Dimas mengerutkan kening. "Mas, kalau kamu balas kayak laporan kesehatan, nanti dia ilfeel."

"Ilfeel?"

"Kehilangan selera."

"Saya tahu artinya."

"Tapi tidak tahu cara menghindarinya."

Arka menatapnya.

Dimas mengangkat kedua tangan. "Oke. Aku diam."

Ia tidak diam.

***

Siang itu, Dimas mampir ke KADIN dengan alasan mengantar dokumen yang sebenarnya bisa dikirim kurir. Ia ingin melihat apakah fenomena pagi tadi berlanjut.

Berlanjut.

Arka keluar dari ruang rapat tepat pukul dua belas tiga puluh, bukan satu menit lebih lama. Ketika asistennya menawarkan menambah pertemuan mendadak, Arka berkata, "Jadwalkan besok. Saya harus makan."

Dimas yang mendengar dari ujung koridor hampir tersedak udara.

Mas Arka. Harus makan.

Keajaiban kedua setelah laut terbelah.

Di kantin kecil kantor, Arka benar-benar membuka kotak makan yang baru dikirim. Isinya nasi merah, ayam panggang, sayur bening, dan satu kartu kecil tanpa tanda tangan.

Makan siang. Jangan hanya kopi.

Dimas menatap kotak itu seperti melihat artefak.

"Dia kirim makan siang?"

"Tampaknya."

"Mas, ini bukan tampaknya. Ini jelas. Ini perempuan yang kemarin bisa memindahkan delapan puluh triliun, sekarang mengatur sayur bening kamu."

Arka mengambil sendok. "Kamu mau makan atau komentar?"

"Komentar sambil makan."

"Tidak."

Dimas tertawa, tetapi tawanya perlahan hilang ketika melihat cara Arka membaca kartu itu. Tidak berlebihan. Tidak melankolis. Hanya diam beberapa detik lebih lama, seolah kalimat pendek itu menyentuh tempat yang tidak pernah tersentuh oleh perhatian biasa.

Dimas tahu soal trauma Arka, tidak detail, tetapi cukup untuk mengerti bahwa sepupunya tidak mudah merasa aman dengan perempuan. Ia juga tahu Arka tidak akan membiarkan siapa pun masuk sedekat ini jika tubuhnya sendiri tidak berhenti melawan.

"Mas," katanya lebih pelan.

Arka menoleh.

"Kamu bahagia?"

Pertanyaan itu membuat Arka diam.

Lama.

"Saya tidak tahu apakah itu kata yang tepat," jawabnya akhirnya.

"Tapi?"

"Tapi saya menunggu pesan berikutnya."

Dimas merasakan tenggorokannya menghangat.

"Kalau begitu, itu sudah parah."

Arka tersenyum kecil. "Mungkin."

***

Sore hari, Dimas datang ke Menteng Regency dengan alasan mengembalikan kotak makan.

Alasan itu lebih bagus daripada tanaman.

Bella menerimanya di gerbang dengan wajah tidak terkesan.

"Saya hanya mengembalikan kotak."

"Tinggalkan."

"Boleh saya bilang terima kasih langsung?"

"Tidak."

Pintu villa terbuka. Mei Li muncul di belakang Bella.

"Biarkan dia masuk sampai teras."

Dimas langsung tersenyum. "Terima kasih, Nona Lim."

"Jangan buat aku menyesal."

"Saya sering mendengar kalimat itu."

"Aku tidak terkejut."

Di teras, Dimas menyerahkan kotak makan dengan kedua tangan. "Mas Arka makan semuanya."

"Bagus."

"Dia bahkan tidak minum kopi kedua."

Mei Li mengangkat alis. "Dia biasanya minum berapa?"

"Tiga. Kadang empat kalau rapatnya menyebalkan."

Mei Li menatap kotak itu, lalu Bella. "Catat."

Dimas menutup mulut agar tidak bersorak.

Terlambat. Mei Li melihatnya.

"Ada yang lucu?"

"Tidak. Saya hanya bahagia melihat masyarakat bergerak menuju gaya hidup sehat."

Bella memutar mata.

Mei Li menatap Dimas beberapa detik, lalu berkata, "Jaga dia saat di luar. Jangan hanya menggoda."

Senyum Dimas mereda.

Ia mengangguk. "Saya tahu. Setelah mobil Vulture kemarin, saya nggak akan main-main."

"Bagus."

Saat Dimas keluar dari gerbang, ia melihat rumah Arka menyala di sebelah. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa senang karena Mas Arka akhirnya jatuh cinta.

Ia juga merasa takut.

Karena kalau Mei Li sudah mulai menjaga Arka seperti ini, maka siapa pun yang menyentuh Mas Arka tidak hanya berurusan dengan keluarga Pradipta.

Mereka akan berurusan dengan perempuan yang membuat keluarga Tan kehilangan delapan puluh triliun dalam satu malam.

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!